Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Thursday , 19 September 2019
Breaking News
You are here: Home » Kolom ZISKA

Category Archives: Kolom ZISKA

Amal Ibadah dan Adab Menyambut ‘Idul Adha

Menyambut ‘Idul Adha tentu berbagai hal harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai prestasi diri yang gemilang. Apa saja ? Inilah penjelasannya

AKSI QURBAN BERSAMA UNTUK SESAMA

Apakah Modal Tidak Bergerak Dihitung Zakatnya ?

Assalāmu’alaikum wr. wb.

Untuk zakat perdagangan yang harus dibayarkan apakah dihitung dari seluruh modal termasuk harga tanah, bagunan (toko), barang dagangan, dan hasilnya pertahun, atau cukup dengan hasil dari keuntungan per tahun itu? Bagaimana kalau zakat yang dibayar dihitung dari jumlah modal dan keuntungan lebih besar daripada keuntungan dalam satu tahun? Mohon penjelasan. (AA, Jakarta)

Wa’alaikumussalām wr. wb.

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Untuk menjawab pertanyaan saudara, maka terlebih dahulu kami akan menjelaskan mengenai pengertian perdagangan.

Perdagangan merupakan salah satu bentuk usaha yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Adapun kekayaan dagang adalah segala sesuatu yang diperjualbelikan dengan maksud untuk mencari keuntungan. Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan zakat dari kekayaan yang diinvestasikan dan diperoleh dari perdagangan. Adapun dasar kewajiban zakat perdagangan adalah Q.S. al-Baqarah ayat 267 :

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu, dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya, dan ketahuilah, bahwa Allah maha kaya lagi maha terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 268).

Di dalam Kitab Tafsir al-Maraghi dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan lafal مَا كَسَبْتُمْ adalah harta yang diusahakan, yaitu berupa uang, harta perdagangan, hewan ternak, dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari bumi berupa biji-bijian, buah-buahan dan selainnya. Dari tafsir ayat tersebut, dapat dipahami bahwa harta perdagangan merupakan salah satu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Di dalam Kitab Taisīr Al-Alam syarah kitab Umdah Al-Ahkam pada Kitab Al-Zakat, disebutkan bahwa salah satu makna zakat secara bahasa yaitu berkembang dan mensucikan, keduanya bermakna tambahan dan penyucian. Dalam syariat Islam, harta yang wajib dikeluarkan zakatnya secara khusus yaitu binatang ternak, pajak tanah, uang dan harta perdagangan. Di dalam Kitab al-Bahr ar-Rāiq Syarah Kanzu ad-Daqāiq disebutkan bahwa salah satu syarat zakat adalah al-Namā’. Secara istilah, al-Namā’ (berkembang) terbagi menjadi dua yaitu bertambah secara konkrit dan bertambah secara tidak konkrit. Bertambah secara konkrit adalah bertambah akibat pembiakan dan sejenisnya, sedangkan bertambah secara tidak konkrit adalah kekayaan itu berpotensi berkembang, baik berada ditangannya maupun ditangan orang lain atas namanya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa harta perdagangan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah terbatas pada harta perdagangan yang diperjualbelikan saja (berkembang), sehingga selain harta perdagangan yang tidak diperjualbelikan tidak dikenakan zakat. Harta perdagangan yang tidak dikeluarkan zakatnya itu seperti harga tanah, toko, etalase, timbangan, rak, komputer/alat hitung lainnya dan segala bentuk peralatan yang diperlukan untuk berdagang. Peralatan tersebut tidaklah dihitung harganya dan tidak pula dikeluarkan zakatnya, karena bendanya tetap dan hampir sama sifatnya untuk keperluan pribadi yang tidak berkembang.

Kekayaan perdagangan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah sebesar 2,5%, dengan syarat masanya sudah sampai setahun dan nilainya sudah mencapai satu nisab pada akhir tahun itu. Adapun kekayaan perdagangan yang dikeluarkan zakatnya dihitung dari modal dan keuntungan, bukan dari keuntungan saja. Modal dagang yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah modal yang diperjualbelikan.

Modal dagang adakalanya berupa uang dan adakalanya berupa barang yang dihargai dengan uang. Modal yang wajib dikeluarkan zakatnya, syaratnya yaitu sudah berlalu masanya setahun, berkembang, mencapai satu nisab, bebas dari hutang, dan lebih dari kebutuhan pokok. Adapun ukuran satu nisab pada masa sekarang sama dengan harga 85 gram emas.

Mengenai pertanyaan saudara tentang besar zakat yang dibayar lebih besar daripada keuntungan dalam satu tahun, tampaknya tidak akan terjadi jika saudara menghitungnya tidak menyertakan aset-aset/modal yang tidak diperjualbelikan.

Wallahu a’lam bi as-ṣawāb…

sumber : www.lazismu.org

Mari berdonasi melalui Lazismu…

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan” QS.al-Baqarah 110.

REKENING ZAKAT
  • Bank Syari’ah Mandiri No. 9939 810 000 000 000 a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Mu’amalat No. 7663 010 000 000 000 a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Jatim Syariah No. 6141 111 999 a/n Lazismu Jatim Zakat

REKENING INFAQ

  • Bank Syari’ah Mandiri No. 9939 820 000 000 000 a/n Infaq LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Mu’amalat No. 7664 020 000 000 000 a/n Infaq LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Jatim Syariah No. 6141 919 191 a/n Lazismu Jatim Infaq

REKENING LAZISMU YATIM

  • Bank Jatim Syariah No. 6141 141 141 a/n Lazismu Jatim Yatim

REKENING LAZISMU QURBAN

  •  Bank Mu’amalat No. 7725 040 000 000 000 a/n Qurban Lazismu Jatim.
  • Bank Syariah Mandiri No. 9939 840 000 000 000 a/n Qurban LAZISMU Jatim
  • Bank Jatim Syariah No. 6141 717 171 a/n Lazismu Jatim Qurban

Mengaqiqahi Diri Sendiri dan Penyembelihan Aqiqah Dalam Acara Qurban

Bolehkah Kita Mengaqiqahi Diri Sendiri dan Melakukan Penyembelihan Aqiqah Dalam Acara Qurban ?

Saya tinggal di Jepara yang berbaur di kalangan Muslim tradisional di tempat saya. Saya dimintai pertanyaan tentang mengakikahi diri sendiri ketika sudah besar, akikah itu hukumnya wajib atau sunah pak? Budaya masyarakat jika akikah belum dilaksanakan sejak kecil tapi kalau dewasa diakikahi, padahal akikah tersebut tugas orang tua tapi tatkala dewasa diakikahi sendiri berarti setiap bayi lahir punya tanggungan akikah besok kalau sudah dewasa. Nah, ketika pelaksanaan Idul Qurban, saya juga sebagai panitia qurban mendapatkan peserta akikah dalam pelaksanaan idul qurban, apa yang akan kami kerjakan mengenai penyembelihan akikah dalam acara qurban pak Ustadz? Mohon jawabannya, terima kasih. (Dani Iswadi, Jepara).

Terima kasih atas pertanyaan yang telah bapak ajukan, semoga bapak selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Sebelum menjawab pertanyaan pertama, perlu kami sampaikan beberapa hal terkait akikah. Secara bahasa, akikah adalah membelah dan memotong, sehingga hewan yang disembelih pun juga disebut akikah, karena tenggorokannya dibelah dan dipotong. Selain itu, ada juga yang mengartikannya dengan rambut yang terdapat di kepala bayi yang baru keluar dari perut ibunya (ash-Shan’any, Subulus-Salam, Bab al-Akikah, hlm. 333).

Adapun akikah menurut terminologi syariat adalah hewan yang disembelih untuk anak yang baru dilahirkan sebagai ungkapan syukur kepada Allah dengan niat dan syarat-syarat yang khusus (Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus-Sunnah, Bab al-Aqiqah, hlm. 636).

Hukum akikah berdasarkan pendapat rajih (kuat) yang disepakati oleh jumhur ulama adalah sunah muakadah. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw: Artinya: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan ingin beribadah atas namanya, maka hendaklah ia beribadah (dengan menyembelih binatang akikah).” [HR. Abu Dawud no. 2842, an-Nasa’i vol. 7 no. 162, Ahmad vol. 2 no.194, dan al-Baihaqi vol. 9 no. 300].

Sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan ingin beribadah atas namanya” menunjukkan bahwa akikah sunnah hukumnya.

Adapun tentang pelaksanaannya, akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw: Artinya: “Tiap-tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur kepalanya.” [Hadis diriwayatkan oleh lima ahli hadis dari Samurah bin Jundub, disahihkan oleh at-Tirmidzi].

Memang ada beberapa pendapat tentang kapan waktu pelaksanaan akikah selain hari ketujuh sesudah kelahiran. Paling tidak ada dua pendapat:

Pertama, pendapat yang dikemukakan oleh ulama madzhab Hambali yang mengatakan bahwa pelaksanaan akikah boleh pada hari ke-14, 21 atau seterusnya manakala pada hari ke-7 dari kelahiran anak, orang tuanya tidak mampu mengakikahi. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya: Artinya: “Akikah itu disembelih pada hari ketujuh dan pada hari keempat belas dan pada hari keduapuluh satu.” [HR. al-Baihaqi].

Kedua, pendapat yang dikemukakan ulama madzhab Syafi’i. Menurut mereka akikah tidak akan gugur atau hilang penundaannya sampai akikah itu dilakasanakan, meskipun oleh dirinya sendiri. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Anas ra yang menyebutkan bahwa Nabi saw baru melakukan akikah untuk dirinya setelah beliau menjadi Nabi: Artinya: “Bahwasanya Nabi saw mengakikahkan dirinya setelah beliau menjadi Nabi.” [HR. al-Baihaqi].

Akan tetapi, kedua hadis di atas diperselisihkan keotentikannya oleh para ulama. Hadis al-Baihaqi yang diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah di atas dinilai daif karena dalam sanadnya terdapat Ismail bin Muslim al-Makky yang didaifkan oleh Ahmad, an-­Nasa’i dan Abu Zur’ah. Demikian juga hadis al-Baihaqi dari Anas ra dinilai daif karena pada sanadnya terdapat seorang yang ber­nama Abdullah bin al-Muharrar yang dinyatakan lemah oleh bebe­rapa ahli hadis antara lain oleh Ahmad, ad-Daruqutni, Ibnu Hibban dan Ibnu Ma’in (lihat buku Tanya Jawab Agama oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, jilid IV halaman 233). Bahkan an-­Nawawi menyebut hadis ini sebagai hadis batil karena al-Baihaqi meriwayatkan melalui jalan Abdullah bin al-Muharrar dari Qatadah. Al-Baihaqi sendiri menyebut hadis ini sebagai hadis munkar. Oleh karena itu, menurut hemat kami hadis-hadis tersebut tidak perlu diamalkan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa: 1) Hukum akikah adalah sunnah muakadah dan waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh dari kelahiran bayi. 2) Yang dituntut untuk melaksanakan ibadah akikah adalah orang tua dari bayi yang dilahirkan, sehingga seseorang tidak perlu mengakikahi diri sendiri.

Mengenai pertanyaan kedua, sesungguhnya dari apa yang telah kami jelaskan di atas, pertanyaan kedua bapak tersebut secara tidak langsung telah terjawab, bahwa akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi. Akikah terikat dengan waktu kelahiran sang bayi tersebut dan tidak ada tuntutan akikah ketika sudah melebihi 7 hari kelahiran bayi, maupun tatkala seseorang sudah dewasa. Sementara ibadah kurban dapat dilaksanakan setiap tahun sekali. Apabila hewan sembelihan akikah dimaksud adalah untuk akikah yang sudah lewat dari 7 hari kelahiran bayi atau untuk mengakikahi orang dewasa, alangkah baiknya jika disarankan untuk dialihkan niatnya sebagai hewan kurban. Namun jika akikah tersebut memang bertepatan dengan waktu penyembelihan kurban, maka tidak mengapa dilaksanakan bersamaan dengan penyembelihan kurban itu.

Perlu diketahui pula, tidak dibenarkan menyatukan niat antara akikah dan kurban, yakni dalam satu hewan sembelihan untuk dua niat, akikah dan kurban sekaligus. Keduanya memiliki ketentuan-ketentuan yang berbeda satu sama lain, baik tentang waktu, syarat, dan lain-lainnya, juga tidak ada nas al-Qur’an atau hadis yang menyatakan bahwa akikah dan kurban dapat disatukan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Fatwa Majelis Tarjih PP Muhammadiyah / www.tarjih.or.id

Berniat Membersihkan Harta Untuk Menutup Kerugian

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya sebelumnya bekerja di perusahaan swasta PMA yang ada fasilitas dana pensiun dan dana jaminan hari tua. Ketika saya mencairkan kedua dana tersebut, saya dapati ada hasil pengembangan yang cukup besar. Sumber-sumber yang saya kaji menyatakan uang tersebut harus dikeluarkan cara-cara tertentu. Karena pada waktu itu saya sangat membutuhkan dana itu, saya berniat dalam hati akan membersihkan harta itu di lain kesempatan. Dua tahun ini saya melakukan bisnis, namun belum membuahkan hasil bahkan merugi cukup besar hingga hampir 2x lipat uang yang rencananya saya keluarkan untuk membersihkan harta tersebut. Pertanyaan saya, dapatkah saya mengeluarkan uang untuk menutup kerugian itu dengan niat membersihkan harta sesuai rencana saya sebelumnya ? Mengingat kondisi keuangan saya yang sangat kesulitan saat ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih (Imam Makruf, Malang).

Jawab : Wa’alaikumussalam. wr. wb. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertanyaan bapak dan kami juga turut berempati terhadap persoalan yang bapak alami. Bapak Imam Ma’ruf yang kami hormati, apa yang bapak alami patut diambil hikmahnya oleh kita semua. Bahwa kewajiban dan niat baik harus segera dilaksanakan dan tidak ditunda-tunda dengan berbagai alasan yang tidak termasuk alasan pokok (adh-dharuriyat) yang diperkenankan oleh agama. Terlebih lagi kesempatan untuk melakukan suatu kewajiban dan kebaikan tidak datang dua kali.

Oleh sebab itu, niat yang baik terlebih lagi berupa kewajiban harus disegerakan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai berikut: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali Imran: 133-134].

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” [HR. Muslim].

Perlu diketahui bahwa selain melalui zakat, bagi orang yang mampu, membersihkan harta dapat pula dilakukan dengan infak dan sedekah, jika seseorang betul-betul belum mampu un-tuk menunaikan kewajiban zakat sesuai dengan ketentuan agama. Infak dan sedekah berfungsi untuk membersihkan harta sekaligus dapat menambah keberkahan harta dan membuka pintu-pintu rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an dan hadis berikut ini: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuh-kan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgan-dakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Baqarah: 261].

“Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw bersabda: Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya, sedangkan yang satunya lagi berkata; Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)”.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan jangan-lah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS. al-Baqarah: 267].

Penghasilan bapak berupa gaji beserta dana pensiun dan dana jaminan hari tua dalam jumlah yang cukup besar itu tentu merupakan amanah sekaligus titipan Allah Swt., yang harus dikeluarkan zakatnya sebanyak 2.5 % setelah bapak keluarkan biaya administrasi, melunasi hutang dan kebutuhan pokok bapak dan keluarga, baik diniatkan maupun tidak.

Membersihkan harta dengan zakat merupakan kewajiban bagi orang yang mampu dengan syarat-syarat dan tujuan tertentu. Zakat memiliki banyak hikmah antara lain; untuk membersihkan harta, dan dalam rangka membantu orang-orang yang membutuhkan yang termasuk dalam delapan golongan (al-ashnaf ats-tsamaniyah) yang berhak menerima zakat, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an.

Saat bapak bekerja di perusahaan swasta PMA dengan diberikan kelonggaran rezeki berupa gaji dan fasilitas dana pensiun serta dana jaminan hari tua, maka saat itu sesungguhnya bapak berkewajiban untuk mengeluarkan zakatnya manakala penghasilan bapak tersebut telah memenuhi haul dan nisabnya, sebagaiman dijelaskan dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dilunakkan hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. at-Taubah, 9: 60].

Oleh karena itu, terkait dengan pertanyaan bapak; dapat-kah bapak mengeluarkan uang untuk menutup kerugian itu dengan niat membersihkan harta sesuai rencana bapak sebelumnya? Menurut hemat kami, setelah mengkaji penjelasan ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw tentang tata cara atau aturan hukum zakat dalam rangka membersihkan harta, tentu cara seperti itu tidak tepat dan tidak sesuai dengan aturan yang ada, baik dari aspek tata cara, distribusi zakat maupun ketentuan mustahiknya.

Hal ini karena mensucikan harta dengan mengeluarkan zakat, infak atau sedekah harus diberikan kepada orang yang berhak menerimanya (mustahik) dan bukan untuk diri sendiri atau menjadikannya sebagai modal atau untuk menutup kerugian bisnis. Melaksanakan suatu perin-tah agama tentu sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh agama pula. Oleh sebab itu, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw, bahwa zakat dapat membersihkan harta seseorang  jika ditunaikan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh agama serta diperuntukkan bagi mustahik (orang yang berhak menerimanya) dan bukan untuk modal ataupun menutup kerugian bisnis dari orang yang mengeluarkannya. Wallahu a’lam bish-shawab.

www.tarjih.or.id

Baznas Development Forum : “Zakat sebagai Investasi Sosial, Mengukur Pemberdayaan yang Berkelanjutan”

Mengukur pemberdayaan ekonomi bisa dilihat dari motifnya, bisa dari motif keuntungan dan motif sosial. Bagi lembaga amil zakat, motif sosial sepadan dengan spirit agama yang menekankan kemaslahatan dan perlindungan. Karena tujuan finalnya (maqosid syari’yah) sebagai nilai utama yang memberi makna terhadap asas kemanfaatan.

Dalam kerangka pemberdayaan zakat yang berkelanjutan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lazismu dan Social Return on Investment (SROI) Network Indonesia menggelar seminar Development Forum dengan tajuk Zakat sebagai Investasi Sosial. Acara berlangsung di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah (20/9/2018).

Forum ini melibatkan partisipasi pegiat filantropi Islam dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten atau kota. Beberapa pembicara dihadirkan untuk mengupas zakat dari perspektif inovasi dan kesejahteraan sosial, perubahan sosial dan tolok ukur program pemberdayaan zakat yang berkelanjutan.

Ketua Baznas, Bambang Sudibyo dalam sambutannya mengatakan, Zakat sebagai investasi sosial merupakan jalan tengah untuk mencipatakan nilai tambah (value added). “Penerima nilai tambah ini adalah mustahik yang memeroleh  manfaat program zakat. Dalam pengukurannya dijelaskan dengan pernyataan nilai tambah yang terencana,” katanya.

Realitas perkembangan zakat begitu optimis. Namun, lanjut Bambang, akan ada situasi yang kompleks karena ada entitas pelaporan. “Seiring berjalannya waktu, ini akan kita lakukan untuk mengukur dampak penyaluran zakat kepada penerima manfaat,” jelasnya.

Saya berharap dalam forum ini ada suatu rekomendasi yang dapat dirumuskan sehingga gagasan konstruktif zakat lebih bermakna. Lazismu dan Baznas, menurutnya sama-sama melakukan hal ini.

“Tujuannya agar nilai tambah zakat mampu mendeskripsikan manfaat zakat dengan gamblang melalui alat ukur keberhasilan pemberdayaan zakat dengan pendekatan social return of investment (SROI) ,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Lazismu, Hilman Latief, mengatakan, apa yang disajikan dalam forum ini tentu suatu bentuk inovasi sosial zakat. Zakat sebagai investasi sosial dalam konteks pemberdayaan dapat mendorong pencapaian SDGs.

Menurut Hilman Latief, ada dua model orientasi dalam praktik zakat saat ini. Pertama aktivitas ekonomi berbasis sosial keagamaan, kedua, aktivitas sosial keagamaan berbasis ekonomi. “Kedua model ini harus ditentukan mana yang menjadi inti gerakan zakat,” papar peneliti filantropi Islam ini.

Maka untuk menjabarkannya, bagaimana lembaga amil zakat dapat menempatkan konsep inovasi dalam dua cara pandang tersebut. Dalam paparannya Hilman menawarkan gagasan green zakat di tengah perkembangan industri keuangan yang inklusif.

Dalam situasi tertentu, inovasi zakat masih memiliki keterbatasan. “Selama ini isu pendidikan, kesehatan, dakwah-sosial, ekonomi dan lainnya masih dapat disentuh pemberdayaan zakat. Tapi ada hal lain yang masih belum tergarap oleh lembaga amil zakat yakni bagaimana zakat mampu mengemas isu lingkungan sebagai program zakat yang inovatif,” pungkasnya.

Langkah selanjutnya, papar Hilman, bagaimana merumuskan konsep investasi sosial (social investment) oleh lembaga zakat. Artinya, jelas Hilman, harus dikonsepsikan juga bagaimana mengomunikasikan konsepnya kepada mitra strategis lembaga amil zakat.  “Karena itu, memproyeksikan green zakat menjadi penting untuk memaknai kesejahteraan berkelanjutan,” tandasnya.

Sementara itu, anggota Baznas, Nana Mintarti mengulas zakat sebagai media perubahan sosial. Menurutnya, zakat sebagai media melakukan perubahan sosial keberadaannya ada dalam sektor keuangan (moneter), di sisi lain juga berada dalam sektor riil (bisnis dan perdagangan).

Pada kesempatan lain, lembaga-lembaga lain di luar lembaga amil zakat terus memantau bagaimana perkembangan sektor keuangan syariah, dan apa irisannya dengan zakat, infak dan sedekah. “Sampai saat ini, pertumbuhan zakat terus meningkat, optimis, dengan kata lain potensi zakat masih besar (market share),” paparnya.

Adapun tantangannya, sambung Nana Mintarti, bagaimana zakat pada aspek pemberdayaannya mampu melakukan transformasi sosial.  Jika penyaluran zakat meningkat, maka pengaruhnya zakat juga dapat meningkatkan konsumsi kebutuhan pokok (basic needs), tambahnya.

Dalam konteks ini, ada agregat dalam aspek ekonomi makro yang pengaruhnya juga signifikan sejalan dengan capaian SDGs yang dalam kontribusinya saling memengaruhi sehingga para pihak yang berkepentingan (stakeholders) saling melihat untuk memaknai kesejahteraan dan spiritualitas.

Langkah tersebut pastinya dapat meninjau ulang pemberdayaan zakat berdasarkan legalitas agar sesuai tujuannnya untuk meningkatkan kebermanfaatan. Dalam Islam tujuan zakat sejalan dengan  maqosid syari’yah karena di dalamnya selain menjaga harta, jiwa dan lainnya juga mencakup kepentingan sosial (social interest).

Ilustrasinya adalah apakah makan dan minumnya berkualitas ? Hal ini sangat ditentukan oleh kebutuhan manusia yang pada dasarnya tidak sekedar menilai kebutuhan melainkan bagaimana paradigma pemberdayaan zakat dapat menciptakan kebutuhan dan kesejahteraan.

Dalam melengkapi ulasan tersebut, perwakilan dari SROI Network Indonesia, Rini Suprihartanti, mengutarakan wacana pengembangan SROI Network Indonesia dirintis sejak 2014. Beberapa komunitas mitra pendirinya adalah praktisi berpengalaman, peneliti dan pegiat program-program investasi sosial.

Konsep SROI dalam ekosistem lembaga amil zakat dari waktu ke waktu terus dikembangkan, termasuk oleh lembaga pemberdayaan seperti NGO misalnya. “Bagi lembaga amil zakat, SROI bertujuan untuk memastikan target sasaran yang tepat, apakah program penyaluran dan pendayagunaan zakat berjalan dengan kualitas dan kuantitas yang baik,” jelasnya.

Yang menarik, sebagai bagian dari inovasi zakat, SROI akan masuk dalam belantara fikih zakat secara holistik dan integral. Kata kuncinya untuk mewujudkan nilai manfaat program pemberdayaan zakat dalam segenap aspek manfaat bagi ekosistem zakat.

SROI sebagai kerangka sudut pandang berupaya mengukur, mengevaluasi, dan mengoptimalkan neraca sosial-ekonomi dalam membantu capaian kinerja pemberdayaan dan penyaluran zakat dari sisi finansial yang dampaknya begitu luas bagi seluruh stakeholders. (na / www.lazismu.org)

Pengertian dan Dalil Qurban (Udlhiyah)

Kata qurban berasal dari qaruba-yaqrubu-qurbanan yang berarti hampir, dekat, atau mendekati. Dalam bahasa Arab kata qurban disebut udhiyyah. Kata udlhiyyah merupakan bentuk jama’ dari kata dlahiyah yang berarti binatang sembelihan, disebut juga nahr (ibadah qurban). As-Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh as-Sunnah, Jilid III, hal 197. mengatakan bahwa al-udhhiyyah adalah; Al-Udhhiyyah adalah nama bagi binatang yang disembelih baik unta, sapi dan kambing pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”.

Dr. Wahbah az-Zuhaily dalam kitab al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh, Juz;III, hal 594 menjelaskan tentang al-Udhiyah sebagai berikut; Artinya: al-Udhiyah menurut bahasa adalah nama bagi hewan yang dikurbankan atau nama bagi hewan yang disembelih pada hari-hari ‘Idul Adha. Dengan demikian al-Udhiyah adalah hewan yang disembelih pada hari Adha.

Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MTT PPM) qurban adalah udhiyyah, yaitu sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhailiy. “Dia (qurban) adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri (kepada Allah) dalam waktu tertentu pula atau hewan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari Nahar”.

Dasar Hukum Berqurban

Ibadah qurban merupakan ibadah yang disyariatkan berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadis Nabi;

  1. Surat al-Kautsar (108): 1-2 sebagai berikut; “Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan engkau (Muhammad) ni’mat yang banyak, maka shalatlah kamu karena Tuhanmu dan sembelihlah (kurbanmu).” (Q.S. Al-Kautsar:1-2).
  2. Surat al-Hajj (22): 36 : “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian daripada syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak daripadanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelih dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang-orang yang tidak minta-minta dan orang-orang yang minta-minta. Demikianlah Kami menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (Q.S.Al-Hajj: 36).
  3. Hadis Nabi dari Jabir. “Saya shalat ‘Idul Adlha bersama Rasulullah saw, kemudian setelah selesai, kepada beliau diberikan seekor kibasy (kambing yang besar) lalu beliau menyembelihnya seraya berdoa: Bismillahi wallahu akbar, Allahumma hadza ‘anniy wa ‘an man lam yudlahhi min ummatiy (Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Wahai Allah, ini dariku dan dari orang yang tidak berqurban dari umatku).” [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Turmudziy].

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum qurban, ada yang mengatakan wajib dan ada pula yang berpendapat sunnah. Terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai hukum melakukan qurban, tetapi yang jelas bahwa ibadah qurban itu diperintahkan oleh Allah, seperti dalam surat al-Kautsar (108): ayat 1-2. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dab beribadahlah.” (QS: al-Kautsar: 1 dan 2).

Perbedaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;

  1. Abu Hanifah, al-Auza’iy, dan Malik berpendapat bahwa kurban hukumnya wajib. Adapun dalil yang dijadikan dasar adalah ;
    a. QS al-Kautsar (108):2. “Maka shalatlah kamu karena Tuhanmu dan sembelihlah (kurbanmu).” (Q.S.
    Al-Kautsar:1-2).
    b. Hadis Ahmad dari Abu Hurairah. Dari Abi Hurarah Ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda ”Barangsiapa yang memiliki keleluasan harta dan tidak menyembelih hewan qurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Muhammad Ibn Ismail al-Kahlany dalam kitab Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram menjelaskan bahwa hadis di atas dijadikan dasar oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa qurban hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Secara lengkap beliau mengatakan sebagai berikut; Ulama telah berdalil dengan hadis ini untuk menentukan hukum wajib berqurban bagi yang mampu, karena Rasulullah saw. melarang untuk mendekati tempat shalatnya menunjukkan bahwa dia (yang tidak berqurban padahal ia mampu) meninggalkan kewajiban, seakan-akan Rasulullah saw. bersabda : Tidaklah shalat yang dilakukan berfaedah, karena meninggalkan kewajiban ini (berqurban), karena firman Allah: “maka shalatlah karena Tuhan kamu dan berqurbanlah” dan hadis Nabi saw. “Wajib bagi penghuni rumah berqurban dalam setiap tahun”.
    Catatan MTT PP: hadis di atas sesungguhnya adalah hadis yang daif, karena keberadaan seorang perawi yang bernama Abdullah ibn Ayyash yang munkarul hadis dan lemah hafalan. Namun, Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadis di atas dengan sanad lain yang bernilai sahih, yaitu sanad yang tidak terdapat Abdullah ibn Ayyash di dalamnya. Namun sayangnya riwayat alBaihaqi tersebut mauquf, yaitu hanya sampai kepada Abu Hurairah. 
  2. Imam as-Syafi’i, Malik dan Ahmad berpendapat bahwa hukum qurban adalah Sunnah Muakkadah. Pendapat mereka didasarkan pada dalil hadis Nabi saw. dari Ummu Salamah ; Apabila telah masuk hari kesepuluh (bulan Dzulhijjah), dan salah seorang darimu ingin berkurban, maka ia tidak memotong rambut dan kukunya (HR Muslim).

Hikmah Berqurban

Hikmah disyariatkannya berqurban antara lain;

  1. Sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberikan ni’mat yang banyak kepada kita.
  2. Bagi orang yang beriman kepada Allah, dapat mengambil pelajaran dari keluarga nabi Ibrahim As., yaitu; (a). Kesabaran nabi Ibrahim dan putranya Ismail As. ketika keduanya menjalankan perintah Allah. (b). Mengutamakan ketaatan kepada Allah dan mencintai-Nya dari mencintai dirinya dan anaknya.
  3. Sebagai realisasi ketaqwaan seseorang kepada Allah.
  4. Membangun kesadaran tentang kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap orang miskin. Allah Swt. berfirman : Beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur (al-Hajj: 36).

Sumber : TUNTUNAN IDAIN dan QURBAN, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MTT PPM)

Segera Tunaikan Zakat Fitrah, Jangan Sampai Terlupakan !

Selain berpuasa, ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan oleh setiap pribadi muslim pada bulan suci Ramadhan. Satu kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi itu adalah mengeluarkan zakat fitrah.

Dimana kewajiban membayar zakat fitrah itu dibebankan kepada setiap pribadi muslim dan muslimah, anak-anak atau dewasa, kaya atau miskin, dengan ketentuan pada malam hari raya mereka memiliki kelebihan dari kebutuhan pokoknya untuk sehari. Jika ketentuan tersebut telah terpenuhi, maka zakat fitrah ini wajib dibayarkan oleh setiap pribadi muslim paling lambat sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan.

Perintah membayar zakat fitrah sebelum berangkat shalat Idul Fitri itu sebagaimana termaktub dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pensucian diri bagi orang yang berpuasa dari perkataan tidak berguna/sia-sia yang jorok/buruk, dan untuk memberikan makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa menunaikannya sebelum shalat (shalat ‘Id), maka itulah zakat yang diterima (maqbul) dan barangsiapa menunaikannya sesudah shalat, maka itu termasuk shadaqah.

Dalam hadis tersebut Rasulullah Muhammad secara jelas memerintahkan setiap muslim membayar zakat fitrah sebelum berangkat untuk shalat Idul Fitri.

Kewajiban dan keutamaan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi setiap muslim juga sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang menyatakan, belum sempurna amal ibadah seseorang yang dilakukan pada bulan Ramadhan sebelum dia menunaikan kewajiban zakat fitrah.

Nah, yang patut kita cermati adalah apa hikmah dibalik perintah yang mewajibkan setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah itu. Terutama hikmah bagi yang mengeluarkan zakat atau muzakki.

Hikmah pertama zakat fitrah ini adalah media untuk menyucikan harta maupun menyucikan diri orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor serta lainnya. Hal itu sebagaimana terdapat dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim.

Hikmah kedua, zakat fitrah secara psikologi memiliki pengaruh penting bagi jiwa, yakni menghapus sifat atau penyakit rohani seperti kikir, ego dan sombong. Melalui zakat fitrah akan terbangun rasa persaudaraan, kasih sayang, persamaan dan rasa setia kawan antara si kaya dan simiskin.

Hikmah ketiga, zakat fitrah juga diharapkan menjadi momentum dan kebiasaan kaum muslim untuk gemar membantu sesama. Tidak hanya di bulan Ramadhan, tapi perlu dibudayakan sepanjang hayat. Dengan demikian tidak akan terjadi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin seperti yang terjadi selama ini.

Oleh karena itu, dengan mengeluarkan zakat fitrah itu seyogianya mampu menjadikan setiap muslim menjadi pribadi-pribadi dengan jiwa sosial yang tinggi, empati kepada orang lain dan tidak serakah. Itulah esensi dari zakat fitrah yang kita keluarkan dengan penuh keyakinan dan ikhlas seraya mengharapkan ridha Allah Swt.

Selain hikmah, perintah untuk berzakat fitrah juga memiliki berbagai manfaat yang bisa dirasakan oleh mustahiq maupun bagi penerima zakat fitrah, yang dalam hal ini utamanya adalah fakir miskin.

Manfaat pertama, sebagai pembersih atau penyuci jiwa bagi orang-orang yang berpuasa dari perkataan, perbuatan, serta perangai buruk yang tidak ada manfaatnya dan tak dicontohkan Rasulullah saw.

Kedua, zakat fitrah merupakan subsidi makanan bagi fakir miskin, di hari ketika banyak orang kaya berkecukupan merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan. Zakat fitrah bermanfaat agar fakir miskin bisa merasakan kegembiraan di hari raya sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang lebih mampu.

Ketiga, zakat fitrah bermanfaat sebagai pembeda ibadah agama Islam dengan agama lainnya.

Keempat, zakat fitrah sebagai bentuk edukasi masyarakat di segala lini dan usia, bahwa Islam merupakan agama yang peduli terhadap sesama.

Terakhir, zakat fitrah sesungguhnya memiliki fungsi untuk dapat mengubah keadaan si mustahiq menjadi muzakki. (Aan-LikMu).

Mari berzakat melaului LAZISMU :

REKENING ZAKAT

  • No. 9939 810 000 000 000 Bank Syari’ah Mandiri a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim.
  • No. 7763 010 000 000 000 Bank Mu’amalat a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim.
  • No. 6141 111 999 Bank Jatim Syariah a/n Lazismu Jatim Zakat.

Hilman Latief, Ph.D : “Amal Usaha Muhammadiyah, Pajak dan Lazismu”

Hilman Latief, Ph.D

Bagi sebagian warga Muhammadiyah, mungkin saat ini Lazismu dianggap ‘hanya’ sebagai lembaga amil ‘biasa’ yang tidak berbeda dengan pengumpul dan pengelola zakat infak dan shadaqah (ZIS) lainnya. Sebagai Amil, memang Lazismu bertugas mengumpulkan, mengelola dan mendayagunakan dana zakat, infak, dan sadaqah dari warga masyarakat, termasuk dari simpatisan dan warga Muhammadiyah. Padahal, bila dicermati lebih jauh dan tentu saja lebih bijak, terdapat banyak hal yang dapat diperoleh manfaat oleh warga Muhammadiyah ketika mereka menunaikan ZIS nya melalui Lazismu. Secara khusus, manfaat itu dapat diperoleh ketika kita mengaitkan Lazismu dengan dua hal, yaitu pajak dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Sebagaimana kita ketahui bersama, regulasi tentang zakat dan pajak di Indonesia terus berkembang. Di luar perdebatan konseptual apakah Muslim yang telah menunaikan pajaknya harus membayar zakat lagi, atau aspek manakah yang harus ‘dipotong’ terlebih dahulu dari penghasilan seseorang, zakat atau pajak, sebetulnya warga Muhammadiyah perlu melihat aspek lainnya secara lebih strategis. Aspek strategis itu adalah bagaimana mengoptimalkan zakat melalui Lazismu dan implikasinya pada pengurangan penghasilan kena pajak bagi pegawai AUM. Saya yakin, sebagai warga negara yang baik dan Muslim yang taat, warga Muhammadiyah dan pegawai AUM membayar pajak dan zakat sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi warga masyarakat yang menunaikan kewajiban laporan pajak, bukan Maret kemarin adalah bulan dimana banyak orang sibuk mengisi SPT Tahunan. Jelas, bagi warga negara yang baik dan melakukan sendiri laporannya, warga Muhammadiyah akan sadar bahwa terdapat satu item yang dapat mengurangi penghasilan kena pajaknya, yaitu zakat. Saya belum punya angka berapa banyak warga Muhammadiyah yang telah memanfaatkan pengisian item zakat untuk mengurangi penghasilan kena pajak mereka, dan berapa pula estimasi angka yang dapat diakumulasi dari keseluruhan warga Muhammadiyah yang menjadi pegawai dan harus membayar pajak. Faktanya, masih banyak Amal Usaha Muhammadiyah yang masih belum melirik masalah ini sebagai masalah penting. Padahal ketentuan ini berlaku sudah lama. Pasal UU 38/1999 yang diperkuat dengan Pasal 22 UU 23/2011 tentang Zakat dan juga UU No. 17/2000 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sudah mengatur masalah ini. Intinya zakat bisa mengurangi penghasilan kena pajak.

Muhammadiyah memiliki banyak Amal usaha, mulai sekolah, perguruan tinggi, klinik dan rumah sakit, dan bahkan lembaga keuangan. Ada puluhan ribu guru, dokter, perawat dan pegawai yang bekerja dalam AUM, yang tentunya mereka membayar pajak penghasilan (PPh) dan juga zakat/infak sebesar 2.5%. Untuk dapat memanfaatkan skema pengurangan penghasilan kena pajak, seorang pembayar zakat harus melampirkan Bukti Setor Pajak, baik itu dilakukan secara pribadi, dan apalagi secara kolektif. Lazismu adalah lembaga amil zakat nasional yg sudah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah.

Dalam praktiknya, banyak AUM yang sudah memotong gaji pegawainya untuk zakat/infak wajib. Lalu kemana dana potongan itu disetorkan, dan apakah sudah dimanfaatkan oleh AUM untuk mengurangi penghasilan kena pajak? Bila melihatnya secara pribadi-pribadi, mungkin saja warga Muhammadiyah bisa mengabaikan skema relasi pajak dan zakat ini dalam AUM. Tetapi bila berfikir kolektif, sebetulnya hasilnya lumayan mencengangkan.

Misalnya sebuah Amal Usaha Muhammadiyah yang besar, seperti Perguruan Tinggi, punya pegawai sebanyak 1000 orang (dosen, pegawai tendik, dan karyawan lainnya) yang setiap bulan gajinya kena potong zakat/infak sebesar 2.5%. Katakanlah setiap tahun seorang pegawai kena potong 2-3 juta rupiah untuk zakatnya/pertahun (silahkan untuk para pegawai AUM cek lagi slip gajinya, berapa potongan zakat perbulan). Jadi, bila 1000 pegawai dikalikan 2-3 juta, maka jumlahnya antara 2-3 milyar pertahun? Itu baru satu AUM. Sementara ini, Muhammadiyah memiliki ratusan perguruan tinggi, klinik dan rumah sakit. Bila di suatu provinsi ada beberapa perguruan tinggi, sekian rumah sakit dan belasan sekolah saja, sebut saja provinsi DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah atau Jawa Barat maka saya kira, sekurang-kurangnya ada 10-an milyar yang bisa di kurangkan untuk SPT Tahunan secara kolektif. Tinggal hitung ada berapa provinsi yang AUM nya cukup kuat. Tentu, itupun bisa dilakukan bila keberadaan Lazismu sebagai Laznas resmi dapat dimanfaatkan. Dana yang di “saving” dari bayar pajakpun bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan yang lain.

Daripada AUM saat ini menggunakan numenklatur yang bermacam-macam untuk pengelola zakat pegawainya, kenapa gak ganti saja numenklaturnya dan diintegrasikan dengan Lazismu. Selain resmi sesuai undang-undang, Lazismu juga memberikan manfaat kolektif tambahan bagi AUM. Masalah dananya, silahkan dikelola sesuai dengan tradisinya masing-masing di dalam AUM, meskipun tetap harus berani untuk lebih terbuka dan melakukan perubahan agar lebih akuntable, dan pegawainya lebih diringankan dengan bayaran pajak dan zakatnya. Gak terlalu sulitkan? Asal punya niat kolektif, Insya Allah kita bisa melakukannya.

Oleh Hilman Latief (Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

 

Dana Zakat Digunakan Untuk Kepentingan Umum

Assalamu’alaikum wrwb. Pak ustadz, saya ingin menanyakan terkait keberadaan orangorang miskin. Tidak perlu jauh-jauh ustadz, di lingkungan rumah saya banyak ditemui mereka tidak hanya miskin secara spiritual, dari akses pun tak berdaya. Pertanyaan saya, apakah dana zakat hanya boleh untuk individu. Saya pernah dengar katanya manfaat zakat untuk kepentingan ummat. Mohon paparannya dan dalil petunjuknya. Terima kasih ya ustadz. (Abdillah di Jakarta).

TANYA JAWAB ZAKAT bersama Dr. Hamim Ilyas, M.Ag.

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bapak Abdillah yang dirahmati Allah, persoalan kemiskinan telah menjadi perbindangan umum, dan hidup dalam kemiskinan ada di sekitar kita. Bisa kerabat, tetangga, kawan dan saudara dekat. Seperti pengangguran, pengemis, yatim-piatu dan lain sebagainya. Dalam fikih zakat mereka disebut mustahik. Artinya orang yang berhak menerima zakat.

Firman Allah SWT, dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 9 secara jelas diterangkan yang artinya : “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Berdasarkan penafsiran atas ayat tersebut, kelompok penerima zakat terdiri dari 8 asnaf. Dalam ayat tersebut ada kata (li) yang maksudnya diperintukkan bagi individu. Jumlahnya ada enam antara lain : fakir, miskin, amil, mu’allaf, ghorim dan ibnu sabil.
Sementara itu, kata (fi) dalam ayat itu diperuntukkan kepentingan umum. Misalnya budak dan fisabilillah, hal ini berdasarkan tafsir al-Manar. Fisabilillah untuk menunjukkan keunggulan. Sedangkan dalam mazhab Syafii, fisabilillah untuk kepentingan umum dianggap pendapat yang paling lemah.
Namun karena zaman telah berubah, globalisasi ada di mana-mana, sekarang pendapat itu menjadi yang paling kuat. Kompleksitas persoalan kemiskinan dan ketertindasan begitu nyata. Mudah-mudahan dengan penjelasan ini menjadi terang. Semoga Bapak mendapat berkah dan dimudahkan rejekinya. Aamiin.

Wakaf Produktif Investasi Abadi

Syamsun Aly, MA

Dalam sebuah hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan : “Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah  perbuatan (amal) nya, kecuali 3 perkara : Shadaqah Jariyah atau Ilmu yang bermanfaat atau Anak Shalih yang mendo’akan (orang tua) nya”. (H.R. Jamaah selain al Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘Anhu.)

Hadits di atas memberikan pelajaran kepada kita, bahwa meski manusia sudah meninggal dan harus berpisah dengan keluarga, harta serta kedudukan yang sangat dicintainya selama hidup di dunia, namun masih ada 3 hal yang tetap menyertainya sejak di alam kubur (barzah) hingga alam akhirat, untuk dipersembahkan ke hadhirat sang pencipta. Di antaranya adalah Shadaqah Jariyah (Wakaf Produktif).

Wakaf Produktif ialah ; memberikan harta di jalan Allah, beruapa uang atau barang. Bisa berupa sebidang tanah atau bangunan masjid/mushalla, madrasah, pondok pesantren, panti asuhan, balai pengobatan, pengadaan mobil ambulance, mobil operasional dakwah dan lainnya. Fungsinya untuk menolong fihak-fihak yang membutuhkan, (fuqaraa’, masaakiin serta kelompok dhu’afa’ lainnya),  yang secara rutin dan berkesinambungan bisa dimanfaatkan  bagi dakwah dan perjuangan agama serta kepentingan umum, hingga kehidupan dunia berakhir.

Para Pecinta Wakaf Produktif. Sudah banyak dalam kehidupan ini orang yang menyintai dan memilih Wakaf Produktif kepada Muhammadiyah untuk kepentingan dakwah Islam maupun untuk kepentingan umum, sejak perintisan berdirinya oleh K.H. Achmad Dahlan (Allahu yarhamhu)  hingga saat ini. Baik dari orang dalam maupun luar persyarikatan, karena begitu besarnya kepercayaan ummat kepada Muhammadiyah.

Hajah Mahiyah Surabaya (Allahu yarhamha) misalnya, telah mewakafkan beberapa lahan tanahnya di wilayah kecamatan Kenjeran. Tanah berlokasi di Platuk Gg. Langgar No. 15 yang kemudian dibangun Masjid Al Amin yang relatif besar dan berlantai 2. Lahan tanah di Jl. Platuk No. 104 yang kemudian dibangun Gedung SMP Muhammadiyah 15 berlantai 3 serta Gedung Dakwah Muhammadiyah Cabang Kenjeran lantai 4. Kemudian wakaf tanah di Jl. Pogot No. 1-3 yang kemudian dibangun Masjid At Taqwa berlantai 2.

Ketika ditanya (waktu masih hidup), kenapa mbah mewakafkan semuanya? maka jawabnya :  “ Saya ini  orang bodoh nak, jadi nggak bisa mengajarkan ilmu apa-apa, saya juga gak punya anak, jadi nggak ada yang mendo’akan saya bila saya mati nanti. Satu-satunya yang bisa saya harapkan (menurut pak kyai) ya mewakafkan tanah saya ini, barangkali bisa menjadi amal jariyah saya”.

Di kota Pasuruan ada seorang ibu janda, Hj. A. Rouf namanya, yang mewakafkan Bengkel dan rumahnya berlantai 4 untuk asrama santri Tahfidhul Qur’an kepada Muhammadiyah, untuk menyiapkan imam-imam shalat jama’ah serta kader ulama’ masa depan, yang sudah dimanfaatkan sejak 1 tahun silam.

Di Kota Blitar, juga ada H. Jafry Soelaiman yang telah mewakafkan 2 unit mobil dakwah, untuk PDM dan Lazismu Kota Blitar. Juga sumbangan untuk pengadaan Swalayan milik Persyarikatan, serta beberapa proyek dakwah Islam (Muhammadiyah) lainnya, yang nilainya milyaran rupiah.

Kemudian akhir-akhir ini banyak Wakaf Produktif ummat yang dikoordinir oleh Lazismu Jatim saat terkena musibah gempa/banjir. Seperti membangun kembali Pondok Pesantren di Bima yang hancur karena banjir serta penyerahan mobil ambulance untuk masyarakat sekitar.  Kemudian bantuan 4 unit rumah, 1 unit mobil ambulan, penanaman 1000 pohon jati emas dan pemberian 1000 perlengkapan shalat, Kitab al Qur’an dan sembako untuk warga Pacitan akhir Pebruari 2018, dan masih banyak lagi lainnya.

WAKAF PRODUKTIF, INVESTASI ABADI

Menurut pernyataan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam  harta manusia itu ada 3 macam. Pertama; Yang ia makan sampai habis, Kedua; yang ia pakai/gunakan sampai rusak dan ketiga ; yang ia  belanjakan di jalan Allah.

Harta yang pertama dan kedua itu hanya terbatas di dunia, sementara harta yang ketiga, dimiliki manusia sejak di dunia hingga di akhirat kelak. Maka Wakaf/Shadaqah  merupakan harta sejati  manusia yang bersifat Abadi.

Ketika seseorang mewakafkan hartanya di dunia karena Allah untuk kepentingan Sabilillah, maka dia mendapat balasan pahala saat berwakaf dan setiap kali wakaf tersebut dimanfaatkan dalam kehidupan. Semakin banyak yang menggunakan, maka semakin banyak pula pahala yang diterimanya.

Tidak hanya terbatas itu, orang yang gemar berwakaf/bershadaqah, akan diberi kemudahan dalam hidupnya (QS. Al Lail : 5-7), ditambah/dilipat-gandakan harta kekayaannya (QS. Ar Ruum :39) dan dihindarkan dari bencana kehidupan serta di sembuhkan dari berbagai penyakit dan rasa sakit (al Hadits).

Orang yang berinfaq di jalan Allah diibaratkan petani yang menanam 1 biji padi di sawah/ladangnya, lalu tumbuh 7 tangkai dan setiap tangkai ada 100 biji, sehingga menanam 1 kebaikan, akan tumbuh menjadi 700 kebaikan bahkan bisa lebih dari itu. (simak QS. Al Baqarah : 261).

Semoga uraian diatas bisa menginspirasi kita semua dalam beramal sholeh dan menebar kebaikan demi kemaslahatan ummat. Aamiin.

Syamsun Aly, MA, Wakil Ketua Lazismu Jawa Timur.