Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Rabu , 2 Desember 2020
Breaking News
You are here: Home » Ekonomi

Category Archives: Ekonomi

Program Pemberdayaan Berkelanjutan Dengan Budidaya Ayam Kampung dan Maggot di Jember

Memberi untuk membantu yang paling baik dan proporsional sejatinya tidak mesti habis saat itu juga atau dalam waktu sekejap. Namun, pemberian yang terbaik adalah yang mampu bertahan lama dan mampu menumbuhkan semangat kemandirian.

Seperti yang telah Lazismu Jember laksanakan (03/09/2020) dengan membagikan ayam kampung untuk dibudidayakan. Menurut Abdul Khamil, Kepala kantor LAZISMU kabupaten Jember, Ayam kampung dipilih karena mampu bertahan hidup cukup baik dan adaptif terhadap lingkungan, sehingga pembudidaya yang masih awam dirasa tidak akan terlalu kesulitan.

Penerima manfaat program pemberdayaan ini bernama Saiful Bahri (46 tahun) yang beralamatkan di Dusun Kasmaran, Desa Bintoro Kecamatan Patrang. Pantauan yang telah Lazismu Jember lakukan bahwa progres budidaya ayam ini sudah 50% berjalan. Mulai dari penyediaan kandang hingga persiapan pembelian ayam betina.

Menariknya, ketika Lazismu Jember berkunjung untuk melihat perkembangan budidaya ayam kampung ini. Saiful Bahri juga sudah memulai mengembangkan maggot. Maggot merupakan larva lalat black soldier fly, yang makanannya sampah organik. Hal ini menjadi peluang baru dalam pembudidayaan karena selain bisa diprospek maggot ini untuk makanan hewan ternak seperti lele, burung dan lain-lain, juga menjadi satu solusi efektif untuk mengurai sampah organik.

Tidak berhenti di situ, kotoran dari maggot juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Tentu ini menjadi peluang baru terciptanya pemberdayaan yang sustainability. Harapannya ke depan, Lazismu Jember akan terus menyuplai dan memonitoring pemberdayaan ini, goalnya jika penerima manfaat sudah bisa menjadi mentas dan mandiri maka akan dijadikan sebagai percontohan tidak hanya di lingkungan itu saja, juga di seluruh Kabupaten Jember.

“Ya bahasanya pemberdayaan akan terus kami dukung, sampai bisa mandiri dan menelurkan ilmunya ke pemberdayaan maupun desa binaan yang telah ada”, tegas Abdul Khamil Kepala Kantor LAZISMU Jember. (yf)

Ikuti perjalanannya..

BANKZISKA, Upaya Pendayagunaan Dana Zakat Untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Konsep Bankziska (Bantuan Keuangan dari Dana Zakat Infaq dan Sosial Keagamaan) sebagai sarana untuk pemberdayaan ekonomi sudah terwujud dalam bentuk konkrit. Konsep pengentasan masyarakat agar terbebas dari rentenir dan praktik riba ini digagas oleh LAZISMU Jawa Timur.

Bankziska yang menjadi ajang pengelolaan dana zakat dari LAZISMU ini dikerjasamakan dengan salah satu Baitul Maal wat Tamwil (BMT) di Jawa Timur, yaitu BMT Hasanah di desa Jabung kecamatan Mlarak, kabupaten Ponorogo. BMT Hasanah ditunjuk oleh LAZISMU wilayah Jawa Timur sebagai model percontohan untuk melaksanakan konsep Bankziska.

Bankziska sudah beroperasi mulai awal Oktober 2020 di Ponorogo sebagai percontohan dan selanjutnya akan dibuka di beberapa daerah.

Bagaimana pemberdayaan masyarakat melalui Bankziska ini ?

Talkshow Ranah Publik di Radio Suara Muslim, Sham FM 93,8 Mhz (Online Streaming and OnAir) Selasa, 20 Oktober 2020 puku 08.00-09.00 WIB membahas tuntan tentang BankZiska, konsep dan praktiknya, dengan Narasumber: Dr. Agus Edi Sumanto, (Wakil Ketua Lazismu wilayah Jatim sekaligus Pengelola Bank ZISKA Jatim) dan Faruq Ahmad Futaqi (Manager Bank ZISKA di Ponorogo).

Untuk mengikuti acaranya, silakan klik tautan dibawah ini..

Agus Edi Sumanto : “BANK ZISKA Solusi Jitu Atasi Rentenir yang Merajalela”

Bank ZISKA

 

Sempat Loyo, Usaha Budidaya Lele Kuswanto di Kota Madiun Kini Bangkit Kembali Didukung Oleh LAZISMU

 

Pada masa pandemi Covid-19 ini, hampir semua kalangan masyarakat merasakan terdampak, terutama secara ekonomi. Keadaan tersebut juga dialami oleh salah satu guru swasta yaitu Kuswanto. Selain mengajar dan mengabdi sebagai guru di SMP Muhammadiyah, guna memenuhi kebutuhan ekonominya, Kuswanto mempunyai usaha sampingan yaitu budidaya ikan lele.

Sebelum pandemi, hasil produksi ikan lelenya sangat berkembang dan suplai ke pasar lancar. Ikan lelenya banyak dinikmati masyarakat melalui pasar, pedagang sayur keliling, warung-warung makan yang menjual penyetan lele dan kedai makan lainnya. Kuswanto memilih ikan lele untuk dibudidayakan karena lebih mudah dalam proses pengelolaannya. Ikan lele banyak diminati dan dikonsumsi oleh masyarakat luas. Oleh sebab itu ia membudidayakanya karena masih belum banyak pesaing di kawasan tempat tinggalnya.

Ketika masuk pandemi, keadaan pun berubah total. Omzet penjualan ikan lelenya merosot, permintaan menurun seiring diberlakukannya PSBB. Orang tidak berani keluar rumah untuk membeli ikan lele di pasar apalagi makan di warung atau kedai makan.

Dalam perjalanannya ternyata Kuswanto terhambat oleh keterbatasan modal. Perputaran uang hasil penjualan yang tidak seberapa itu berkejaran antara keperluan untuk membeli bibit dengan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga hingga akhirnya modal habis.

Mengetahui keadaan Kuswanto tersebut, LAZISMU Kota Madiun setelah melakukan survei dan assessment, segera memberikan bantuan kepada usaha kecil itu yang dalam kondisi oleng itu. Bantuan berupa bibit lele pun diberikan kepada Kuswanto.

Menurut Suwardi, Ketua LAZISMU Kota Madiun, pemberian bantuan ini merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan kembali UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang sempat loyo akibat pandemi.

Suwardi menambahkan bahwa program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh LAZISMU adalah memberikan dukungan dengan sesuatu yang dibutuhkan oleh UMKM. Ia menilai budidaya ikan lele merupakan upaya mempersiapkan masyarakat dalam mengembangkan UMKM agar mampu mewujudkan ketahanan pangan, kemandirian dan kesejahteraan guna mencapai keadilan sosial yang berkelanjutan. Untuk itu upaya pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat ini diharapkan mampu melepaskan diri dari perangkap-perangkap kemiskinan.

Dengan bantuan tersebut, tambah Suwardi, diharapkan dapat meningkatkan perekonomian keluarga Kuswanto yang terdampak pandemi. Selain memberikan bantuan, LAZISMU Kota Madiun juga mendapat memberikan pembinaan dan monitoring secara berkala guna memantau perkembangan usaha yang dijalankan oleh Kuswanto.

Mari kita do’akan dan dukung usaha mereka agar terus eksis dan dapat lebih maju lagi. Wujud nyata dari zakat adalah memberdayakan UMKM dengan modal usaha sebagai bentuk pemberdayaan mustahik. Diharapkan dengan usahanya itu mampu menjadi muzakki dan memajukan perekonomian umat. (Lazismu Kota Madiun).

Maju dan Berkembang Bersama Komunitas Rajut Kenep di Bojonegoro

Menggerakkan komunitas ibu-ibu dengan aktifitas yang positif dan produktif tentu sangat bermanfaat. Apalagi jika aktifitas itu bernilai ekonomis, para wanita akan menyambut dengan antusias. Mereka pun siap diajak maju dan berkembang bersama-sama.

Komunitas Rajut Kenep yang bertempatkan di desa Kenep, Balen, Bojonegoro berdiri mulai bulan Desember 2019. Bu Fika salah satu penggagas Komunitas yang memiliki nama brand “Crobo” ini menyampaikan bahwa kelompoknya mulai memproduksi kerajinan Rajut sejak bulan April 2020 setelah mendapatkan bantuan Modal UMKM dari LAZISMU.

Pada awalnya komunitas ini dibentuk untuk memberdayakan ibu-ibu PKK di desa Kenep. Bermula dari hanya sekedar pelatihan dan belum mampu memproduksi barang, kini berbagai macam produk rajutan sudah dihasilkan. Bu Fika menceritakan bahwa brand Crobo ini memiliki beberapa jenis produk, diantaranya; tas, sepatu, masker, dan lain-lain. Dengan harga yang sangat terjangkau dan kualitas produk bernilai premium, kerajinan ini dapat menembus pasar nasional.

Bu Fika dan komunitas rajut ini menyampaikan banyak terima kasih kepada para dermawan yang menyisihkan sebagian rizkinya melalui Lazismu Bojonegoro. Dengan demikian turut serta mendukung produksi kerajinan buatan para emak. Suatu harapan besar bagi bu Fika dan teman-teman komunitas rajut kenep ini agar produknya dapat menembus pasar internasional.

“Mungkin jika tidak ada bantuan modal dari Lazismu kerajinan rajut ini belum dapat diproduksi secara masal dan menembus pasar nasional. Alhamdulillah setelah 6 (enam) bulan berjalan, kami dapat menembus pasar nasional, dan bahkan barusan kemi kirim produk ke daerah Sumatera. Hasil penjualan tentu bisa menambah uang belanja ibu-ibu” ujar bu Fika didampingi tujuh anggota komunitasnya kepada Lazismu Bojonegoro ketika berkunjung guna memantau berkembangnya produksi rajutan di komunitas ini.

“Kata mereka yang sudah membeli hasil rajutan produk komunitas kami ini sangat unik, lucu dan tidak kalah trend. Oleh karena itu banyak yang tertarik” tambah bu Fika.

“InsyaAllah, jika ibu-ibu yang bergerak di komunitas ini ulet, tekun dan bisa bekerja keras, maka akan diraih hasil yang baik dan produknya akan menjadi unggulan yang bisa membawa nama Bojonegoro berkeunggulan di bidang pemberdayaan UMKM di kalangan wanita” timpal Sartono, Kepala Kantor LAZISMU Bojonegoro sembari memberikan semangat kepada para emak komunitas rajut ini. (Sar-bjn)

Perjuangan Berat bu Sri Marini Meneruskan Usaha Ternak Bebek Almarhum Suaminya

Hidup ditinggal sang suami menghadap ke hadirat Ilahi sungguh merupakan cobaan tersendiri. Terlebih jika harus menghidupi anak-anak seorang diri. Tak terbayang betapa berat perjuangan hidup nan penuh onak dan duri.

Itulah yang harus dijalani dan dihadapi oleh Sri Marini (42 tahun) warga Sedati Gede, Sidoarjo. Sang suami harus pergi meninggalkan dunia ini karena sakit keras delapan tahun silam. Eko Andri Prastowo pergi untuk selamanya meninggalkan isteri tercinta, Sri Marini, beserta ketiga anaknya; Fajar Muhammad (20 tahun), Annisa’ul Mubarokah (19 tahun) dan Sofia Nur Laili (12 tahun).

Sri Marini, atau yang akrab dipanggil bu Rini, harus menguatkan diri agar ketegaran dan ketabahan hidup senantiasa mengiringi langkahnya menapaki kehidupan di dunia ini. Ketiga anaknya yang yatim masih membutuhkan biaya yang besar untuk kuliah dan sekolah. Anak pertama kuliah di Umsida dan anak kedua di Smamda Sidoarjo. Anak yang ketiga masih di SD. Terkadang bantuan dari keluarga dekat tak sungkan diterimanya.

Beruntung sang suami mewariskan usaha yaitu ternak bebek yang telah dikembangkannya sejak 10 tahun silam. Bebek yang diternak adalah bebek petelur. Tanah yang ditempati untuk kandang bebek disewa dari bagian pengairan desa, letaknya sangat dekat dengan Bandara Juanda. Semasa hidup, kegiatan sang suami adalah merawat dan memberi makan bebek-bebek itu saban pagi hari. Tiap hari pula Eko mendistribusikan telur-telur itu ke pasar, toko atau pedagang makanan. Sebagian diambil ke kandang oleh para pelanggannya. Sementara Sri Marini mengurus rumah tangga dan keperluan anak-anak.

Kini mau tak mau, suka atau tak suka, usaha ternak bebek yang menjadi sumber penghidupan keluarga itu harus diteruskan apapun keadaannya. Sebagai single parent, Sri Marini bertekad untuk menjadikan ternak bebek ini menjadi penyokong ekonomi keluarga. Tugasnya saat ini pun ganda, menjadi kepala rumah tangga dan wirausahawati.

Ketika ditemui oleh LAZISMU di kandang bebeknya di Jl H Syukur, Sedati Gede Sidoarjo, dekat dengan landasan pesawat Bandara Internasional Juanda (27-08-2020), dengan semangat bu Rini menceritakan suka duka hidup dan usahanya yang tetap bertahan hingga kini. Cerita bu Rini ini semoga bisa menginspirasi bagi para wanita yang suatu saat harus menjadi single parent.

Saat berkembang dulu, jumlah ternak bebek keluarga ini mencapai 800 an ekor lebih. Setiap hari sebanyak 200-300 butir telur bebek bisa dijual. Per butir telur bebek harganya antara Rp. 1.500,- s/d 2.000,- tergantung besar kecilnya. Hasilnya, bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan keluarga guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak. Almarhum suami bu Rini sebenarnya juga seorang karyawan swasta, sehingga ekonomi keluarga saat itu tak menemui kendala yang berarti.

Ketika ditinggal sang suami, usaha ternak bebek ini masih berjalan dengan baik, lancar dan normal. Walau harus payah mengurus keluarga, banting tulang memelihara bebek-bebek dan memutar otak menyikapi harga pakan yang naik turun, bu Rini tidak kenal putus asa.

Ketegaran wanita lembut ini tampak ketika ia seorang diri sibuk berlama-lama di kandang mengurus bebeknya. Ketelatenan dan kesabaran sudah menjadi kata kuncinya. Apapun badai yang menghadang pantang berputar haluan, sekali beternak bebek tetap beternak bebek. Tak terpikir baginya untuk menutup usaha dan banting setir bekerja menjadi karyawan atau pegawai di toko atau dimanapun untuk mendapatkan uang.

Namun badai itupun datanglah jua. Bulan Maret 2020, wabah pandemi virus Corona menerjang tanah air tercinta. Bencana global itu juga melanda kampung halaman bu Rini di Sedati Gede Sidoarjo. Warga menjadi terdampak akibat adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) atau lock down ala Indonesia. Pasar ditutup dan tempat-tempat yang mengundang keramaian dan kerumunan publik dihentikan operasionalnya. Warga diperintah tinggal di rumah masing-masing hingga pandemi agaka mereda.

Tak ayal usaha bu Rini terkena imbasnya. Mencari pakan ternak bukan main sulitnya. Jika ada, harganya melambung dan tempat langganan beli pakan itu tutup walau melayani pembelian secara tidak terbuka. Omzet penjualan telur bebek menurun drastis. Sebagian bebeknya terpaksa dijual untuk bertahan hidup keluarganya. Selain itu juga karena tak sanggup membelikan pakan.

Kini jumlah bebeknya hanya tinggal 400 an ekor saja. Kandangnya seakan lowong karena sebagian besar bebek telah dijualnya. Dengan 400 an ekor bebek itu saja bu Rini seakan kalang kabut mengelola ternaknya. Ia harus banyak akal guna mendapatkan pakan ternak karena hasil penjualan kadang tak sebanding dengan pengeluaran.

Ketika PSBB sudah agak longgar, ada rekan jamaah Masjid yang mau berkongsi usaha dengannya, guna mengisi kandang agar tidak kelihatan kosong. Namun bukan bebek yang diternak, melainkan ayam petelur. Itu pun masih coba-coba, semoga berhasil kata bu Rini. Namun bukan berarti persoalan usai. Masih banyak masalah yang menyelimuti usahanya. Masalah terbaru adalah kondisi kandang yang semakin tidak layak dan harus diperbaiki, supaya ternaknya bisa hidup higienis.

Suatu saat pada awal bulan Agustus 2020, ia diajak oleh pelanggan telur bebeknya untuk bersilaturrahim ke kantor LAZISMU Jatim di Jl Kertomenanggal IV/1 Surabaya. Pelanggan setia telur bebeknya itu tahu kesulitan yang dihadapi oleh bu Rini. Kebetulan LAZISMU juga sedang menyalurkan bantuan bagi pemberdayaan UMKM yang merupakan sinergi dan dana CSR dari Alfamidi, Wardah dan Anggoro Eko Cahyo. Bu Rini pun akhirnya didata dan dimasukkan sebagai peternak binaan LAZISMU.

Beberapa minggu kemudian bantuan UMKM pun cair. Bu Rini menerima bantuan dana dan pendampingan UMKM guna membangkitkan kembali usaha ternaknya yang sempat kembang kempis.

“Alhamdulillah, terima kasih LAZISMU, kok ya pas waktunya ketika saya dalam kondisi kehabisan uang untuk beli pakan bebek. Bantuan ini langsung saya belikan pakan ternak di Surabaya. Terima kasih kepada LAZISMU dan semua pihak yang telah memberikan bantuan ini. Semoga bantuan ini dapat mengembangkan usaha kami” katanya dengan penuh syukur.

Bu Rini kini bisa bernapas sedikit lega. Satu persoalan bisa selesai, tapi ia masih akan terus berjuang menyelesaikan persoalan usaha yang lainnya. Bebek-bebeknya tidak kelaparan karena asupan pakan ternak telah tersedia. Obsesi berikutnya adalah ia ingin belajar tentang kiat dan cara beternak yang sukses, efektif dan efisien serta menguntungkan. Ia pun berharap agar LAZISMU bisa kembali memfasilitasinya bertemu muka dengan peternak-peternak sukses lainnya. Belajar dan terus berjuang keras, itulah tekad bu Rini saat ini. Semoga sukses. (Adit)

Aksar dan Istri : “Usaha Tak Boleh Berhenti Walau di Masa Pandemi”

Memenuhi nafkah keluarga merupakan tugas seorang suami. Menurut ajaran agama Islam, sudah menjadi kewajiban sang suami bekerja mencari nafkah dan sang isteri mengelola rumah tangga dengan baik agar tercipta suasana dan kondisi yang nyaman. Sehingga kehidupan keluarga senantiasa sakinah mawadah warahmah.

Namun demikian suami-isteri bisa saja berbagi tugas dalam memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Seorang istri boleh membantu perekonomian keluarga asalkan tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam mengurus keluarga dan mengelola rumah tangga.

Hal itulah yang menjadi motivasi bagi Aksar Wiyono (37 tahun) dan Khusnul Khotimah (35 tahun), warga Kalilom Baru Buntu Surabaya. Keduanya dikarunia dua orang anak yang masih kecil, yang pertama sekolah di SD dan satunya masih PAUD. Bagi Khusnul menjadi isteri seorang Guru merupakan sebuah keberkahan dan kebanggaan baginya, karena pekerjaan suaminya itu adalah sangat mulia dan penuh dengan nilai ibadah.

Aksar Wiyono, suami Khusnul adalah Guru Agama Islam di Perguruan Muhammadiyah di kawasan Platuk Kenjeran Surabaya. Pria yang sudah merantau sejak masa kuliah dari pulau Garam (Madura) ini memantapkan dirinya menjadi pengabdi dalam dunia pendidikan. Tentu suka duka hidup di kota metropolitan Surabaya telah membuat dirinya matang dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.

Salah satu faktor yang senantiasa menjadi asam garam kehidupan Aksar dan Khusnul adalah masalah ekonomi. Maklum penghasilan dari sekolah sebagai seorang guru dirasa belum ideal untuk hidup di kota besar Surabaya, walau hal itu tetap mereka syukuri hingga kini. Maka jalan berwirausaha adalah merupakan pilihan terbaik guna menopang kebutuhan ekonomi keluarga mereka.

Pembagian tugas pun dicanangkan. Khusnul memproduksi barang dagangan, Aksar tetap mengajar sebagai guru sembari membantu sang isteri mendistribusikan jualannya.

“Enteng-entengan saja, yang bisa kami lakukan setiap hari. Kami usaha membuat minuman sinom dan sari kedelai. Selain itu kami juga produksi black garlic yaitu fermentasi bawang lanang (laki) yang punya khasiat luar biasa untuk penguatan stamina tubuh. Black garlic ini menjadi andalan usaha kami karena memiliki diferensiasi dari produk lainnya. Nama usaha kami ini adalah Obie Zaen drink and Black Garlic. Pemasaran bisa lewat teman, kerabat atau tetangga serta dititipkan ke toko atau warung.” kata Aksar ketika datang ke acara BIMTEK pemberdayaan ekonomi UMKM LAZISMU di Gedung Muhammadiyah Jatim, 25 Agustus 2020.

Usaha menjual minuman sinom-sari kedelai dan produksi black garlic itu itu ia jalani sejak dua tahun lalu. Pagi hari sang isteri memproduksi sinom dan sari kedelai di rumah. Sedangkan produk black garlic membutuhkan energi listrik yang tidak sedikit dan waktu lama dalam pembuatannya serta memerlukan ketelatenan. Sementara itu untuk distribusi, sebelum dan sepulang tugas sekolah setiap hari Aksar mengantarkan pesanan ke pelanggan atau toko.

“Selama 2 tahun usaha kami itu berjalan lancar. Apalagi Sinom dan Sari Kedelai buatan kami ini orisinil tidak dicampuri bahan pengawet serta segar diminum kapanpun. Omzet pun stabil dan keuntungan bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sampai suatu ketika pada pertengahan bulan Maret 2020 datanglah wabah virus Corona di tanah air, tak terkecuali di kota Surabaya, yang justru dalam kondisi yang gawat.” lanjut Aksar, pria yang bertubuh tambun ini.

“Pada masa pandemi wabah Covid-19 itulah keadaan jadi berubah total. Usaha kami sempat terkendala akibat adanya kebijakan pembatasan pada masa pandemi yang dilakukan oleh Pemerintah. Selama dua bulan saya tidak bisa lagi leluasa memproduksi dan memasarkan sinom-kedelai dan black garlic, karena tidak bisa mencari bahan baku hingga menjualnya dengan normal seperti dulu. Kondisi ekonomi masyarakat juga sedang menurun sehingga turut mengurangi omzet. Modal untuk usaha pun ikut tergerus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari” cerita Aksar kepada tim pendamping pemberdayaan UMKM LAZISMU Jatim.

“Setelah dua bulan usaha kami terseok-seok, ketika PSBB sudah mulai longgar kami pun kembali meningkatkan produksi lagi dan berjualan dengan modal seadanya secara tambal sulam. Setiap hari saya dan istri promo melalui grup WhatsApp (WA) atau medsos lainnya. Pengiriman pun kami lakukan dengan hati-hati dengan tetap mengikuti protokol yang berlaku. Walau tertatih tatih kami tetap jalani karena kondisinya memang seperti itu. Sepertinya usaha kami sudah kembang kempis” tambah Aksar.

“Alhamdulillah, kini ada program pemberdayaan ekonomi dari LAZISMU yang bekerjasama dengan perusahaan besar, seperti Alfamidi, Wardah dan Muzaki Anggoro Eko Cahyo. Berkat bantuan dari LAZISMU seolah kami mendapat suntikan semangat dan juga tambahan dana untuk modal usaha. Usaha kami pun jalan lagi. Apalagi pada masa pandemi yang masuk ke jurang resesi ini, terbuka jalan lebar bagi kami berdua untuk berwirausaha, karena mengandalkan pendapatan dari gaji guru juga tidak memungkinkan, selain itu sekolah juga mengalami kesulitan dalam hal keuangan.” ujar Aksar dengan senyum tegarnya.

“Kini kami juga membuat display di rumah untuk memajang produk kami, terutama black garlic. Kapanpun kami akan menjelaskan tentang manfaat dan khasiat produk black garlic (bawang lanang) kepada siapapun yang datang ke rumah plus mencicipi produk kami. Saat ini kami menambah usaha yaitu melayani pemesanan masakan khas tradisional Madura, seperti kaldu kokot sapi, kikil dan makanan lainnya. Ide usaha apapun saat ini jika bisa menjadi keuntungan akan kami lakukan. Yang penting halal dan tidak boleh berhenti” katanya lagi dengan senyumnya.

“Kami pun kini semakin gencar memasarkan produk kami ke masyarakat luas melalui medsos. Sekarang kami mulai belajar online shop. Terima kasih LAZISMU yang telah mensupport dan mendampingi kami. Sehingga semangat berwirausaha kami bisa kembali tumbuh dan terangsang lagi. Semoga LAZISMU semakin bermanfaat bagi ummat. Aamiin” pungkas Aksar dengan tertawa lebar. (adit).

Tinjau Persiapan Operasional BankZiska di Ponorogo

Konsep BankZiska sebagai sarana untuk pemberdayaan ekonomi segera diwujudkan dalam bentuk konkrit. Konsep pengentasan masyarakat agar terbebas dari rentenir ini digagas oleh Lazismu Jawa Timur.

BankZiska yang menjadi ajang tasaruf dana Zakat dari Lazismu ini akan dikerjasamakan dengan Baitul Maal waTamwil (BMT) Hasanah di desa Jabung kecamatan Mlarak Ponorogo. BMT Hasanah ditunjuk oleh Lazismu Jatim sebagai percontohan untuk melaksanakan konsep BankZiska.

Ahad 27 September 2020 Lazismu wilayah Jawa Timur berkesempatan meninjau lokasi yang akan digunakan sebagai tempat project model BankZiska. Peninjauan ini dimaksudkan untuk melihat persiapan dan kesiapan operasional BankZiska.

Drh Zainul Muslimin Ketua Lazismu wilayah Jatim mengatakan bahwa Lazismu merasa berkewajiban untuk membebaskan masyarakat kecil dari kehidupan ribawi dan jeratan rentenir. Oleh karena itu BankZiska ini akan menjadi sarana untuk memajukan ekonomi ummat.

Sementara itu Sulistiyo selaku Kepala BMT Hasanah Ponorogo ketika menerima rombongan Lazismu di kantornya menyatakan ia menyambut baik kerjasama dengan Lazismu wilayah Jawa Timur. Ia sangat senang bahwa BMT Hasanah bisa menjadi mitra Lazismu.

Sulistiyo mendukung gerakan bebas riba untuk mengentas masyarakat dari kehidupan yang memberatkan. Ia berharap semoga BankZiska ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Kunjungan Lazismu Jawa Timur ke kantor BankZiska yang satu lokal dengan BMT Hasanah ini juga dilakukan peragaan dan ujicoba pengoperasionalnya. Ditunjuk sebagai Direktur BankZiska adalah Dr Agus Edi Sumanto. BankZiska akan beroperasi per 1 Oktober 2020 dengan Ponorogo sebagai percontohan dan selanjutnya akan dibuka di beberapa daerah. (adit)

Baca pula BankZiska Solusi Jitu Atasi Rentenir yang Merajalela.

Gelar Pelatihan Pemberdayaan Untuk Melejitkan Usaha Mikro

Pandemi Covid-19 ini benar-benar meluluhlantakkan sektor perekonomian di tanah air, pun juga di belahan dunia lainnya. Tak hanya pengusaha besar papan atas yang pusing dan bangkrut, usaha mikro yang merupakan mayoritas rakyat kebanyakan di negeri ini pun menjadi kroban.

Oleh sebab itu Lazismu menggandeng para mitra untuk membantu mengatasi permasalahan ekonomi yang diderita oleh masyarakat yang terpuruk selama masa pandemi Covid-19 dan berubah menjadi mustahik. Salah satunya adalah dengan memberikan bantuan modal pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga. Tudak hanya memberikan modal, namun juga mendampingi dan mengembangkan usaha para keluarga yang sempat terpuruk.

Lazismu wilayah Jawa Timur dalam rangka menindaklanjuti program Pemberdayaan UMKM mustahik mengadakan Pelatihan dengan tema “Mengembangkan dan Melejitkan Usaha Mikro Dalam rangka Membangun Ketahanan Ekonomi Berbassi Keluarga di tengah Pandemi Covid-19”, Sabtu 19 September 2020, di Resto Bunda Nur, Buduran, Sidoarjo.

Pelatihan diikuti oleh 30 pelaku Usaha Mikro di 10 Daerah di Jawa Timur yang mendapat program pendampingan pemberdayaan UMKM. Program pemberdayaan ini merupakan sinergi antara Lazismu dengan Alfamidi, Wardah dan Anggoro Eko Cahyo. Kesepuluh daerah itu adalah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kab Malang, Ponorogo, Lamongan, Bojonegoro, Mojokerto, Pamekasan dan Jember. Mereka kebanyakan berwirausaha di jalur kuliner dan bahan makanan. Selain itu hadir pula 10 orang staf bagian Program dari 10 Lazismu Daerah yang bertindak sebagai pendamping pemberdayaan UMKM.

Ke-30 orang Usaha Mikro itu hadir dengan membawa produk khas daerahnya masing-masing, seperti aneka jajanan dan kuliner hingga produk bumbu, sambal dan aneka kerajinan. Mereka umumnya usaha rumahan yang saat ini sedang berupaya untuk bangkit kembali dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi virus corona.

Dalam sambutannya, Ketua Lazismu wilayah Jawa Timur, drh Zainul Muslimin, pandemi Covid-19 boleh merontokkan sektor usaha kecil, namun jangan sampai menurunkan semangat juang dan ghirah berwirausaha pelakunya. Jika saat pandemi dihadapkan pada kondisi lockdown dengan berbagai pembatasan akibat meluasnya wabah virus suatu penyakit, maka disitu justru ada jalan lain yang terbuka lebar untuk tetap menjalankan bisnis.

Zainul mencontohkan, restonya yang selama pandemi enam bulan harus tutup, maka di kala masa wabah Covid-19 itu justru penjualan kateringnya melejit, yakni melalui pemasaran online. Dengan pemasaran melalui medsos dan media online pemesanan makanan dan minuman usaha katering dapat dilakukan dari jarak jauh atau rumah konsumen dan deliverynya dengan memanfaatkan jasa ojek online yang ada.

“Allah pasti membukakan jalan bagi hambaNya yang mau berusaha keras dan memikirkan pemecahan masalah yang menimpanya daripada meratapi kondisi yang tidak menentu. Maka jika kita berusaha keras dan berdoa dengan sekuat daya maka Allah akan memberikan kemudahan kepada kita untuk sukses berbisnis” katanya sembari memberikan semangat kepada peserta pelatihan.

Materi yang disajikan dalam pelatihan berhubungan dengan kehidupan usaha kecil sehari-hari. Seperti Ratna Saktijaningdijah, SE, MSA, narasumber dari Dinas Koperasi dan UKM provinsi Jawa Timur yang menyampaikan tentang bagaimana mengurus perijinan dan legal formal UKM secara praktis.

Menurut Ratna, pemerintah bertanggung jawab untuk memulihkan perekonomian sebagai dampak pandemi ini. Salah satunya adalah memberikan kemudahan dalam proses perijinan dan legal formal melalui sistem online. Kemudahan mengurus ijin itu harus diakses oleh pelaku UKM. Selain itu pendampingan usaha kecil mulai digiatkan pemasaran secara online shop dan digital marketing, disertai dengan perluasan kemitraan.

Pemateri kedua, yaitu Kisworo Agung Pambudi, Mentor Digital Marketing Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda Surabaya menyampaikan tentang Kiat Sukses Pemasaran Online. Menurut konsultas bisnis muda ini, pada era pandemi Covid-19, tiada cara yang lebih mudah dan efektif untuk memasarkan produk UKM selain melalui online.

Oleh karena itu Kisworo mengajak peserta pelatihan untuk segera memanfaatkan smrtphone-nya masing-masing untuk berjualan  dan memasarkan produk. Saat ini usaha mikro lemah dalam hal branding awareness atau kesadaran merek dan perluasan jaringan. Karena dengan branding dan jaringan yang kuat, sebesar dan sekecil apapun produknya, maka hal itu akan berguna untuk meningkatkan penjualan.

Sebagai tindak lanjut pelatihan, Muhammad Masrukh menugaskan kepada bagian program Lazismu Daerah untuk terus memantau dan mendamping usaha mikro bianan di daerahnya. Selain itu laporan yang rapi dan tertib serta terdokumentasi dengan baik juga menjadi prioritas dalam jangka pendek.

Pendampingan usaha mikro oleh Lazismu Daerah, menurut Masrukh, diarahkan agar pengusaha binaan Lazismu mempunyai ijin usaha dan sukses memasarkan produknya melalui online. Peningkatan kualitas produk dan kemasan harus menjadi titik tekan keberhasilan program ini.

Lazismu wilayah Jatim, menurutnya, akan terus memonitor, mengupayakan dan memberikan jalan bagaimana program ini dapat berjalan dengan baik sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan semata demi menigkatkan taraf kesejahteraan ekonomi musthik (UMKM binaan) yang menjadi fokus garapan Lazismu, pungkasnya. (Adit)

Berdayakan UMKM di Ponorogo, Lazismu Bersama Mitra Gulirkan Bantuan Ketahanan Ekonomi Berbasis Keluarga

Keberlangsungan pemberdayaan di sektor ekonomi di masa pandemi terus dilakukan Lazismu. Kali ini, mengusung program pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan ekonomi berbasis keluarga di tengah pandemi covid -19.

Sabtu/5/9/2020 Lazismu ponorogo menyalurkan Paket bantuan pemberdayaan UMKM berupa peralatan produksi, bantuan modal usaha dan juga paket sembako. Beberapa umkm yang mendapatkan program pemberdayaan ini di antaranya: Bengkel las prasetya, Kue Bolupa, Warung Omah Langit, Rengginan Ketela dan Tiwul instan khas ngrayun.

Kegiatan ini merupakan sinergi antara lazismu dengan Alfamidi, Wardah dan juga Anggoro Eko Cahyo dalam upaya pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah sehingga Kesejahteraan ekonomi masyarakat semakin meningkat.

Salah satu penerima manfaat, (Bengkel las prasetya) mengungkapkan, “Dengan adanya pemberdayaan ini beliau sangat terbantu sekali, karena dengan adanya penambahan alat sehingga produktifitas bengkel las miliknya semakin meningkat dan lebih produktif lagi.”

“Kegiatan ini merupakan turunan dari program lazismu pusat yang bekerjasama dengan beberapa korporasi yang ada di Indonesia, sehingga mewujudkan program pemberdayaan UMKM. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak secara langsung dalam keberlangsungan UMKM di ponorogo dalam hal produktifitas dan peningkatan kesejahteraan, Setelah ini kami juga akan memberikan pendampingan kepada UMKM Binaan agar semakin lebih maju“ ungkap Zulkarnain Asya Hifa M.Hum, Ketua Lazismu Ponorogo. (Bayu)

Bersama Alfamidi, Wardah dan Anggoro Eko Cahyo, Lazismu Bantu Berdayakan 70 UMKM di Jawa Timur

Guna mendorong tumbuh besarnya UMKM berbasis keluarga dalam peningkatan perekonomian pada masa pandemi Covid-19 maka LAZISMU melalui kiprahnya ikut berpartisipasi, mendukung program penanggulangan Covid-19 dalam memberdayakan pelaku UMKM. Pemberdayaan pelaku UMKM ini dilaksanakan dengan pendekatan filantropi, yang tidak hanya didukung dengan penyediaan modal tapi juga pelatihan dan pendampingan.

Bersama Alfamidi, Wardah dan Anggoro Eko Cahyo, Lazismu Pusat melaksanakan program pemberdayaan UMKM yang berwujud pemberian dana bantuan modal usaha dan pendampingan. Menurut Muhammad Masrukh, Wakil Sekretaris Lazismu Jatim yang menjadi PIC program ini mengatakan bahwa Lazismu Jawa Timur oleh Lazismu Pusat ditunjuk untuk melaksanakan program pemberdayaan ini dengan menyasar kepada 70 UMKM. Oleh karena itu Lazismu Jatim melibatkan 9 Lazismu Daerah dan 2 Kantor Layanan.

Ketika ditemui pada acara BIMTEK Pendamping Pemberdaya UMKM di Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, 25 Agustus 2020, Gus Masrukh mengatakan bahwa dana bantuan CSR dari ketiga pihak itu telah ditransfer ke masing-masing rekening Lazismu Daerah dan KLL untuk selanjutnya diserahkan kepada pelaku UMKM yang menjadi binaan. Sebanyak 70 UMKM menerima dana bantuan guna membangkitkan usaha mereka yang terkendala di masa pandemi dengan besar bantuan Rp 2,5 juta per orang/UMKM.

Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh drh Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jatim, kepada perwakilan Lazismu Daerah pada BIMTEK pendamping UMKM yang diadakan untuk mengawali program pemberdayaan ekonomi di masa pendemi ini. Setelah BIMTEK ini para pendamping akan segera kembali ke daerahnya masing-masing guna melakukan tugas pendampingan dan penyerahan dana bantuan usaha kepada para pelaku UMKM.

Program ini, menurut Zainul Muslimin dimaksudkan untuk mengembangkan potensi ekonomi keluarga dan masyarakat dalam meningkatkan produktivitas dalam upaya mengentaskan kemiskinan, khususnya dimasa pandemi Covid-19.

“Pandemi Covid-19 ini sungguh sangat memberatkan pelaku usaha mikro. Mereka yang punya usaha terpaksa berhenti karena mematuhi protokol kesehatan berupa PSBB. Padahal mereka menanggung beban ekonomi keluarga. Tentu saja hal ini harus kita berikan solusi. Dengan bersinergi bersama perusahaan atau korporat serta Muzaki perorangan, Lazismu melaksanakan program guna membankitkan kembali usaha mereka yang sempat mandeg dan terkendala oleh pandemi wavah Covid-19″ kata Zainul. (Adit)

Laksanakan Program Pemberdayaan UMKM, Lazismu Bekali Para Pendamping Dengan BIMTEK

Pandemi virus Corona bukan hanya sekedar bencana kesehatan, virus yang dikenal sebagai Cobid-19 ini telah menimbulkan kekacauan di sektor ekonomi. Tidak hanya industri besar, pandemi virus Corona telah membuat pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia mulai gelisah.

Guna mendorong tumbuh besarnya UMKM berbasis keluarga dalam peningkatan perekonomian dimasa pandemi Covid-19, disamping diperlukan ketersediaan modal finansial, UMKM juga membutuhkan pelatihan (modal intelektual) maupun pendampingan (modal sosial). Maka LAZISMU melalui kiprahnya ikut berpartisipasi, sebagai bentuk mendukung program penanggulangan Covid-19 dalam memberdayakan pelaku UMKM dengan pendekatan filantropi, yang tidak hanya didukung dengan penyediaan modal tapi juga pelatihan dan pendampingan.

Semangat kebersamaan masyarakat akan mendorong bangsa keluar dari persolaan pandemi Covid-19 tentunya, peran ekonomi keluarga, ekonomi UMKM, yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kita. Bagi keluarga maupun UMKM yang sudah berjalan harus bisa melihat peluang dengan baik di tengah pandemi Corona.

Meskipun pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap ekonomi keluarga dan UMKM, namun ada beberapa faktor yang membuat keluarga dan UMKM masih bisa bertahan ditengah wabah Covid-19. Yang pertama, umumnya UMKM yang menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Pendapatan masyarakat yang menurun drastis tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan. UMKM malah bisa bergerak dan menyerap tenaga kerja meski jumlahnya terbatas dan dalam situasi Covid-19.

Kedua, pelaku usaha UMKM umumnya memanfaatkan sumberdaya lokal, baik sumberdaya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan UMKM tidak mengandalkan barang impor. Dan yang ketiga, umumnya bisnis UMKM tidak ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri dan Lembaga sosial non-profit salah satunya LAZSIMU.

Menindaklanjuti program pemberdayaan UMKM, sinergi Alfamidi, Wardah Cosmetic, Anggoro Eko Cahyo dan LAZISMU di Jawa Timur, dilaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Pendamping. Bimtek dilaksanakan di gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Kertomenanggal IV/1 Surabaya, 25 Agustus 2020.

BIMTEK diikuti oleh 25 orang peserta selaku Pengurus dan Staf yang membidang Program. Peserta adalah utusan dari 9 kantor Lazismu Daerah dan 2 Kantor Layanan, antara lain daerah; Kab. Malang, Kab. Mojokerto, Lamongan, Bojonegoro, Ponorogo, Jember, Pamekasan, KLL PW Aisyiyah Jatim dan KLL Hasanah serta beberapa Pengurus Lazismu Jatim yang membidangi program.

Tujuan BIMTEK ini adalah untuk memberikan bekal dan wawasan serta petunjuk teknis detail agar program Pemberdayaan UMKM yang merupakan kerja bareng dan sinergi Alfamidi, Wardah Cosmetic, Anggoro Eko Cahyo dan LAZISMU di Jawa Timur dapat berjalan dengan baik dan lancar serta tidak menemui kendala yang berarti.

Materi yang disampaikan meliputi Motivasi Pendampingan, Proses Legal dan Perijinan UMKM oleh pemateri dari Disperindag Jatim, Kemasan Produk UMKM oleh UPT Makanan-Minuman-Kemasan Provinsi Jawa Timur dan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Teknis Pendampingan UMKM oleh Sekretaris Badan Pengurus Lazismu  Jatim.

Diharapkan setelah BIMTEK ini peserta dapat melaksanakan program pendampingan pemberdayaan terhadap 70 UMKM di Jawa Timur sesuai dengan juklak, di daerah dan tempatnya masing-masing. (Adit)

Dagangan Nasi Kuning Sepi dan Terus Merugi, Pak Ishaq Dapat Bantuan dari Lazismu Lamongan

Penurunan pendapatan akibat kebijakan physical distancing dalam penanganan pandemi covid 19 benar benar dirasakan sekali oleh masyarakat.

Dampak sosial ekonomi tersebut, salah satunya juga dirasakan oleh pak Ishaq, (40 thn). Muallaf yang sehari hari berjualan nasi kuning di depan masjid Namira Lamongan.

Pak Ishaq sendiri adalah muallaf yang berasal dari Nusa Tenggara Barat yang sekarang tinggal di Lamongan bersama istri dan anaknya.

“Setelah keluar dari pekerjaan dan menjadi muallaf, saya merantau bersama istri ke berbagai daerah, salah satunya ke Lamongan. Saya buka usaha jualan nasi kuning di depan masjid untuk menghidupi anak istri sekaligus bayar kontrakan. Pandemi covid 19 ini membuat masjid sepi, sehingga nasi kuning yang saya bawa sering tidak terjual, akhirnya rugi dan berhenti. Sedangkan kebutuhan juga masih banyak,” ungkapnya.

“Rencananya bantuan dari Lazismu Lamongan ini akan kami gunakan untuk mencicil kontrakan dan membuka usaha nasi kuning kembali di depan rumah” sambungnya.

Bantuan uang tunai serta sembako diserahkan langsung oleh Amil Lazismu Lamongan, M Fijar dan Rudy Setiawan selaku staff progam dan fundraising.

“Pak Ishaq adalah salah satu dari 8 asnaf penerima zakat sebab beliau muallaf dan terancam tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok nya gara gara pandemi covid 19 ini,” ungkap Fijar, Amil Lazismu Lamongan saat dihubungi, Jumat (1/5/20) di kantor Lazismu.

Fijar menambahkan bahwa bantuan sembako serta uang tunai tersebut diperuntukkan untuk modal berjualan nasi kuning kembali.

“Bantuan dari donatur itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan juga modal berjualan nasi kuning kembali,” sambungnya.

Rudy Setiawan yang ikut turut serta dalam kunjungan itu juga menambahkan bahwa keberadaan Lazismu di masyarakat tentu sangat dibutuhkan.

“Sebab tugas kami sebagai Amil, penyambung, antara Aghnia dengan para penerima atau mustahiq, Jadi kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur semua yang mempercayakan pembayaran ZIS nya kepada Lazismu, semoga kedepan zakat kita dapat terus menolong sesama,” pungkasnya. (Irv).