Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Minggu , 1 November 2020
Breaking News
You are here: Home » Dakwah (page 2)

Category Archives: Dakwah

Tuntunan Shalat Idul Fitri dalam Kondisi Darurat Covid-19

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Wr Wb.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan ini menyampaikan Tuntunan Shalat Idul Fitri dalam Kondisi Darurat Covid-19 sesuai Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebagaimana terlampir.

Edaran tersebut hendaknya dapat dilaksanakan dan dapat menjadi panduan bagi ummat Islam pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya.

Khusus bagi warga Muhammadiyah dengan seluruh institusi yang berada di lingkungan Persyarikatan dari Pusat sampai Ranting dan jama’ah hendaknya memedomani tuntunan ini sebagai wujud mengikuti garis kebijakan organisasi untuk berada dalam satu barisan yang kokoh. (ash-Shaff: 4)

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita dan segera menjauhkan kita dari musibah.

Nashrun min-Allah wa fathun qariib. Wassalamu’alaikum Wr Wb

Yogyakarta, 21 Ramadan 1441 H/14 Mei 2020 M

Ketua Umum, Prof Dr H. Haedar Nashir MSi (NBM 545549) dan Sekretaris, Dr H Agung Danarto MAg (NBM 608658)

Lampiran Surat Edaran

Lampiran Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 04/EDR/I.0/E/2020 Tanggal 21 Ramadan 1441 H / 14 Mei 2020 M.

Tuntunan Shalat Idul Fitri dalam Kondisi Darurat Covid-19

Melanjutkan Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19 yang difatwakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid dan telah diedarkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19, dijelaskan dan dituntunkan beberapa hal terkait shalat Idul Fitri dalam masa darurat pandemi Covid-19 sebagai berikut:

1. Bahwa tujuan agama adalah untuk memberikan rahmat kepada manusia, yang dalam filosofi fikih disebut perwujudan kemaslahatan (taḥqīq al-maṣaliḥ). Ini didasarkan kepada firman Allah:

[وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : ١٠٧

“Tiadalah Kami utus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya 107).

2. Agama adalah petunjuk dan di antara petunjuk agama bagi manusia dalam menjalani kehidupannya adalah tidak menimbulkan kemudaratan kepada diri sendiri dan kepada orang lain sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi dan dirumuskan dalam kaidah fikih:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ [رواه [مالك وأحمد واللفظ للأخير

Dari Ibn ‘Abbās (diriwayatkan bahwa) ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada kemudaratan kepada diri sendiri dan tidak ada kemudaratan kepada orang lain” (HR Mālik dan Aḥmad, dengan lafal dari yang terakhir).

Dalam kaidah fikih ditegaskan, اَلضَّرَرُ يُزَالُ Kemudaratan itu dihilangkan.

3. Asas dalam melaksanakan agama itu adalah (a) memudahkan (al-taisīr), (b) dilaksanakan sesuai kemampuan, dan (c) sesuai dengan sunah Nabi SAW.

  • a. Asas kemudahan itu ditegaskan baik dalam Al-Quran, dalam sunah Nabi SAW maupun dalam rumusan-rumusan kaidah fikih, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran” (QS. al-Baqarah 185). Dari Anas Ibn Mālik, dari Nabi SAW (diriwayatkan bahwa) ia bersabda: “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan menimbulkan kebencian” (HR al-Bukhārī dan Muslim, dan ini lafal al-Bukhārī). “Kesukaran dapat mendatangkan kemudahan”
  • b. Asas kemampuan ditegaskan dalam al-Quran dan hadits: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sejauh yang mampu dilakukannya” (QS. al-Baqarah 282). “Bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. at-Thagabun 16). Dari Abū Hurairah, dari Nabi saw (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda: “… dan jika aku perintahkan kamu melakukan sesuatu, kerjakanlah sejauh kemampuanmu” (Hadis muttafaq ‘alaih).
  • c. Dalam menafsirkan sunah Nabi SAW hendaknya tidak kaku dan harfiah tetapi juga memadukan unsur bayani, burhani, dan irfani.

Hukum Shalat Id

4. Hukum shalat ‘Idain (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah sunah muakad (sunnah mu’akkadah) karena shalat wajib itu adalah shalat lima waktu sebagaimana ditegaskan dalam hadits-hadits sahih di bawah ini dan tidak ada dalil khusus yang menegaskan wajibnya salat ‘Idain serta tidak ada sanksi bagi orang yang meninggalkannya. Hadits-hadits dimaksud adalah:

Dari Ṭalḥah Ibn ‘Ubaidillāh (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu serta merta bertanya kepada beliau tentang Islam. Lalu Rasulullah SAW menjawab: Lima shalat diwajibkan sehari semalam. Ia bertanya lagi: apakah ada kewajiban (shalat) lainnya? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, kecuali shalat-shalat tatawuk (sunah).

Rasulullah SAW kemudian meneruskan: Juga diwajibkan puasa Ramadhan. Lalu ia bertanya lagi: apa ada kewajiban (puasa) lainnya? Rasulullah menjawab: Tidak, kecuali puasa tatawuk (sunah).

(Abū Ṭalḥah melanjutkan): Lalu Rasulullah menyebutkan kewajiban (membayar) zakat. Orang itu bertanya lagi: apa ada kewajiban (pembayaran) lainnya? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, kecuali (infak) tatawuk (sunah). Lalu laki-laki itu pergi sambil berkata: Demi Allah saya tidak akan tambahi dan kurangi ini. Kemudian Rasulullah SAW berkata: Orang itu beruntung, jika dia benar (HR al-Bukhārī, Muslim, Mālik Abū Dāwūd, dan an-Nasā’ī).

‘Ubādah berkata: … Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Lima salat diwajibkan oleh Allah atas hambanya. Barangsiapa melaksanakannya tanpa melalaikan sedikit pun karena memandang enteng kewajiban shalat itu, maka dia mendapat janji dari Allah akan dimasukkan ke dalam surga; dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak mendapat janji untuk dimasukkan ke dalam surga. Jika Allah menghendaki, Dia mengazabnya, tetapi jika Allah menghendaki, Dia (karena ia diampuni-Nya) memasukkannya ke dalam surga (HR Abū Dāwūd, an-Nasā’ī, dan Aḥmad).

Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya selama sembilan kali Syawal dan Zulhijah setelah disyariatkannya, tetapi juga tidak adanya sanksi hukum atas tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, dari sini disimpulkan hukumnya sunah muakad.

Tata Cara Shalat Id

5. Dasar hukum shalat ‘Idain dikerjakan di lapangan dua rakaat, sebelum khutbah, tanpa adzan dan tanpa iqamat, serta tidak ada shalat sunah sebelum maupun sesudahnya, adalah hadits-hadits berikut ini.

  • a. Hadis Abū Saʻīd, Dari abū Saʻīd al-Khudrī RA (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah SAW keluar ke lapangan tempat shalat (muṣallā) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Lalu hal pertama yang dilakukannya adalah shalat, kemudian ia berangkat dan berdiri menghadap jamaah, sementara jamaah tetap duduk pada shaf masing-masing, lalu Rasulullah menyampaikan wejangan, pesan, dan beberapa perintah … (HR al-Bukhārī).
  • b. Hadis Aḥmad dan an-Nasā’ī, Dari Jābir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya mengikuti shalat bersama Rasulullah di suatu hari Id. Beliau memulai shalat sebelum khutbah, tanpa adzan dan tanpa iqamat (Hadits sahih, riwayat Aḥmad dan an-Nasā’ī).
  • c. Hadis Ibn ‘Abbās, Dari Ibn ‘Abbās (diriwayatkan bahwa) Nabi saw salat Id pada hari Id dua rakaat tanpa melakukan salat lain sebelum dan sesudahnya. (HR tujuh ahli hadis, dan lafal di atas adalah lafal al-Bukhārī).

Shalat Id di Tengah Wabah Covid-19

6. Bagaimana Shalat Id di tengah wabah Covid-19 ?

  • a. Apabila pada tanggal 1 Syawal 1441 H yang akan datang keadaan negeri Indonesia oleh pihak berwenang (pemerintah) belum dinyatakan bebas dari pandemi Covid-19 dan aman untuk berkumpul orang banyak maka Shalat Idul Fitri di lapangan sebaiknya ditiadakan atau tidak dilaksanakan. Hal itu untuk memutus rantai mudarat persebaran Virus Corona tersebut agar kita cepat terbebas dari padanya dan dalam rangka sadduẓ-ẓarīʻah (tindakan preventif) guna menghindarkan kita jatuh ke dalam kebinasaan seperti diperingatkan dalam al-Quran (al-Baqarah: 195) dan demi menghindari mudarat seperti ditegaskan dalam sabda Nabi SAW yang sudah dikutip dalam “Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19,” yang disebut terdahulu.
  • b. Karena tidak dapat dilaksanakan secara normal di lapangan sebagaimana mestinya, lantaran kondisi lingkungan belum dinyatakan oleh pihak berwenang bersih (clear) dari covid-19 dan aman untuk berkumpul banyak orang, maka salat Id bagi yang menghendaki dapat dilakukan di rumah masing-masing bersama anggota keluarga dengan cara yang sama seperti salat Id di lapangan.

Bahkan sebaliknya, tidak ada ancaman agama atas orang yang tidak melaksanakannya, karena salat Id adalah ibadah sunah. Dasar pelaksanaan shalat Id di rumah adalah:

1) Bahwa dalam melaksanakan ajaran agama dasarnya adalah kadar kemampuan mukallaf untuk mengerjakan. Hal itu karena Allah tidak membebani hamba-Nya, kecuali sejauh kadar kemampuannya (QS. al-Baqarah: 286 dan at-Thalaq 7) dan apabila diperintahkan melakukan suatu kewajiban agama, maka kerjakan sesuai kemampuan (bertakwa sesuai kemampuan) (ath-Thaghabun 16 dan hadits Nabi).

2) Dasar pelaksanaan shalat Id di rumah, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhārī, adalah hadis Nabi SAW:

هَذَا عِيْدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ (‘Ini adalah hari raya kita, pemeluk Islam’). Meskipun sabab al-wurūd hadis ini adalah masalah menyanyi di hari raya, namun al-Bukhārī memegangi keumuman hadits ini. Bahwa hari Id itu adalah hari raya umat Islam yang dirayakan dengan shalat Id, sehingga orang yang tidak dapat mengerjakannya sebagai mana mestinya, yaitu di lapangan, dapat mengerjakannya di rumahnya.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī dengan lafal sedikit berbeda pada dua tempat lain, yaitu hadis nomor 909 dan 3716 dalam Ṣaḥīḥ-nya. Al-Bukhārī menyebutkan bahwa Sahabat Anas Ibn Mālik memraktikkan seperti ini di mana ia memerintahkan keluarganya untuk ikut bersamanya salat Id di rumah mereka di az-Zāwiyah (kampung jauh di luar kota).

Ibn Rajab (w. 795/1393) dalam kitab syarahnya terhadap al-Bukhārī, yaitu Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, menyatakan bahwa salat Id di rumah itu dianut oleh para ulama terkemuka seperti ‘Aṭā’ (w. 114/732), Mujāhid (w.102/721), al-Ḥasan al-Baṣrī (w. 110/728), Ibn Sīrīn (w. 110/729), ‘Ikrimah (w. 107/725), Ibrāhīm an-Nakhaʻī (w. 96/715), Abū Ḥanīfah (w. 150/767), al-Auzaʻī (w. 157/774), Mālik (w. 179/795) , al-Laiṣ (w. 175/791), asy-Syāfiʻī (w. 204/820), dan Imam Aḥmad (w. 241/855) (Ibn Rajab, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, IX: 75, bab 25).

Antara Masyruk dan Tarkiah

3) Bahwa suatu aktivitas yang tidak diperbuat oleh Nabi SAW tidak selalu merupakan hal yang tidak masyruk. Tidak berbuat Nabi SAW itu bisa merupakan sunah, yang oleh karenanya tidak boleh disimpangi, dan bisa pula tidak merupakan sunnah sehingga dapat dilakukan.

Tidak berbuat Nabi SAW (al-tark) itu dikatakan sebagai sunah, yakni sunah tarkiah, adalah apabila tidak berbuat itu dalam keadaan ada kebutuhan untuk melakukannya dan ada peluang, namun Nabi SAW tetap tidak mengerjakannya.

Misalnya Nabi SAW tidak pernah salat malam di bulan Ramadan (Tarawih) dan salat malam di luar Ramadan (Tahajud) lebih dari 11 rakaat seperti diriwayatkan oleh ‘Ā’isyah sebagaimana dicatat dalam dua kitab sahih. Di sana ada keperluan untuk melakukan lebih dari 11 rakaat, yaitu meningkatkan dan memperbanyak ibadah, karena Nabi SAW memerintahkan perbanyaklah sujud, yang berarti perbanyak rakaat salat sunah termasuk shalat Tarawih. Juga tidak ada halangan Nabi untuk mengerjakannya.

Namun demikian beliau tidak melakukannya. Maka tidak berbuat Nabi SAW seperti ini merupakan sebuah sunah, yakni sunah tarkiah. Oleh karenanya, menurut Majelis Tarjih dan Tajdid, apabila dikerjakan juga, maka tidak masyruk.

Tetapi apabila tidak dikerjakan itu karena tidak ada keperluan untuk mengerjakannya, atau ada keperluan untuk mengerjakannya namun ada halangan untuk mengerjakannya, maka tidak berbuat tersebut bukan sunah tarkiah dan apabila dikerjakan, maka itu hukumnya boleh.

Seperti Nabi SAW tidak pernah membaca mushaf atau tulisan ayat ketika salat atau mengimami shalat, karena tidak ada kebutuhan untuk itu sebab beliau sendiri hafal al-Quran.

Oleh sebab itu “beliau tidak membaca mushaf dalam salat itu” bukan sunah tarkiah, dan karenanya apabila ada orang yang membaca mushaf atau tulisan ayat ketika menjadi imam atau shalat munfarid, maka itu boleh hukumnya.

Contoh lain adalah bahwa Nabi SAW tidak shalat Tarawih berjamaah di masjid secara terus menerus selama Ramadhan. Beliau hanya berjamaah beberapa malam saja dari satu bulan Ramadhan. Beliau lebih banyak salat sendiri di rumah dan di zaman beliau hingga dua tahun pertama pemerintahan ‘Umar Ibn al-Khaṭṭāb tidak ada shalat Tarawih di masjid Nabi SAW di bawah satu pimpinan imam secara terus menerus selama bulan Ramadhan.

Shalat Tarawih dilaksanakan secara sporadis dalam kelompok-kelompok kecil atau sendiri-sendiri (HR al-Bukhārī).

Bahwa Nabi SAW tidak melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di masjid secara terus menerus selama Ramadhan bukan sunah tarkiah, karena meskipun ada kebutuhan untuk melakukannya dan beliau tidak melakukannya disebabkan oleh adanya halangan untuk itu. Yaitu beliau khawatir shalat Tarawih berjamaah terus menerus itu dipandang wajib oleh umatnya dan itu akan memberatkan mereka dan karenanya beliau hanya shalat beberapa kali saja selama satu Ramadan (HR al-Bukhārī dan Muslim).

Ketika kita sekarang (dalam keaddan normal) melaksanakannya terus menerus sepanjang malam Ramadhan di masjid, itu adalah masyruk dan tidak melanggar sunah beliau.

Dalam kaitan dengan tidak pernahnya Rasulullah SAW mengerjakan salat Id di rumah dapat dipandang bukan merupakan sunah tarkiah, karena tidak ada kebutuhan di zaman beliau untuk shalat Id di rumah karena tidak ada halangan, seperti ṭaʻūn (penyakit menular), yang menghalangi beliau untuk shalat di lapangan. Karena bukan sunah tarkiah, maka melakukan shalat Id di rumah itu bukan suatu yang tidak masyruk. Sebaliknya adalah suatu sah dilakukan.

Shalat Id di Rumah Bukan Bidah

4) Pelaksanaan shalat Id di rumah tidak membuat suatu jenis ibadah baru. Salat Id ditetapkan oleh Nabi SAW melalui sunahnya. Salat Id yang dikerjakan di rumah adalah seperti shalat yang ditetapkan dalam sunah Nabi SAW.

Hanya tempatnya dialihkan ke rumah karena pelaksanaan di tempat yang semestinya, yaitu di lapangan yang melibatkan konsentrasi orang banyak, tidak dapat dilakukan. Juga tidak dialihkan ke masjid karena halangannya adalah ketidakmungkinan berkumpulnya orang banyak di suatu tempat.

Karena terhalang di tempat yang semestinya, yakni di lapangan, maka dialihkan ke tempat di mana mungkin dilakukan, yakni di rumah.

c. Dengan meniadakan shalat Id di lapangan maupun di masjid karena adanya ancaman Covid-19 tidaklah berarti mengurang-ngurangi agama. Ketika dibolehkan shalat Id di rumah bagi yang menghendakinya, pertimbangannya adalah melaksanakannya dengan cara lain yang tidak biasa, yaitu dilaksanakan di rumah, karena dituntut oleh keadaan di satu sisi, dan di sisi lain dalam rangka mengamalkan bagian lain dari petunjuk agama itu sendiri.

Yaitu agar kita selalu memperhatikan riʻāyat al-maṣāliḥ, perwujudan kemaslahatan manusia, berupa perlindungan diri, agama, akal, keluarga, dan harta benda dan menjaga agar kita tidak menimbulkan mudarat kepada diri kita dan kepada orang lain.

Bahkan sebaliknya, tidak ada ancaman agama atas orang yang tidak melaksanakannya, karena shalat Id adalah ibadah sunah. Dalam pandangan Islam, perlidungan diri (jiwa dan raga) sangat penting sebagaimana Allah menegaskan dalam al-Quran.

“Barangsiapa mempertahankan hidup satu manusia, seolah ia memberi hidup kepada semua manusia” (al-Maidah: 32].

Menghindari berkumpul dalam jumlah banyak berarti kita berupaya memutus rantai pandemi Covid-19 dan berarti pula kita berupaya menghindarkan orang banyak dari paparan Virus Corona yang sangat mengancam jiwa ini.

Semoga Allah senantiasa melindungi umat Islam dan bangsa Indonesia dari segala bahaya dalam limpahan rahmat dan karunia-Nya.

Yogyakarta, 21 Ramadan 1441 H/14 Maret 2020 M

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua: Prof Dr H Syamsul Anwar, M.A., dan Sekretaris: Drs Mohammad Mas’udi MAg. (*)

Silakan Download / unduh file dalam bentuk PDF >>> EDARAN-04-tahun-2020-Shalat-Id-di-Masa-Darurat-Covid-19

Berikut tata cara shalat Idul Fitri secara ringkas.

  1. Shalat Idul Fitri dilaksanakan dengan dua rakaat tanpa adzan; tanpa iqamat, dan tanpa bacaan al-shalatul jami’ah. Tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat Idul Fitri.
  2. Pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram diteruskan dengan tujuh kali takbir seraya mengangkat kedua tangan.
  3. Pada rakaat kedua takbir lima kali setelah takbiratul qiyam (intiqal). Dengan mengangkat kedua tangan.
  4. Sesudah membaca al-Fatihah imam membaca surah al-A’laa atau Qaaf pada rakaat pertama. Dan surah al-Ghaasyiyah atau Qamar pada rakaat kedua. Atau, sesuai kemempuan imam di masing-masing keluarga. Imam membaca al-Fatihah dan surat secara jahr (keras).
  5. Khutbah disampaikan satu kali yaitu tidak diselingi dengan duduk antara dua khutbah.
  6. Khutbah dimulai dengan tahmid, tidak dengan takbir. Dalam khutbah shalat Id memang diperbanyak dengan menyelingi dengan takbir, dan dikhiri dengan doa dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan.
  7. Jika tidak memungkinkan adanya khutbah, maka shalat tetap sah.

Lazismu Salurkan Paket Bantuan Kepada Da’i dan Mubaligh di Sidoarjo

Salah satu kelompok terdampak kondisi wabah Covid-19 adalah para Mubaligh atau Da’i, khususnya Muhammadiyah. Mereka itulah yang ketika sebelum wabah ini bertugas untuk menyampaikan risalah Islamiyah kepada ummat Islam di Masjid dan tempat lainnya dalam berbagai kesempatan.

Pada saat wabah Covid-19 ini praktis para Mubaligh atau Dai tidak banyak kegiatan berdakwah di Masjid karena ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari Pemerintah. Sebagian dari Mubaligh melaksanakan kegiatan dakwa melalui media online, medsos atau kajian secara virtual.

Lazismu kantor perwakilan Jawa Timur pada 2 Mei 2020 melaksanakan amanah donatur dengan menyalurkan bantuan kepada 25 orang Mubaligh atau Da’i Muhammadiyah di Sidoarjo. Bantuan sebanyak 25 paket sembako diserah terimakan dari drh Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jawa Timur kepada Ridwan Ma’ruf, ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo, di Depo Logistik Lazismu Jatim di kawasan Buduran, Sidoarjo.

Menurut drh Zainul Muslimin bantuan yang disampaikan kepada para Mubaligh di bawah Majelis Tabligh Muhammadiyah Sidoarjo ini merupakan bentuk penyaluran Lazismu kepada kelompok terdampak Covid-19. Saat ini Lazismu menurutnya sedang gencar mendata para Mubaligh Muhammadiyah agar mereka yang tidak berkemampuan secara finansial terbantu dengan bantuan ini. Selanjutnya secara teknis Majelis Tabligh yang akan mendistribusikan secara door to door ke rumah para Mubaligh atau Dai yang terdata sekaligus bersilaturrahim dengan keluarga mereka.

Ridwan Ma’ruf, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Sidoarjo mengucapkan terima kasih atas kepedulian Lazismu Jatim untuk meringankan beban Mubaligh dan keluarganya yang sangat terdampak kondisi wabah virus Corona ini. Ia bersama pimpinan Majelis Tabligh lainnya segera mengunjungi satu-persatu rumah para Da’i/Mubaligh yang terdata guna menyampaikan paket bantuan dan bersilaturrahim menengok kondisi mereka.

Ridwan mengatakan bahwa kegiatan Majelis Tabligh Muhammadiyah Sidoarjo bersilaturrahim ke rumah para Mubaligh tidak semata untuk menyampaikan bantuan namun lebih dari itu juga untuk menyambung hubungan persaudaraan antar Mubaligh yang selama ini sudah terjalin dalam Forum Komunikasi dan Silaturrahim Mubaligh Muhammadiyah se-Sidoarjo.

“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan membantu kehidupan para Mubaligh dalam bentuk lain, misalnya bantuan bedah rumah bagi yang rumahnya rusak atau bentuk-bentuk perhatian dan kepedulian lainnya. Yang penting semangat dakwah dan jihad tidak pudar pada masa Covid-19 ini” ungkap Ridwan Ma’ruf yang bertempat tinggal di Wonoayu, Sidoarjo. (Ad).

Lazismu-MCCC Kampanye Cegah Covid-19 Keliling 16 Titik di Kabupaten Probolinggo

Upaya Lazismu yang tergabung dalam Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) agar masyarakat sadar akan bahaya wabah Covid-19 terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan kampanye bermobil keliling desa di Kabupaten Probolinggo.

Para relawan dari Lazismu, MDMC dan Angkatan Muda Muhammadiyah yang tergabung dalam MCCC Kabupaten Probolinggo hari ini, 15-04-2020, melakukan kampanye menggunakan kendaraan mobil. Mereka berkeliling ke 16 di kabupaten yang mempunyai pesona wisata gunung Bromo itu.

Sebelum berkeliling, dilakukan apel terlebih dahulu dipimpin oleh Ahmad Ridho Pambudi, Ketua Lazismu Kabupaten Probolinggo, di salah satu perguruan Muhammadiyah di Kraksan. Setelah apel dan sarapan, tim kemudian berangkat dengan satu tujuan untuk mensosialisasikan tentang bahaya dan pencegahan Covid-19 kepada warga masyarakat di pelosok desa kabupaten itu.

Tim ini berkekuatan total 40 orang relawan dengan 10 mobil berpencar menuju ke 16 titik lokasi sasaran di 6 kawasan, antara lain kawasan Kraksaan, Pendil, Pajarakan, Dringu, Lumbang, Paiton dan sebagainya. Dengan menggunakan pengeras suara, para relawan ini menyerukan dari dalam mobil agar warga masyarakat yang sadar akan bahaya wabah Covid-19.

Warga diseru untuk melakukan upaya pencegahan dimulai dari lingungan dekat dan keluarga mereka masing-masing. Tidak hanya menyerukan bahaya Covid-19, tim juga membagikan masker dan selebaran beserta edaran himbauan tentang Covid-19 kepada warga yang dialui tim ini. Isi dari seruan dan himbauan dalam aksi tersebut meliputi :

  • Seruan beraktifitas di rumah saja dengan memperbanyak ibadah, sedekah, doa dan istighfar.
  • Jangan keluar rumah bila tidak terpaksa dan wajib menggunakan masker.
  • Biasakan cuci tangan sesering mungkin.
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan.
  • Segera cuci pakaian dan segera mandi bila pulang dari bepergian.
  • Bagi yangg mempunyai keluarga atau saudara yang berada di luar kota dihimbau untuk tidak mudik terlebih dahulu. Hal ini penting agar penyebaran virus corona bisa dihambat.
  • Melaporkan kepada satgas atau perangkat desa setempat jika ada keluarga atau tetangga dari luar kota datang agar mendapatkan penanganan dari dinas kesehatan, dengan mengisolasi dirinya sendiri sebelum betul-betul dinyatakan sehat oleh dinas Kesehatan setempat.
  • Beri dukungan terhadap pasien covid-19 dan keluarganya agar mereka bisa tenang dan damai. Kondisi tenang dan damai tersebut merupakan modal dasar bagi kesembuhannya.
  • Terhadap orang yang meninggal karena covid-19, perlakukan dengan baik sesuai dengan tata cara agama dengan memperhatikan aturan kesehatan yang berlaku. Bila Anda takut atau ragu, hubungi aparat desa Anda.

Ahmad Ridho Pambudi mengatakan bahwa upaya ini adalah salah satu bentuk kepedulian dari segenp elemen di Muhammadiyah Kabupaten Probolonggo untuk turut serta membantu pencegahan Covid-19 dengan mengetuk kesadaran warga masyarakat di pelosok desa agar melek dan sadar Covid-19.

“Ini adalah bencana dunia, maka kita harus ikut aktif berpartisipasi dalam pencegahan Covid-19 sebagai bagian dari tanggung jawab kita sebagai ummat manusia di muka bumi ini. Hendaklah ada sebagian dari kita yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, salah satunya adalah dengan Kampanye Covid-19 Mobil Keliling ini. Semoga wabah ini bisa segera berlalu,” kata Kung Ridho, panggilan akrab Ahmad Ridho Pambudi. (Adit)

Tuntunan Ibadah Semasa Kondisi Darurat Covid-19

Fenomena penyebaran wabah Corona virus Disease (Covid-19) yang merebak di berbagai negara termasuk di Indonesia merupakan pandemik virus yang mengancam kehidupan manusia. Akibat Covid-19 telah banyak yang menjadi korban yaitu ratusan ribu orang terinfeksi positif dan ribuan orang meninggal dunia di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Virus ini menjadi pandemik disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, penyebarannya yang cepat karena proses penularan yang cukup mudah.

Kedua, penyebarannya yang tidak mudah dideteksi. Ketiga, sikap abai sebagian masyarakat terhadap potensi penyebaran dan mudarat yang diakibatkan oleh Covid-19. Dengan demikian kondisi sekarang telah memasuki fase darurat Covid-19 berskala global. Ini berpijak pada pernyataan resmi World Health Organization (WHO) bahwa Covid-19 telah menjadi pandemik dan kriteria KLB (Kejadian Luar Biasa) yang mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa bahwa suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada beberapa unsur, antara lain:

  1. timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal;
  2. Peningkatan kejadian penyakit / kematian terus-menerus selama kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).

Berdasarkan hal tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah merasa perlu untuk menindaklanjuti sekaligus menyempurnakan Surat Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/MLM/I.0/H/2020 tentang Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) dan Nomor 03/I.0/B/2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Fardu Berjamaah Saat Terjadi Wabah Coronavirus Disease (Covid-19). Dalam rangka melaksanakan hal itu, sesuai dengan arahan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maka Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) telah berkoordinasi dan mengadakan Rapat Bersama pada hari Sabtu, 26 Rajab 1441 H bertepatan dengan 21 Maret 2020 M dan menetapkan beberapa keputusan.

Keputusan-keputusan tersebut diambil dengan berpedoman kepada beberapa nilai dasar ajaran Islam dan beberapa prinsip yang diturunkan dari padanya. Nilai-nilai dasar dimaksud adalah, pertama, keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Adil serta Maha Rahman dan Rahim bahwa apa pun yang menimpa manusia tidak lepas dari kehendak Allah Yang Maha Kuasa (QS. Al-Hadid [57]: 22-23). Tetapi semua yang menimpa manusia itu bukanlah karena Allah tidak adil. Sebaliknya Allah itu Maha Adil dan tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya (QS. Fushilat [41]: 46). Oleh karena itu segala musibah yang terjadi harus dipandang sebagai suatu ujian bagi manusia (QS. Ali Imran [3]: 142) yang di baliknya banyak hikmah dan pelajaran yang harus dipetik. Antara lain kita harus menjaga kualitas lingkungan hidup kita yang baik dan sehat dan menghindari hal-hal yang merusak termasuk mengundang penyakit dan sekaligus mengingat fungsi kosmik manusia yang bertugas memakmurkan alam (QS. Hud [11]: 61).

Kedua, keimanan bahwa Allah Yang Maha Rahman dan Rahim menuntunkan kepada manusia bahwa dalam menjalani kehidupan agar manusia selalu optimis dan menghindari putus asa. Sikap cepat putus asa itu bukan merupakan sikap orang mukmin, melainkan merupakan tanda ketiadaan iman (QS. Al-Hijr [15]: 56 dan Yusuf [12]: 87).

Konsekuensi dari optimisme adalah bahwa kita meyakini bahwa setiap kesulitan selalu ada jalan keluarnya seperti dinyatakan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah [94]: 5) dan sabda Nabi saw, “… dan beserta bencana itu ada kelapangan dan bersama kesulitan ada kemudahan” (HR Ahmad, al-Musnad, V: 18, no. 2802, disahihkan oleh al-Arna’ūṭ). Optimisme lebih lanjut bukan suatu sikap menunggu dan berpangku tangan, melainkan melakukan ikhtiar maksimal untuk mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan dan menghindari berbagai sumber dari kemudaratan sambil bertawakal kepada Allah. Nasib manusia itu ada di tangan manusia itu sendiri dan apa yang diperolehnya tidak lain adalah hasil usahanya dan Allah tidak akan mengubah nasibnya sebelum ia mengubah keadaan dirinya sendiri (QS. Al-Najm 53: 39 dan Al-Ra’d [13]: 11).

Ketiga, keimanan bahwa ajaran agama itu diturunkan dengan tujuan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107) yang oleh para filsuf syariah diterjemahkan sebagai perwujudan maslahat. Kemaslahatan itu adalah perlindungan terhadap manusia baik dalam kehidupan keagamaannya, jiwa raganya, akal pikirannya, institusi keluarganya maupun harta kekayaan yang menjadi sendi kehidupannya.

Dalam konteks berkembangnya wabah Covid-10 sekarang perlindungan keberagamaan dan jiwa raga menjadi keprihatinan (concern) kita semua. Dari nilai-nilai dasar ajaran ini diturunkan sejumlah prinsip yang mengutamakan penghindaran kemudaratan dan pemberian kemudahan dalam menjalankan agama yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan. Dengan mempertimbangkan dalil-dalil dari al-Quran dan as-Sunnah al-Maqbulah yang dipahami sesuai dengan manhaj tarjih dan berpedoman kepada nilai-nilai dasar ajaran Islam dan prinsip-prinsip yang diturunkan darinya serta data-data ilmiah dari para ahli (sebagaimana terlampir) yang menunjukkan bahwa kondisi ini telah sampai pada status darurat, maka Rapat Bersama tersebut menetapkan beberapa keputusan sebagai berikut:

  1. Wabah Covid-19 adalah salah satu musibah yang merupakan ujian dari Allah atas dasar sifat Rahman dan Rahim Allah, sehingga umat Islam harus menghadapinya dengan sabar, tawakal, dan ikhtiar.
  2. Pasien Covid-19 meninggal dunia yang sebelumnya telah berikhtiar dengan penuh keimanan untuk mencegah dan atau mengobatinya, maka mendapat pahala seperti pahala orang mati syahid.
  3. Usaha aktif mencegah penularan Covid-19 merupakan bentuk ibadah yang bernilai jihad, dan sebaliknya tindakan sengaja yang membawa pada risiko penularan merupakan tindakan buruk/zalim.
  4. Upaya pengobatan sebagai bentuk ikhtiar wajib dilakukan. Oleh sebab itu, para ahli termasuk dalam hal ini pemerintah wajib menyelenggarakan upaya tersebut sekaligus menyediakan segala keperluan yang berkaitan dengannya.
  5. Dalam rangka menghindari dampak buruk berkembangnya covid-19 harus diperhatikan berbagai petunjuk dan protokol yang telah ditentukan oleh pihak berwenang, termasuk melakukan perenggangan sosial (at-tabāʻud al-ijtimāʻī/ social distancing) maupun upaya stay at home atau work from home sebagai tindakan preventif, dengan tetap memperhatikan produktifitas kerja.
  6. Salat lima waktu merupakan kewajiban agama yang harus dikerjakan dalam segala kondisi.
  7. Dalam kondisi tersebarnya Covid-19 seperti sekarang dan yang mengharuskan perenggangan sosial (at-tabāʻud alijtimā ʻī / social distancing), salat lima waktu dilaksanakan di rumah masing-masing dan tidak perlu dilaksanakan di masjid, musala, dan sejenisnya yang melibatkan konsentrasi banyak orang, agar terhindar dari mudarat penularan Covid-19.
  8. Adapun orang yang karena profesinya dituntut untuk berada di luar rumah, maka pelaksanaan salatnya tetap memperhatikan jarak aman dan kebersihan sesuai dengan protokol kesehatan. Hal ini karena salat wajib dilaksanakan dalam setiap keadaan sebagaimana ditegaskan di atas (angka 6), di samping harus menghindari sumber-sumber kemudaratan sebagai diingatkan dalam hadis yang telah dikutip di atas yang menyatakan, “Tidak ada kemudaratan dan pemudaratan.”
  9. Apabila keadaan amat menuntut karena tugasnya yang mengharuskan bekerja terus menerus memberikan layanan medis yang sangat mendesak, petugas kesehatan dapat menjamak salatnya (tetapi tidak mengqasar apabila tidak musafir),
  10. Salat Jumat diganti dengan salat Zuhur (empat rakaat) di rumah masing-masing.
  11. Azan sebagai penanda masuknya waktu salat tetap dikumandangkan pada setiap awal waktu salat wajib dengan mengganti kalimat “ḥayya ‘alaṣ-ṣalah” dengan “ṣallū fī riḥālikum” atau lainnya sesuai dengan tuntunan syariat.
  12. Apabila kondisi mewabahnya Covid-19 hingga bulan Ramadan dan Syawal mendatang tidak mengalami penurunan, maka: a). Salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenisnya, termasuk kegiatan Ramadan yang lain (ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf dan kegiatan berjamaah lainnya) sesuai dengan dalil yang disebutkan pada angka 7 di atas. b). Puasa Ramadan tetap dilakukan kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik, dan wajib menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat. c) Untuk menjaga kekebalan tubuh, puasa Ramadan dapat ditinggalkan oleh tenaga kesehatan yang sedang bertugas dan menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat. d) Salat Idulfitri adalah sunnah muakkadah dan merupakan syiar agama yang amat penting. Namun apabila pada awal Syawal 1441 H mendatang tersebarnya covid-19 belum mereda, salat Idul fitri dan seluruh rangkaiannya (mudik, pawai takbir, halal bihalal, dan lain sebagainya) tidak perlu diselenggarakan. Tetapi apabila berdasarkan ketentuan pihak berwenang covid-19 sudah mereda dan dapat dilakukan konsentrasi banyak orang, maka dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan pihak berwenang mengenai hal itu. Adapun kumandang takbir ‘Id dapat dilakukan di rumah masing-masing selama darurat Covid-19.
  13. Memperbanyak zakat, infak dan sedekah serta memaksimalkan penyalurannya untuk pencegahan dan penanggulangan wabah Covid-19.
  14. Menggalakkan sikap berbuat baik (ihsan) dan saling menolong (taawun) di antara warga masyarakat, terutama kepada kelompok rentan, misalnya berbagi masker, hand sanitizer, atau mencukupi kebutuhan pokok dari keluarga yang terdampak secara langsung dan tidak melakukan panic buying (pembelian barang karena panik/ penimbunan barang berdasarkan rasa takut).
  15. Perawatan jenazah pasien Covid-19 sejak meninggal dunia sampai dikuburkan, dilakukan sesuai dengan standar protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang, misalnya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 300/Menkes/SK/IV/2009 tentang Pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza Butir B. 3. 6). Respon Medik dan Laboratorium: Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, Surveillans, dan Pemulasaraan Jenazah dan Surat Edaran Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor P-002/DJ.III/Hk.00.7/032020 tentang Imbauan dan Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Area Publik di Lingkungan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Butir E.4 Imbauan Pelaksanaan Protokol Pengurusan Jenazah Pasien Covid-19.
  16. Apabila dipandang darurat dan mendesak, jenazah dapat dimakamkan tanpa dimandikan dan dikafani, dalam rangka menghindarkan tenaga penyelenggara jenazah dari paparan Covid-19 dengan pertimbangan asas-asas hukum syariah bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali sejauh yang mampu dilakukannya, apa yang diperintahkan Nabi saw dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, tidak ada kemudaratan dan pemudaratan, kemudaratan harus dihilangkan, kesulitan memberikan kemudahan, keadaan mendesak dipersamakan dengan keadaan darurat, dan kemudaratan dibatasi sesuai dengan kadarnya, dan mencegah mudarat lebih diutamakan daripada mendatangkan maslahat. Kewajiban memandikan dan mengafani jenazah adalah hukum kondisi normal, sedangkan dalam kondisi tidak normal dapat diberlakukan hukum darurat.
  17. Penyelenggaraan salat jenazah dapat diganti dengan salat gaib di rumah masing-masing. Adapun kegiatan takziah dilakukan secara terbatas dengan memperhatikan hal-hal yang terkait penanggulangan Covid-19 atau dilakukan secara daring.
  18. Penyelenggaraan akad nikah dilakukan sesuai dengan standar protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang, misalnya Surat Edaran Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor P-002/DJ.III/Hk.00.7/032020 tentang Imbaun dan Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Area Publik di Lingkungan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia E.3 Protokol Pencegahan Penyebaran Covid-19 pada Layanan Nikah di KUA. Adapun acara resepsi atau walimah dapat diselenggarakan setelah kondisi normal.
  19. Dianjurkan banyak istigfar, bertaubat, berdoa kepada Allah, membaca al-Quran, berzikir, bersalawat atas Nabi, dan kunut nazilah secara individu serta dengan keyakinan dan berbaik sangka akan ketetapan Allah, semoga Covid-19 segera diangkat oleh Allah swt.

Demikian Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19. Tuntunan ini hanya diberlakukan dalam kondisi darurat, sehingga apabila kondisi sudah normal, maka pelaksanaan ibadah di atas dilakukan sebagaimana biasanya.

Yogyakarta, 26 Rajab 1441 H / 21 Maret 2020 M, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. dan Sekretaris, Drs. Mohammad Mas’udi, M.Ag.

Tuntunan selengkapnya beserta dalil-dalil, silakan diunduh / down load >>> tuntunan-ibadah-dalam-kondisi-darurat-Covid19

Awal Puasa 1 Ramadan 1441 Hijriyah Jatuh pada hari Jum’at, Tanggal 24 April 2020 Miladiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui surat edaran dengan nomor 01/MLM/I.0/E/2020 tertanggal 01 Rajab 1441 H / 25 Februari 2020 M, yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si (Ketua Umum) dan Dr. Agung Danarto, M.Ag (Sekretaris) telah mengeluarkan pengumuman tentang Hisab Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah tahun 1441 hijriyah.

Tanggal 1 Ramadan 1441 H jatuh pada hari Jum’at, 24 April 2020 M dan Idul Fitri tanggal 1 Syawal 1441 H jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020 M. Maklumat selengkapnya adalah sebagai berikut :

MAKLUMAT PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
NOMOR 01/MLM/I.0/E/2020

TENTANG PENETAPAN HASIL HISAB RAMADAN, SYAWAL, DAN ZULHIJAH 1441 HIJRIAH

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan ini mengumumkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1441 Hijriyah berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai berikut:

RAMADAN 1441 H

Ijtimak jelang Ramadan 1441 H terjadi pada hari Kamis Wage, 23 April 2020 M pukul 09:29:01 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta (f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +03°53¢09²(hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam Matahari itu Bulan berada di atas ufuk. Tanggal 1 Ramadan 1441 Hjatuh pada hari Jum’at Kliwon, 24 April 2020 M.

SYAWAL 1441 H

Ijtimak jelang Syawal 1441 H terjadi pada hari Sabtu Wage, 23 Mei 2020 M pukul 00:41:57 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +06°43¢31²(hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam Matahari itu Bulan berada di atas ufuk. Tanggal 1 Syawal 1441 H jatuh pada hari Ahad Kliwon, 24 Mei2020 M.

ZULHIJAH 1441 H

Ijtimak jelang Zulhijah 1441 H terjadi pada hari Selasa Pon, 21 Juli 2020 M pukul 00:35:48 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +07°54¢32²(hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam Matahari itu Bulan berada di atas ufuk. Tanggal 1 Zulhijah 1441 H jatuh pada hariRabu Wage, 22 Juli 2020 M.

Berdasarkan hasil hisab tersebut maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan:

  • 1 Ramadan 1441 H jatuh pada hari Jum’at Kliwon 24 April 2020 M.
  • 1 Syawal 1441 H jatuh pada hari Ahad Kliwon, 24 Mei 2020 M.
  • 1 Zulhijah 1441 H jatuh pada hariRabu Wage, 22 Juli 2020 M.
  • Hari Arafah (9 Zulhijah 1441 H) hari Kamis Pahing, 30 Juli 2020 M.
  • Idul Adha (10 Zulhijah 1441H) hari Jum’at Pon, 31 Juli 2020 M.

Demikian maklumat ini disampaikan untuk dilaksanakan dan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita.

Nashrun Minallah wa Fathun Qariib. Wassalamu’alaikum wr. wb.

Yogyakarta, 01 Rajab 1441 H / 25 Februari 2020 M

Tertanda : Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si (Ketua Umum) dan Dr. Agung Danarto, M.Ag (Sekretaris)

File PDF Surat Edaran PP Muhammadiyah tentang PENETAPAN HASIL HISAB RAMADAN, SYAWAL, DAN ZULHIJAH 1441 HIJRIAH, klik —-> (Maklumat Ramadhan 1441)

Bagikan Mushaf al-Qur’an Bagi Pelajar Rindu Masjid di Lamongan

Dalam rangka mendukung pengembangan pendidikan untuk santri santri Tahfidz di berbagai pondok pesantren di Lamongan, Lembaga Amil Zakat dan Infaq Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu) Lamongan bekerjasama dengan Majelis Tabligh dan Lembaga pengembangan Pesantren Muhammadiyah PDM Lamongan menyerahkan 350 Mushaf Al Qur’an kepada enam pondok pesantren dan satu komunitas binaan.

Ditemui pada Rabu, 06/02/2020, Sujudna, Ketua Lazismu Lamongan menyampaikan bahwa program ini memang ditujukan untuk santri-santri di pondok pesantren.

“Program ini memang program pemberdayaan untuk santri pondok pesantren, upaya Lazismu bersama Majelis Tabligh dan LP3M untuk mendukung pendidikan tahfidz di Lamongan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Lazismu Lamongan juga mendorong adanya keterlibatan berbagai pihak untuk bersama sama mendorong generasi muda untuk cinta kepada Al Qur’an. Sebagaimana cita cita gerakan GM3 (Gerakan Memakmurkan Masjid Muhammadiyah) dan Pelajar Rindu Masjid (Perimas) yang dicetuskan dan diinisiasi oleh Majelis Tabligh PDM Lamongan.

ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan, Ust Masroin Assafani menyampaikan harapannya agar bantuan ini dapat dimanfaatkan benar benar untuk mendukung dan meningkatkan hafalan santri.

“Semoga bantuan Al Qur’an ini dapat mendukung pendidikan tahfidz santri, visi pemberdayaan ini sedana dengan tujuan GM3 dan Perimas untuk generasi muda,” sambungnya.

Ust Masroin juga berharap, kedepan semakin banyak kader kader Islam dan muhammadiyah yang menjadi Hafidz Al Quran.

“Kedepan tantangan semakin berat, hafalan dan pemahaman tentang Al Qur’an akan menjadi bekal yang baik bagi generasi Islam kedepan,” pungkasnya.

Sementara itu, ust Basith perwakilan dari salah satu pesantren mengungkapkan bahwa ia berterimakasih sebesar besarnya kepada seluruh Donatur dan Lazismu Lamongan.

“Bantuan ini akan sangat bermanfaat bagi santri kami, kami ucapkan banyak terima kasih kepada Lazismu dan seluruh donatur, semoga berkah dan dibalas oleh Allah dengan kebaikan,” ungkapnya. (Irv)

Senangnya Orang Tua Malik, Anak Yang Menderita Hidroculypalus di Tulungagung Menerima Bantuan Kursi Roda dari Lazismu

Gebyar Milad Muhammadiyah tidak hanya dirasakan oleh warga Persyarikatan Muhammadiyah saja. Setiap insan yang bersentuhan dengan Muhammadiyah juga turut mengharubiru larut dalam gema perhelatan tahunan organisasi Dakwah Islam itu.

Itulah yang dirasakan oleh pasangan Karyani dan Maryam, warga kota Tulungagung. Anaknya yang bernama Malik (7 tahun), yang merupakan penderita hidroculypalus, mendapatkan bingkisan sebuah kursi roda.

Penyerahan kursi roda oleh lazismu dilakukan langsung oleh Bupati Tulungagung, Drs. H. Maryoto Bhirowo MM pada acara Tabligh Akbar di GOR Lembu Peteng, Tulungagung, 12/01/2020. Penyerahan itu disaksikan oleh Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang hadir memberikan tausiyah pada momen akbar itu. Sekitar 5.000 an pasang mata hadirin warga Muhammadiyah TulungAgung pun ikut menyaksikan.

Maryam, ibu Malik, merasa senang dan gembira menerima bantuan tersebut. Ia seakan tak percaya bisa memiliki kursi roda bagi buah hatinya yang tengah menderita sakit parah. Berkali-kali ia berucap syukur kepada Allah SWT dan berterima kasih atas kepedulian dari Muhammadiyah Tulungagung, khususnya Lazismu.

Selain berbagi kursi roda, Lazismu juga memberikan bantuan dana operasional TPQ kepada 10 Masjid Muhammadiyah di kabupaten Tulungagung. Per Masjid mendapat bantuan operasional TPQ senilai 600.000 rupiah. Milad Muhammadiyah, memang merupakan momen pencerahan dan kebahagiaan bagi semua, tidak hanya warga Muhammadiyah saja. (Hen/Adit).

Mari terus dukung aksi-aksi kemanusiaan Lazismu, khususnya di kabupaten Tulungagung.. Donasi anda dapat ditransfer ke rekening kami…

REKENING BANK

Jeniz ZIS Bank Norek Nama Rek
ZAKAT BSM 99398 1 38 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Tulungagung
BMI 76630 1 38 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Tulungagung
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 38 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Tulungagung
BMI 76640 2 38 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Tulungagung
KEMANUSIAAN BSM 99398 3 38 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Tulungagung
BMI 76650 3 38 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Tulungagung
  • BSM = Bank Syariah Mandiri
  • BMI = Bank Muamalat Indonesia

Dukung Pembangunan Dua Masjid, Lazismu Jatim Berihlah Dakwah ke Jembrana dan Buleleng, Bali

Ghirah beragama Islam kaum Muslimin di daerah dan kawasan minoritas Muslim pulau Dewata, Bali sungguh tinggi. Semangat juang dakwah yang membara, kuat memegang aqidah dan istiqomah dalam beribadah membuat keberadaan umat Islam di Bali, walau kecil namun kuat dan kokoh menghadapi gempuran adat dan budaya serta perkembangan dinamika masyarakat. Keberadaan mereka yang minoritas ini perlu mendapatkan dukungan dan bantuan dari saudara seiman dan sekeyakinan, terutama ummat Islam dari pulau Jawa.

Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Jawa Timur, turut serta memberikan perhatian dan kepedulian kepada warga Muslim di daerah dan kawasan-kawasan minoritas dan 3-T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Tidak hanya ketika terjadi bencana alam yang menimpa kawasan itu, namun perhatian kepada pengembangan dakwah Islam juga menjadi titik fokus. Salah satunya adalah pembangunan sarana ibadah, yakni masjid.

Dengan dukungan dari para donatur dan Muzaki Lazismu Jatim memberikan bantuan kepada dua Masjid di pulau Dewata, Bali. Kedua masjid itu adalah masjid An-Nur di kota Negara Kabupaten Jembrana dan masjid al-Manar di kota Singaraja kabupaten Buleleng. Masjid an-Nur berada di pantai Selatan dan masjid al-Manar berada di pantai utara Bali. Kedua daerah itu merupakan kawasan tempat tinggal minoritas Muslim yang keberadaannya sudah cukup lama ada di pulau Bali sejak sebelum kemerdekaan negara ini.

Melalui kegiatan Rihlah Dakwah Lazismu Jatim ke pulau Dewata pada tanggal 11-12 Januari 2020, penyerahan bantuan dana pembangunan kedua masjid itu dilakukan. Tidak hanya menyerahkan dana bantuan, Lazismu juga mengajak serta Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr M Saad Ibrahim, MA dan Prof Dr Thohir Luth, MA, selaku wakil Ketua PWM Jatim. Kedua tokoh Muhammadiyah Jatim itu juga hadir untuk memberikan tausiyah atau pengajian kepada warga Muhammadiyah dan warga Muslim di sekitar masjid itu.

Penyerahan dana bantuan sebesar Rp. 107.000.000,- untuk masjid an-Nur Jembrana dilaksanakan pada acara Pengajian Silaturrahim, sabtu siang, 11 Januari 2020 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jembrana. Gedung Dakwah tersebut berada satu komplek dengan masjid an-Nur, yang beralamat di Jl. Kalimutu, kota Negara. Bantuan secara simbolis diserahkan oleh Ketua PWM Jatim Dr. M. Saad Ibrahim, MA, kepada penasehat Muhammadiyah Jembrana, Anshori Hasbullah disaksikan oleh sekitar 100 warga Muhammadiyah Jembrana dan jamaah Masjid.

Sedangkan dana bantuan untuk masjid al-Manar sebesar Rp. 105.000.000,- diserahkan pada Pengajian Ahad Pagi di halaman Perguruan Muhammadiyah, Jl. Jatayu Singaraja yang juga satu komplek dengan masjid al-Manar. Bantuan secara simbolis diserahkan oleh Wakil Ketua PWM Jatim Prof. Dr. Thohir Luth, MA, kepada Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng, M. Ali Susanto di hadapan sekira 300 warga Muhammadiyah Buleleng dan jamaah Masjid. Dalam kesempatan itu Prof Dr Thohir Luth, MA turut menambahkan sumbangan sebesar Rp. 10.000.000,- untuk masjid al-Manar. (Adit)

Santapan Rohani Plus Jasmani Berpadu Dengan Aksi Donor Darah Untuk Sesama di Lumajang

Dalam kehidupan setiap insan harus senantiasa berimbang, antara jasmani dan rohani. Keselarasan itu harus senantiasa dipelihara agar hidup ini sejahtera dan bahagia dunia dan akhirat. Kegiatan berdimensi dunia dan akhrat itulah yang tengah digiatkan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Lumajang. Dengan dukungan dari Lazismu maka kegiatan multi dimensi itu pun terlaksana.

Terselenggaralah Pengajian Ahad Pagi warga Muhammadiyah Lumajang beserta semua jajaran PCM, organisasi otonom dan Amal Usahanya, pada tanggal 5 Januari 2020. Pengajian yang juga disertai dengan sarapan pagi bersama itu dihadiri oleh sekitar 600 orang undangan dan hadirin.

Tidak hanya Ngaji sebagai santapan rohani dan sarapan pagi sebagai santapan jasmani, dalam acara tersebut juga ada kegiatan sosial, yaitu Donor Darah. Aksi untuk sesama yang digeber Lazismu ini bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Lumajang. Puluhan hadiri setelah ngaji dan sarapan pagi pun antre untuk mendonorkan darahnya.

Acara semakin marak dengan kegiatan tambahan, berupa Bazaar ibu-ibu ‘Aisyiyah guna meningkatkan Usaha Mikro di dalam tubuh Persyarikatan.

H Aminudin selaku seketaris PDM Lumajang menyampaikan dalam sambutanya menekankan bahwa Pengajian Ahad Pagi ini harus kita dukung penuh dan wajib bagi PCM, PCA, ORTOM, serta AUM. Pimpinan dan warga Muhammadiyah tiap bulan wajib hadir. Hal itu untuk menujukan bahwa syiar dakwah Muhammadiyah benar-benar ada dan gebyar, tandasnya.

Ketua Lazismu Lumajang Drs Muari menyampaikan rasa sukur bahawa Pengajian Ahad Pagi yang sudah berjalan tiga kali ini sangat meriah dan semua yang hadir sangat berantusias mengikuti. Oleh karena itu Lazismu selalu hadir mendukung, pungkasnya. (Kus).

Liburan Asyik dan Seru Santri PontrenMu Tahfidz al-Fajar Bersama Lazismu ke Pantai Sowan

Liburan sekolah menjadi sebuah hari-hari yang menyenangkan bagi anak-anak, terutama para santri dan pelajar. Seperti itulah yang dirasakan oleh 41 santri Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah al-Fajar (PontrenMu) Kapas hari ini.

Hari Senin pagi ini,  tanggal 30 Desember 2019, Santri dan Ustadz PontrenMu al-Fajar yang didukung oleh Lazismu mengadakan kegiatan Rihlah ke pantai Sowan, Tuban. Acara yang berlangsung selama sehari ini bertujuan untuk memberikan semangat kepada para santri agar lebih giat lagi untuk menimba ilmu dan belajar.

Di Pantai Sowan ini anak-anak santri PontrenMu bisa melepas penat dan menghirup hawa pantai yang segar. Mereka juga bebas berlari-lari, bermain pasir di sepanjang pantai sekaligus menikmati deburan ombak yang mengalir tenang. Ketika saat rehat tiba, telah siap hidangan makan siang untuk disantap bersama-sama. Seru dan asyik kata mereka riang gembira.

PontrenMu al-Fajar merupakan salah satu pondok tahfidz binaan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah di Bojonegoro. Di pesantren ini para santri setiap hari berkegiatan menghapal al-Qur’an disamping tugas belajar di sekolah formal. Selain itu mereka juga dididik menjadi kader-kader dakwah Islam yang militan dan berkemajuan.

Mari berbagi keceriaan kepada sesama yang membutuhkan bersama Lazismu dengan menyalurkan Zakat, Infaq dan Sedekah anda :

  • Rekening Zakat Bank Syariah Mandiri No. 99398 1 13 00 000 000
  • Rekening Infaq Bank Syariah Mandiri No. 99398 2 13 00 000 000

Konfirmasi sms/wa 082287889799

Semarakkan Milad ke-107 Muhammadiyah di Tuban dengan Khitan Masal dan Pengobatan Gratis

Semangat memberi untuk negeri senantiasa didengungkan dan digiatkan serta dihidup-hidupkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah melalui Lazismu, Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah. Aksi bersama untuk sesama pun digelar untuk menyemarakkan Milad ke-107 Muhammadiyah.

Ahad pagi (29/12/2019) beberapa peserta khitanan dan pengobatan gratis sudah duduk rapi di barisan kursi tunggu di halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah 5 Widang, Tuban. Jarum jam menunjuk pada pukul 07.00 WIB mereka pun mempersiapkan diri untuk acara khitanan massal dan pengobatan gratis yang dilaksanakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban, Lazismu dan Rumah Sakit Muhammadiyah Tuban (RSMT).

Rezki Ramadhan (10 tahun), menjadi peserta pertama yang datang bersama ayahnya, Ali Mahfudz. Rezki tidak sendiri, beberapa temannya yang sama-sama dari kecamatan Laren Lamongan berangkat pagi-pagi agar dikhitan paling awal.

“Kebijakan kami, siapa yang datang duluan, maka dia yang dikhitan. Anak-anak ini seminggu sebelumnya juga mengirimkan berkas melalui Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Widang, agar datanya bisa masuk. Kuota 24 anak yang di khitan dan, 126 yang mengikuti pengobatan gratis” ujar Ketua Panitia pelaksana, Adnan.

Menurut Adnan, data yang mengikuti khitan dan pengobatan tidak hanya dari Tuban saja. “Tercatat, ada yang dari kota sekitar, yaitu Lamongan.”

Pembukaan acara ini dimulai pukul 08.30 pagi, dibuka oleh Ketua PDM Tuban, Nurul Yakin SH, dan selesai pada pukul 13.00 WIB. Proses khitan berlangsung dengan cepat karena tim dari Rumah Sakit Muhammadiyah Tuban menerjunkan tim kesehatan yang handal dan cekatan.

“Sebanyak 20 orang kita terjunkan, untuk khitanan ada 6 tenaga medis. Jika satu anak durasinya 20 menit sekali durasi 3 anak bisa dikhitan dan untuk pengobatan dikerahkan 14 tenaga medis,” ujar Kepala Perawat RSMT, Agus Wijaya.

Acara yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke 107 ini berjalan dengan lancar. Setelah dikhitan, peserta yang usianya dari 4 sampai 12 tahun ini mendapatkan hadiah senilai Rp. 300.000,- per anak yang terdiri dari tas, sarung, school kit, baju koko serta uang saku.

“Alhamdulillah, bisa berjalan dengan sukses. Tanpa ada kendala. Saya ikut bahagia melihat anak-anak yang semula sedih dikitan, lalu menjadi bahagia setelah mendapatkan bingkisan. Melalui acara ini, semarak Milad Muhammadiyah ini terasa, sebagai bukti kepedulian kita terhadap kaum dhuafa,” ujar Ketua Panitia, Adnan.

Pihak RSMT pun turut berbahagia dengan acara ini, “Alhamdulillah kegiatan khitanan massal berjalan lancar,” tambah Kepala Perawat, Agus Wijaya. Menurutnya, ini merupakan kegiatan kesekian kalinya dalam sinergi RSMT dengan Lazismu. “Semoga selalu bisa bersinergi agar kemandirian dalam bersyarikat ini makin lama makin baik,” harapnya.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Tuban, Drs Muzayin mengatakan bahwa acara ini dihadiri dari berbagai kalangan di pembukaannya, seperti dari Ranting NU Tegalrejo, Muspika Kecamatan Widang dan perangkat desa setempat. Ia berharap program khitan dan pengobatan ini tidak berhenti di tahun 2019 saja.

“Semoga pada tahun depan kita bisa menyelenggarakan khitanan Massal ini di lokasi yang berbeda, melibatkan partisipasi seluruh PCM dan ORTOM Muhammadoyah se kabupaten Tuban,” pungkasnya. (Mlk)

Zakat, infaq dan shodaqoh anda sangat bermanfaat bagi membantu mereka yang sangat membutuhkan… Salurkan donasi anda melalui Lazismu..

Transfer ke Rekening kami..

Jeniz ZIS Bank Norek Nama Rek
ZAKAT BSM 99398 1 37 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Tuban
BMI 76630 1 37 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Tuban
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 37 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Tuban
BMI 76640 2 37 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Tuban
  • BSM Bank Syariah Mandiri
  • BMI Bank Muamalat Indonesia

Libur Telah Tiba, Lazismu Ajak Anak-anak di Ponorogo Berkhitan Ceria

Akhir tahun, Lazismu tetap sibuk dalam aksi bersama memberi untuk negeri. Pada hari Sabtu, 28 Desember 2019, Lazismu Ponorogo bekerjasama dengan Balai Kesehatan Umum (BKU) Al Manar menggelar khitanan, bertajuk Khitan Ceria. Kegiatan itu dilaksanakan di Unversitas Muhammadiyah Ponorogo.

Kegiatan ini dilaksanakan tepat di hari liburan sekolah, sehingga mengusung konsep khitan ceria spesial liburan dengan tema “Peduli dan berbagi, untuk genarasi muda yang sehat jasmani dan rohani”.

Dari awal pendaftaran khitan Ceria, antusiasme masyarakat untuk mengikuti kegiatan ini sungguh luar biasa, terlihat dari banyaknya orangtua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk mengikuti khitan. Akan tetapi karena kegiatan ini masih perdana dilakukan, maka untuk program awal ini Lazismu ponorogo membatasi peserta khitan ceria ini hanya sejumlah 10 anak.

Semangat dan upaya Lazismu dan BKU Al-Manar mengadakan kegiatan ini merupakan bentuk kepekaan sosial dan juga sebagai ladang untuk menyerukan dakwah Islam. Sasaran khitan ceria ini, kami prioritaskan adalah masyarakat kurang mampu, dhuafa atau mereka yang mempunyai kendala untuk mengkhitankan anaknya.

Khitan ceria ini di dampingi oleh dr. Wida Pratiwi Oktavia dan Tim Medis yang sudah bekerja secara proffesional di bidang khitan, Sehingga pelaksanaan khitan berjalan lancar hingga acara selesai.

Selain dikhitan, peserta juga mendapatkan bingkisan berupa sarung, baju koko, peci dan paket makanan sehat. Orang tua wali juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat, selain mendapatkan edukasi mengenai khitan juga kegiatan ini bersifat gratis sehingga mereka merasa terbantu.

Beberapa peserta khitan mengaku bahwa mereka senang mengikuti khitan masal ini, tetapi ada juga peserta yang mengatakan bahwa mereka “deg deg an” karena ini adalah momen pertama yang pernah ia ikuti.

“Kegiatan ini merupakan program khitan Ceria ini perdana yang dilaksanakan oleh Lazismu Ponorogo. Dengan adanya kegiatan ini kami berharap bisa membantu masyarakat dalam hal khitan. Kami juga merancang kegiatan ini akan menjadi program rutin setelah melihat kebermanfaatan dan animo masyarakat yang cukup baik”. ujar Zhulkarnain Asyahifa, M.Hum., Selaku Ketua Lazismu daerah Kabupaten Ponorogo.

“Kami juga mengapresiasi toko tas Bhaskara yang ikut mensupport acara khitan Ceria dan segala pihak yang ikut serta dalam mensukseskan kegiatan ini” tambahnya.

dr. Wida pratiwi berharap, sinergitas bersama Lazismu Ponorogo agar terus berlanjut, sehingga kegiatan khitan Ceria ini tidak hanya dilakukan sekali, tetapi ada kelanjutan program di liburan mendatang sehingga kebermanfaatanya bisa merata. dan Insya Allah team kita akan siap mendampingi.

Tim khitan dari BKU Al-Manar, semuanya adalah alumni Fakultas Ilmu Kesehatan-FIK Universitas Muhammadiyah Ponorogo yang bersifat lintas generasi. Oleh karena itu jika sewaktu-waktu Lazismu membutuhkan, insyaAllah, BKU Al-Manar siap membantu.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada donatur yang telah menyalurkan Zakat, Infaq dan Shodaqohnya melalui Lazismu” pungkas Zulkarnain. (By-Pon)

Mari terus peduli kepada sesama bersama Lazismu…

Rekening Bank

Jeniz ZIS Bank Norek Nama Rek
ZAKAT BSM 99398 1 30 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Ponorogo
BMI 76630 1 30 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Ponorogo
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 30 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Ponorogo
BMI 76640 2 30 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Ponorogo
KEMANUSIAAN BSM 99398 3 30 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Ponorogo
BMI 76650 3 30 00 0 00000 Humanity LAZISMU Kab Ponorogo
QURBAN BMI 77250 4 30 00 0 00000 Qurban LAZISMU Kab Ponorogo
  • BSM Bank Syariah Mandiri
  • BMI Bank Muamalat Indonesia