Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Kamis , 1 Oktober 2020
Breaking News
You are here: Home » Kolom ZISKA

Category Archives: Kolom ZISKA

Indeks Literasi Zakat Warga Muhammadiyah Harus Terus Ditingkatkan

Apa yang diketahui oleh masyarakat tentang zakat? Apakah hanya bentuk spiritual? Atau mimpi bahwa zakat bisa diproyeksikan menjadi penopang kegiatan ekonomi? Peningkatan indeks pendidikan misalnya, kesehatan masyarakat misalnya?” Itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus digali untuk mengetahui seberapa besar indeks literasi masyarakat tentang zakat.

Pada hari Sabtu (26/9), Lazismu Pusat mengadakan Press Release & Kajian Webinar daring dengan tema “Indeks Literasi Zakat Warga Muhammadiyah & Upaya Edukasi Zakat di Persyarikatan”. Kegiatan ini dihadiri oleh Hilman Latief, ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat yang menjadi keynote speaker. Hamim Ilyas, Ketua Dewan Syariah Lazismu Pusat dan Abdul Aziz, Peneliti Puskas Baznas juga hadir sebagai pembicara.

Dalam webinar tersebut, Hilman menyebut bahwa masyarakat merasa sudah mengetahui tentang zakat dan sudah pernah mendengar apa itu zakat. Namun warga sebenarnya perlu mengetahui zakat secara lebih jauh.

Menurutnya penting untuk memahami lebih jauh tentang persepsi masyarakat terhadap zakat. “Apa yang diketahui oleh masyarakat tentang zakat? Apakah hanya bentuk spiritual? Atau mimpi bahwa zakat bisa diproyeksikan menjadi penopang kegiatan ekonomi? Peningkatan indeks pendidikan misalnya, kesehatan masyarakat misalnya?” ujarnya.

Ia menyebut Keterlibatan masyarakat dalam mengeluarkan dan mengelola zakat bisa diperkuat jika pemahaman mereka tentang zakat sudah kuat. Maka solusinya adalah edukasi ke masyarakat. Bahwa zakat tidak hanya sekedar ekspresi keagamaan semata, namun juga ibadah yang mampu menggerakkan kekuatan sosial ekonomi.

Menurutnya zakat adalah ibadah mahdhah (ibadah khusus) sekaligus ibadah maliyah ijtima’iyyah (kebendaan sosial), bahkan maliyah iqtisodiyah ijtima’iyyah (kebendaan, ekonomi, dan sosial). Maka, sebagai persyarikatan, pengurus Lazismu diminta untuk mampu memberikan edukasi yang tepat tentang zakat.

“Kita harapkan potensi zakat bisa diperkuat dengan literasi zakat. Kita berharap arsitektur dan ekosistem filantropi Muhammadiah bisa terbangun. Hari ini kita melihat seolah-olah zakat dan wakaf tidak terintegrasi. Padahal, Lazismu, Majelis Wakaf, Majelis Dikdasmen, dan lain-lain harus terintegrasi. Agar kita lebih mudah mengklasifikasikan tanah, memproyeksikan wakaf, dan lain-lain,” imbuhnya.

Sementara itu, Hamim Ilyas menjelaskan bahwa potensi zakat di Indonesia pada tahun 2020 adalah sebesar 330 T. Sedangkan realisasinya diperkirakan hanya sekitar 12 T berdasarkan pada capaian realisasi tahun 2019 yaitu sebesar 10 T.

Kendala utama minimnya realisasi zakat menurut Hamim adalah literasi zakat, lembaga dan SDM pengelola, dan regulasi zakat. Rendahnya literasi zakat sangat berdampak pada tingkat realisasi zakat.

Hamim Ilyas sebagai Dewan Syariah Lazismu Pusat menyampaikan banyak hal seputar konsep zakat. Ia menyebut bahwa infaq adalah membelanjakan harta untuk kepentingan umum. Infaq yang hukumnya wajib adalah zakat mal, zakat fitrah, fidyah, kafarat, nadzar, dan infaq tanggap darurat.

Fungsi zakat adalah an-nama’ wa ar-rai’ (tumbuh-berkembang dan subur-indah). Semuanya harus berjalan secara bersamaan, antara tumbuh, berkembang, subur, dan indah. “Kalau hanya tumbuh saja tapi tidak indah ya sama saja, tidak akan memberikan kemanfaatan secara maksimal,” ujarnya.

Berbeda dengan Hamim Ilyas, Abdul Aziz menjelaskan banyak hal tentang indeks literasi zakat hasil survey Baznas pada tahun 2020. Ia menyebut secara umum indeks literasi zakat mencapai angka moderat (66,78). Moderat berarti tidak tinggi namun juga tidak rendah.

“Yang menjadi masalah dalam rendahnya indeks literasi zakat nasional adalah pemahaman lanjutan tentang zakat. Pemahaman dasar sebenarnya juga moderat. Tetapi pemahaman lanjutan nilainya 56,68. Ini masuk ke kategori rendah,” jelasnya.

Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui terkait dengan pengelolaan zakat oleh lembaga resmi. Sedangkan 60% masyarakat menunaikan zakat di luar lembaga zakat resmi. Ceramah keagamaan, menurut hasil survey baznas, menjadi sumber informasi terbesar dalam hal edukasi zakat.

“Maka LAZ harus bekerjasama dengan para dai di berbagai masjid dan pengajian agar mau mengkampanyekan pengelolaan zakat melalui institusi LAZ resmi,” ujarnya. (Yusuf/www.lazismu.org)

Ustadz Zainuddin MZ : “Bolehkah Qurban Patungan?”

Seorang teman pernah bertanya, bolehkah qurban patungan padahal tidak ada tuntunannya dalam Kitab Allah dan sunah Rasulullah saw.? Semestinya saya tidak langsung menjawab boleh atau tidak, melainkan mendefinisikan dulu secara spesifik, qurban apa yang dimaksudkan, jika tidak demikian, maka akan terjadi kesalah fahaman. Inilah sebuah pengalaman jika berdiskusi tentang sesuatu yang belum jelas maksudnya. Karena setiap jenis qurban memiliki aturan syariat yang berbeda.

A. Definisi Qurban

Secara etimologi, qurban dari kata qaruba-yaqrubu berarti dekat. Al-qurbu maknanya kedekatan, dengan tambahan alif dan nun menjadi qurban berarti sighat mubalaghah, yakni sedekat dekatnya. Seperti ghadhab berarti marah, ghadban berarti klimaks dari kemarahan. Rahima artinya sayang, maka rahman berarti maha sayang, dan begitu seterusnya.

Secara terminologi, adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah untuk tujuan kedekatan kepada Allah sedekat-dekatnya dengan media penyembelihan ternak qurban (bahimah an’am) berupa unta, sapi dan sejenisnya, dan kambing dan sejenisnya. Dengan demikian tidak pada tempatnya menggunakan pemikiran liberal, misalnya karena masyarakat sudah bosan daging unta atau sapi atau kambing, lalu dialihkan penyembelihan kelinci atau lainnya.

B. Macam-Macam Qurban

Pertama, Hadyu. Adalah menyembelihan ternak qurban terkait syukuran sukses ibadah haji, khususnya yang berhaji tamattu’, sehingga waktu penyembelihannya setelah wukuf di Arafah, apakah di hari raya Adha atau hari-hari tasyrik.

Kedua, Udhiyah. Adalah penyembelihan ternak qurban sebagai rasa syukur kebersamaan di hari raya Qurban bagi mereka yang tidak pergi haji, sehingga waktu penyembelihannya, sama dengan qurban Hadyu.

Ketiga, Dam. Adalah akibat dari pelanggaran kewajiban-kewajiban terhadap manasik haji, yang di antara kafaratnya adalah penyembelihan ternak qurban. Karena jenis dam bergantung dengan jenis pelanggarannya. Waktu penyembelihannya makin cepat makin baik, sesuai dengan kondisinya. Dengan demikian istilah ‘dam tamattu’, perlu diluruskan. Karena dalam pelaksanaan haji tamatu’ sama sekali tidak ditemukan jenis pelanggarannya, bahkan menurut jumhur ulama haji tamattu’ merupakan yang afdhal.

Keempat, Aqiqah. Adalah penyembelihan ternak qurban terkait syukuran dianugerahi anak, penyembelihannya di hari ketujuh pasca kelahiran anak, walaupun dibolehkan kapan saja setelah itu dalam batas anak belum baligh.

Penjelasan macam-macam qurban ini sangat perlu, karena memiliki perbedaan hukum, mukalaf, distribusi, waktu penyembelihan dan sebagainya. Artikel berikutnya difokuskan pada qurban Udhiyah sebagai rangkaian perayaan hari raya Adha.

C. Siapa Mukalafnya?

Berbeda dengan qurban Hadyu yang mukalafnya secara individu. Untuk qurban Udhiyah mukalafnya adalah kolektif, atas nama keluarga, bukan atas nama individu. Disinilah akar masalah yang membuat diskusi sering tidak terselesaikan dengan baik.

Dalam qurban Hadyu memang ditemukan qurban patungan, yakni seekor sapi atau unta untuk tujuh person. Sehingga jika sebuah keluarga besar sebanyak sepuluh orang menunaikan ibadah haji, maka tujuh di antara mereka bisa bersyarikat membeli seekor sapi, sedangkan tiga sisanya masing-masing seekor kambing, kecuali jika ada anggota keluarga yang tidak mampu, maka dia dapat menggantikannya dengan berpuasa sepuluh hari.

Hadits-hadits yang muncul bolehnya bersyarikat tujuh orang itu porsinya terkait dengan ibadah haji, bukan terkait perayaan berhari raya Adha sebagaiman yang akan dipaparkan pada point berikutnya.

Adapun terkait qurban perayaan hari raya Adha, mukalafnya adalah keluarga (kolektif) bukan individu. Sebagaimana yang diriwayatkan Mihnaf bin Sulaim:

Mihnaf bin Sulaim ra. berkata: Saat kami wukuf di Arafah bersama Rasulullah saw. aku mendengarnya bersabda: Wahai manusia, pada setiap keluarga di setiap tahun penyembelihan Udhiyah dan Atirah.

HR. Baihaqi: 18789; Ahmad: 17920; Abu Dawud: 2788; Tirmidzi: 1518; Nasai: 4224; Ibnu Majah: 3125. Pada awalnya Albani menilainya dhaif, namun akhirnya rujuk dan menilainya shahih. Periksa Shahih Sunan Tirmidzi: 1518. Periksa juga Taraju’at Albani: 193.

Itulah sebabnya hadits riwayat Abu Hurairah berikut ini bermasalah:

Dinarasikan Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mempunyai kemampuan dan ia tidak menyembelih qurban, maka janganlah ia mendekat dengan tempat shalat kami. Hr. Ahmad: 8259, Ibnu Majah: 3123, Hakim: 7565, Baihaqi: 18791.

Pertama, redaksi ‘man kana’ berkonotasi secara individu, pahahal yang benar adalah untuk kolektif. Jika dalam satu keluarga berjumlah enam orang dan semuanya mampu, maka berapa jumlah qurbannya?

Kedua, tidak adanya korelasi yang mampu tidak berqurban dengan pelaksanaan shalat. Artinya, walaupun ada seseorang mampu, namun tidak berqurban dan ia ikut shalat berhari raya Adha jika syarat dan rukunnya terpenuhi, maka shalatnya sah.

Itulah sebabnya, Ibnu Hajar al-Asqalani setelah mendatangkan hadits di atas dalam Bulughul Maram, ia berkomentar yang rajih dalam pandangan ulama adalah mauquf (perkataan Abu Hurairah), bukan sabda Nabi. Dalam kasus seperti ini ucapan Abu Hurairah jelas berseberangan dengan hadits shahih, maka tidak mungkin dikedepankan. Apalagi jika dikaitkan dengan hadits lain: Tiga hal bagiku wajib dan bagi kalian sunah, di antaranya adalah penyembelihan qurban.

D. Qurban Udhiyah Untuk Kolektif

Dari paparan di depan dapat difahami bahwa mukalaf qurban Udhiyah adalah atas nama keluarga. Problem akademiknya, bagaimana seseorang memahami konsep keluarga itu sendiri. Bagi yang memahami keluarga itu hanya anak, bapak, cucu, saudara dan kesejajarannya baik secara nasab maupun pernikahan, tentunya setiap individu keluarga boleh urunan untuk menyembelih qurban Udhiyah, namun jika seseorang memahami konsep keluarga termasuk ikatan kekerabatan dalam interaksi sosial, misalnya keluarga besar pengurus PWM Jatim atau keluarga besar SMA MUHI Sidoarjo urunan untuk dapat membeli seekor kambing atau seekor sapi, kenapa tidak dibenarkan?

E. Hadits Qurban Bersyarikat

Kendala utama kesulitan memahami qurban patungan dikarenakan adanya beberapa hadits yang secara dhahir, qurban apapun secara patungan dibenarkan, jika tujuh orang bersyarikat untuk membeli seekor sapi atau unta.

Pertama, hadits Jabir ra.

Jabir berkata: Rasulullah saw. menuntun tujuh puluh unta saat tahun Hudaibiyah. Katanya: Kami berqurban seekor unta untuk tujuh orang. Hr. Ahmad: 14438; Thabari dalam Tarikh: 2/116; dan Baihaqi dalam Dalail: 31/294.

Analisa: Hadits ini dinilai Arnauth, sanadnya kuat, namun porsinya bukan pada qurban Udhiyah, melainkan qurban Dam. Rasulullah saw. dan para sahabat gagal atau muhshar (terhalang) melanjutkan perjalanan hajinya, sehingga di tempat Hudaibiyan dilakukan perjanjian dengan Quraisy, bahwa umat Islam baru boleh menjalani haji pada tahun berikutnya. Maka konsekuensinya adalah menyembelih qurban.

Kedua, hadits Ibnu Abbas ra.

Ibnu Abbas ra. berkata: (Rasulullah swa. menyembelih qurban Hadyu pada tahun Hudaibiyah) (seekor unta yang bagus awalnya milik Abu Jahal) (pada hidungnya terdapat lingkaran cincin perak, untuk membangkitkan kemarahan orang-orang musyrik). Hr. Abu Dawud: 1749; Ibnu Majah: 3100; Ahmad: 2079.

Analisa: Hadits ini dinilai hasan oleh Albani. Periksa Shahih dan Dhaif Sunan Abi Dawud: 1749. Porsinya sama dengan hadits di atas, yakni pada qurban Hadyu, bukan pada qurban Udhiyah. Terjadinya juga di tahun perjanjian Hudaibiyah ketika Nabi terhalang hendak menjalani ibadah haji.

Ketiga, hadits Jabir bin Abdullah ra.

Jabir bin Abdullah ra. berkata: (Kami pergi berihram haji bersama Rasulullah saw.) (Lalu Nabi memerintah kami tahalul dan menyembelih qurban Hadyu) (kami bersyarikat pada qurban unta dan sapi, setiap tujuh orang dengan seekor unta) (Maka kami menyembelih seekor unta untuk tujuh orang, sapi juga untuk tujuh orang) (Lalu seeorang bertanya Jabir: Apakah siyarikatkan pada unta seperti pada kambing? Ia menjawab, hanyalah pada unta). HR. Muslim: 1217, 1318, 13718; Ibnu Khuzaimah: 2900; Ahmad: 14148, 14965, 15087; dan Baihaqi: 19018.

Analisa: Hadits di atas shahih, porsinya juga qurban Hadyu, yakni saat para shabat berihram untuk haji.

Keempat, hadits Jabir bin Abdullah ra.

Dinarasikan Jabir bin Abdullah ra., Nabi saw. bersabda: Seekor sapi untuk tujuh orang, dan seekor unta juga untuk tujuh orang.

HR. Ibnu Hibban: 1781; Abu Dawud: 2808; Ahmad: 14633; Thabrani dalam Ausath: 5917.

Analisa: Hadits ini dinilai shahih oleh Albani. Periksa Shahih Jami’ Shaghir: 2889. Walaupun tampaknya umum, berlaku setiap jenis qurban, namun yang jeli pasti memahami porsi hadits ini untuk qurban Hadyu sebagaimana hadits Jabir lainnya. Indikasinya, mukalafnya bukan kolektif, melainkan untuk individu.

Kelima, hadits Abu Zubair.

Abu Zubair mendengar Jabir bin Abdullah menceritakan haji Nabi saw. Katanya: (Nabi memerintah kami jika tahalul untuk menyembelih qurban Hadyu, kami bersyarikat dalam qurban itu) (kami menyembelih seekor sapi untuk bersyarikat padanya tujuh orang) (dan seekor unta juga untuk tujuh orang) (Yakni saat Nabi memerintah mereka untuk tahalul dari hajinya).

Hr. Muslim: 1318; Abu Dawud: 2807; dan Nasai: 4393.

Analisa: Hadits di atas shahih. Porsinya jelas pada qurban Hayu, yakni ketika Nabi memerintahkan para sahabat tahulul dari ihram hajinya (fashul haji ila umrah), kemudian mereka diperintah menyembelih qurban Hadyu secara bersyarikat.

Beginilah cara memahami hadits yang kami terapkan dalam kader konsorsium hadits, tidak mengambil hadits secara sepotong, namun harus dirangkum dari berbagai referensi agar dapat diketahui pada porsi apa hadits itu disampaikan oleh Rasulullah saw. Yakni memahami hadits secara proporsional. Adakah hadits yang spesifik, misalnya ketika kami di Madinah, kami berqurban Udhiyah bersyarikat seekor sapi untuk tujuh orang?

F. Catatan Akhir

Saat menikmati perayaan hari raya Qurban, semua elemen masyarakat terlibat mengkonsumsinya, baik yang kaya maupun yang miskin, bahkan yang menggembirakan, Muhamadiyah telah mempelopori qurban sapi raksasa. Jika dibebankan hanya untuk tujuh orang, tentu menjadi beban bagi umat. Alhamdulillah warga Muhammadiyah dengan urunan semampunya dapat membeli sapi tersebut. Untuk dinikmati secara kebersamaan. Sementara qurban Hadyu hanya diperuntukkan untuk qani’ wa mu’tar, al-bais al-faqir.

DR. Zainuddin MZ (Direktur Markaz Turats Nabawi – Pusat Studi Hadits)

 

Orang Yang Mengganti Puasa di Luar Bulan Ramadhan dan Yang Boleh Membayar Fidyah

Orang yang diwajibkan berpuasa Ramadhan adalah semua muslimin dan muslimat yang mukallaf. Orang yang tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan, dan wajib mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan adalah perempuan yang mengalami haidl dan nifas di bulan Ramadlan.

Dasar dalam al-Qur’an dan Hadits

Dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 184, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dan dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 185. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Para ulama telah sepakat bahwa hukum nifas dalam hal puasa sama dengan haidl. Dasarnya adalah sebagaimana Hadits Nabi Muhammad saw: Artinya: “Rasulullah saw bersabda: Bukankah wanita itu jika sedang haidl, tidak shalat dan tidak berpuasa? Mereka menjawab: Ya.” [H.R. Al-Bukhari].

Hadits Nabi Muhammad saw: Artinya: “‘Aisyah r.a. berkata: Kami pernah kedatangan hal itu [haid], maka kami diperintahkan mengqadla puasa dan tidak diperintahkan mengqadla shalat” [HR. Muslim].

Dispensasi dan Mengganti Puasa

Orang yang diberi keringanan (dispensasi) untuk tidak berpuasa, dan wajib mengganti (mengqadla) puasanya di luar bulan Ramadhan:

a. Orang yang sakit biasa di bulan Ramadhan.

b. Orang yang sedang bepergian (musafir). Dasarnya adalah: Firman Allah SWT: Artinya: “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …” [QS. Al-Baqarah (2): 184]. Sabda Nabi Muhammad saw: Artinya: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: Sungguh Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia telah membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang yang bepergian, dan membebaskan pula dari puasa orang hamil dan orang yang menyusui.” [HR. Al-Khamsah].

Boleh Meninggalkan Puasa dan Membayar Fidyah

Orang yang boleh meninggalkan puasa dan menggantinya dengan fidyah 1 mud (0,5 kg) atau lebih makanan pokok, untuk setiap hari.

a. Orang yang tidak mampu berpuasa, misalnya karena tua dan sebagainya.

b. Orang yang sakit menahun.

c. Perempuan hamil.

d. Perempuan yang menyusui. Dasarnya adalah sebagaiana firman Allah SWT: Artinya: “Dan wajib bagi orango-rang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [QS. Al-Baqarah (2): 184]. Hadits Nabi Muhammad saw: Artinya: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: Sungguh Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia telah membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang yang bepergian, dan membebaskan pula dari puasa orang hamil dan orang yang menyusui.” [HR. Al-Khamsah].

Puasa di Masa Covid-19

Atas kondisi mewabahnya Covid-19 pada bulan Ramadan dan Syawwal 1441 H dan tidak mengalami penurunan, maka sesuai dengan keputusan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah : Puasa Ramadhan tetap dilakukan kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik, dan wajib menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat. Untuk menjaga kekebalan tubuh, puasa Ramadan dapat ditinggalkan oleh tenaga kesehatan yang sedang bertugas dan menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

Mari Segerakan Menunaikan Zakat Fithri Pada Masa Wabah Covid-19 Saat Ini

Pada masa pandemi wabah Virus Corona 2019 (Covid-19) ini ummat Islam dihimbau untuk menyegerakan membayar Zakat Fitri untuk menolong fakir miskin yang sedang kesulitan dalam hidupnya.

Zakat Nafs (jiwa) / Zakat Fithri atau dikenal luas dengan sebutan Zakat Fitrah diwajibkan dibayarkan pada bulan ramadhan sebelum shalat ‘id sebanyak satu sha’(± 2,5 kg / 3,5 liter) beras atau bahan makanan pokok untuk membersihkan puasa dan mencukupi kebutuhan orang-orang miskin di hari raya Idul Fitri.

Ketua Badan Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Pusat, Hilman Latief, Ph.D., di Jakarta, sebagaimana dilansir Republika.co.id, 4/05/20, mengatakan bahwa menyegerakan membayar zakat sangat wajar dan sangat mungkin dilakukan oleh ummat Islam.

Ia menyampaikan, saat ini banyak yang berharap lembaga filantropi Islam membantu penanganan pandemi corona. Hanya saja ada perbedaan penanganan bencana alam dan pandemi corona. Bencana alam terjadi di satu titik sehingga masyarakat dari wilayah lain bisa membantu ke masyarakat di titik bencana. Tapi pandemi corona menyebar dan dampaknya sampai ke daerah-daerah.

“Dulu, dana dari Lazismu di daerah bisa dibawa ke pusat misalnya, untuk menangani bencana di suatu daerah. Kalau sekarang dana Lazismu dari daerah digunakan di daerah,” ujarnya.

Hilman juga menjelaskan, lembaga amil zakat nasional seperti Lazismu harus mengatur dana zakat, infak dan sedekah untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan. Dalam situasi krisis dan bencana biasanya dana langsung disalurkan sampai habis, tapi dalam situasi seperti ini dana harus dipersiapkan untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan. Sambil menyiapkan program untuk masyarakat agar mampu bertahan dari dampak pandemi corona.

Oleh karena itu ia menghimbau ummat Islam untuk menyegerakan membayar Zakat Fitri pada masa pandemi wabah Virus Corona 2019 (Covid-19) ini agar kebermanfatannya lebih mengena dan tepat sasaran. (Ad)

  

Amal Ibadah dan Adab Menyambut ‘Idul Adha

Menyambut ‘Idul Adha tentu berbagai hal harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai prestasi diri yang gemilang. Apa saja ? Inilah penjelasannya

AKSI QURBAN BERSAMA UNTUK SESAMA

Apakah Modal Tidak Bergerak Dihitung Zakatnya ?

Assalāmu’alaikum wr. wb.

Untuk zakat perdagangan yang harus dibayarkan apakah dihitung dari seluruh modal termasuk harga tanah, bagunan (toko), barang dagangan, dan hasilnya pertahun, atau cukup dengan hasil dari keuntungan per tahun itu? Bagaimana kalau zakat yang dibayar dihitung dari jumlah modal dan keuntungan lebih besar daripada keuntungan dalam satu tahun? Mohon penjelasan. (AA, Jakarta)

Wa’alaikumussalām wr. wb.

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Untuk menjawab pertanyaan saudara, maka terlebih dahulu kami akan menjelaskan mengenai pengertian perdagangan.

Perdagangan merupakan salah satu bentuk usaha yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Adapun kekayaan dagang adalah segala sesuatu yang diperjualbelikan dengan maksud untuk mencari keuntungan. Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan zakat dari kekayaan yang diinvestasikan dan diperoleh dari perdagangan. Adapun dasar kewajiban zakat perdagangan adalah Q.S. al-Baqarah ayat 267 :

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu, dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya, dan ketahuilah, bahwa Allah maha kaya lagi maha terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 268).

Di dalam Kitab Tafsir al-Maraghi dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan lafal مَا كَسَبْتُمْ adalah harta yang diusahakan, yaitu berupa uang, harta perdagangan, hewan ternak, dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari bumi berupa biji-bijian, buah-buahan dan selainnya. Dari tafsir ayat tersebut, dapat dipahami bahwa harta perdagangan merupakan salah satu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Di dalam Kitab Taisīr Al-Alam syarah kitab Umdah Al-Ahkam pada Kitab Al-Zakat, disebutkan bahwa salah satu makna zakat secara bahasa yaitu berkembang dan mensucikan, keduanya bermakna tambahan dan penyucian. Dalam syariat Islam, harta yang wajib dikeluarkan zakatnya secara khusus yaitu binatang ternak, pajak tanah, uang dan harta perdagangan. Di dalam Kitab al-Bahr ar-Rāiq Syarah Kanzu ad-Daqāiq disebutkan bahwa salah satu syarat zakat adalah al-Namā’. Secara istilah, al-Namā’ (berkembang) terbagi menjadi dua yaitu bertambah secara konkrit dan bertambah secara tidak konkrit. Bertambah secara konkrit adalah bertambah akibat pembiakan dan sejenisnya, sedangkan bertambah secara tidak konkrit adalah kekayaan itu berpotensi berkembang, baik berada ditangannya maupun ditangan orang lain atas namanya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa harta perdagangan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah terbatas pada harta perdagangan yang diperjualbelikan saja (berkembang), sehingga selain harta perdagangan yang tidak diperjualbelikan tidak dikenakan zakat. Harta perdagangan yang tidak dikeluarkan zakatnya itu seperti harga tanah, toko, etalase, timbangan, rak, komputer/alat hitung lainnya dan segala bentuk peralatan yang diperlukan untuk berdagang. Peralatan tersebut tidaklah dihitung harganya dan tidak pula dikeluarkan zakatnya, karena bendanya tetap dan hampir sama sifatnya untuk keperluan pribadi yang tidak berkembang.

Kekayaan perdagangan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah sebesar 2,5%, dengan syarat masanya sudah sampai setahun dan nilainya sudah mencapai satu nisab pada akhir tahun itu. Adapun kekayaan perdagangan yang dikeluarkan zakatnya dihitung dari modal dan keuntungan, bukan dari keuntungan saja. Modal dagang yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah modal yang diperjualbelikan.

Modal dagang adakalanya berupa uang dan adakalanya berupa barang yang dihargai dengan uang. Modal yang wajib dikeluarkan zakatnya, syaratnya yaitu sudah berlalu masanya setahun, berkembang, mencapai satu nisab, bebas dari hutang, dan lebih dari kebutuhan pokok. Adapun ukuran satu nisab pada masa sekarang sama dengan harga 85 gram emas.

Mengenai pertanyaan saudara tentang besar zakat yang dibayar lebih besar daripada keuntungan dalam satu tahun, tampaknya tidak akan terjadi jika saudara menghitungnya tidak menyertakan aset-aset/modal yang tidak diperjualbelikan.

Wallahu a’lam bi as-ṣawāb…

sumber : www.lazismu.org

Mari berdonasi melalui Lazismu…

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan” QS.al-Baqarah 110.

REKENING ZAKAT
  • Bank Syari’ah Mandiri No. 9939 810 000 000 000 a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Mu’amalat No. 7663 010 000 000 000 a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Jatim Syariah No. 6141 111 999 a/n Lazismu Jatim Zakat

REKENING INFAQ

  • Bank Syari’ah Mandiri No. 9939 820 000 000 000 a/n Infaq LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Mu’amalat No. 7664 020 000 000 000 a/n Infaq LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Jatim Syariah No. 6141 919 191 a/n Lazismu Jatim Infaq

REKENING LAZISMU YATIM

  • Bank Jatim Syariah No. 6141 141 141 a/n Lazismu Jatim Yatim

REKENING LAZISMU QURBAN

  •  Bank Mu’amalat No. 7725 040 000 000 000 a/n Qurban Lazismu Jatim.
  • Bank Syariah Mandiri No. 9939 840 000 000 000 a/n Qurban LAZISMU Jatim
  • Bank Jatim Syariah No. 6141 717 171 a/n Lazismu Jatim Qurban

Mengaqiqahi Diri Sendiri dan Penyembelihan Aqiqah Dalam Acara Qurban

Bolehkah Kita Mengaqiqahi Diri Sendiri dan Melakukan Penyembelihan Aqiqah Dalam Acara Qurban ?

Saya tinggal di Jepara yang berbaur di kalangan Muslim tradisional di tempat saya. Saya dimintai pertanyaan tentang mengakikahi diri sendiri ketika sudah besar, akikah itu hukumnya wajib atau sunah pak? Budaya masyarakat jika akikah belum dilaksanakan sejak kecil tapi kalau dewasa diakikahi, padahal akikah tersebut tugas orang tua tapi tatkala dewasa diakikahi sendiri berarti setiap bayi lahir punya tanggungan akikah besok kalau sudah dewasa. Nah, ketika pelaksanaan Idul Qurban, saya juga sebagai panitia qurban mendapatkan peserta akikah dalam pelaksanaan idul qurban, apa yang akan kami kerjakan mengenai penyembelihan akikah dalam acara qurban pak Ustadz? Mohon jawabannya, terima kasih. (Dani Iswadi, Jepara).

Terima kasih atas pertanyaan yang telah bapak ajukan, semoga bapak selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah swt. Sebelum menjawab pertanyaan pertama, perlu kami sampaikan beberapa hal terkait akikah. Secara bahasa, akikah adalah membelah dan memotong, sehingga hewan yang disembelih pun juga disebut akikah, karena tenggorokannya dibelah dan dipotong. Selain itu, ada juga yang mengartikannya dengan rambut yang terdapat di kepala bayi yang baru keluar dari perut ibunya (ash-Shan’any, Subulus-Salam, Bab al-Akikah, hlm. 333).

Adapun akikah menurut terminologi syariat adalah hewan yang disembelih untuk anak yang baru dilahirkan sebagai ungkapan syukur kepada Allah dengan niat dan syarat-syarat yang khusus (Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus-Sunnah, Bab al-Aqiqah, hlm. 636).

Hukum akikah berdasarkan pendapat rajih (kuat) yang disepakati oleh jumhur ulama adalah sunah muakadah. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw: Artinya: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan ingin beribadah atas namanya, maka hendaklah ia beribadah (dengan menyembelih binatang akikah).” [HR. Abu Dawud no. 2842, an-Nasa’i vol. 7 no. 162, Ahmad vol. 2 no.194, dan al-Baihaqi vol. 9 no. 300].

Sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikaruniai anak dan ingin beribadah atas namanya” menunjukkan bahwa akikah sunnah hukumnya.

Adapun tentang pelaksanaannya, akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw: Artinya: “Tiap-tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari yang ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta dicukur kepalanya.” [Hadis diriwayatkan oleh lima ahli hadis dari Samurah bin Jundub, disahihkan oleh at-Tirmidzi].

Memang ada beberapa pendapat tentang kapan waktu pelaksanaan akikah selain hari ketujuh sesudah kelahiran. Paling tidak ada dua pendapat:

Pertama, pendapat yang dikemukakan oleh ulama madzhab Hambali yang mengatakan bahwa pelaksanaan akikah boleh pada hari ke-14, 21 atau seterusnya manakala pada hari ke-7 dari kelahiran anak, orang tuanya tidak mampu mengakikahi. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya: Artinya: “Akikah itu disembelih pada hari ketujuh dan pada hari keempat belas dan pada hari keduapuluh satu.” [HR. al-Baihaqi].

Kedua, pendapat yang dikemukakan ulama madzhab Syafi’i. Menurut mereka akikah tidak akan gugur atau hilang penundaannya sampai akikah itu dilakasanakan, meskipun oleh dirinya sendiri. Mereka berhujah dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Anas ra yang menyebutkan bahwa Nabi saw baru melakukan akikah untuk dirinya setelah beliau menjadi Nabi: Artinya: “Bahwasanya Nabi saw mengakikahkan dirinya setelah beliau menjadi Nabi.” [HR. al-Baihaqi].

Akan tetapi, kedua hadis di atas diperselisihkan keotentikannya oleh para ulama. Hadis al-Baihaqi yang diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah di atas dinilai daif karena dalam sanadnya terdapat Ismail bin Muslim al-Makky yang didaifkan oleh Ahmad, an-­Nasa’i dan Abu Zur’ah. Demikian juga hadis al-Baihaqi dari Anas ra dinilai daif karena pada sanadnya terdapat seorang yang ber­nama Abdullah bin al-Muharrar yang dinyatakan lemah oleh bebe­rapa ahli hadis antara lain oleh Ahmad, ad-Daruqutni, Ibnu Hibban dan Ibnu Ma’in (lihat buku Tanya Jawab Agama oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, jilid IV halaman 233). Bahkan an-­Nawawi menyebut hadis ini sebagai hadis batil karena al-Baihaqi meriwayatkan melalui jalan Abdullah bin al-Muharrar dari Qatadah. Al-Baihaqi sendiri menyebut hadis ini sebagai hadis munkar. Oleh karena itu, menurut hemat kami hadis-hadis tersebut tidak perlu diamalkan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa: 1) Hukum akikah adalah sunnah muakadah dan waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh dari kelahiran bayi. 2) Yang dituntut untuk melaksanakan ibadah akikah adalah orang tua dari bayi yang dilahirkan, sehingga seseorang tidak perlu mengakikahi diri sendiri.

Mengenai pertanyaan kedua, sesungguhnya dari apa yang telah kami jelaskan di atas, pertanyaan kedua bapak tersebut secara tidak langsung telah terjawab, bahwa akikah disyariatkan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi. Akikah terikat dengan waktu kelahiran sang bayi tersebut dan tidak ada tuntutan akikah ketika sudah melebihi 7 hari kelahiran bayi, maupun tatkala seseorang sudah dewasa. Sementara ibadah kurban dapat dilaksanakan setiap tahun sekali. Apabila hewan sembelihan akikah dimaksud adalah untuk akikah yang sudah lewat dari 7 hari kelahiran bayi atau untuk mengakikahi orang dewasa, alangkah baiknya jika disarankan untuk dialihkan niatnya sebagai hewan kurban. Namun jika akikah tersebut memang bertepatan dengan waktu penyembelihan kurban, maka tidak mengapa dilaksanakan bersamaan dengan penyembelihan kurban itu.

Perlu diketahui pula, tidak dibenarkan menyatukan niat antara akikah dan kurban, yakni dalam satu hewan sembelihan untuk dua niat, akikah dan kurban sekaligus. Keduanya memiliki ketentuan-ketentuan yang berbeda satu sama lain, baik tentang waktu, syarat, dan lain-lainnya, juga tidak ada nas al-Qur’an atau hadis yang menyatakan bahwa akikah dan kurban dapat disatukan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Fatwa Majelis Tarjih PP Muhammadiyah / www.tarjih.or.id

Berniat Membersihkan Harta Untuk Menutup Kerugian

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya sebelumnya bekerja di perusahaan swasta PMA yang ada fasilitas dana pensiun dan dana jaminan hari tua. Ketika saya mencairkan kedua dana tersebut, saya dapati ada hasil pengembangan yang cukup besar. Sumber-sumber yang saya kaji menyatakan uang tersebut harus dikeluarkan cara-cara tertentu. Karena pada waktu itu saya sangat membutuhkan dana itu, saya berniat dalam hati akan membersihkan harta itu di lain kesempatan. Dua tahun ini saya melakukan bisnis, namun belum membuahkan hasil bahkan merugi cukup besar hingga hampir 2x lipat uang yang rencananya saya keluarkan untuk membersihkan harta tersebut. Pertanyaan saya, dapatkah saya mengeluarkan uang untuk menutup kerugian itu dengan niat membersihkan harta sesuai rencana saya sebelumnya ? Mengingat kondisi keuangan saya yang sangat kesulitan saat ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih (Imam Makruf, Malang).

Jawab : Wa’alaikumussalam. wr. wb. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertanyaan bapak dan kami juga turut berempati terhadap persoalan yang bapak alami. Bapak Imam Ma’ruf yang kami hormati, apa yang bapak alami patut diambil hikmahnya oleh kita semua. Bahwa kewajiban dan niat baik harus segera dilaksanakan dan tidak ditunda-tunda dengan berbagai alasan yang tidak termasuk alasan pokok (adh-dharuriyat) yang diperkenankan oleh agama. Terlebih lagi kesempatan untuk melakukan suatu kewajiban dan kebaikan tidak datang dua kali.

Oleh sebab itu, niat yang baik terlebih lagi berupa kewajiban harus disegerakan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai berikut: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali Imran: 133-134].

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” [HR. Muslim].

Perlu diketahui bahwa selain melalui zakat, bagi orang yang mampu, membersihkan harta dapat pula dilakukan dengan infak dan sedekah, jika seseorang betul-betul belum mampu un-tuk menunaikan kewajiban zakat sesuai dengan ketentuan agama. Infak dan sedekah berfungsi untuk membersihkan harta sekaligus dapat menambah keberkahan harta dan membuka pintu-pintu rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an dan hadis berikut ini: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuh-kan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgan-dakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Baqarah: 261].

“Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw bersabda: Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya, sedangkan yang satunya lagi berkata; Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)”.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan jangan-lah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS. al-Baqarah: 267].

Penghasilan bapak berupa gaji beserta dana pensiun dan dana jaminan hari tua dalam jumlah yang cukup besar itu tentu merupakan amanah sekaligus titipan Allah Swt., yang harus dikeluarkan zakatnya sebanyak 2.5 % setelah bapak keluarkan biaya administrasi, melunasi hutang dan kebutuhan pokok bapak dan keluarga, baik diniatkan maupun tidak.

Membersihkan harta dengan zakat merupakan kewajiban bagi orang yang mampu dengan syarat-syarat dan tujuan tertentu. Zakat memiliki banyak hikmah antara lain; untuk membersihkan harta, dan dalam rangka membantu orang-orang yang membutuhkan yang termasuk dalam delapan golongan (al-ashnaf ats-tsamaniyah) yang berhak menerima zakat, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an.

Saat bapak bekerja di perusahaan swasta PMA dengan diberikan kelonggaran rezeki berupa gaji dan fasilitas dana pensiun serta dana jaminan hari tua, maka saat itu sesungguhnya bapak berkewajiban untuk mengeluarkan zakatnya manakala penghasilan bapak tersebut telah memenuhi haul dan nisabnya, sebagaiman dijelaskan dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dilunakkan hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. at-Taubah, 9: 60].

Oleh karena itu, terkait dengan pertanyaan bapak; dapat-kah bapak mengeluarkan uang untuk menutup kerugian itu dengan niat membersihkan harta sesuai rencana bapak sebelumnya? Menurut hemat kami, setelah mengkaji penjelasan ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw tentang tata cara atau aturan hukum zakat dalam rangka membersihkan harta, tentu cara seperti itu tidak tepat dan tidak sesuai dengan aturan yang ada, baik dari aspek tata cara, distribusi zakat maupun ketentuan mustahiknya.

Hal ini karena mensucikan harta dengan mengeluarkan zakat, infak atau sedekah harus diberikan kepada orang yang berhak menerimanya (mustahik) dan bukan untuk diri sendiri atau menjadikannya sebagai modal atau untuk menutup kerugian bisnis. Melaksanakan suatu perin-tah agama tentu sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh agama pula. Oleh sebab itu, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw, bahwa zakat dapat membersihkan harta seseorang  jika ditunaikan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh agama serta diperuntukkan bagi mustahik (orang yang berhak menerimanya) dan bukan untuk modal ataupun menutup kerugian bisnis dari orang yang mengeluarkannya. Wallahu a’lam bish-shawab.

www.tarjih.or.id

Baznas Development Forum : “Zakat sebagai Investasi Sosial, Mengukur Pemberdayaan yang Berkelanjutan”

Mengukur pemberdayaan ekonomi bisa dilihat dari motifnya, bisa dari motif keuntungan dan motif sosial. Bagi lembaga amil zakat, motif sosial sepadan dengan spirit agama yang menekankan kemaslahatan dan perlindungan. Karena tujuan finalnya (maqosid syari’yah) sebagai nilai utama yang memberi makna terhadap asas kemanfaatan.

Dalam kerangka pemberdayaan zakat yang berkelanjutan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lazismu dan Social Return on Investment (SROI) Network Indonesia menggelar seminar Development Forum dengan tajuk Zakat sebagai Investasi Sosial. Acara berlangsung di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah (20/9/2018).

Forum ini melibatkan partisipasi pegiat filantropi Islam dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten atau kota. Beberapa pembicara dihadirkan untuk mengupas zakat dari perspektif inovasi dan kesejahteraan sosial, perubahan sosial dan tolok ukur program pemberdayaan zakat yang berkelanjutan.

Ketua Baznas, Bambang Sudibyo dalam sambutannya mengatakan, Zakat sebagai investasi sosial merupakan jalan tengah untuk mencipatakan nilai tambah (value added). “Penerima nilai tambah ini adalah mustahik yang memeroleh  manfaat program zakat. Dalam pengukurannya dijelaskan dengan pernyataan nilai tambah yang terencana,” katanya.

Realitas perkembangan zakat begitu optimis. Namun, lanjut Bambang, akan ada situasi yang kompleks karena ada entitas pelaporan. “Seiring berjalannya waktu, ini akan kita lakukan untuk mengukur dampak penyaluran zakat kepada penerima manfaat,” jelasnya.

Saya berharap dalam forum ini ada suatu rekomendasi yang dapat dirumuskan sehingga gagasan konstruktif zakat lebih bermakna. Lazismu dan Baznas, menurutnya sama-sama melakukan hal ini.

“Tujuannya agar nilai tambah zakat mampu mendeskripsikan manfaat zakat dengan gamblang melalui alat ukur keberhasilan pemberdayaan zakat dengan pendekatan social return of investment (SROI) ,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Lazismu, Hilman Latief, mengatakan, apa yang disajikan dalam forum ini tentu suatu bentuk inovasi sosial zakat. Zakat sebagai investasi sosial dalam konteks pemberdayaan dapat mendorong pencapaian SDGs.

Menurut Hilman Latief, ada dua model orientasi dalam praktik zakat saat ini. Pertama aktivitas ekonomi berbasis sosial keagamaan, kedua, aktivitas sosial keagamaan berbasis ekonomi. “Kedua model ini harus ditentukan mana yang menjadi inti gerakan zakat,” papar peneliti filantropi Islam ini.

Maka untuk menjabarkannya, bagaimana lembaga amil zakat dapat menempatkan konsep inovasi dalam dua cara pandang tersebut. Dalam paparannya Hilman menawarkan gagasan green zakat di tengah perkembangan industri keuangan yang inklusif.

Dalam situasi tertentu, inovasi zakat masih memiliki keterbatasan. “Selama ini isu pendidikan, kesehatan, dakwah-sosial, ekonomi dan lainnya masih dapat disentuh pemberdayaan zakat. Tapi ada hal lain yang masih belum tergarap oleh lembaga amil zakat yakni bagaimana zakat mampu mengemas isu lingkungan sebagai program zakat yang inovatif,” pungkasnya.

Langkah selanjutnya, papar Hilman, bagaimana merumuskan konsep investasi sosial (social investment) oleh lembaga zakat. Artinya, jelas Hilman, harus dikonsepsikan juga bagaimana mengomunikasikan konsepnya kepada mitra strategis lembaga amil zakat.  “Karena itu, memproyeksikan green zakat menjadi penting untuk memaknai kesejahteraan berkelanjutan,” tandasnya.

Sementara itu, anggota Baznas, Nana Mintarti mengulas zakat sebagai media perubahan sosial. Menurutnya, zakat sebagai media melakukan perubahan sosial keberadaannya ada dalam sektor keuangan (moneter), di sisi lain juga berada dalam sektor riil (bisnis dan perdagangan).

Pada kesempatan lain, lembaga-lembaga lain di luar lembaga amil zakat terus memantau bagaimana perkembangan sektor keuangan syariah, dan apa irisannya dengan zakat, infak dan sedekah. “Sampai saat ini, pertumbuhan zakat terus meningkat, optimis, dengan kata lain potensi zakat masih besar (market share),” paparnya.

Adapun tantangannya, sambung Nana Mintarti, bagaimana zakat pada aspek pemberdayaannya mampu melakukan transformasi sosial.  Jika penyaluran zakat meningkat, maka pengaruhnya zakat juga dapat meningkatkan konsumsi kebutuhan pokok (basic needs), tambahnya.

Dalam konteks ini, ada agregat dalam aspek ekonomi makro yang pengaruhnya juga signifikan sejalan dengan capaian SDGs yang dalam kontribusinya saling memengaruhi sehingga para pihak yang berkepentingan (stakeholders) saling melihat untuk memaknai kesejahteraan dan spiritualitas.

Langkah tersebut pastinya dapat meninjau ulang pemberdayaan zakat berdasarkan legalitas agar sesuai tujuannnya untuk meningkatkan kebermanfaatan. Dalam Islam tujuan zakat sejalan dengan  maqosid syari’yah karena di dalamnya selain menjaga harta, jiwa dan lainnya juga mencakup kepentingan sosial (social interest).

Ilustrasinya adalah apakah makan dan minumnya berkualitas ? Hal ini sangat ditentukan oleh kebutuhan manusia yang pada dasarnya tidak sekedar menilai kebutuhan melainkan bagaimana paradigma pemberdayaan zakat dapat menciptakan kebutuhan dan kesejahteraan.

Dalam melengkapi ulasan tersebut, perwakilan dari SROI Network Indonesia, Rini Suprihartanti, mengutarakan wacana pengembangan SROI Network Indonesia dirintis sejak 2014. Beberapa komunitas mitra pendirinya adalah praktisi berpengalaman, peneliti dan pegiat program-program investasi sosial.

Konsep SROI dalam ekosistem lembaga amil zakat dari waktu ke waktu terus dikembangkan, termasuk oleh lembaga pemberdayaan seperti NGO misalnya. “Bagi lembaga amil zakat, SROI bertujuan untuk memastikan target sasaran yang tepat, apakah program penyaluran dan pendayagunaan zakat berjalan dengan kualitas dan kuantitas yang baik,” jelasnya.

Yang menarik, sebagai bagian dari inovasi zakat, SROI akan masuk dalam belantara fikih zakat secara holistik dan integral. Kata kuncinya untuk mewujudkan nilai manfaat program pemberdayaan zakat dalam segenap aspek manfaat bagi ekosistem zakat.

SROI sebagai kerangka sudut pandang berupaya mengukur, mengevaluasi, dan mengoptimalkan neraca sosial-ekonomi dalam membantu capaian kinerja pemberdayaan dan penyaluran zakat dari sisi finansial yang dampaknya begitu luas bagi seluruh stakeholders. (na / www.lazismu.org)

Pengertian dan Dalil Qurban (Udlhiyah)

Kata qurban berasal dari qaruba-yaqrubu-qurbanan yang berarti hampir, dekat, atau mendekati. Dalam bahasa Arab kata qurban disebut udhiyyah. Kata udlhiyyah merupakan bentuk jama’ dari kata dlahiyah yang berarti binatang sembelihan, disebut juga nahr (ibadah qurban). As-Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh as-Sunnah, Jilid III, hal 197. mengatakan bahwa al-udhhiyyah adalah; Al-Udhhiyyah adalah nama bagi binatang yang disembelih baik unta, sapi dan kambing pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”.

Dr. Wahbah az-Zuhaily dalam kitab al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh, Juz;III, hal 594 menjelaskan tentang al-Udhiyah sebagai berikut; Artinya: al-Udhiyah menurut bahasa adalah nama bagi hewan yang dikurbankan atau nama bagi hewan yang disembelih pada hari-hari ‘Idul Adha. Dengan demikian al-Udhiyah adalah hewan yang disembelih pada hari Adha.

Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MTT PPM) qurban adalah udhiyyah, yaitu sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhailiy. “Dia (qurban) adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri (kepada Allah) dalam waktu tertentu pula atau hewan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari Nahar”.

Dasar Hukum Berqurban

Ibadah qurban merupakan ibadah yang disyariatkan berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadis Nabi;

  1. Surat al-Kautsar (108): 1-2 sebagai berikut; “Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan engkau (Muhammad) ni’mat yang banyak, maka shalatlah kamu karena Tuhanmu dan sembelihlah (kurbanmu).” (Q.S. Al-Kautsar:1-2).
  2. Surat al-Hajj (22): 36 : “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian daripada syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak daripadanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelih dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang-orang yang tidak minta-minta dan orang-orang yang minta-minta. Demikianlah Kami menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (Q.S.Al-Hajj: 36).
  3. Hadis Nabi dari Jabir. “Saya shalat ‘Idul Adlha bersama Rasulullah saw, kemudian setelah selesai, kepada beliau diberikan seekor kibasy (kambing yang besar) lalu beliau menyembelihnya seraya berdoa: Bismillahi wallahu akbar, Allahumma hadza ‘anniy wa ‘an man lam yudlahhi min ummatiy (Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Wahai Allah, ini dariku dan dari orang yang tidak berqurban dari umatku).” [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Turmudziy].

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum qurban, ada yang mengatakan wajib dan ada pula yang berpendapat sunnah. Terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai hukum melakukan qurban, tetapi yang jelas bahwa ibadah qurban itu diperintahkan oleh Allah, seperti dalam surat al-Kautsar (108): ayat 1-2. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dab beribadahlah.” (QS: al-Kautsar: 1 dan 2).

Perbedaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;

  1. Abu Hanifah, al-Auza’iy, dan Malik berpendapat bahwa kurban hukumnya wajib. Adapun dalil yang dijadikan dasar adalah ;
    a. QS al-Kautsar (108):2. “Maka shalatlah kamu karena Tuhanmu dan sembelihlah (kurbanmu).” (Q.S.
    Al-Kautsar:1-2).
    b. Hadis Ahmad dari Abu Hurairah. Dari Abi Hurarah Ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda ”Barangsiapa yang memiliki keleluasan harta dan tidak menyembelih hewan qurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Muhammad Ibn Ismail al-Kahlany dalam kitab Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram menjelaskan bahwa hadis di atas dijadikan dasar oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa qurban hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Secara lengkap beliau mengatakan sebagai berikut; Ulama telah berdalil dengan hadis ini untuk menentukan hukum wajib berqurban bagi yang mampu, karena Rasulullah saw. melarang untuk mendekati tempat shalatnya menunjukkan bahwa dia (yang tidak berqurban padahal ia mampu) meninggalkan kewajiban, seakan-akan Rasulullah saw. bersabda : Tidaklah shalat yang dilakukan berfaedah, karena meninggalkan kewajiban ini (berqurban), karena firman Allah: “maka shalatlah karena Tuhan kamu dan berqurbanlah” dan hadis Nabi saw. “Wajib bagi penghuni rumah berqurban dalam setiap tahun”.
    Catatan MTT PP: hadis di atas sesungguhnya adalah hadis yang daif, karena keberadaan seorang perawi yang bernama Abdullah ibn Ayyash yang munkarul hadis dan lemah hafalan. Namun, Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadis di atas dengan sanad lain yang bernilai sahih, yaitu sanad yang tidak terdapat Abdullah ibn Ayyash di dalamnya. Namun sayangnya riwayat alBaihaqi tersebut mauquf, yaitu hanya sampai kepada Abu Hurairah. 
  2. Imam as-Syafi’i, Malik dan Ahmad berpendapat bahwa hukum qurban adalah Sunnah Muakkadah. Pendapat mereka didasarkan pada dalil hadis Nabi saw. dari Ummu Salamah ; Apabila telah masuk hari kesepuluh (bulan Dzulhijjah), dan salah seorang darimu ingin berkurban, maka ia tidak memotong rambut dan kukunya (HR Muslim).

Hikmah Berqurban

Hikmah disyariatkannya berqurban antara lain;

  1. Sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberikan ni’mat yang banyak kepada kita.
  2. Bagi orang yang beriman kepada Allah, dapat mengambil pelajaran dari keluarga nabi Ibrahim As., yaitu; (a). Kesabaran nabi Ibrahim dan putranya Ismail As. ketika keduanya menjalankan perintah Allah. (b). Mengutamakan ketaatan kepada Allah dan mencintai-Nya dari mencintai dirinya dan anaknya.
  3. Sebagai realisasi ketaqwaan seseorang kepada Allah.
  4. Membangun kesadaran tentang kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap orang miskin. Allah Swt. berfirman : Beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur (al-Hajj: 36).

Sumber : TUNTUNAN IDAIN dan QURBAN, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MTT PPM)

Segera Tunaikan Zakat Fitrah, Jangan Sampai Terlupakan !

Selain berpuasa, ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan oleh setiap pribadi muslim pada bulan suci Ramadhan. Satu kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi itu adalah mengeluarkan zakat fitrah.

Dimana kewajiban membayar zakat fitrah itu dibebankan kepada setiap pribadi muslim dan muslimah, anak-anak atau dewasa, kaya atau miskin, dengan ketentuan pada malam hari raya mereka memiliki kelebihan dari kebutuhan pokoknya untuk sehari. Jika ketentuan tersebut telah terpenuhi, maka zakat fitrah ini wajib dibayarkan oleh setiap pribadi muslim paling lambat sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan.

Perintah membayar zakat fitrah sebelum berangkat shalat Idul Fitri itu sebagaimana termaktub dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pensucian diri bagi orang yang berpuasa dari perkataan tidak berguna/sia-sia yang jorok/buruk, dan untuk memberikan makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa menunaikannya sebelum shalat (shalat ‘Id), maka itulah zakat yang diterima (maqbul) dan barangsiapa menunaikannya sesudah shalat, maka itu termasuk shadaqah.

Dalam hadis tersebut Rasulullah Muhammad secara jelas memerintahkan setiap muslim membayar zakat fitrah sebelum berangkat untuk shalat Idul Fitri.

Kewajiban dan keutamaan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi setiap muslim juga sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang menyatakan, belum sempurna amal ibadah seseorang yang dilakukan pada bulan Ramadhan sebelum dia menunaikan kewajiban zakat fitrah.

Nah, yang patut kita cermati adalah apa hikmah dibalik perintah yang mewajibkan setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah itu. Terutama hikmah bagi yang mengeluarkan zakat atau muzakki.

Hikmah pertama zakat fitrah ini adalah media untuk menyucikan harta maupun menyucikan diri orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor serta lainnya. Hal itu sebagaimana terdapat dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim.

Hikmah kedua, zakat fitrah secara psikologi memiliki pengaruh penting bagi jiwa, yakni menghapus sifat atau penyakit rohani seperti kikir, ego dan sombong. Melalui zakat fitrah akan terbangun rasa persaudaraan, kasih sayang, persamaan dan rasa setia kawan antara si kaya dan simiskin.

Hikmah ketiga, zakat fitrah juga diharapkan menjadi momentum dan kebiasaan kaum muslim untuk gemar membantu sesama. Tidak hanya di bulan Ramadhan, tapi perlu dibudayakan sepanjang hayat. Dengan demikian tidak akan terjadi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin seperti yang terjadi selama ini.

Oleh karena itu, dengan mengeluarkan zakat fitrah itu seyogianya mampu menjadikan setiap muslim menjadi pribadi-pribadi dengan jiwa sosial yang tinggi, empati kepada orang lain dan tidak serakah. Itulah esensi dari zakat fitrah yang kita keluarkan dengan penuh keyakinan dan ikhlas seraya mengharapkan ridha Allah Swt.

Selain hikmah, perintah untuk berzakat fitrah juga memiliki berbagai manfaat yang bisa dirasakan oleh mustahiq maupun bagi penerima zakat fitrah, yang dalam hal ini utamanya adalah fakir miskin.

Manfaat pertama, sebagai pembersih atau penyuci jiwa bagi orang-orang yang berpuasa dari perkataan, perbuatan, serta perangai buruk yang tidak ada manfaatnya dan tak dicontohkan Rasulullah saw.

Kedua, zakat fitrah merupakan subsidi makanan bagi fakir miskin, di hari ketika banyak orang kaya berkecukupan merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan. Zakat fitrah bermanfaat agar fakir miskin bisa merasakan kegembiraan di hari raya sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang lebih mampu.

Ketiga, zakat fitrah bermanfaat sebagai pembeda ibadah agama Islam dengan agama lainnya.

Keempat, zakat fitrah sebagai bentuk edukasi masyarakat di segala lini dan usia, bahwa Islam merupakan agama yang peduli terhadap sesama.

Terakhir, zakat fitrah sesungguhnya memiliki fungsi untuk dapat mengubah keadaan si mustahiq menjadi muzakki. (Aan-LikMu).

Mari berzakat melaului LAZISMU :

REKENING ZAKAT

  • No. 9939 810 000 000 000 Bank Syari’ah Mandiri a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim.
  • No. 7763 010 000 000 000 Bank Mu’amalat a/n Zakat LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim.
  • No. 6141 111 999 Bank Jatim Syariah a/n Lazismu Jatim Zakat.

Hilman Latief, Ph.D : “Amal Usaha Muhammadiyah, Pajak dan Lazismu”

Hilman Latief, Ph.D

Bagi sebagian warga Muhammadiyah, mungkin saat ini Lazismu dianggap ‘hanya’ sebagai lembaga amil ‘biasa’ yang tidak berbeda dengan pengumpul dan pengelola zakat infak dan shadaqah (ZIS) lainnya. Sebagai Amil, memang Lazismu bertugas mengumpulkan, mengelola dan mendayagunakan dana zakat, infak, dan sadaqah dari warga masyarakat, termasuk dari simpatisan dan warga Muhammadiyah. Padahal, bila dicermati lebih jauh dan tentu saja lebih bijak, terdapat banyak hal yang dapat diperoleh manfaat oleh warga Muhammadiyah ketika mereka menunaikan ZIS nya melalui Lazismu. Secara khusus, manfaat itu dapat diperoleh ketika kita mengaitkan Lazismu dengan dua hal, yaitu pajak dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Sebagaimana kita ketahui bersama, regulasi tentang zakat dan pajak di Indonesia terus berkembang. Di luar perdebatan konseptual apakah Muslim yang telah menunaikan pajaknya harus membayar zakat lagi, atau aspek manakah yang harus ‘dipotong’ terlebih dahulu dari penghasilan seseorang, zakat atau pajak, sebetulnya warga Muhammadiyah perlu melihat aspek lainnya secara lebih strategis. Aspek strategis itu adalah bagaimana mengoptimalkan zakat melalui Lazismu dan implikasinya pada pengurangan penghasilan kena pajak bagi pegawai AUM. Saya yakin, sebagai warga negara yang baik dan Muslim yang taat, warga Muhammadiyah dan pegawai AUM membayar pajak dan zakat sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi warga masyarakat yang menunaikan kewajiban laporan pajak, bukan Maret kemarin adalah bulan dimana banyak orang sibuk mengisi SPT Tahunan. Jelas, bagi warga negara yang baik dan melakukan sendiri laporannya, warga Muhammadiyah akan sadar bahwa terdapat satu item yang dapat mengurangi penghasilan kena pajaknya, yaitu zakat. Saya belum punya angka berapa banyak warga Muhammadiyah yang telah memanfaatkan pengisian item zakat untuk mengurangi penghasilan kena pajak mereka, dan berapa pula estimasi angka yang dapat diakumulasi dari keseluruhan warga Muhammadiyah yang menjadi pegawai dan harus membayar pajak. Faktanya, masih banyak Amal Usaha Muhammadiyah yang masih belum melirik masalah ini sebagai masalah penting. Padahal ketentuan ini berlaku sudah lama. Pasal UU 38/1999 yang diperkuat dengan Pasal 22 UU 23/2011 tentang Zakat dan juga UU No. 17/2000 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sudah mengatur masalah ini. Intinya zakat bisa mengurangi penghasilan kena pajak.

Muhammadiyah memiliki banyak Amal usaha, mulai sekolah, perguruan tinggi, klinik dan rumah sakit, dan bahkan lembaga keuangan. Ada puluhan ribu guru, dokter, perawat dan pegawai yang bekerja dalam AUM, yang tentunya mereka membayar pajak penghasilan (PPh) dan juga zakat/infak sebesar 2.5%. Untuk dapat memanfaatkan skema pengurangan penghasilan kena pajak, seorang pembayar zakat harus melampirkan Bukti Setor Pajak, baik itu dilakukan secara pribadi, dan apalagi secara kolektif. Lazismu adalah lembaga amil zakat nasional yg sudah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah.

Dalam praktiknya, banyak AUM yang sudah memotong gaji pegawainya untuk zakat/infak wajib. Lalu kemana dana potongan itu disetorkan, dan apakah sudah dimanfaatkan oleh AUM untuk mengurangi penghasilan kena pajak? Bila melihatnya secara pribadi-pribadi, mungkin saja warga Muhammadiyah bisa mengabaikan skema relasi pajak dan zakat ini dalam AUM. Tetapi bila berfikir kolektif, sebetulnya hasilnya lumayan mencengangkan.

Misalnya sebuah Amal Usaha Muhammadiyah yang besar, seperti Perguruan Tinggi, punya pegawai sebanyak 1000 orang (dosen, pegawai tendik, dan karyawan lainnya) yang setiap bulan gajinya kena potong zakat/infak sebesar 2.5%. Katakanlah setiap tahun seorang pegawai kena potong 2-3 juta rupiah untuk zakatnya/pertahun (silahkan untuk para pegawai AUM cek lagi slip gajinya, berapa potongan zakat perbulan). Jadi, bila 1000 pegawai dikalikan 2-3 juta, maka jumlahnya antara 2-3 milyar pertahun? Itu baru satu AUM. Sementara ini, Muhammadiyah memiliki ratusan perguruan tinggi, klinik dan rumah sakit. Bila di suatu provinsi ada beberapa perguruan tinggi, sekian rumah sakit dan belasan sekolah saja, sebut saja provinsi DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah atau Jawa Barat maka saya kira, sekurang-kurangnya ada 10-an milyar yang bisa di kurangkan untuk SPT Tahunan secara kolektif. Tinggal hitung ada berapa provinsi yang AUM nya cukup kuat. Tentu, itupun bisa dilakukan bila keberadaan Lazismu sebagai Laznas resmi dapat dimanfaatkan. Dana yang di “saving” dari bayar pajakpun bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan yang lain.

Daripada AUM saat ini menggunakan numenklatur yang bermacam-macam untuk pengelola zakat pegawainya, kenapa gak ganti saja numenklaturnya dan diintegrasikan dengan Lazismu. Selain resmi sesuai undang-undang, Lazismu juga memberikan manfaat kolektif tambahan bagi AUM. Masalah dananya, silahkan dikelola sesuai dengan tradisinya masing-masing di dalam AUM, meskipun tetap harus berani untuk lebih terbuka dan melakukan perubahan agar lebih akuntable, dan pegawainya lebih diringankan dengan bayaran pajak dan zakatnya. Gak terlalu sulitkan? Asal punya niat kolektif, Insya Allah kita bisa melakukannya.

Oleh Hilman Latief (Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah)