Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Jumat , 25 September 2020
Breaking News
You are here: Home » Dakwah

Category Archives: Dakwah

Pandemi Belum Berakhir, Janganlah Terlena dan Terbuai, Bersama LAZISMU Terus Berikhtiar dan Bersedekah

Tuntutan ekonomi dan pelonggaran pembatasan sosial mengakibatkan masyarakat semakin mengabaikan protokol kesehatan yang ditetapkan.⁣

Hingga Ahad (13/9) kemarin, masih terjadi tambahan ratusan pasien COVID-19 di Jawa Timur. Selain klaster kantor, penyebaran virus Corona di dalam keluarga juga menjadi kekhawatiran baru.⁣

Pandemi belumlah berakhir, maka dari itu janganlah kita terlena dan terbuai.

Ikuti Siaran on-air dan online streaming (recorded by youtube) RANAH PUBLIK (15 September 2020) di Radio Suara Muslim FM dan SuaraMuslim-TV Surabaya, dengan pembicara dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes ⁣(Direktur RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo⁣) dan drh. Zainul Muslimin⁣ (Ketua Lazismu wilayah Jatim⁣).

Silakan klik.. 

DONASI KE REKENING LAZISMU INFAQ

  • Bank Syari’ah Mandiri No. 9939 820 000 000 000 a/n Infaq LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Mu’amalat No. 7664 020 000 000 000 a/n Infaq LAZIS MUHAMMADIYAH Jatim
  • Bank Jatim Syariah No. 6141 919 191 a/n Lazismu Jatim Infaq
  • Bank Syariah Mandiri No. 9000 005 557
  • Bank Muamalat No. 7710 015 631 a.n LAZIS MUHAMMADIYAH JAWA TIMUR (INFAQ DAN SEDEKAH)
  • CIMB Niaga Syariah No. 861 777 777 500 a.n. LAZISMU JAWA TIMUR

Berbagi Mukena kepada Warga Kampung Kecik di Kota Madiun

Lazismu Kota Madiun bekerjasama dengan PDA (Pimpinan Daerah Aisyiyah) Kota Madiun membagikan mukena ke warga di Kelurahan Demangan Kota Madiun, 19 Juli 2020, dalam Program Tasharruf Mukena. Kali ini pembagian mukena di pusatkan pada warga Kampung Kecik. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada status ekonomi warga Kampung Kecik yang berada di strata menengah ke bawah. Profesi sebagian besar warga adalah PRT (Pembantu Rumah Tangga), buruh dan ibu rumah tangga.

“Mereka sangat berterima kasih dengan adanya bantuan mukena ini semoga bisa meningkatkan semangat beribadah di tengah pandemi ini” ujar Yulis, selaku anggota PDA yang menjadi perantara warga Kampung Kecik. Pembagian mukena ini diterima dengan gembira oleh warga Kampung Kecik.

Program ini akan dilaksanakan secaraberkala, dengan sasaran yang lebih luas. Seperti ojek online perempuan, istri tukang becak, dan warga lain yang membutuhkan. Dikarenakan pandemi Covid-19 ini penyaluran ke masjid-masjid dan musholla yang berada di swalayan dan mall masih ditunda terlebih dulu, karena mengikuti anjuran pemerintah yang melarang adanya alat ibadah di Mushola dan Masjid. Pemerintah menganjurkan untuk membawa alat ibadah sendiri-sendiri guna meminimalisir persebaran Covid-19.

“Semoga dengan pembagian mukena ini penerima manfaat bisa lebih khusyuk dalam beribadah” papar Adi mewakili Badan Pelaksana Lazismu Kota Madiun. (Bella)

Aksi Peduli Untuk Tingkatkan Semangat Guru Ngaji TPA di Rowokangkung, Lumajang

Kantor Layanan Lazismu (KLL) di Rowokangkung Lumajang walaupun keberadaanya belum seumur jagung dan baru berdiri tapi kegiatannya nyata dirasakan oleh umat. Hal itu terlihat dalam aksi Peduli Guru Taman Pendidikan al-Qur’an, jumat 03-07-2020, khususnya di TPA Mujahidin dan TPA Umar bin Khotob di kecamatan yang sering menjadi langgan banjit itu.

Anggit selaku ketua KLL Rowokangkung mengatakan kegiatan peduli guru ngaji ini perlu ditingkatkan, karena mereka ini adalah para pencetak kader bangsa yang loyal kepada negri ini. Lazismu sebagai Lembaga Amil Zakat harus memperhatikan kesejahteraan mereka. “Mudah-mudahan para donatur juga simpati dan mendukung program program Lazismu ini” ungkapnya.

Pada kegiatan ini ditasyarufkan uang sejumlah 1,2 juta Rupiah kepada 16 guru ngaji yang mengajar di TPA Mujahidin dan TPA Umar bin Khotob dengan harapan semoga sedikit bantuan ini bisa membuat semangat berdakwah mereka meningkat.

Nunuk Sugiarsih, seorang guru TPA Mujahidin, mengucapkan banyak terima kasih kepada Lazismu dan para doantur, yang sudah memperhatikan keberadaan mereka selama ini. Ia berharap semoga hal ini bisa menjadikan semangat untuk mencerdaskan anak-anak kader bangsa, tuturnya

“Mudah-mudahan para relawan Lazismu selalu di beri kelancaran dan kesehatan sehinngga bisa terus berkiprah untuk kepentingan umat, dan kami yang ada di TPA akan terus mengajak para wali santri ketika membayar zakat, infaq dan shodaqohnya untuk langsung ke Kantor Layanan Lazismu Rowokangkung. Insya alloh terpercaya dan acuntable.” kata Nunuk.

“Apa lagi Rowokangkung adalah kawasan pertanian, maka zakat pertanianya juga wajib di keluarkan dan para petugas Lazismu juga siap menjemput zakat dan donasi ke rumah-rumah para Muzaki,” pungkasnya. (Kus).

Mari membayar zakat dan infaq-sedekah melalui Lazismu kab. Lumajang..

Transfer ke REKENING

Jeniz ZIS Bank Norek Nama Rek
ZAKAT BSM 99398 1 20 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lumajang
BMI 76630 1 20 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lumajang
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 20 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lumajang
BMI 76640 2 20 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lumajang
KEMANUSIAAN BSM 99398 3 20 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Lumajang
BMI 76650 3 20 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Lumajang
QURBAN BMI 77250 4 20 00 0 00000 Qurban LAZISMU Kab Lumajang

Menyapa Warga Mualaf Suku Tengger di Lereng Gunung Semeru, Senduro, Kabupaten Lumajang

Lazismu Kabupaten Lumajang bersama Kantor Layanan (KL) di Senduro kembali mengadakan aksi sosial. Kali ini membagikan 40 paket sembako di desa kandangan dusun krajan RW 01 dan desa Kandang Tempus dusun Kayu Enak kecamatan Senduro. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari sabtu 13-06-2020 ini dilakukan sambil menyapa para Mualaf suku Tengger yang ada di desa tersebut.

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut para pengelola KL Lazismu Senduro yang diwakil oleh Arofiq, para Amil Fundraising Lazismu Lumajang dan ketua RW 01, Saikhu.

Arofiq relawan Lazismu KL Senduro mengatakan bahwa kegiatan ini sengaja menyasar ke dua dusun itu. Dusun yang tempatnya berada di pinggiran kecamatan Senduro ini banyak warga yang perlu mendapatkan uluran tangan, ungkap Arofiq.

Sebanyak 40 kepala keluarga yang sebagian besar adalah Mualaf suku Tengger yang berada di lereng gunung Semeru ini mendapatkan paket bantuan ini. Suku Tengger adalah masyarakat Jawa Hindu yang masih keturunan kerajaan Mojopahit. Mereka hidup bercocok tanam dan menetap di sekitar gunung Semeru dan Bromo, Jawa Timur.

Arofiq juga menjelaskan bahwa kawasan binaan KL Lazismu Senduro ini sangat kompleks permasalahan hidupnya. Banyak Mualaf yang perlu mendapatkan perhatikan, baik dari sisi pertahanan aqidah dan secara ekonomi.

“Mudah-mudahan dengan zakat dan infaq dari para Muzaki dan Donatur yang kita salurkan ini ke depan bisa memberdayakan dengan baik kehidupan mereka. Kami juga melihat dukungan para donatur sangat antusias dan selama ini mensuport kegiatan kami. Insya Allah harapan itu semua akan terwujud,” harapnya.

Saikhu selaku ketua RW dan mewakili warga Mulaf Suku Tengger sangat bersukur dengan kegiatan Lazismu di dusunnya.

“Bantuan ini sangat membantu warga kami yang memang sangat membutukan, apalagi dampak Covid-19 ini sangat menganggu sektor ekonomi di kalangan bawah, khususnya yang bermata pencaharian tidak tetap,” jelas Saikhu.

“Kami pun juga akan mengajak para dermawan untuk selalu menyisikan zakat mal, infaq dan sedekahnya untuk disalurkan ke Lazismu kalau kita lihat selama ini lembaga yang paling amanah dan akuntabel, baik dalam pencatatan dan pentasarufan,” tambahnya.

Seraya sambil mendoakan semoga perjuangan para mujahid lazismu selalu di beri kelancaran dalam setiap kegiatan dan dakwanya selalu dalam lindunganya sehingga bisa meningkatkan motivasi untuk memahami indahnya bersodaqoh,imbuhnya.

Ketua Lazismu Lumajang Drs Muari selalu mengingatkan kepada para relawan agar selalu menjaga kesehatan di tengah pandemi yang tidak menentu ini. Apalagi Pemerintah akan menerapkan pola new normal. Ketika kesehatan terjaga dan semangat itu terus bergelora insya Alloh kegiatan Lazismu akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, tandasnya.

“Yang terpenting selalu berinovasi untuk memberi yang terbaik dengan gerakan zakat yang meberdayakan,” pungkas Muari.

Berta’awun Dalam “Aksi Bersama Untuk Sesama” Lazismu dan ‘Aisyiyah di Pasru Jambe Kabupaten Lumajang

Organisasi wanita Islam, seperti ‘Aisyiyah mempunyai peranan penting bagi pembentukan karakter Muslimah dan pengembangan dakwah Islam di negeri ini. Pengutaan peran penting itu harus terus dipupuk agar senantiasa tumbuh dan berkembang.

Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah kabupaten Lumajang bersama Lazismu mengadakan bakti sosial. Aksi ini untuk menyemarakkan Milad (HUT) ‘Aisyiyah ke-103 tahun. Tema yang diusung “Gerakan Ta’awun Sosial Peduli Dampak Covid-19 untuk Keselamatan Bangsa”

Aksi bersama yang ditujukan ke kecamatan Pasru Jambe desa Pasru Jambe dusun Tawon Songo, sabtu, (6/06/2020) ini disupport oleh jaringan organisasi di tingkat bawah, khususnya (Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah) PCA Senduro dan Kantor Layanan Lazismu (KLL) Senduro, mengingat kecamatan Pasru Jambe adalah kawasan binaan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Senduro. Hal itu merupakan pengembangan cabang organisasi akan dilakukan di tingkat Kecamatan.

Dalam kegiatan tersebut tampak hadir, Hj lilik nurdiani selaku Pimpinan PDA lumajang, ketua PCA senduro sriyatmiati, pengurus lazismu lumajang dan kantor layanan serta kepala desa pasru jambe

Kegitan ini sangat istimewa selain bakti sosial pembagian sembako untuk warga juga di adakan makan bersama di tempat pemantauan aktifitas gunung semeru atau yang di sebut loji.

Endro Sukanto selaku Kepala KL Lazismu Senduro mengatakan bahwa kegiatan ini diwujudkan dengan membagikan paket sembako sebanyak 100 bungkus. Rinciannya beras 5 kg minyak 2 liter dan gula 2 kg. Pembagian menyasar ke desa Burno dan desa Pasru Jambe.

“Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan para donatur semakin percaya kepada Lazismu sehingga donasinya selalu dititipkan ke lembaga yang terpercaya dan akuntable,” kata Endro.

Sementara itu Ketua PDA Kabupaten Lumajang, Lilik Nurdiani dalam sambutannya mengatakan, mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya Milad ini meski harus menggunakan protokol covid-19 karena, menyongsong kondisi New Normal.

“Saya bangga atas kekompakan PCA, PCM, dan Lazismu Senduro yang selalu bersinergi dengan sangat baik dalam setiap kegiatan. Mari kita fokuskan pengembangan Cabang Aisyiyah yang baru didirikan di sini yaitu PCA Pasru Jambe yang merupakan kecamatan baru pecahan dari kecamatan Senduro. Ini harus kita kawal dengan baik. Bu Nurul yang terpilih sebagai ketua siap berlari mengerjakan PR ini. Insya Allah PDA akan rutin melakukan pendampingan dan pembinaan. Kami berharap PCA Senduro turut mendampingi,” lanjutnya.

“Terima kasih kepada semuanya yang telah turut mengukir sejarah di tempat ini. Mengukir sejarah untuk menjadi teladan bagi generasi yang akan datang tidaklah mudah. Ini sebuah tantangan bagi ‘Aisyiyah yang telah berusia 103 tahun. Demikian pula bagi ‘Aisyiyah Kabupaten Lumajang yang baru memiliki 16 PCA dari 21 kecamatan yang ada. Insya Allah tahun Ini bertambah 2 PCA baru sehingga menjadi 18 PCA. Alhamdulillah,” tambhnya.

“Meski saat ini dalam suasana pandemi, semangat berta’awun sosial dan bergotong-royong pada Ranting dan Cabang ‘Aisyiyah semakin giat. Salah satunya yang ditunjukkan oleh PCA Senduro ini yang mampu menyelenggarakan Milad ke-103 di tengah masa pandemi Covid-19 dengan cara yang berbeda dari biasanya. Selamat Milad AISYIYAH Ke-103,” pungkasnya.

Yuk berdonasi melalui Lazismu kabupaten Lumajang..

REKENING BANK

Jeniz ZIS Bank Norek Nama Rek
ZAKAT BSM 99398 1 20 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lumajang
BMI 76630 1 20 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lumajang
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 20 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lumajang
BMI 76640 2 20 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lumajang
KEMANUSIAAN BSM 99398 3 20 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Lumajang
BMI 76650 3 20 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Lumajang
QURBAN BMI 77250 4 20 00 0 00000 Qurban LAZISMU Kab Lumajang

Luncurkan Program Perbaikan Instalasi Listrik Gratis Untuk Masjid dan Warga Kurang Mampu di Lamongan

Upaya Lazismu kabupaten Lamongan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat secara kreatif dan solutif melalui program “Back To Masjid” terus dilakukan.

Setelah tempo hari menggerakkan anak anak muda untuk melakukan kegiatan bersih bersih masjid. Mulai hari ini, Ahad (7/6/2020) Lazismu Lamongan bekerjasama dengan CV Prigesh, Kontraktor yang bergerak di bidang mekanikal dan elektrikal membuka layanan Perbaikan Listrik Gratis setiap hari Jumat secara gratis.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Irvan Shaifullah, Manajer Lazismu Lamongan, saat dihubungi melalui media Japri WA.

“Mulai hari ini kami luncurkan program back to masjid yang secara khusus menangani perbaikan listrik masjid dan musholla di kabupaten Lamongan, Jumat depan kami mulai bergerak,” ungkapnya.

“Semula ini adalah hasil obrolan kecil kami bersama teman-teman CV Prigesh yang menginisiasi untuk bergerak bersama membantu masjid dan musholla untuk urusan perbaikan listrik, berawal dari kegelisahan kami yang melihat banyak takmir kesulitan untuk menata saluran listrik nya di Lamongan, apalagi yang dipelosok-pelosok desa. Dan akhirnya kami sepakat bergerak,” sambung Irvan.

Irvan menambahkan bahwa tim yang bergerak dari Lazismu dan tim dari kontraktor Prigesh mekanikal.

“Kita jalan bareng, cara pengajuannya pun mudah, tinggal tulis nama pengusul, alamat, no hp (081214537745) dan masalah perbaikan apa trus dikirim ke kontak Amil Lazismu Lamongan, biar semua orang mudah mengaksesnya,” sambungnya

Pemilik CV Prigesh, Ainur Rofiq juga menyampaikan bahwa setiap Jumat kami akan berkeliling bersama tim dan juga Lazismu untuk datang ke masjid dan musholla.

“Ya setiap Jumat kami akan berkeliling sesuai pembagian dan permohonan masjid dan musholla, tidak menutup kemungkinan juga rumah warga yang kebetulan membutuhkan perbaikan,” ungkapnya.

Rofiq menambahkan bahwa kami beruntung mendapatkan partner seperti Lazismu. “Kami berterima kasih kepada Lazismu, kami beruntung mendapatkan partner dalam kebaikan untuk berbagi dan membantu bersama,” tukasnya.

“Semoga kerjasama ini berjalan dengan baik dan semoga bermanfaat bagi umat,” pungkas Irvan Saifullah.

Mari Berdonasi bersama Lazismu Lamongan..

Rekening Bank

Jeniz ZIS Bank Norek Nama Rek
ZAKAT BSM 99398 1 19 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lamongan
BMI 76630 1 19 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lamongan
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 19 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lamongan
BMI 76640 2 19 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lamongan
KEMANUSIAAN BSM 99398 3 19 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Lamongan
BMI 76650 3 19 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Lamongan
QURBAN BMI 77250 4 19 00 0 00000 Qurban LAZISMU Kab Lamongan

Lazismu-MCCC Distribusikan Paket Bantuan Ketahanan Pangan Bagi Da’i, Mubaligh dan Guru Ngaji di kota Surabaya

Kegiatan da’wah dan penyebaran risalah Islamiyah selama ini aktif dilakukan oleh para pegiat dakwah, yaitu Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah serta Guru Ngaji. Namun pada masa pandemi wabah Corona ini mereka seakan libur panjang tanpa batas.

Menurut Sunarko, M.Si, Ketua Lazismu kota Surabaya, ketika dihubungi melalui jaringan WhatsApp (21/05/20), mereka, para Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah sangat terdampak atas wabah pandemi virus Corona atau Covid-19. Saat ini mereka berdiam di rumah atau stay at home. Jika pun ada aktifitas da’wah dilakukan melalui jaringan online, itu pun tidak semua bisa mengakses.

Sebelum wabah berjangkit para Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah di kota Surabaya ini aktif berkegiatan da’wah baik di Masjid, musholla, gedung dakwah, TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) hingga ke masyarakat luas melalui pengajian, khutbah, ceramah dan sebagainya, jelas Sunarko.

Kini aktifitas itu terhenti total karena PSBB atau pembatasan sosial berskala besar. Akibatnya mereka yang hanya mengandalkan penghasilan dari profesi Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah sangat terpukul karena tidak mempunyai pendapatan. Padahal kebutuhan hidup berjalan terus dan tidak berhenti.

Menanggapi hal itu Lazismu Surabaya yang bersinergi dengn Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) segera menyalurkan dana Zakat Infaq dan Shodaqoh untuk dirupakan bantuan pangan bagi Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah atau guru Ngaji.

Total 1545 paket dibagikan pada aksi ketahanan pangan tahap kedua 19 mei 2020. Sebanyak 700 paket untuk Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah. Bantuan diserahkan sesuai data dari Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM), Lembaga Da’wah FIAD Unmuh dan jaringan LPTPQMu se Surabaya.

Pendistribusian bantuan dilakukan dengan mendatangi rumah para Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah dan juga melalui koordinator kelompok di kota Pahlawan ini. Pengiriman dilaksanakan secara bertahap dimulai dari tanggal 22 April, lalu 19 Mei dan 21 Mei 2020. Setelah tanggal itu pun akan terus dilakukan pengiriman door to door setiap hari, hingga H-1 Lebaran.

Upaya ini, lanjut Sunarko, diharapkan bisa sedikit meringankan beban kehidupan par Da’i, Mubaligh-mubalighat dan ustadz-ustadzah.

“Kami, selain bersinergi secara internal, juga bekerjasama atau berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama swasta seperti Alfamart, bank CIMB Niaga Syariah, catering sonokembang, PT Paco tekindo, perusahaan dan pengusaha lainnya dalam penanganan warga terdampak Covid-19 ini. Terima kasih atas amanah dan kepercayaan para donatur dan Muzaki yang menyalurkan donasi kemanusiaan, zakat, infaq dan shodaqohnya melalui Lazismu. Semoga jalinan sinergi dan kerjasama ini dapat terus berlanjut. Semoga amal ibadah kita semua diterima dan mendapat ridho dari Allah SWT. Aamin,” pungks Sunarko. (Ad).

Tuntunan Shalat Idul Fitri dalam Kondisi Darurat Covid-19

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Wr Wb.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan ini menyampaikan Tuntunan Shalat Idul Fitri dalam Kondisi Darurat Covid-19 sesuai Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebagaimana terlampir.

Edaran tersebut hendaknya dapat dilaksanakan dan dapat menjadi panduan bagi ummat Islam pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya.

Khusus bagi warga Muhammadiyah dengan seluruh institusi yang berada di lingkungan Persyarikatan dari Pusat sampai Ranting dan jama’ah hendaknya memedomani tuntunan ini sebagai wujud mengikuti garis kebijakan organisasi untuk berada dalam satu barisan yang kokoh. (ash-Shaff: 4)

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita dan segera menjauhkan kita dari musibah.

Nashrun min-Allah wa fathun qariib. Wassalamu’alaikum Wr Wb

Yogyakarta, 21 Ramadan 1441 H/14 Mei 2020 M

Ketua Umum, Prof Dr H. Haedar Nashir MSi (NBM 545549) dan Sekretaris, Dr H Agung Danarto MAg (NBM 608658)

Lampiran Surat Edaran

Lampiran Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 04/EDR/I.0/E/2020 Tanggal 21 Ramadan 1441 H / 14 Mei 2020 M.

Tuntunan Shalat Idul Fitri dalam Kondisi Darurat Covid-19

Melanjutkan Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19 yang difatwakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid dan telah diedarkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19, dijelaskan dan dituntunkan beberapa hal terkait shalat Idul Fitri dalam masa darurat pandemi Covid-19 sebagai berikut:

1. Bahwa tujuan agama adalah untuk memberikan rahmat kepada manusia, yang dalam filosofi fikih disebut perwujudan kemaslahatan (taḥqīq al-maṣaliḥ). Ini didasarkan kepada firman Allah:

[وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : ١٠٧

“Tiadalah Kami utus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya 107).

2. Agama adalah petunjuk dan di antara petunjuk agama bagi manusia dalam menjalani kehidupannya adalah tidak menimbulkan kemudaratan kepada diri sendiri dan kepada orang lain sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi dan dirumuskan dalam kaidah fikih:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ [رواه [مالك وأحمد واللفظ للأخير

Dari Ibn ‘Abbās (diriwayatkan bahwa) ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada kemudaratan kepada diri sendiri dan tidak ada kemudaratan kepada orang lain” (HR Mālik dan Aḥmad, dengan lafal dari yang terakhir).

Dalam kaidah fikih ditegaskan, اَلضَّرَرُ يُزَالُ Kemudaratan itu dihilangkan.

3. Asas dalam melaksanakan agama itu adalah (a) memudahkan (al-taisīr), (b) dilaksanakan sesuai kemampuan, dan (c) sesuai dengan sunah Nabi SAW.

  • a. Asas kemudahan itu ditegaskan baik dalam Al-Quran, dalam sunah Nabi SAW maupun dalam rumusan-rumusan kaidah fikih, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran” (QS. al-Baqarah 185). Dari Anas Ibn Mālik, dari Nabi SAW (diriwayatkan bahwa) ia bersabda: “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan menimbulkan kebencian” (HR al-Bukhārī dan Muslim, dan ini lafal al-Bukhārī). “Kesukaran dapat mendatangkan kemudahan”
  • b. Asas kemampuan ditegaskan dalam al-Quran dan hadits: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sejauh yang mampu dilakukannya” (QS. al-Baqarah 282). “Bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. at-Thagabun 16). Dari Abū Hurairah, dari Nabi saw (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda: “… dan jika aku perintahkan kamu melakukan sesuatu, kerjakanlah sejauh kemampuanmu” (Hadis muttafaq ‘alaih).
  • c. Dalam menafsirkan sunah Nabi SAW hendaknya tidak kaku dan harfiah tetapi juga memadukan unsur bayani, burhani, dan irfani.

Hukum Shalat Id

4. Hukum shalat ‘Idain (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah sunah muakad (sunnah mu’akkadah) karena shalat wajib itu adalah shalat lima waktu sebagaimana ditegaskan dalam hadits-hadits sahih di bawah ini dan tidak ada dalil khusus yang menegaskan wajibnya salat ‘Idain serta tidak ada sanksi bagi orang yang meninggalkannya. Hadits-hadits dimaksud adalah:

Dari Ṭalḥah Ibn ‘Ubaidillāh (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu serta merta bertanya kepada beliau tentang Islam. Lalu Rasulullah SAW menjawab: Lima shalat diwajibkan sehari semalam. Ia bertanya lagi: apakah ada kewajiban (shalat) lainnya? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, kecuali shalat-shalat tatawuk (sunah).

Rasulullah SAW kemudian meneruskan: Juga diwajibkan puasa Ramadhan. Lalu ia bertanya lagi: apa ada kewajiban (puasa) lainnya? Rasulullah menjawab: Tidak, kecuali puasa tatawuk (sunah).

(Abū Ṭalḥah melanjutkan): Lalu Rasulullah menyebutkan kewajiban (membayar) zakat. Orang itu bertanya lagi: apa ada kewajiban (pembayaran) lainnya? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, kecuali (infak) tatawuk (sunah). Lalu laki-laki itu pergi sambil berkata: Demi Allah saya tidak akan tambahi dan kurangi ini. Kemudian Rasulullah SAW berkata: Orang itu beruntung, jika dia benar (HR al-Bukhārī, Muslim, Mālik Abū Dāwūd, dan an-Nasā’ī).

‘Ubādah berkata: … Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Lima salat diwajibkan oleh Allah atas hambanya. Barangsiapa melaksanakannya tanpa melalaikan sedikit pun karena memandang enteng kewajiban shalat itu, maka dia mendapat janji dari Allah akan dimasukkan ke dalam surga; dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak mendapat janji untuk dimasukkan ke dalam surga. Jika Allah menghendaki, Dia mengazabnya, tetapi jika Allah menghendaki, Dia (karena ia diampuni-Nya) memasukkannya ke dalam surga (HR Abū Dāwūd, an-Nasā’ī, dan Aḥmad).

Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya selama sembilan kali Syawal dan Zulhijah setelah disyariatkannya, tetapi juga tidak adanya sanksi hukum atas tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, dari sini disimpulkan hukumnya sunah muakad.

Tata Cara Shalat Id

5. Dasar hukum shalat ‘Idain dikerjakan di lapangan dua rakaat, sebelum khutbah, tanpa adzan dan tanpa iqamat, serta tidak ada shalat sunah sebelum maupun sesudahnya, adalah hadits-hadits berikut ini.

  • a. Hadis Abū Saʻīd, Dari abū Saʻīd al-Khudrī RA (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah SAW keluar ke lapangan tempat shalat (muṣallā) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Lalu hal pertama yang dilakukannya adalah shalat, kemudian ia berangkat dan berdiri menghadap jamaah, sementara jamaah tetap duduk pada shaf masing-masing, lalu Rasulullah menyampaikan wejangan, pesan, dan beberapa perintah … (HR al-Bukhārī).
  • b. Hadis Aḥmad dan an-Nasā’ī, Dari Jābir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya mengikuti shalat bersama Rasulullah di suatu hari Id. Beliau memulai shalat sebelum khutbah, tanpa adzan dan tanpa iqamat (Hadits sahih, riwayat Aḥmad dan an-Nasā’ī).
  • c. Hadis Ibn ‘Abbās, Dari Ibn ‘Abbās (diriwayatkan bahwa) Nabi saw salat Id pada hari Id dua rakaat tanpa melakukan salat lain sebelum dan sesudahnya. (HR tujuh ahli hadis, dan lafal di atas adalah lafal al-Bukhārī).

Shalat Id di Tengah Wabah Covid-19

6. Bagaimana Shalat Id di tengah wabah Covid-19 ?

  • a. Apabila pada tanggal 1 Syawal 1441 H yang akan datang keadaan negeri Indonesia oleh pihak berwenang (pemerintah) belum dinyatakan bebas dari pandemi Covid-19 dan aman untuk berkumpul orang banyak maka Shalat Idul Fitri di lapangan sebaiknya ditiadakan atau tidak dilaksanakan. Hal itu untuk memutus rantai mudarat persebaran Virus Corona tersebut agar kita cepat terbebas dari padanya dan dalam rangka sadduẓ-ẓarīʻah (tindakan preventif) guna menghindarkan kita jatuh ke dalam kebinasaan seperti diperingatkan dalam al-Quran (al-Baqarah: 195) dan demi menghindari mudarat seperti ditegaskan dalam sabda Nabi SAW yang sudah dikutip dalam “Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19,” yang disebut terdahulu.
  • b. Karena tidak dapat dilaksanakan secara normal di lapangan sebagaimana mestinya, lantaran kondisi lingkungan belum dinyatakan oleh pihak berwenang bersih (clear) dari covid-19 dan aman untuk berkumpul banyak orang, maka salat Id bagi yang menghendaki dapat dilakukan di rumah masing-masing bersama anggota keluarga dengan cara yang sama seperti salat Id di lapangan.

Bahkan sebaliknya, tidak ada ancaman agama atas orang yang tidak melaksanakannya, karena salat Id adalah ibadah sunah. Dasar pelaksanaan shalat Id di rumah adalah:

1) Bahwa dalam melaksanakan ajaran agama dasarnya adalah kadar kemampuan mukallaf untuk mengerjakan. Hal itu karena Allah tidak membebani hamba-Nya, kecuali sejauh kadar kemampuannya (QS. al-Baqarah: 286 dan at-Thalaq 7) dan apabila diperintahkan melakukan suatu kewajiban agama, maka kerjakan sesuai kemampuan (bertakwa sesuai kemampuan) (ath-Thaghabun 16 dan hadits Nabi).

2) Dasar pelaksanaan shalat Id di rumah, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhārī, adalah hadis Nabi SAW:

هَذَا عِيْدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ (‘Ini adalah hari raya kita, pemeluk Islam’). Meskipun sabab al-wurūd hadis ini adalah masalah menyanyi di hari raya, namun al-Bukhārī memegangi keumuman hadits ini. Bahwa hari Id itu adalah hari raya umat Islam yang dirayakan dengan shalat Id, sehingga orang yang tidak dapat mengerjakannya sebagai mana mestinya, yaitu di lapangan, dapat mengerjakannya di rumahnya.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī dengan lafal sedikit berbeda pada dua tempat lain, yaitu hadis nomor 909 dan 3716 dalam Ṣaḥīḥ-nya. Al-Bukhārī menyebutkan bahwa Sahabat Anas Ibn Mālik memraktikkan seperti ini di mana ia memerintahkan keluarganya untuk ikut bersamanya salat Id di rumah mereka di az-Zāwiyah (kampung jauh di luar kota).

Ibn Rajab (w. 795/1393) dalam kitab syarahnya terhadap al-Bukhārī, yaitu Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, menyatakan bahwa salat Id di rumah itu dianut oleh para ulama terkemuka seperti ‘Aṭā’ (w. 114/732), Mujāhid (w.102/721), al-Ḥasan al-Baṣrī (w. 110/728), Ibn Sīrīn (w. 110/729), ‘Ikrimah (w. 107/725), Ibrāhīm an-Nakhaʻī (w. 96/715), Abū Ḥanīfah (w. 150/767), al-Auzaʻī (w. 157/774), Mālik (w. 179/795) , al-Laiṣ (w. 175/791), asy-Syāfiʻī (w. 204/820), dan Imam Aḥmad (w. 241/855) (Ibn Rajab, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, IX: 75, bab 25).

Antara Masyruk dan Tarkiah

3) Bahwa suatu aktivitas yang tidak diperbuat oleh Nabi SAW tidak selalu merupakan hal yang tidak masyruk. Tidak berbuat Nabi SAW itu bisa merupakan sunah, yang oleh karenanya tidak boleh disimpangi, dan bisa pula tidak merupakan sunnah sehingga dapat dilakukan.

Tidak berbuat Nabi SAW (al-tark) itu dikatakan sebagai sunah, yakni sunah tarkiah, adalah apabila tidak berbuat itu dalam keadaan ada kebutuhan untuk melakukannya dan ada peluang, namun Nabi SAW tetap tidak mengerjakannya.

Misalnya Nabi SAW tidak pernah salat malam di bulan Ramadan (Tarawih) dan salat malam di luar Ramadan (Tahajud) lebih dari 11 rakaat seperti diriwayatkan oleh ‘Ā’isyah sebagaimana dicatat dalam dua kitab sahih. Di sana ada keperluan untuk melakukan lebih dari 11 rakaat, yaitu meningkatkan dan memperbanyak ibadah, karena Nabi SAW memerintahkan perbanyaklah sujud, yang berarti perbanyak rakaat salat sunah termasuk shalat Tarawih. Juga tidak ada halangan Nabi untuk mengerjakannya.

Namun demikian beliau tidak melakukannya. Maka tidak berbuat Nabi SAW seperti ini merupakan sebuah sunah, yakni sunah tarkiah. Oleh karenanya, menurut Majelis Tarjih dan Tajdid, apabila dikerjakan juga, maka tidak masyruk.

Tetapi apabila tidak dikerjakan itu karena tidak ada keperluan untuk mengerjakannya, atau ada keperluan untuk mengerjakannya namun ada halangan untuk mengerjakannya, maka tidak berbuat tersebut bukan sunah tarkiah dan apabila dikerjakan, maka itu hukumnya boleh.

Seperti Nabi SAW tidak pernah membaca mushaf atau tulisan ayat ketika salat atau mengimami shalat, karena tidak ada kebutuhan untuk itu sebab beliau sendiri hafal al-Quran.

Oleh sebab itu “beliau tidak membaca mushaf dalam salat itu” bukan sunah tarkiah, dan karenanya apabila ada orang yang membaca mushaf atau tulisan ayat ketika menjadi imam atau shalat munfarid, maka itu boleh hukumnya.

Contoh lain adalah bahwa Nabi SAW tidak shalat Tarawih berjamaah di masjid secara terus menerus selama Ramadhan. Beliau hanya berjamaah beberapa malam saja dari satu bulan Ramadhan. Beliau lebih banyak salat sendiri di rumah dan di zaman beliau hingga dua tahun pertama pemerintahan ‘Umar Ibn al-Khaṭṭāb tidak ada shalat Tarawih di masjid Nabi SAW di bawah satu pimpinan imam secara terus menerus selama bulan Ramadhan.

Shalat Tarawih dilaksanakan secara sporadis dalam kelompok-kelompok kecil atau sendiri-sendiri (HR al-Bukhārī).

Bahwa Nabi SAW tidak melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di masjid secara terus menerus selama Ramadhan bukan sunah tarkiah, karena meskipun ada kebutuhan untuk melakukannya dan beliau tidak melakukannya disebabkan oleh adanya halangan untuk itu. Yaitu beliau khawatir shalat Tarawih berjamaah terus menerus itu dipandang wajib oleh umatnya dan itu akan memberatkan mereka dan karenanya beliau hanya shalat beberapa kali saja selama satu Ramadan (HR al-Bukhārī dan Muslim).

Ketika kita sekarang (dalam keaddan normal) melaksanakannya terus menerus sepanjang malam Ramadhan di masjid, itu adalah masyruk dan tidak melanggar sunah beliau.

Dalam kaitan dengan tidak pernahnya Rasulullah SAW mengerjakan salat Id di rumah dapat dipandang bukan merupakan sunah tarkiah, karena tidak ada kebutuhan di zaman beliau untuk shalat Id di rumah karena tidak ada halangan, seperti ṭaʻūn (penyakit menular), yang menghalangi beliau untuk shalat di lapangan. Karena bukan sunah tarkiah, maka melakukan shalat Id di rumah itu bukan suatu yang tidak masyruk. Sebaliknya adalah suatu sah dilakukan.

Shalat Id di Rumah Bukan Bidah

4) Pelaksanaan shalat Id di rumah tidak membuat suatu jenis ibadah baru. Salat Id ditetapkan oleh Nabi SAW melalui sunahnya. Salat Id yang dikerjakan di rumah adalah seperti shalat yang ditetapkan dalam sunah Nabi SAW.

Hanya tempatnya dialihkan ke rumah karena pelaksanaan di tempat yang semestinya, yaitu di lapangan yang melibatkan konsentrasi orang banyak, tidak dapat dilakukan. Juga tidak dialihkan ke masjid karena halangannya adalah ketidakmungkinan berkumpulnya orang banyak di suatu tempat.

Karena terhalang di tempat yang semestinya, yakni di lapangan, maka dialihkan ke tempat di mana mungkin dilakukan, yakni di rumah.

c. Dengan meniadakan shalat Id di lapangan maupun di masjid karena adanya ancaman Covid-19 tidaklah berarti mengurang-ngurangi agama. Ketika dibolehkan shalat Id di rumah bagi yang menghendakinya, pertimbangannya adalah melaksanakannya dengan cara lain yang tidak biasa, yaitu dilaksanakan di rumah, karena dituntut oleh keadaan di satu sisi, dan di sisi lain dalam rangka mengamalkan bagian lain dari petunjuk agama itu sendiri.

Yaitu agar kita selalu memperhatikan riʻāyat al-maṣāliḥ, perwujudan kemaslahatan manusia, berupa perlindungan diri, agama, akal, keluarga, dan harta benda dan menjaga agar kita tidak menimbulkan mudarat kepada diri kita dan kepada orang lain.

Bahkan sebaliknya, tidak ada ancaman agama atas orang yang tidak melaksanakannya, karena shalat Id adalah ibadah sunah. Dalam pandangan Islam, perlidungan diri (jiwa dan raga) sangat penting sebagaimana Allah menegaskan dalam al-Quran.

“Barangsiapa mempertahankan hidup satu manusia, seolah ia memberi hidup kepada semua manusia” (al-Maidah: 32].

Menghindari berkumpul dalam jumlah banyak berarti kita berupaya memutus rantai pandemi Covid-19 dan berarti pula kita berupaya menghindarkan orang banyak dari paparan Virus Corona yang sangat mengancam jiwa ini.

Semoga Allah senantiasa melindungi umat Islam dan bangsa Indonesia dari segala bahaya dalam limpahan rahmat dan karunia-Nya.

Yogyakarta, 21 Ramadan 1441 H/14 Maret 2020 M

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua: Prof Dr H Syamsul Anwar, M.A., dan Sekretaris: Drs Mohammad Mas’udi MAg. (*)

Silakan Download / unduh file dalam bentuk PDF >>> EDARAN-04-tahun-2020-Shalat-Id-di-Masa-Darurat-Covid-19

Berikut tata cara shalat Idul Fitri secara ringkas.

  1. Shalat Idul Fitri dilaksanakan dengan dua rakaat tanpa adzan; tanpa iqamat, dan tanpa bacaan al-shalatul jami’ah. Tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat Idul Fitri.
  2. Pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram diteruskan dengan tujuh kali takbir seraya mengangkat kedua tangan.
  3. Pada rakaat kedua takbir lima kali setelah takbiratul qiyam (intiqal). Dengan mengangkat kedua tangan.
  4. Sesudah membaca al-Fatihah imam membaca surah al-A’laa atau Qaaf pada rakaat pertama. Dan surah al-Ghaasyiyah atau Qamar pada rakaat kedua. Atau, sesuai kemempuan imam di masing-masing keluarga. Imam membaca al-Fatihah dan surat secara jahr (keras).
  5. Khutbah disampaikan satu kali yaitu tidak diselingi dengan duduk antara dua khutbah.
  6. Khutbah dimulai dengan tahmid, tidak dengan takbir. Dalam khutbah shalat Id memang diperbanyak dengan menyelingi dengan takbir, dan dikhiri dengan doa dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan.
  7. Jika tidak memungkinkan adanya khutbah, maka shalat tetap sah.

Lazismu Salurkan Paket Bantuan Kepada Da’i dan Mubaligh di Sidoarjo

Salah satu kelompok terdampak kondisi wabah Covid-19 adalah para Mubaligh atau Da’i, khususnya Muhammadiyah. Mereka itulah yang ketika sebelum wabah ini bertugas untuk menyampaikan risalah Islamiyah kepada ummat Islam di Masjid dan tempat lainnya dalam berbagai kesempatan.

Pada saat wabah Covid-19 ini praktis para Mubaligh atau Dai tidak banyak kegiatan berdakwah di Masjid karena ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari Pemerintah. Sebagian dari Mubaligh melaksanakan kegiatan dakwa melalui media online, medsos atau kajian secara virtual.

Lazismu kantor perwakilan Jawa Timur pada 2 Mei 2020 melaksanakan amanah donatur dengan menyalurkan bantuan kepada 25 orang Mubaligh atau Da’i Muhammadiyah di Sidoarjo. Bantuan sebanyak 25 paket sembako diserah terimakan dari drh Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jawa Timur kepada Ridwan Ma’ruf, ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo, di Depo Logistik Lazismu Jatim di kawasan Buduran, Sidoarjo.

Menurut drh Zainul Muslimin bantuan yang disampaikan kepada para Mubaligh di bawah Majelis Tabligh Muhammadiyah Sidoarjo ini merupakan bentuk penyaluran Lazismu kepada kelompok terdampak Covid-19. Saat ini Lazismu menurutnya sedang gencar mendata para Mubaligh Muhammadiyah agar mereka yang tidak berkemampuan secara finansial terbantu dengan bantuan ini. Selanjutnya secara teknis Majelis Tabligh yang akan mendistribusikan secara door to door ke rumah para Mubaligh atau Dai yang terdata sekaligus bersilaturrahim dengan keluarga mereka.

Ridwan Ma’ruf, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Sidoarjo mengucapkan terima kasih atas kepedulian Lazismu Jatim untuk meringankan beban Mubaligh dan keluarganya yang sangat terdampak kondisi wabah virus Corona ini. Ia bersama pimpinan Majelis Tabligh lainnya segera mengunjungi satu-persatu rumah para Da’i/Mubaligh yang terdata guna menyampaikan paket bantuan dan bersilaturrahim menengok kondisi mereka.

Ridwan mengatakan bahwa kegiatan Majelis Tabligh Muhammadiyah Sidoarjo bersilaturrahim ke rumah para Mubaligh tidak semata untuk menyampaikan bantuan namun lebih dari itu juga untuk menyambung hubungan persaudaraan antar Mubaligh yang selama ini sudah terjalin dalam Forum Komunikasi dan Silaturrahim Mubaligh Muhammadiyah se-Sidoarjo.

“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan membantu kehidupan para Mubaligh dalam bentuk lain, misalnya bantuan bedah rumah bagi yang rumahnya rusak atau bentuk-bentuk perhatian dan kepedulian lainnya. Yang penting semangat dakwah dan jihad tidak pudar pada masa Covid-19 ini” ungkap Ridwan Ma’ruf yang bertempat tinggal di Wonoayu, Sidoarjo. (Ad).

Lazismu-MCCC Kampanye Cegah Covid-19 Keliling 16 Titik di Kabupaten Probolinggo

Upaya Lazismu yang tergabung dalam Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) agar masyarakat sadar akan bahaya wabah Covid-19 terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan kampanye bermobil keliling desa di Kabupaten Probolinggo.

Para relawan dari Lazismu, MDMC dan Angkatan Muda Muhammadiyah yang tergabung dalam MCCC Kabupaten Probolinggo hari ini, 15-04-2020, melakukan kampanye menggunakan kendaraan mobil. Mereka berkeliling ke 16 di kabupaten yang mempunyai pesona wisata gunung Bromo itu.

Sebelum berkeliling, dilakukan apel terlebih dahulu dipimpin oleh Ahmad Ridho Pambudi, Ketua Lazismu Kabupaten Probolinggo, di salah satu perguruan Muhammadiyah di Kraksan. Setelah apel dan sarapan, tim kemudian berangkat dengan satu tujuan untuk mensosialisasikan tentang bahaya dan pencegahan Covid-19 kepada warga masyarakat di pelosok desa kabupaten itu.

Tim ini berkekuatan total 40 orang relawan dengan 10 mobil berpencar menuju ke 16 titik lokasi sasaran di 6 kawasan, antara lain kawasan Kraksaan, Pendil, Pajarakan, Dringu, Lumbang, Paiton dan sebagainya. Dengan menggunakan pengeras suara, para relawan ini menyerukan dari dalam mobil agar warga masyarakat yang sadar akan bahaya wabah Covid-19.

Warga diseru untuk melakukan upaya pencegahan dimulai dari lingungan dekat dan keluarga mereka masing-masing. Tidak hanya menyerukan bahaya Covid-19, tim juga membagikan masker dan selebaran beserta edaran himbauan tentang Covid-19 kepada warga yang dialui tim ini. Isi dari seruan dan himbauan dalam aksi tersebut meliputi :

  • Seruan beraktifitas di rumah saja dengan memperbanyak ibadah, sedekah, doa dan istighfar.
  • Jangan keluar rumah bila tidak terpaksa dan wajib menggunakan masker.
  • Biasakan cuci tangan sesering mungkin.
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan.
  • Segera cuci pakaian dan segera mandi bila pulang dari bepergian.
  • Bagi yangg mempunyai keluarga atau saudara yang berada di luar kota dihimbau untuk tidak mudik terlebih dahulu. Hal ini penting agar penyebaran virus corona bisa dihambat.
  • Melaporkan kepada satgas atau perangkat desa setempat jika ada keluarga atau tetangga dari luar kota datang agar mendapatkan penanganan dari dinas kesehatan, dengan mengisolasi dirinya sendiri sebelum betul-betul dinyatakan sehat oleh dinas Kesehatan setempat.
  • Beri dukungan terhadap pasien covid-19 dan keluarganya agar mereka bisa tenang dan damai. Kondisi tenang dan damai tersebut merupakan modal dasar bagi kesembuhannya.
  • Terhadap orang yang meninggal karena covid-19, perlakukan dengan baik sesuai dengan tata cara agama dengan memperhatikan aturan kesehatan yang berlaku. Bila Anda takut atau ragu, hubungi aparat desa Anda.

Ahmad Ridho Pambudi mengatakan bahwa upaya ini adalah salah satu bentuk kepedulian dari segenp elemen di Muhammadiyah Kabupaten Probolonggo untuk turut serta membantu pencegahan Covid-19 dengan mengetuk kesadaran warga masyarakat di pelosok desa agar melek dan sadar Covid-19.

“Ini adalah bencana dunia, maka kita harus ikut aktif berpartisipasi dalam pencegahan Covid-19 sebagai bagian dari tanggung jawab kita sebagai ummat manusia di muka bumi ini. Hendaklah ada sebagian dari kita yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, salah satunya adalah dengan Kampanye Covid-19 Mobil Keliling ini. Semoga wabah ini bisa segera berlalu,” kata Kung Ridho, panggilan akrab Ahmad Ridho Pambudi. (Adit)

Tuntunan Ibadah Semasa Kondisi Darurat Covid-19

Fenomena penyebaran wabah Corona virus Disease (Covid-19) yang merebak di berbagai negara termasuk di Indonesia merupakan pandemik virus yang mengancam kehidupan manusia. Akibat Covid-19 telah banyak yang menjadi korban yaitu ratusan ribu orang terinfeksi positif dan ribuan orang meninggal dunia di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Virus ini menjadi pandemik disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, penyebarannya yang cepat karena proses penularan yang cukup mudah.

Kedua, penyebarannya yang tidak mudah dideteksi. Ketiga, sikap abai sebagian masyarakat terhadap potensi penyebaran dan mudarat yang diakibatkan oleh Covid-19. Dengan demikian kondisi sekarang telah memasuki fase darurat Covid-19 berskala global. Ini berpijak pada pernyataan resmi World Health Organization (WHO) bahwa Covid-19 telah menjadi pandemik dan kriteria KLB (Kejadian Luar Biasa) yang mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa bahwa suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada beberapa unsur, antara lain:

  1. timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal;
  2. Peningkatan kejadian penyakit / kematian terus-menerus selama kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).

Berdasarkan hal tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah merasa perlu untuk menindaklanjuti sekaligus menyempurnakan Surat Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/MLM/I.0/H/2020 tentang Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) dan Nomor 03/I.0/B/2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Fardu Berjamaah Saat Terjadi Wabah Coronavirus Disease (Covid-19). Dalam rangka melaksanakan hal itu, sesuai dengan arahan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maka Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) telah berkoordinasi dan mengadakan Rapat Bersama pada hari Sabtu, 26 Rajab 1441 H bertepatan dengan 21 Maret 2020 M dan menetapkan beberapa keputusan.

Keputusan-keputusan tersebut diambil dengan berpedoman kepada beberapa nilai dasar ajaran Islam dan beberapa prinsip yang diturunkan dari padanya. Nilai-nilai dasar dimaksud adalah, pertama, keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Adil serta Maha Rahman dan Rahim bahwa apa pun yang menimpa manusia tidak lepas dari kehendak Allah Yang Maha Kuasa (QS. Al-Hadid [57]: 22-23). Tetapi semua yang menimpa manusia itu bukanlah karena Allah tidak adil. Sebaliknya Allah itu Maha Adil dan tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya (QS. Fushilat [41]: 46). Oleh karena itu segala musibah yang terjadi harus dipandang sebagai suatu ujian bagi manusia (QS. Ali Imran [3]: 142) yang di baliknya banyak hikmah dan pelajaran yang harus dipetik. Antara lain kita harus menjaga kualitas lingkungan hidup kita yang baik dan sehat dan menghindari hal-hal yang merusak termasuk mengundang penyakit dan sekaligus mengingat fungsi kosmik manusia yang bertugas memakmurkan alam (QS. Hud [11]: 61).

Kedua, keimanan bahwa Allah Yang Maha Rahman dan Rahim menuntunkan kepada manusia bahwa dalam menjalani kehidupan agar manusia selalu optimis dan menghindari putus asa. Sikap cepat putus asa itu bukan merupakan sikap orang mukmin, melainkan merupakan tanda ketiadaan iman (QS. Al-Hijr [15]: 56 dan Yusuf [12]: 87).

Konsekuensi dari optimisme adalah bahwa kita meyakini bahwa setiap kesulitan selalu ada jalan keluarnya seperti dinyatakan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah [94]: 5) dan sabda Nabi saw, “… dan beserta bencana itu ada kelapangan dan bersama kesulitan ada kemudahan” (HR Ahmad, al-Musnad, V: 18, no. 2802, disahihkan oleh al-Arna’ūṭ). Optimisme lebih lanjut bukan suatu sikap menunggu dan berpangku tangan, melainkan melakukan ikhtiar maksimal untuk mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan dan menghindari berbagai sumber dari kemudaratan sambil bertawakal kepada Allah. Nasib manusia itu ada di tangan manusia itu sendiri dan apa yang diperolehnya tidak lain adalah hasil usahanya dan Allah tidak akan mengubah nasibnya sebelum ia mengubah keadaan dirinya sendiri (QS. Al-Najm 53: 39 dan Al-Ra’d [13]: 11).

Ketiga, keimanan bahwa ajaran agama itu diturunkan dengan tujuan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107) yang oleh para filsuf syariah diterjemahkan sebagai perwujudan maslahat. Kemaslahatan itu adalah perlindungan terhadap manusia baik dalam kehidupan keagamaannya, jiwa raganya, akal pikirannya, institusi keluarganya maupun harta kekayaan yang menjadi sendi kehidupannya.

Dalam konteks berkembangnya wabah Covid-10 sekarang perlindungan keberagamaan dan jiwa raga menjadi keprihatinan (concern) kita semua. Dari nilai-nilai dasar ajaran ini diturunkan sejumlah prinsip yang mengutamakan penghindaran kemudaratan dan pemberian kemudahan dalam menjalankan agama yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan. Dengan mempertimbangkan dalil-dalil dari al-Quran dan as-Sunnah al-Maqbulah yang dipahami sesuai dengan manhaj tarjih dan berpedoman kepada nilai-nilai dasar ajaran Islam dan prinsip-prinsip yang diturunkan darinya serta data-data ilmiah dari para ahli (sebagaimana terlampir) yang menunjukkan bahwa kondisi ini telah sampai pada status darurat, maka Rapat Bersama tersebut menetapkan beberapa keputusan sebagai berikut:

  1. Wabah Covid-19 adalah salah satu musibah yang merupakan ujian dari Allah atas dasar sifat Rahman dan Rahim Allah, sehingga umat Islam harus menghadapinya dengan sabar, tawakal, dan ikhtiar.
  2. Pasien Covid-19 meninggal dunia yang sebelumnya telah berikhtiar dengan penuh keimanan untuk mencegah dan atau mengobatinya, maka mendapat pahala seperti pahala orang mati syahid.
  3. Usaha aktif mencegah penularan Covid-19 merupakan bentuk ibadah yang bernilai jihad, dan sebaliknya tindakan sengaja yang membawa pada risiko penularan merupakan tindakan buruk/zalim.
  4. Upaya pengobatan sebagai bentuk ikhtiar wajib dilakukan. Oleh sebab itu, para ahli termasuk dalam hal ini pemerintah wajib menyelenggarakan upaya tersebut sekaligus menyediakan segala keperluan yang berkaitan dengannya.
  5. Dalam rangka menghindari dampak buruk berkembangnya covid-19 harus diperhatikan berbagai petunjuk dan protokol yang telah ditentukan oleh pihak berwenang, termasuk melakukan perenggangan sosial (at-tabāʻud al-ijtimāʻī/ social distancing) maupun upaya stay at home atau work from home sebagai tindakan preventif, dengan tetap memperhatikan produktifitas kerja.
  6. Salat lima waktu merupakan kewajiban agama yang harus dikerjakan dalam segala kondisi.
  7. Dalam kondisi tersebarnya Covid-19 seperti sekarang dan yang mengharuskan perenggangan sosial (at-tabāʻud alijtimā ʻī / social distancing), salat lima waktu dilaksanakan di rumah masing-masing dan tidak perlu dilaksanakan di masjid, musala, dan sejenisnya yang melibatkan konsentrasi banyak orang, agar terhindar dari mudarat penularan Covid-19.
  8. Adapun orang yang karena profesinya dituntut untuk berada di luar rumah, maka pelaksanaan salatnya tetap memperhatikan jarak aman dan kebersihan sesuai dengan protokol kesehatan. Hal ini karena salat wajib dilaksanakan dalam setiap keadaan sebagaimana ditegaskan di atas (angka 6), di samping harus menghindari sumber-sumber kemudaratan sebagai diingatkan dalam hadis yang telah dikutip di atas yang menyatakan, “Tidak ada kemudaratan dan pemudaratan.”
  9. Apabila keadaan amat menuntut karena tugasnya yang mengharuskan bekerja terus menerus memberikan layanan medis yang sangat mendesak, petugas kesehatan dapat menjamak salatnya (tetapi tidak mengqasar apabila tidak musafir),
  10. Salat Jumat diganti dengan salat Zuhur (empat rakaat) di rumah masing-masing.
  11. Azan sebagai penanda masuknya waktu salat tetap dikumandangkan pada setiap awal waktu salat wajib dengan mengganti kalimat “ḥayya ‘alaṣ-ṣalah” dengan “ṣallū fī riḥālikum” atau lainnya sesuai dengan tuntunan syariat.
  12. Apabila kondisi mewabahnya Covid-19 hingga bulan Ramadan dan Syawal mendatang tidak mengalami penurunan, maka: a). Salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenisnya, termasuk kegiatan Ramadan yang lain (ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf dan kegiatan berjamaah lainnya) sesuai dengan dalil yang disebutkan pada angka 7 di atas. b). Puasa Ramadan tetap dilakukan kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik, dan wajib menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat. c) Untuk menjaga kekebalan tubuh, puasa Ramadan dapat ditinggalkan oleh tenaga kesehatan yang sedang bertugas dan menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat. d) Salat Idulfitri adalah sunnah muakkadah dan merupakan syiar agama yang amat penting. Namun apabila pada awal Syawal 1441 H mendatang tersebarnya covid-19 belum mereda, salat Idul fitri dan seluruh rangkaiannya (mudik, pawai takbir, halal bihalal, dan lain sebagainya) tidak perlu diselenggarakan. Tetapi apabila berdasarkan ketentuan pihak berwenang covid-19 sudah mereda dan dapat dilakukan konsentrasi banyak orang, maka dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan pihak berwenang mengenai hal itu. Adapun kumandang takbir ‘Id dapat dilakukan di rumah masing-masing selama darurat Covid-19.
  13. Memperbanyak zakat, infak dan sedekah serta memaksimalkan penyalurannya untuk pencegahan dan penanggulangan wabah Covid-19.
  14. Menggalakkan sikap berbuat baik (ihsan) dan saling menolong (taawun) di antara warga masyarakat, terutama kepada kelompok rentan, misalnya berbagi masker, hand sanitizer, atau mencukupi kebutuhan pokok dari keluarga yang terdampak secara langsung dan tidak melakukan panic buying (pembelian barang karena panik/ penimbunan barang berdasarkan rasa takut).
  15. Perawatan jenazah pasien Covid-19 sejak meninggal dunia sampai dikuburkan, dilakukan sesuai dengan standar protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang, misalnya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 300/Menkes/SK/IV/2009 tentang Pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza Butir B. 3. 6). Respon Medik dan Laboratorium: Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, Surveillans, dan Pemulasaraan Jenazah dan Surat Edaran Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor P-002/DJ.III/Hk.00.7/032020 tentang Imbauan dan Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Area Publik di Lingkungan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Butir E.4 Imbauan Pelaksanaan Protokol Pengurusan Jenazah Pasien Covid-19.
  16. Apabila dipandang darurat dan mendesak, jenazah dapat dimakamkan tanpa dimandikan dan dikafani, dalam rangka menghindarkan tenaga penyelenggara jenazah dari paparan Covid-19 dengan pertimbangan asas-asas hukum syariah bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali sejauh yang mampu dilakukannya, apa yang diperintahkan Nabi saw dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, tidak ada kemudaratan dan pemudaratan, kemudaratan harus dihilangkan, kesulitan memberikan kemudahan, keadaan mendesak dipersamakan dengan keadaan darurat, dan kemudaratan dibatasi sesuai dengan kadarnya, dan mencegah mudarat lebih diutamakan daripada mendatangkan maslahat. Kewajiban memandikan dan mengafani jenazah adalah hukum kondisi normal, sedangkan dalam kondisi tidak normal dapat diberlakukan hukum darurat.
  17. Penyelenggaraan salat jenazah dapat diganti dengan salat gaib di rumah masing-masing. Adapun kegiatan takziah dilakukan secara terbatas dengan memperhatikan hal-hal yang terkait penanggulangan Covid-19 atau dilakukan secara daring.
  18. Penyelenggaraan akad nikah dilakukan sesuai dengan standar protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang, misalnya Surat Edaran Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor P-002/DJ.III/Hk.00.7/032020 tentang Imbaun dan Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Area Publik di Lingkungan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia E.3 Protokol Pencegahan Penyebaran Covid-19 pada Layanan Nikah di KUA. Adapun acara resepsi atau walimah dapat diselenggarakan setelah kondisi normal.
  19. Dianjurkan banyak istigfar, bertaubat, berdoa kepada Allah, membaca al-Quran, berzikir, bersalawat atas Nabi, dan kunut nazilah secara individu serta dengan keyakinan dan berbaik sangka akan ketetapan Allah, semoga Covid-19 segera diangkat oleh Allah swt.

Demikian Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19. Tuntunan ini hanya diberlakukan dalam kondisi darurat, sehingga apabila kondisi sudah normal, maka pelaksanaan ibadah di atas dilakukan sebagaimana biasanya.

Yogyakarta, 26 Rajab 1441 H / 21 Maret 2020 M, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. dan Sekretaris, Drs. Mohammad Mas’udi, M.Ag.

Tuntunan selengkapnya beserta dalil-dalil, silakan diunduh / down load >>> tuntunan-ibadah-dalam-kondisi-darurat-Covid19

Awal Puasa 1 Ramadan 1441 Hijriyah Jatuh pada hari Jum’at, Tanggal 24 April 2020 Miladiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui surat edaran dengan nomor 01/MLM/I.0/E/2020 tertanggal 01 Rajab 1441 H / 25 Februari 2020 M, yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si (Ketua Umum) dan Dr. Agung Danarto, M.Ag (Sekretaris) telah mengeluarkan pengumuman tentang Hisab Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah tahun 1441 hijriyah.

Tanggal 1 Ramadan 1441 H jatuh pada hari Jum’at, 24 April 2020 M dan Idul Fitri tanggal 1 Syawal 1441 H jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020 M. Maklumat selengkapnya adalah sebagai berikut :

MAKLUMAT PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
NOMOR 01/MLM/I.0/E/2020

TENTANG PENETAPAN HASIL HISAB RAMADAN, SYAWAL, DAN ZULHIJAH 1441 HIJRIAH

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan ini mengumumkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1441 Hijriyah berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai berikut:

RAMADAN 1441 H

Ijtimak jelang Ramadan 1441 H terjadi pada hari Kamis Wage, 23 April 2020 M pukul 09:29:01 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +03°53¢09²(hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam Matahari itu Bulan berada di atas ufuk. Tanggal 1 Ramadan 1441 Hjatuh pada hari Jum’at Kliwon, 24 April 2020 M.

SYAWAL 1441 H

Ijtimak jelang Syawal 1441 H terjadi pada hari Sabtu Wage, 23 Mei 2020 M pukul 00:41:57 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +06°43¢31²(hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam Matahari itu Bulan berada di atas ufuk. Tanggal 1 Syawal 1441 H jatuh pada hari Ahad Kliwon, 24 Mei2020 M.

ZULHIJAH 1441 H

Ijtimak jelang Zulhijah 1441 H terjadi pada hari Selasa Pon, 21 Juli 2020 M pukul 00:35:48 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +07°54¢32²(hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam Matahari itu Bulan berada di atas ufuk. Tanggal 1 Zulhijah 1441 H jatuh pada hariRabu Wage, 22 Juli 2020 M.

Berdasarkan hasil hisab tersebut maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan:

  • 1 Ramadan 1441 H jatuh pada hari Jum’at Kliwon 24 April 2020 M.
  • 1 Syawal 1441 H jatuh pada hari Ahad Kliwon, 24 Mei 2020 M.
  • 1 Zulhijah 1441 H jatuh pada hariRabu Wage, 22 Juli 2020 M.
  • Hari Arafah (9 Zulhijah 1441 H) hari Kamis Pahing, 30 Juli 2020 M.
  • Idul Adha (10 Zulhijah 1441H) hari Jum’at Pon, 31 Juli 2020 M.

Demikian maklumat ini disampaikan untuk dilaksanakan dan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita.

Nashrun Minallah wa Fathun Qariib. Wassalamu’alaikum wr. wb.

Yogyakarta, 01 Rajab 1441 H / 25 Februari 2020 M

Tertanda : Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si (Ketua Umum) dan Dr. Agung Danarto, M.Ag (Sekretaris)

File PDF Surat Edaran PP Muhammadiyah tentang PENETAPAN HASIL HISAB RAMADAN, SYAWAL, DAN ZULHIJAH 1441 HIJRIAH, klik —-> (Maklumat Ramadhan 1441)