Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Thursday , 19 September 2019
Breaking News
You are here: Home » Inspirasi

Category Archives: Inspirasi

Joko Intarto : “Antara Lazismu dan Garuda Indonesia”

Lazismu (Lembag Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah) dan Garuda Indonesia tidak ada hubungan bisnisnya. Tapi dua-duanya wajib membuat laporan keuangan tahunan dan sama-sama bikin heboh.

Laporan keuangan tahunan Lazismu menghebohkan, karena berhasil menyabet penghargaan Baznas Award 2019. Untuk kategori laporan keuangan tahunan terbaik, di antara semua lembaga amil zakat nasional yang mengikuti penilaian. Penghargaan itu diterima Lazismu pada hari Senin (26/8).

Laporan keuangan tahunan Garuda Indonesia juga menghebohkan. Laporan itu telah menyebabkan para petinggi perusahaan pelat merah itu harus membayar denda dari otoritas keuangan: gara-gara memasukkan potensi pendapatan iklan jangka panjang sebagai pendapatan tahun buku 2018. Akibat pencatatan tersebut, Garuda Indonesia yang semua rugi besar tiba-tiba untung kecil. Sekitar Rp 70 miliar. Walau kecil, tetapi untung.

Laporan keuangan sejatinya merupakan rapor tahunan bagi semua perusahaan dan koperasi, yang mengelola dana publik. Perusahaan pelat merah wajib karena mengelola dana negara (rakyat). BUMN dan perusahaan swasta yang sudah go public juga wajib karena mengelola dana masyarakat. Koperasi pun kena kewajiban yang sama karena modal koperasi berasal dari anggota.

Lembaga bisnis yang belum masuk pasar bursa pun perlu membuat laporan keuangan tahunan. Laporan itu digunakan untuk menghitung pajak yang harus disetor ke negara. Juga untuk pemberitahuan kepada para pemegang saham apakah akan membagi deviden dan tantiem.

Keberhasilan Lazismu dalam memperoleh penghargaan Baznas Award 2019 ini boleh dibilang sebuah kemajuan. Tahun 2018, laporan keuangan Lazismu hanya mendapat predikat wajar tanpa pengecualian alias WTP. Prestasi tertinggi dalam audit laporan keuangan.

Tahun ini, laporan keuangan itu mendapat dua nilai plus. Pertama, WTP. Sama seperti tahun sebelumnya. Kedua, mendapat penghargaan dari Baznas.
Saya tahu persis, tidak mudah bagi Lazismu untuk menyusun laporan keuangan tahunan itu karena belum selesainya system integrasi laporan keuangannya. Jauh lebih mudah bagi manajemen Garuda Indonesia. Yang semua sistem pelaporannya sudah terintegrasi dalam software akuntansi.

Melihat hasilnya, saya harus memberi apresiasi yang tinggi kepada seluruh jajaran Lazismu. Dari kantor pusat hingga kantor layanan. Yang jumlahnya 700 kantor.

Penghargaan itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah perjuangan panjang para pejuang zakat. Teruslah berkarya membangun kebesaran panji Muhammadiyah, kawan!(jto)

 

Joko Intarto, Jurnalis Senior dan Anggota Badan Pengurus Lazismu Pusat.

Hilman Latief, Ph.D., : “17 Tahun Lazismu Mengarungi Samudera Zakat”

Hilman Latief, Ph.D

Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah atau Lazismu telah berusia 17 tahun. Sungguh perjalanan yang tidak bisa dibilang pendek. Walau gerakan Zakat dan Sedekah sudah dilaksanakan Muhammadiyah seabad lebih yang lampau, namun langkah Persyarikatan untuk mendirikan Lazismu pada tahun 2002 sangatlah strategis dan berwawasan ke depan. Berikut tulisan Hilman Latief, Ph.D, Ketua Lazismu Pusat sebagaimana dimuat di ibtimes.id.

Tanggal 4 Juli 2002 silam, Muhammadiyah telah membuat sebuah keputusan besar dan strategis. Adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengesahkan berdirinya Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah atau yang saat ini dikenal Lazismu. Beberapa episode sejarah juga telah dilewati.

Pada awal berdirinya, Lazismu dipimpin oleh inisiatornya, Dr. Din Syamsuddin. Periode ini saya sebut sebagai periode perintisan, sebuah periode dimana Lazismu mulai memperkenalkan dirinya kepada masyarakat umum. Targetnya waktu itu sederhana saja. Bagaimana Lazismu bisa dikenal orang dan dapat menarik perhatian kelas menengah Muslim yang memiliki simpati dan empati kepada gerakan persyarikatan Muhammadiyah, dan mendukungnya melalui zakat dan shadaqah. Lazismu bertugas mendekati donatur besar di kalangan simpatisan Muhammadiyah di Ibu Kota.

Selain itu, tugas berat justru juga ada di dalam persyarikatan, yaitu bagaimana memperkenalkan Lazismu kepada warga Persyarikatan Muhammadiyah sendiri dan bahkan kepada pimpinan Muhammadiyah. Dalam kurun beberapa tahun, Dr. Din Syamsuddin berhasil membangun kepercayaan diri persyarikatan Muhammadiyah bahwa Lazismu mampu menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat Nasional yang kontribusinya kepada masyarakat semakin kuat. Pada periode beliau pula Lazismu mendapatkan pengesahan dari Kementerian Agama RI.

Periode berikutnya, Drs.Hariyanto Y. Tohari, M.A., yang juga sebagai co-founder  (pendiri) Lazismu, diserahi amanah mengelola Lazismu. Peiode ini adalah periode pengembangan dan perluasan jejaring. Muhammadiyah adalah organisasi yang berkembang dengan dua model sekaligus: top down dan bottom up. Inisiatif dari bawah (bottom up) sama kuatnya, dan bahkan dalam konteks tertentu, lebih kuat dari pada top down. Banyak lembaga amil yang ada di bawah Muhammadiyah yang perlahan-lahan menyesuaikan diri sesuai regulasi. Penggunaan istilah yang beragam, mulai berubah dan pimpinan di daerah mulai melakukan penyeragaman, berganti baju menjadi Lazismu. Secara bottom up lembaga amil berdiri dimana-mana, dan secara top down  penyesuaian dilakukan.

Kini, Lazismu telah memasuki usianya yang tambah matang. Jika dihitung-hitung ternyata sudah 17 tahun. Sebuah usia remaja yang sedang semangat-semangatnya dan punya banyak keinginan. Sebagaimana biasanya, usia remaja adalah usia yang perilaku narsisnya cukup tinggi, meski kadang kedewasaanya masih perlu didampingi. Usia remaja adalah usia dimana seseorang mungkin banyak inovasi dan keinginan, tapi kadang belum dapat sistematis dalam menentukan langkah dan strategi.

Begitu pula Lazismu, di usia 17 tahun ini jumlah kantor layanannya ada di 29 provinsi, dan 19 provinsi diantaranya sudah memenuhi persyaratan  dan standar yang ditetapkan Lazismu Pusat, sisanya masih berjuang mendapatkan dukungan serius  pimpinannya, atau berjuang mengalahkan sikap malas-malasan (gaya remaja).

Dalam usia remaja, ada anak yang bisa dan gampang diatur dan diarahkan, tidak sedikit yang semaunya sendiri dan bahkan susah diajak kerjasama. Bila “dikerasin”, ia akan  lari atau “mutung”, sementara bila “disabarin” ia makin menjadi.

Begitu pula dengan Lazismu, yang jumlah kantor layanannya sudah ratusan. Ada kantor yang mudah diatur dan mampu cepat menyesuaikan diri dengan regulasi, ada juga Lazismu yang  sulit atau bahkan tidak mau berubah karena yang mereka tahu bahwa mengelola zakat itu “gak perlu serius-serius amat”.

Memasuki Kedewasaannya

Saya yakin, semua bisa diperbaiki. Di usianya yang ke 17 ini, Lazismu sudah menyadari bahwa memasuki tahapan dewasa tinggal selangkah lagi. Orang yang beranjak dewasa adalah orang yang terus belajar menata diri, mau mencari tahu, mau mengoreksi diri, mau memperbaiki, dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Sebagai lembaga yang beranjak dewasa, Lazismu pun harus semakin sadar dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya, serta memahami segala kekurangannya.

Semakin dewasa, sebuah lembaga akan dan harus punya target. Apapun itu. Ia tidak bisa berjalan tanpa arah, tanpa pedoman dan panduan. Lazismu bersyukur sudah bisa merumuskan Renstranya sampai 2030, dan capaian apa yang diinginkan secara kelembagaan, perlima tahun.  Semakin dewasa juga harus semakin terbuka, mau bekerja sama dengan banyak pihak dan mau memperbanyak teman dan jaringan yang dapat bersinergi mengembangkan diri dan potensi yang dimiliki.

Yang harus disadari adalah bahwa tidak ada sebuah keberhasilan dalam proses yang instan. Semua perlu kerja keras, pembagian kerja, kerjasama dan  sama-sama kerja.

Apakah Lazismu yang beranjak dewasa ini masih perlu dukungan? Tentu saja. Lazismu masih perlu dukungan dari banyak pihak dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.

Orang yang beranjak dewasa memang diharapkan bisa mandiri. Tetapi bukan berarti dibiarkan.  Seorang remaja yang beranjak dewasa pun masih perlu saran dan masukan serta dukungan dari orang tuanya. Dukungan itu dapat berupa materil dan immaterial, fisik maupun non fisik. Orang tua memiliki harapan buat anaknya, dan harapan itu harus disampaikan dengan baik, dan dukungan yang diberikan juga diberikan dengan serius agar anaknya dapat mengembangkan diri.

Saya sebagai Ketua Lazismu sangat bersyukur bahwa Pimpinan Muhammadiyah di tingkat Pusat, dan beberapa di tingkat Wilayah dan Daerah memberikan dukungan yang kuat untuk Lazismu sebagai satu-satunya Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah. Tapi, saya juga masih melihat di beberapa provinsi dan kota/kabupaten dimana Pimpinan Muhammadiyah belum terlalu serius mendukung kehadiran Lazismu. Beberapa wilayah/daerah belum mengajukan kepengurusan Lazismu, ada yang sudah dibentuk lembaganya, kantornya tidak disediakan dan fasilitas pendukung lainnya juga masih belum bisa diharapkan.

Kalau sudah begitu, jangankan memberikan target capaian terhadap lembaga yang dibentuknya, menyapa (mengordinasikan) pun enggan.  Logikanya begini, bagaimana donatur mau menyumbang dana besar kalau kantor Lazismunya tidak ada, kalau kantornya berada “dipojokan” gedung. Bagaimana seorang donatur mau datang  nyaman berkonsultasi tentang zakat bila kantornya “kumuh”. Harus diingat, orang datang ke lazismu, termasuk donatur, punya harapan dan kepercayaan, dan bukan karena belas kasihan. Itulah tantangan saat ini.

Di balik itu semua, ada banyak kabar baiknya dari Lazismu memasuki usianya yang ke 17 tahun ini. Para amil Lazismu semakin percaya diri dan paham akan tujuan lembaganya. Kegiatannya marak dimana-mana, di desa, tengah kota, sampai daerah terpencil. Layanan kesehatan dengan meggandeng dokter dan perawat meramaikan banyak kegiatan Lazismu. Armada Lazismu berseliweran menebar kebaikan.  Ribuan anak sudah mendapatkan bantuan beasiswa dan keperluan sekolah. Ribuan mahasiswa terbantu membiayai dan menyelesaikan kuliahnya. Kegiatan kemanusiaan  juga terus berjalan. Kegiatan dakwah juga berkembang.  Beberapa program Lazismu di berbagai tempat juga semakin canggih dan unik. Kegiatan di tingkat internasional juga kelihatan kebih kasat. Tentu, semua itu dilakukan dengan menggandeng berbagai mitra sesama majelis dan lembaga lainnya yang ada di Muhammadiyah.

Yang lebih penting, Amil semakin paham tata kelola dan pentingnya kepercayaan. Mereka berkembang ke arah sikap yang professional. Dan, banyak kantor layanan Lazismu yang sudah memasuki proses audit oleh Kantor Akuntan Publik.

Saya yakin semua masih jauh dari sempurna, tapi saya lebih yakin semua berjalan ke arah yang lebih baik.

Selamat berjuang para amil Lazismu dimanapun Anda berada. Mari kita arungi samudra zakat dengan penuh semangat, dan kita gerakkan Lazismu agar menjadi gelombang yang bisa melontarkan perubahan.

17 Tahun Lazismu, semakin luar biasa.

*Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah

drh. Zainul Muslimin : “Mari Kita Memaksimalkan Peran Solutif di Tempat Kita Masing-masing”

Para muzakki dan donatur yang dirahmati Allag SWT. Dalam hidup ini kita senantiasa memperoleh nasehat, wasiat, teguran, peringatan bahkan tamparan. Tamparan demi tamparan, nasehat-nasehat terindah, wasiat yang berharga tak ada yang bisa membuat trenyuh hati kita selain dari wafatnya sahabat-sahabat dan keluarga dekat kita. Setiap insan yang bernyawa pasti akan menjumpai maut dan kematian. Namun siapkah kita menghadapinya ?

Apa bekal yang berharga yang akan menjadikan kematian kita ini mulia. Tentu iman, ihsan dan amal sholeh lah yang akan memuliakan kehidupan kita di akhirat. Iman yang kokoh tak goyah oleh goncangan dan godaan apapun. Amal sholeh dna jariyah yang terus menerus kita tebarkan. Perbuatan dan perkataan yang baik-baik dan tidak sia-sia yang menyertai hidup kita. Kejujuran dan keadilan yang kita tegakkan di muka bumi. Semua menjadi catatan dan credit point bagi kemuliaan hidup kita di akhirat.

Nah, sampaikan kejujuran dan keadilan itu apa adanya. Sebelum kaki dan tangan kita bersaksi dan berbicara apa adanya ketika mulut sudah terkunci rapat di akhirat. Ketika dosa-dosa kita dibuka lebar-lebar olehNya dan semua bisa menyaksikannya. Betapa tidak berdayanya diri ini.

Tentu saja ampunan dari Allah SWT akan menjadi kemuliaan hidup kita di alam akhirat. Dan kita pun senantiasa berdoa dan berdoa, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Duhai Allah, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku.”

Kita yang masih hidup di dunia ini masih bisa berharap semoga ke depan akan jauh lebih baik karena banyak hal kesalahan dan dosa telah kita mohonkan ampunan kepada-Nya. Dengan serta merta dan sadar se-sadar-sadarnya akan kesalahan-kesalahan yang telah kita mohonkan ampun itu supaya tidak terulang kembali. Bismillah, Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Senyampang masih ada waktu marilah kita lebih berharap kepada Allah SWT agar memaqbulkan doa-doa yang kita panjatkan.

Tak hanya doa, maka ikhtiar pun harus kita lakukan. Janganlah kita malah jadi tersandera dengan urusan kekurangan orang lain, selalu menilai dan menghakimi orang lain, dan bukannya fokus pada perbaikan diri. Mari kita taruh dan letakkan kacamata ego yang mulai buram. Segera kita lihat sekeliling dengan cermat, dengan jernihnya pandangan dan hati nurani. Agar obyek bisa terlihat dengan jelas dan gamblang.

Mari kita tebar aksi-aksi yang solutif. Jika kita berikhtiar ingin menjadi besar, tentu jangan sampai perbuatan kita justru membuat yang lain menjadi kecil. Kita maksimalkan peran-peran solutif di tempat dan bidang kita masing-masing, sesuai kapasitas dan kompetensi yang kita miliki. Yang terpenting lagi adalah sesama Muslim adalah bersaudara dan saling melindungi dan memperkuat.

Dari Ibn Umar beliau berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Seorang muslim itu bersaudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menganiaya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa membantu keperluan saudaranya, Allah akan (membalas) membantu keperluannya. Barang siapa membebaskan seorang muslim dari kesusahan, Allah akan membebaskan satu kesusahan darinya dari beberapa kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib) nya pada hari kiamat. (HR Bukhari-Muslim).

Yaa Allah Yaa Rabb, lembutkan hati seluruh anak negeri ini untuk kembali menjadi fitri yang sebenar-benarnya. Berilah kekuatan agar mampu Memberi untuk Negeri. Bismillah, Insya Allah kita yakin bisa !

Sunarko, S.Ag., M.Si. : “Mari Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat Bagi Sesama”

Para Muzakki, donatur yang dikasihi Allah marilah kita berdoa, semoga kita bisa bermanfaat bagi yang lain. Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289).

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Setiap Muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah SWT berfirman: “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

Agar kita benar-benar mendapatkan manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas, karena ikhlas adalah salah satu kunci diterimanya amalan kita. Hanya amalan yang diterima Allah yang akan memberikan manfaat kepada kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Bermanfaat dengan Sedekah.

Diantara 7 (tujuh)  sunnah Nabi yang harus kita jaga setiap hari disamping rutin melaksanakan Sholat Tahajjud, membaca Al-Qur’an dari sebelum terbit matahari,  tidak meninggalkan masjid terutama sholat subuh, menjaga sholat dhuha, menjaga wudhu dan jaga SEDEKAH setiap hari. Insya Allah jika 7 (tujuh)  hal tersebut bisa kita jaga (lakukan secara rutin) yang dapat memulyakan diri kita.

Khusus mengenai sedekah, mari kita bersedekah setiap hari karena dengan sedekah bisa membawa manfaat bagi orang lain terutama bagi para dhuafa yang kita bantu. Allah menyukai orang yang suka bersedekah setiap hari.  Dalam sebuah hadist dikatakan : Dari Abu Hurairah,  ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ketika hamba berada disetiap pagi, ada dua Malaikat yang turun dan berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfaq (rajin memberi nafkah pada keluarganya)”. Malaikat yang lain berdo’a, “Ya Allah,  berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nsfkah)” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010).

Diantara hikmah yang bisa kita raih dari gemar bersedekah adalah : sangat meringankan proses sakaratul maut kita,  lampu yang paling terang di alam kubur,  pintu surga yang terbuka yang paling lebar – Assakhoya, adalah untuk dilewati mereka yang dermawan, tanda diterimanya ibadah adalah senangnya bersedekah, perkara yang paling sulit dan lama ketika dihisab adalah harta. Darimana harta didapat dan dikemanakan. Maka bersyukurlah hamba Allah yang mensedekahkan jariyah hartanya walau dia wafat, maka harta itu terus mengalir sampai hari kiamat. Itulah sebabnya setiap orang yang mengalami kematian,  apabila di beri kesempatan untuk hidup kembali, maka ia akan memilih untuk melakukan sedekah sebagai ibadah yang akan ditunaikannya pertama kali karena tinggi nilai kebermanfaatannya sedekah baginya.

Allah SWT berfirman Surat Al-Munafiqun Ayat 10 : “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’” (QS. Al-Munafiqun Ayat 10).

Ada sebagian orang yang belum berimandan belum ya-kin dengan janji Allah dalam al-Qur’an. Mereka beranggapan bah-wa hidup itu kalau ingin kaya harus gemi (baca hemat). Dengan gemi mereka beranggapan akan menjadikan hartanya utuh. Mere-ka menganggap bahwa sering berbagi kepada orang lain dengan zakat, Infaq, shodaqah itu menjadikan harta mereka berkurang. Justru seandainya mereka tahu dan yakin balasan Allah dengan Zakat, Infaq dan Shodaqah menjadikan harta barokah karena tumbuh, berkembang dan bertambah. Asal niatnya ikhlas semata-mata karena Allah pastilah mereka akan berlomba bersedekah.

Tiada hari tanpa sedekah.

Tiada hari tanpa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 261 : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ayat 261).

BUYA HAMKA mengatakan : ‘Harta yang kamu makan akan jadi kotoran,  harta yang kamu simpan akan jadi warisan dan akan diperebutkan, harta yang kamu sedekahkan akan tetap langgeng abadi dan membawa manfaat di dunia sampai akherat’.

Berbagi kebahagian dengan menunaikan ZISKA adalah wujud syukur dan Taqwa seseorang karena melaksanakan perintah Allah SWT, sedangkan hidup boros yang sia-sia dan kikir adalah perbuatan syetan yang di larang Allah SWT. Dengan menunaikan ZISKA (Zakat, Infaq, Shodadaqah dan Sosial Keagamaan Lainnya) otomatis kita telah bermanfaat bagi orang lain. Karena hal itu sangat berguna dhuafa yang membutuhkan.

Semoga Allah memberi balasan terbaik bagi hambaNya yang gemar besedekah dan kelak ditempatkan pada tempat yang terbaik pula di sisi-Nya. Mari kita selalu menebar manfaat bagi orang lain. Manfaat dan berkahnya di dunia dan akherat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Sunarko, S.Ag., M.Si., Ketua Lazismu Kota Surabaya

Syamsun Aly, MA : “Menyambut Dengan Gembira Datangnya Bulan Ramadhan 1440 Hijriyah”

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,.. (QS. 2 / AL-Baqarah : 185).

Berdasarkan allmanak Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bahwa awal puasa Ramadlan 1440 H. Jatuh pada hari Senin tanggal 6 Mei 2019 M. Sudah barang tentu Ahad malam tanggal 5 Mei,  segenap ummat Islam sudah mulai mengamalkan Qiyamu Ramadlan (Shalat sunnah Tarawih), baik di masjid–masjid, mushalla, maupun instansi pemerintah dan swasta.

Syari’at puasa diperintahkan oleh Allah kepada segenap orang beriman setiap bulan Ramadlan datang (bunyi ayat di atas), dengan tujuan agar orang-orang beriman itu dapat meningkat derjatnya menjadi muttaqin (QS. 2 : 183).

MENYAMBUT RAMADHAN.

Bagi setiap Muslim yang sadar, Ramadlan adalah bulan yang paling istimewa baginya dibanding bulan-bulan lain, karena Ramadlan merupakan bulan yang agung (Syahrul Adhim), bulan yang penuh berka (Syahrul Mubarak), bulan yang penuh ampunan (Syahrul Maghfirah), serta keistimewaan lainnya.

Oleh karena itu maka wajarlah jika kehadirannya disambut secara khusus, dengan sepenuh jiwa dan raga, agar dapat memanfaatkan moment istimewa tersebut dengan berbagai amal shalih, shadaqah jariyah maupun ibadah lainnya.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya, Rasulullah saw. telah  menegaskan : Apabila telah datang bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan.

Itulah sebabnya maka dalam bulan Ramadhan, umumnya kaum muslimin lebih giat untuk beribadah serta beramal shalih lainnya. Jika di luar Ramadhan orang malas berjamaah shalat, malas membaca Al-Quran serta enggan berinfaq, maka di bulan Ramadhan berubah menjadi giat dan insaf.

Sebaliknya, kecenderungan untuk berkata atau berbuat jelek berkurang drastis, bahkan ghibah (bahasa Jawa = ngrasani) pada sesama yang biasanya menjadi tradisi harian, dapat dihentikan saat Ramadhan datang. Apalagi diajak bertengkar atau berkelai, jelas tidak akan diladeni.

FADHILAH RAMADHAN LAINNYA.

  1. Amalan Sunnah dinilai sebagai ibadah wajib.. misalnya ; Barang siapa memberi konsumsi untuk ta’jil (berbuka) puasa maka ia akan diberikan balasan pahala seperti orang yang berpuasa. Demikian halnhya dengan orang yang mendirikan shalat sunnah di malam Ramadan (Qiyamu Ramadlan) atas dasar keimanan dan keikhlasan, disamakan dengan orang yang berpuasa Ramadlan atas dasar yang sama, yakni diampuni dosanya setahun yang lalu.
  2. Do’a orang yang berpuasa di bulan Ramadlan mudah dikabulkan oleh Allah, sehingga ayat  tentang berdo’a diletakkan di tengah-tengah ayat perintah berpuasa dan i’tikaf di bulan Ramadlan. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. 2 / al-Baqarah: 186).
  3. Pahala amal atau ibadah seseorang dilipat gandakan, terutama kalau saat turunnya lailatul Qadar maka akan mendapat kebaikan lebih baik daripada ibadah seribu bulan, setara dengan hidup full ibadah selama lebih kuran 85 tahun lamanya. (simak QS. 97 / Al-Qadar : 1-5).

Dan masih banyak lagi fadhilah Ramadhan lainnya, Karena itu mari kita sambut datangnya bulan Ramdhan 1440 H, dengan sepenuh jiwa dan raga kita, agar dapat memetik berbagai kebaikan serta kemulyaan di dalamnya.

Semoga kita semua diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengannya. Amien.

Syamsun Aly, MA (Wakil Ketua Lazismu Wilayah Jawa Timur)

drh. Zainul Muslimin : “Berjihad Dengan Harta adalah Tanda Syukur Nikmat dan Kepatuhan KepadaNya”

Allah berfirman : “Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 10).

Orang-orang yang beriman pasti percaya bahwa keberadaan kita semua di muka bumi, telah dijamin Allah SWT akan sumber penghidupan kita. Setiap makhluk yang Allah SWT ciptakan, akan dijamin rizqinya siapapun dan betapapun rendah derajat makhluk tersebut. Tidak ada satupun yang lolos dari jaminan Allah SWT. Oleh karena itu atas apa saja yang ada pada kita, dan atas apa saja yang kita miliki berapapun jumlahnya maka sikap dan mindset kita adalah “hadzaa min fadhli robbii”. Bahwa semua ini adalah atas karunia Tuhanku.

Begitulah Allah SWT mengajarkan kepada kita melalui Nabi Sulaiman As atas pernyataaannya yang sangat fenomenal itu, yakni “hadzaa min fadhli robbii”. Orang beriman yang ulil albab dan akal sehatnya masih berjalan akan senantiasa berada pada kondisi senantiasa berpikir dan atau memikirkan ciptaanNya baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan atau berbaring. Akal orang yang ulil albab itu pikirannya dituntun oleh Allah SWT, sehingga ketika melihat semua fakta nyata yang ada di sekelilingnya, dia akan mengatakan “Rabbanaa maa kholaqta hadzaa bathila”.

Orang yang ulil albab ketika melihat fakta nyata semua yang ada di sekelilingnya baik itu yang bermanfaat atau tidak terhadap kepentingan kita maka akal pikirannya akan sampai pada kesimpulan bahwa “tidak ada satupun yang sia-sia atas semua ciptaan Allah tersebut”.

Orang yang berpredikat ulil albab akan mampu menangkap setiap gerak desah dan resah yang ada di sejelilingnya. Mereka tahu bahwa saudaranya masih banyak yang papa dan dalam kondisi miskin. Juga masih banyak pula yang dalam kondisi kurang dapat menikmati fasilitas kesehatan, pendidikan dan sebagainya, yang kesemuanya itu membutuhkan perhatian, rasa empati dan lebih dari itu tentu sikap laku untuk suka berbagi dari kita semua.

Bukankah salah satu syarat seseorang disebut beriman itu dia harus menegakkan sikap laku suka bersedekah dan menolong sesama. Begitu pula ketika seseorang disebut bertaqwa kepada Allah SWT maka salah satu syaratnya adalah berzakat dan suka berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Melaksanakan syarat dan atau syari’at tersebut maka Allah SWT telah jamin dan siapkan sumber-eumber penghidupan baki kuta manusia.

Dengan mindset: hadzaa min fadhli robbii maka semestinya kita semuanya menjadi orang yang entengan (ringan tangan), menjadi orang-orang yang peduli dan suka berbagi terhadap saudaranya terutama kepada yang lemah.

Maka marilah kita lihat dan perhatikan bagaimana makhluk Allah yang derajatnya lebih rendah dari manusia, yaitu air dan udara. Air akan senantiasa mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah. Air akan mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Begitu juga udara, akan otomatis bergerak dari tekanan udara yang tinggi ke tekanan udara yang rendah. Atas kepatuhan dan ketaatan udara terhadap sunnatullah atau ketentuan Allah maka dari udara akan terjadi angin. Angin yang bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan manusia serta makhluk hidup lain di muka bumi ini.

Dari kedua makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia, semestinya kita bisa mengambil ibrah bagaimana ketaatan dan kepatuhan yang sempurna terhadap ketentuan Allah, dimana udara dan air akan otomatis mengalir dari tekanan yang tinggi menuju ke tekanan yang rendah. Mengalir dari yang kuat kepada yang lemah.

Bahwa tidak satupun manusia di muka bumi yang Allah SWT karuniakan kemampuan finansial dan ekonomi itu sama persis. Begitu juga kemampuan dan kekuatan fisik serta kekuatan akal pikiran. Kondisi ini semestinya juga melahirkan otomatisasi mengalirnya kekuatan ekonomi dan finansial dari yang kuat kepada yang lemah, mengalirnya manfaat kecerdasan dan kemampuan fisik dari yang kuat kepada yang lemah. Itu semua akan bisa terjadi jika kita semua memiliki ketaatan dan kepatuhan yang sempurna kepadaNya.

Ketika otomatisasi kondisi tersebut berjalan, insyaa Allah tidak akan terjadi saudara kita yang terpaksa kelaparan atau lemah tak berdaya. Mestinya tidak terjadi kondisi sangat miskin, sangat bodoh dan sangat lemah menimpa saudara kita. Maka sudah sepantasnya yang kuat secara ekonomi dan finan-sial tidak hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Tidak hanya menjadikan diri dan kelompoknya kaya raya namun tidak peduli dengan sesama yang menderita. Mari kita berjihad dengan harta sebagai tanda syukur atas nikmat dan bentuk kepatuhan terhadap perintahNya. Wallahu a’lam.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jawa Timur.

Joko Intarto : “Tantangan Lazismu di Era Industri 4.0”

Kabar ini mungkin tidak penting bagi Anda. Tapi teramat penting bagi mereka. Yang bekerja di Lazismu. Sebagai pengurus. Maupun sebagai eksekutif. Dari kantor Aceh hingga Papua. Juga kantor perwakilan manca negara.

Selembar kertas itu intinya hanya beberapa kalimat: Lazismu mendapat akreditasi A dan dinyatakan telah sesuai syariah. Dengan nilai akreditasi: 91,91 dan kepatuhan syariah: 93,39. Penerbitnya: Kementerian Agama.

Inilah untuk kali pertama, dalam 15 tahun perjalanannya, Lazismu telah mendapat akreditasi dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Dengan nilai langsung A. Akreditasi itu meneguhkan predikat WTP (Wajar Tanpa Perkecualian) yang diperoleh Lazismu. Dari Kantor Akuntan Publik, tahun lalu.

Keberhasilan Lazismu dalam meraih dua predikat itu mengindikasikan banyak hal. Setidaknya ada empat. Pertama, Lazismu adalah lembaga keuangan yang semakin profesional pengelolaannya. Hasil dari lembaga auditor internal Muhammadiyah dinilai belum cukup. Harus menggunakan kantor akuntan publik.

Kedua, Lazismu adalah lembaga syariah yang tunduk pada prinsip-prinsip syariah. Khususnya dalam pengumpulan dan penyaluran dana zakat, infak, sedekah dan wakaf.

Ketiga, Lazismu akan semakin mudah dalam memperoleh mitra. Karena akreditasi dan status WTP-nya itu. Berarti di masa depan, Lazismu akan semakin berkembang. Semakin kreatif. Semakin banyak program program baru.

Keempat, prestasi ini menuntut Lazismu membangun sistem pendidikan dan pelatihan SDM amil. Karena prestasi itu harus dipertahankan. Terus-menerus. Tidak boleh lepas. Padahal memberlakukan standarisasi amil di semua tingkatan itu tidak mudah. Apalagi dengan ribuan amil di 700 kantor. Butuh terobosan yang revolusioner.

Kelima, Lazismu dihadapkan pada tantangan baru: lembaga amil pada era revolusi industry 4.0. Era industri yang serba digital dan mengandalkan internet. Pada era revolusi industri 4.0, banyak lembaga yang kantornya tersebar di Indonesia tidak berdaya oleh serbuan aplikasi crowdfunding yang hanya punya satu kantor bernama server.

(Joko Intarto, Anggota Badan Pengurus Lazismu Pusat).

Drh. Zainul Muslimin : “Menjadi Pelopor, Leader Yang Berkarakter Trend Setter, Bukan Follower”

Anak “Jaman Now” tentu tidak mengenal Mak Wok, bintang tenar tiga jaman yang pernah menghiasi blantika perfileman nasional antara tahun 50 hingga 80-an. Mungkin ada yang masih ingat peran yang dimainkan oleh Mak Wok. Ia sering berperan sebagai seoarang ibu atau pembantu latah, yang terkenal dengan celetukannya “E Cenot-cenot.. Meong”.

Menariknya, karena ternyata bukan hanya Mak Wok yang suka latah. Sebagai orang yang sebenarnya tidak latah, ternyata kita juga suka bermain dan berperan sebagai orang yang latah. Kita bisa larut terhadap kehebatan orang-orang yang bisa membius dengan kehebatannya, lalu membuat “Trending Topic” yang kadang lupa dengan hal-hal besar yang seharusnya lebih utama dilakukan.

Ada hal-hal yang menjadi perhatian lebih serius dan fokus adalah tentang alat, tentang sarana dan prasarana yang semakin hebat seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Tentu dan semestinya akan diiringi oleh output yang semakin hebat. Alat sehebat apapun sesungguhnya tidak perlu menyita perhatian dengan perdebatan panjang, apalagi pemakaian alat serta sarana dan prasarana yang hebat itu tentu tinggal diaplikasikan dan manfaatkan agar bisa segera memberi dampak hasil yang dahsyat.

Bismillah. Tentu kita tidak berharap bahwa kita lebih sibuk dengan alat yang canggih serta sarana dan prasarana yang hebat, tetapi tidak ada hasil output dan ataupun outcome dahsyat yang bisa kita persembahkan. Sebagai contoh konkrit dari Yang Maha Hebat, yaitu dipilihkanNya teladan terhebat di muka bumi, seorang manusia yang ummi dan bukan siapa-siapa. Karena Dia yang memilihnya, kemudian diberi alat, sarana dan prasarana (software) yang hebat, yang pasti benar yaitu al-Qur’an.

Maka beliau, Rasulullah Muhammad Saw muncul menjadi satu-satunya manusia teladan terhebat di muka bumi. Karena beliau telah dimampunyakanNya mengejewantahkannya dalam aksi prestasi dan keteladanan nyata. Beliau menjadi.the man of action, bahkan menjadi role of model. Menjadi figur panutan keteladanan seluruh umat manusia di muka bumi.

Sebagai pelopor gerakan pembaharuan maka sudah semestinya kita produktif untuk senantiasa bisa menciptakan dan membangun “Trending Topic” yang baik sebagai panutan keteladanan. Sebagai pelopor, sebagai leader sudah selayaknya pula menjadi figur yang berkarakter sebagai “Trend setter” bukan malah menjadi “Follower”.

Sang pilihanNya itu telah membuktikan hasil karya nyata, prestasi spektakuler yaitu dakwah yang sangat revolusioner bagi kehidupan manusia, membawa risalah Islam sebagai pedoman bagi umat manusia. Insan pilihanNya itu telah mempersatukan umat manusia dalam satu keyakinan yang kokoh dan menjadikan kekuatan pendobrak dunia.

Semuanya itu tentu membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki nyali sekaligus punya visi, berani mengambil sikap laku yang telah berproses dalam memilih dan memilah, sekaligus mengantisipasi resiko yang timbul dan akan menyertai.

Itulah teladan yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Dengan Visi dan Nyali beliau yang besar mampu menghantarkan sekaligus mengejawantahkan Islam sebagai agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Teladan itulah yang seharusnya kita contoh dan praktekkan secara nyata dalam kehidupan kita di segala bidang, karena visi dan nyali yang besar itu tidak sekedar butuh diucapkan namun juga diamalkan secara.

Sekali lagi agar kita semua dan seluruh anak bangsa ini mampu menjadi pelopor pembaharuan guna menuju “INDONESIA yang BERKEMAJUAN”. Menuju bangsa yang lebih bermartabat haruslah senantiasa menumbuhkan “Visi dan Nyali” yang besar. Semuanya butuh referensi yang betul-betul bisa membangun visi yang sangat visioner dan tidak terbatas ruang lingkup duniawi, tapi menembus hingga ukhrawi, dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Tetap semangat, Bismillah.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Wilayah Jawa Timur

Budi Suryanto : “DNA Entrepreneur”

 

Saya akan awali dengan kisah tentang Icarus Dilemma. Icarus adalah seorang anak yang bersama ayahnya, dijebak oleh rajanya sendiri. Raja ini ingin menantang bukti kepintaran sang ayah dari Icarus. Raja menempatkan ayah dan anak ini ke dalam labirin yang dia buat sendiri, yang tidak ada jalan keluarnya. Mereka berdua sudah berulang kali mencari jalan keluar dari labirin tersebut, tetapi mereka tidak menemukan juga jalan keluar itu.

Kemudian, ayah dari Icarus punya ide: mereka akan membuat sayap yang dapat digunakan oleh Icarus untuk terbang meninggalkan labirin, agar berhasil lolos dari teka-teki maut sang raja. Sayap tersebut berhasil dibuat, lalu digunakan oleh Icarus sendiri. Pesan dari ayahnya adalah, jangan terbang terlalu tinggi karena bila terlalu dekat dengan matahari, maka kekuatan lem akan menurun dan sayap tersebut bisa lepas. Kalau benar-benar terjadi, maka Icarus bisa jatuh dan mungkin meninggal dunia.

Pada akhirnya, Icarus berhasil terbang meninggalkan labirin teka-teki tersebut, tapi dia akhirnya meninggal dunia karena jatuh. Sebabnya adalah, dia terbang terlalu tinggi.

Dari kisah ini,ada beberapa hikmah yang kita ambil dan sesungguhnya juga banyak dialami oleh kita semua. Kita ingin meninggalkan zona yang sekarang kita tinggali & jalani, tetapi kita terlalu takut mengambil risiko. Bahwa ada kemungkinan hal-hal buruk atau pun tidak sesuai yang kita harapkan akan terjadi, manakala kita berani mengambil risiko tersebut. Meski baru sebatas kemungkinan, tetapi kondisi ini sudah menciptakan ketakutan sendiri dan membuat kita tidak berani memilih dan mengambil keputusan itu.

Sebagai contoh meninggalkan pekerjaan tetap sebagai pegawai kantor, lalu berpindah kuadran menjadi Entrepreneur memang penuh risiko. Ada kemungkinan yang baik bahwa keberhasilan akan mendatangkan kekayaan, yang lebih besar daripada sekedar bekerja di perusahaan milik orang lain. Tetapi, ada kemungkinan juga bahwa bisnis akan mengalami kegagalan, terjebak pada hutang, serta kesulitan membiayai kehidupan rumah tangga: makan sehari-hari, kesehatan, pendidikan anak, dan lain sebagainya.

Sekarang pertanyannya – Apakahseorang entrepreneur adalah seorang yang terlahir mempunyai genetik / DNA seorang Entrepreneur ? atau ada pada etnis tertentu ?

Entrepreneur adalah satu pola pikir bukan profesi dimana menjadi entrepreneur berarti membuat ‘satu’ dari ‘nol’ atau dengan kata lain, menciptakan sesuatu yang baru atau menambahkan dari yang sudah adamenjadisesuatu yang mempunyai value edit. Dan ini, bukan bidang yang biasa dikelola oleh kelompok yang bergelut dengan rutinitas. Siapapun, termasuk mahasiswa, harus memulai pelajarannya sendiri untuk ‘meningkatkan nilai dari yang sudah ada’, atau membuat menjadi ‘ada’ sesuatu yang tadinya ‘tidak ada’.

Menjadi Entrepreneur berarti memilih untuk harus berani memilih. Risiko memang ada, tetapi risiko belum menjadi kenyataan sampai risiko itu akhirnya benar-benar terjadi. Di balik itu semua, ada secercah cahaya harapan di tengah-tengah amukan badai, bahwa dengan menjadi Entrepreneur berarti bisa mendapatkan banyak hal.

Ada tips untukmenjadi Entrepreneur – BEDO and HAVE (Menjadi, Melakukan dan Mempunyai) Kebanyakan dari kita hanya ingin instan saja untuk langsung memiliki suatu kekayaan atau kesuksesan (HAVE) tidak mau berproses dari seseorang yang mempunyai BE kemudian DO baru HAVE. Untuk bisa menjadi (BE) berikan suatu nilai tambah terus menerus dari apa yang dikerjakan, harus mempunyai sikap / habit dan disiplin, dan lakukankanlah (DO) dengan menunda kesenangan, lakukan alokasi aset yang benar yang akan menambah nilai aset. Akhir dari semua itu adalah mempunyai (HAVE) dari seluruh hasil yang sudah dikerjakan tadi.

Jadisetiap orang darikitamemilikiDNA Entrepreneur  setiap kita bisa menjadi seorang pengusaha, asal kita bisa mendisplinkan diri pada apa yang bisa kita kerjakan dengan baik dan lakukan tips diatas, sehingga pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang “Excelent” di kemudian hari

Budi SuryantoBusiness Accelerator & Founder Narana Group

drh. Zainul Muslimin : “Bersegeralah Masuk ke Dalam Bahtera Nabi Nuh”

 Sungguh dahsyat banjir bandang yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Dengan bahteranya, Nuh dan umatnya menyelamatkan diri disertai dengan berbagai spesies binatang yang ada di muka bumi ini.

Dari peristiwa tersebut kita bisa banyak mengambil ibrah. Kita bisa banyak belajar serta mengambil hikmah. Sahabat sekalian, bagaimanapun sebagai seorang ayah, Nabi Nuh a.s. tentu sangat menyayangi dan mencintai keluarganya. Bahkan beliau juga sangat mencintai umatnya. Oleh karena itu ketika mendapat perintah dari Allah Subhanahu Wata’ala beliau dengan tunduk, patuh dan taat, semua perintah Allah itu dikerjakannya.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” (QS. Nuh 71: Ayat 1). Kepatuhan dan ketaatan Nabi Nuh kepada Sang Kholiq melahirkan tulus ikhlasnya perjuangan serta kesabaran dalam mengajak sanak keluarga beserta kaumnya kepada perintah Allah, dengan menyampaikan nasehat dan peringatan.

Nasehat dan peringatan yang seringkali tak bisa dilogikakan itu melahirkan penolakan serta perlawanan dari kaumnya bahkan juga keluarganya. Bagaimana bisa dinalar ketika Nabi Nuh a.s. di tempat yang tinggi secara logika tak mungkin sama sekali bisa diterjang banjir. Nabi Nuh justru mempersiapkan pembuatan kapal agau bahtera yang kesemuanya itu dimaksudkan untuk menyelamatkan diri, keluarga serta kaumnya dari malapetaka yang akan menimpa atas petunjuk Allah SWT.

Sahabat semuanya, seringkali juga kita bersikap yang sama terhadap sebuah nasehat dan peringatan yang sama sekali tidak masuk akal. Kita abai bahkan kemungkinan pula kita menganggapnya itu hanya sebagai sebuah lelucon belaka. Bukankah kita semua meyakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah jika Allah telah berkehendak, maka “Kun fayakun”.

Oleh karenanya, Bahtera Nuh ini memberikan pelajaran dan pengajaran kepada kita bahwa semua yang datang dari Allah pasti benar, bahkan selamat dan menyelamatkan. Untuk itu kita dituntut agar ikhlas tunduk, taat dan patuh kepada semua perintah-perintahNya. Sami’na waatha’na.

Siapa yang tidak masuk kapal dan yang tidak ikut masuk ke dalam Bahtera Nuh sungguh kelak akan menyesal meratapi nasibnya karena pembangkangan atas perintah-perintahNya.

Terhadap masalah dan persoalan yang menimpa diri kita, termasuk juga yang menimpa negeri ini, apalagi persoalan itu terasa begitu dahsyat seperti tidak ada jalan keluarnya maka bersegeralah kita menuju kepada Rabb sekalian alam.

Sandarkan dan mohonkan jalan keluar dari semua persoalan itu hanya kepadaNya, karena sekali lagi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah apapun persoalannya. Segeralah menuju Al Quran dan as-Sunah agar kita segera mendapatkan resep paling jitu dan jalan keluar dari berbagai macam persoalan. Segeralah menuju kepada ketundukan, ketaatan dan kepatuhan atas perintah-perintahNya karena itu akan meneguhkan kita semua kepada jalan selamat dan keselamatan yang penuh dengan kenikmatan abadi.

Bersegeralah menuju Bahtera Nuh, segeralah tinggalkan keangkuhan dan kesombongan agar kita tidak ditenggelamkan oleh dahsyatnya azab dariNya. Agar kita tidak meratapi diri dengan penuh penyesalan di kemudian hari atas sikap dan perbuatan kita.

Termasuk mentaati perintah Allah SWT untuk tetap berada dalam garis ketauhidan dan tidak sedikit pun ternoda kesyirikan, beristiqomah dalam beribadah, melaksanakan puasa sesuai tuntunan Rasulullah s.a.w., berzakat, bersedekah dan gemar menolong kepada sesama.

Bersegeralah jika perintah-perintah itu belum terlaksana, lalu tingkatkanlah jika sudah terlaksana. Agar kita tidak tenggelam dalam kesombongan dan keangkuhan sikap kita dan agar kita tidak ditenggelamkan oleh siksa dan azab dari Allah yang sangat pedih. Wallahu a’lam. Bismillah, insya Allah kita bisa !

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Jawa Timur