Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Monday , 25 March 2019
Breaking News
You are here: Home » Inspirasi

Category Archives: Inspirasi

drh. Zainul Muslimin : “Berjihad Dengan Harta adalah Tanda Syukur Nikmat dan Kepatuhan KepadaNya”

Allah berfirman : “Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 10).

Orang-orang yang beriman pasti percaya bahwa keberadaan kita semua di muka bumi, telah dijamin Allah SWT akan sumber penghidupan kita. Setiap makhluk yang Allah SWT ciptakan, akan dijamin rizqinya siapapun dan betapapun rendah derajat makhluk tersebut. Tidak ada satupun yang lolos dari jaminan Allah SWT. Oleh karena itu atas apa saja yang ada pada kita, dan atas apa saja yang kita miliki berapapun jumlahnya maka sikap dan mindset kita adalah “hadzaa min fadhli robbii”. Bahwa semua ini adalah atas karunia Tuhanku.

Begitulah Allah SWT mengajarkan kepada kita melalui Nabi Sulaiman As atas pernyataaannya yang sangat fenomenal itu, yakni “hadzaa min fadhli robbii”. Orang beriman yang ulil albab dan akal sehatnya masih berjalan akan senantiasa berada pada kondisi senantiasa berpikir dan atau memikirkan ciptaanNya baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan atau berbaring. Akal orang yang ulil albab itu pikirannya dituntun oleh Allah SWT, sehingga ketika melihat semua fakta nyata yang ada di sekelilingnya, dia akan mengatakan “Rabbanaa maa kholaqta hadzaa bathila”.

Orang yang ulil albab ketika melihat fakta nyata semua yang ada di sekelilingnya baik itu yang bermanfaat atau tidak terhadap kepentingan kita maka akal pikirannya akan sampai pada kesimpulan bahwa “tidak ada satupun yang sia-sia atas semua ciptaan Allah tersebut”.

Orang yang berpredikat ulil albab akan mampu menangkap setiap gerak desah dan resah yang ada di sejelilingnya. Mereka tahu bahwa saudaranya masih banyak yang papa dan dalam kondisi miskin. Juga masih banyak pula yang dalam kondisi kurang dapat menikmati fasilitas kesehatan, pendidikan dan sebagainya, yang kesemuanya itu membutuhkan perhatian, rasa empati dan lebih dari itu tentu sikap laku untuk suka berbagi dari kita semua.

Bukankah salah satu syarat seseorang disebut beriman itu dia harus menegakkan sikap laku suka bersedekah dan menolong sesama. Begitu pula ketika seseorang disebut bertaqwa kepada Allah SWT maka salah satu syaratnya adalah berzakat dan suka berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Melaksanakan syarat dan atau syari’at tersebut maka Allah SWT telah jamin dan siapkan sumber-eumber penghidupan baki kuta manusia.

Dengan mindset: hadzaa min fadhli robbii maka semestinya kita semuanya menjadi orang yang entengan (ringan tangan), menjadi orang-orang yang peduli dan suka berbagi terhadap saudaranya terutama kepada yang lemah.

Maka marilah kita lihat dan perhatikan bagaimana makhluk Allah yang derajatnya lebih rendah dari manusia, yaitu air dan udara. Air akan senantiasa mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah. Air akan mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Begitu juga udara, akan otomatis bergerak dari tekanan udara yang tinggi ke tekanan udara yang rendah. Atas kepatuhan dan ketaatan udara terhadap sunnatullah atau ketentuan Allah maka dari udara akan terjadi angin. Angin yang bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan manusia serta makhluk hidup lain di muka bumi ini.

Dari kedua makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia, semestinya kita bisa mengambil ibrah bagaimana ketaatan dan kepatuhan yang sempurna terhadap ketentuan Allah, dimana udara dan air akan otomatis mengalir dari tekanan yang tinggi menuju ke tekanan yang rendah. Mengalir dari yang kuat kepada yang lemah.

Bahwa tidak satupun manusia di muka bumi yang Allah SWT karuniakan kemampuan finansial dan ekonomi itu sama persis. Begitu juga kemampuan dan kekuatan fisik serta kekuatan akal pikiran. Kondisi ini semestinya juga melahirkan otomatisasi mengalirnya kekuatan ekonomi dan finansial dari yang kuat kepada yang lemah, mengalirnya manfaat kecerdasan dan kemampuan fisik dari yang kuat kepada yang lemah. Itu semua akan bisa terjadi jika kita semua memiliki ketaatan dan kepatuhan yang sempurna kepadaNya.

Ketika otomatisasi kondisi tersebut berjalan, insyaa Allah tidak akan terjadi saudara kita yang terpaksa kelaparan atau lemah tak berdaya. Mestinya tidak terjadi kondisi sangat miskin, sangat bodoh dan sangat lemah menimpa saudara kita. Maka sudah sepantasnya yang kuat secara ekonomi dan finan-sial tidak hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Tidak hanya menjadikan diri dan kelompoknya kaya raya namun tidak peduli dengan sesama yang menderita. Mari kita berjihad dengan harta sebagai tanda syukur atas nikmat dan bentuk kepatuhan terhadap perintahNya. Wallahu a’lam.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jawa Timur.

Joko Intarto : “Tantangan Lazismu di Era Industri 4.0”

Kabar ini mungkin tidak penting bagi Anda. Tapi teramat penting bagi mereka. Yang bekerja di Lazismu. Sebagai pengurus. Maupun sebagai eksekutif. Dari kantor Aceh hingga Papua. Juga kantor perwakilan manca negara.

Selembar kertas itu intinya hanya beberapa kalimat: Lazismu mendapat akreditasi A dan dinyatakan telah sesuai syariah. Dengan nilai akreditasi: 91,91 dan kepatuhan syariah: 93,39. Penerbitnya: Kementerian Agama.

Inilah untuk kali pertama, dalam 15 tahun perjalanannya, Lazismu telah mendapat akreditasi dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Dengan nilai langsung A. Akreditasi itu meneguhkan predikat WTP (Wajar Tanpa Perkecualian) yang diperoleh Lazismu. Dari Kantor Akuntan Publik, tahun lalu.

Keberhasilan Lazismu dalam meraih dua predikat itu mengindikasikan banyak hal. Setidaknya ada empat. Pertama, Lazismu adalah lembaga keuangan yang semakin profesional pengelolaannya. Hasil dari lembaga auditor internal Muhammadiyah dinilai belum cukup. Harus menggunakan kantor akuntan publik.

Kedua, Lazismu adalah lembaga syariah yang tunduk pada prinsip-prinsip syariah. Khususnya dalam pengumpulan dan penyaluran dana zakat, infak, sedekah dan wakaf.

Ketiga, Lazismu akan semakin mudah dalam memperoleh mitra. Karena akreditasi dan status WTP-nya itu. Berarti di masa depan, Lazismu akan semakin berkembang. Semakin kreatif. Semakin banyak program program baru.

Keempat, prestasi ini menuntut Lazismu membangun sistem pendidikan dan pelatihan SDM amil. Karena prestasi itu harus dipertahankan. Terus-menerus. Tidak boleh lepas. Padahal memberlakukan standarisasi amil di semua tingkatan itu tidak mudah. Apalagi dengan ribuan amil di 700 kantor. Butuh terobosan yang revolusioner.

Kelima, Lazismu dihadapkan pada tantangan baru: lembaga amil pada era revolusi industry 4.0. Era industri yang serba digital dan mengandalkan internet. Pada era revolusi industri 4.0, banyak lembaga yang kantornya tersebar di Indonesia tidak berdaya oleh serbuan aplikasi crowdfunding yang hanya punya satu kantor bernama server.

(Joko Intarto, Anggota Badan Pengurus Lazismu Pusat).

Drh. Zainul Muslimin : “Menjadi Pelopor, Leader Yang Berkarakter Trend Setter, Bukan Follower”

Anak “Jaman Now” tentu tidak mengenal Mak Wok, bintang tenar tiga jaman yang pernah menghiasi blantika perfileman nasional antara tahun 50 hingga 80-an. Mungkin ada yang masih ingat peran yang dimainkan oleh Mak Wok. Ia sering berperan sebagai seoarang ibu atau pembantu latah, yang terkenal dengan celetukannya “E Cenot-cenot.. Meong”.

Menariknya, karena ternyata bukan hanya Mak Wok yang suka latah. Sebagai orang yang sebenarnya tidak latah, ternyata kita juga suka bermain dan berperan sebagai orang yang latah. Kita bisa larut terhadap kehebatan orang-orang yang bisa membius dengan kehebatannya, lalu membuat “Trending Topic” yang kadang lupa dengan hal-hal besar yang seharusnya lebih utama dilakukan.

Ada hal-hal yang menjadi perhatian lebih serius dan fokus adalah tentang alat, tentang sarana dan prasarana yang semakin hebat seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Tentu dan semestinya akan diiringi oleh output yang semakin hebat. Alat sehebat apapun sesungguhnya tidak perlu menyita perhatian dengan perdebatan panjang, apalagi pemakaian alat serta sarana dan prasarana yang hebat itu tentu tinggal diaplikasikan dan manfaatkan agar bisa segera memberi dampak hasil yang dahsyat.

Bismillah. Tentu kita tidak berharap bahwa kita lebih sibuk dengan alat yang canggih serta sarana dan prasarana yang hebat, tetapi tidak ada hasil output dan ataupun outcome dahsyat yang bisa kita persembahkan. Sebagai contoh konkrit dari Yang Maha Hebat, yaitu dipilihkanNya teladan terhebat di muka bumi, seorang manusia yang ummi dan bukan siapa-siapa. Karena Dia yang memilihnya, kemudian diberi alat, sarana dan prasarana (software) yang hebat, yang pasti benar yaitu al-Qur’an.

Maka beliau, Rasulullah Muhammad Saw muncul menjadi satu-satunya manusia teladan terhebat di muka bumi. Karena beliau telah dimampunyakanNya mengejewantahkannya dalam aksi prestasi dan keteladanan nyata. Beliau menjadi.the man of action, bahkan menjadi role of model. Menjadi figur panutan keteladanan seluruh umat manusia di muka bumi.

Sebagai pelopor gerakan pembaharuan maka sudah semestinya kita produktif untuk senantiasa bisa menciptakan dan membangun “Trending Topic” yang baik sebagai panutan keteladanan. Sebagai pelopor, sebagai leader sudah selayaknya pula menjadi figur yang berkarakter sebagai “Trend setter” bukan malah menjadi “Follower”.

Sang pilihanNya itu telah membuktikan hasil karya nyata, prestasi spektakuler yaitu dakwah yang sangat revolusioner bagi kehidupan manusia, membawa risalah Islam sebagai pedoman bagi umat manusia. Insan pilihanNya itu telah mempersatukan umat manusia dalam satu keyakinan yang kokoh dan menjadikan kekuatan pendobrak dunia.

Semuanya itu tentu membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki nyali sekaligus punya visi, berani mengambil sikap laku yang telah berproses dalam memilih dan memilah, sekaligus mengantisipasi resiko yang timbul dan akan menyertai.

Itulah teladan yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Dengan Visi dan Nyali beliau yang besar mampu menghantarkan sekaligus mengejawantahkan Islam sebagai agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Teladan itulah yang seharusnya kita contoh dan praktekkan secara nyata dalam kehidupan kita di segala bidang, karena visi dan nyali yang besar itu tidak sekedar butuh diucapkan namun juga diamalkan secara.

Sekali lagi agar kita semua dan seluruh anak bangsa ini mampu menjadi pelopor pembaharuan guna menuju “INDONESIA yang BERKEMAJUAN”. Menuju bangsa yang lebih bermartabat haruslah senantiasa menumbuhkan “Visi dan Nyali” yang besar. Semuanya butuh referensi yang betul-betul bisa membangun visi yang sangat visioner dan tidak terbatas ruang lingkup duniawi, tapi menembus hingga ukhrawi, dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Tetap semangat, Bismillah.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Wilayah Jawa Timur

Budi Suryanto : “DNA Entrepreneur”

 

Saya akan awali dengan kisah tentang Icarus Dilemma. Icarus adalah seorang anak yang bersama ayahnya, dijebak oleh rajanya sendiri. Raja ini ingin menantang bukti kepintaran sang ayah dari Icarus. Raja menempatkan ayah dan anak ini ke dalam labirin yang dia buat sendiri, yang tidak ada jalan keluarnya. Mereka berdua sudah berulang kali mencari jalan keluar dari labirin tersebut, tetapi mereka tidak menemukan juga jalan keluar itu.

Kemudian, ayah dari Icarus punya ide: mereka akan membuat sayap yang dapat digunakan oleh Icarus untuk terbang meninggalkan labirin, agar berhasil lolos dari teka-teki maut sang raja. Sayap tersebut berhasil dibuat, lalu digunakan oleh Icarus sendiri. Pesan dari ayahnya adalah, jangan terbang terlalu tinggi karena bila terlalu dekat dengan matahari, maka kekuatan lem akan menurun dan sayap tersebut bisa lepas. Kalau benar-benar terjadi, maka Icarus bisa jatuh dan mungkin meninggal dunia.

Pada akhirnya, Icarus berhasil terbang meninggalkan labirin teka-teki tersebut, tapi dia akhirnya meninggal dunia karena jatuh. Sebabnya adalah, dia terbang terlalu tinggi.

Dari kisah ini,ada beberapa hikmah yang kita ambil dan sesungguhnya juga banyak dialami oleh kita semua. Kita ingin meninggalkan zona yang sekarang kita tinggali & jalani, tetapi kita terlalu takut mengambil risiko. Bahwa ada kemungkinan hal-hal buruk atau pun tidak sesuai yang kita harapkan akan terjadi, manakala kita berani mengambil risiko tersebut. Meski baru sebatas kemungkinan, tetapi kondisi ini sudah menciptakan ketakutan sendiri dan membuat kita tidak berani memilih dan mengambil keputusan itu.

Sebagai contoh meninggalkan pekerjaan tetap sebagai pegawai kantor, lalu berpindah kuadran menjadi Entrepreneur memang penuh risiko. Ada kemungkinan yang baik bahwa keberhasilan akan mendatangkan kekayaan, yang lebih besar daripada sekedar bekerja di perusahaan milik orang lain. Tetapi, ada kemungkinan juga bahwa bisnis akan mengalami kegagalan, terjebak pada hutang, serta kesulitan membiayai kehidupan rumah tangga: makan sehari-hari, kesehatan, pendidikan anak, dan lain sebagainya.

Sekarang pertanyannya – Apakahseorang entrepreneur adalah seorang yang terlahir mempunyai genetik / DNA seorang Entrepreneur ? atau ada pada etnis tertentu ?

Entrepreneur adalah satu pola pikir bukan profesi dimana menjadi entrepreneur berarti membuat ‘satu’ dari ‘nol’ atau dengan kata lain, menciptakan sesuatu yang baru atau menambahkan dari yang sudah adamenjadisesuatu yang mempunyai value edit. Dan ini, bukan bidang yang biasa dikelola oleh kelompok yang bergelut dengan rutinitas. Siapapun, termasuk mahasiswa, harus memulai pelajarannya sendiri untuk ‘meningkatkan nilai dari yang sudah ada’, atau membuat menjadi ‘ada’ sesuatu yang tadinya ‘tidak ada’.

Menjadi Entrepreneur berarti memilih untuk harus berani memilih. Risiko memang ada, tetapi risiko belum menjadi kenyataan sampai risiko itu akhirnya benar-benar terjadi. Di balik itu semua, ada secercah cahaya harapan di tengah-tengah amukan badai, bahwa dengan menjadi Entrepreneur berarti bisa mendapatkan banyak hal.

Ada tips untukmenjadi Entrepreneur – BEDO and HAVE (Menjadi, Melakukan dan Mempunyai) Kebanyakan dari kita hanya ingin instan saja untuk langsung memiliki suatu kekayaan atau kesuksesan (HAVE) tidak mau berproses dari seseorang yang mempunyai BE kemudian DO baru HAVE. Untuk bisa menjadi (BE) berikan suatu nilai tambah terus menerus dari apa yang dikerjakan, harus mempunyai sikap / habit dan disiplin, dan lakukankanlah (DO) dengan menunda kesenangan, lakukan alokasi aset yang benar yang akan menambah nilai aset. Akhir dari semua itu adalah mempunyai (HAVE) dari seluruh hasil yang sudah dikerjakan tadi.

Jadisetiap orang darikitamemilikiDNA Entrepreneur  setiap kita bisa menjadi seorang pengusaha, asal kita bisa mendisplinkan diri pada apa yang bisa kita kerjakan dengan baik dan lakukan tips diatas, sehingga pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang “Excelent” di kemudian hari

Budi SuryantoBusiness Accelerator & Founder Narana Group

drh. Zainul Muslimin : “Bersegeralah Masuk ke Dalam Bahtera Nabi Nuh”

 Sungguh dahsyat banjir bandang yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Dengan bahteranya, Nuh dan umatnya menyelamatkan diri disertai dengan berbagai spesies binatang yang ada di muka bumi ini.

Dari peristiwa tersebut kita bisa banyak mengambil ibrah. Kita bisa banyak belajar serta mengambil hikmah. Sahabat sekalian, bagaimanapun sebagai seorang ayah, Nabi Nuh a.s. tentu sangat menyayangi dan mencintai keluarganya. Bahkan beliau juga sangat mencintai umatnya. Oleh karena itu ketika mendapat perintah dari Allah Subhanahu Wata’ala beliau dengan tunduk, patuh dan taat, semua perintah Allah itu dikerjakannya.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” (QS. Nuh 71: Ayat 1). Kepatuhan dan ketaatan Nabi Nuh kepada Sang Kholiq melahirkan tulus ikhlasnya perjuangan serta kesabaran dalam mengajak sanak keluarga beserta kaumnya kepada perintah Allah, dengan menyampaikan nasehat dan peringatan.

Nasehat dan peringatan yang seringkali tak bisa dilogikakan itu melahirkan penolakan serta perlawanan dari kaumnya bahkan juga keluarganya. Bagaimana bisa dinalar ketika Nabi Nuh a.s. di tempat yang tinggi secara logika tak mungkin sama sekali bisa diterjang banjir. Nabi Nuh justru mempersiapkan pembuatan kapal agau bahtera yang kesemuanya itu dimaksudkan untuk menyelamatkan diri, keluarga serta kaumnya dari malapetaka yang akan menimpa atas petunjuk Allah SWT.

Sahabat semuanya, seringkali juga kita bersikap yang sama terhadap sebuah nasehat dan peringatan yang sama sekali tidak masuk akal. Kita abai bahkan kemungkinan pula kita menganggapnya itu hanya sebagai sebuah lelucon belaka. Bukankah kita semua meyakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah jika Allah telah berkehendak, maka “Kun fayakun”.

Oleh karenanya, Bahtera Nuh ini memberikan pelajaran dan pengajaran kepada kita bahwa semua yang datang dari Allah pasti benar, bahkan selamat dan menyelamatkan. Untuk itu kita dituntut agar ikhlas tunduk, taat dan patuh kepada semua perintah-perintahNya. Sami’na waatha’na.

Siapa yang tidak masuk kapal dan yang tidak ikut masuk ke dalam Bahtera Nuh sungguh kelak akan menyesal meratapi nasibnya karena pembangkangan atas perintah-perintahNya.

Terhadap masalah dan persoalan yang menimpa diri kita, termasuk juga yang menimpa negeri ini, apalagi persoalan itu terasa begitu dahsyat seperti tidak ada jalan keluarnya maka bersegeralah kita menuju kepada Rabb sekalian alam.

Sandarkan dan mohonkan jalan keluar dari semua persoalan itu hanya kepadaNya, karena sekali lagi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah apapun persoalannya. Segeralah menuju Al Quran dan as-Sunah agar kita segera mendapatkan resep paling jitu dan jalan keluar dari berbagai macam persoalan. Segeralah menuju kepada ketundukan, ketaatan dan kepatuhan atas perintah-perintahNya karena itu akan meneguhkan kita semua kepada jalan selamat dan keselamatan yang penuh dengan kenikmatan abadi.

Bersegeralah menuju Bahtera Nuh, segeralah tinggalkan keangkuhan dan kesombongan agar kita tidak ditenggelamkan oleh dahsyatnya azab dariNya. Agar kita tidak meratapi diri dengan penuh penyesalan di kemudian hari atas sikap dan perbuatan kita.

Termasuk mentaati perintah Allah SWT untuk tetap berada dalam garis ketauhidan dan tidak sedikit pun ternoda kesyirikan, beristiqomah dalam beribadah, melaksanakan puasa sesuai tuntunan Rasulullah s.a.w., berzakat, bersedekah dan gemar menolong kepada sesama.

Bersegeralah jika perintah-perintah itu belum terlaksana, lalu tingkatkanlah jika sudah terlaksana. Agar kita tidak tenggelam dalam kesombongan dan keangkuhan sikap kita dan agar kita tidak ditenggelamkan oleh siksa dan azab dari Allah yang sangat pedih. Wallahu a’lam. Bismillah, insya Allah kita bisa !

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Jawa Timur

ZISKA Lifestyle Festival Ajang Mempertemukan Amil se-Indonesia

ZISKA Lifestyle Festival merupakan serangkaian acara perdana yang diselenggarakan oleh LAZISMU Pusat yang diselenggarakan pada Jum’at hingga Minggu, 8-10Desember2018. Perhelatan tersebut merupakan agenda tahunan yang dihadiri oleh pengurus LAZISMU dan Amil dari seluruh Daerah dan Kantor Layanan di Indonesia.

Acara dibuka langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Haidar Nashir, di Loby Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sebelumnya didahului oleh sambutan dari Panitia Lokal, tuan rumah Rektor UMY, dan Hilman Latief, Ph.D, Ketua LAZISMU Pusat.

Hilman Latief selaku Ketua LAZISMU Pusat berharap dengan ZISKA Lifestyle Festival ini mampu membangun LAZISMU yang berkemajuan di masa yang akan datang. Sementara itu Haidar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang berkesempatan untuk memberikan amanat dan membuka acara ZISKA Lifestyle Festival 2018 menyatakan bahwa LAZISMU selama ini berperan aktif menghimpun dana Persyarikatan dan umat yang kemudian dapat meningkatkan koordinasi yang komprehensif dan konsolidasi yang terintegrasi.

LAZISMU merupakan lembaga zakat yang dinamis dalam pergerakan dan distribusinya. Di era ini lembaga ZIS harus mampu menumbuhkan kesadaran ZIS kepada masyarakat dan warga Muhammadiyah yang baru berkembang lebih mudah dibandingkan pada masyarakat yang sudah maju karena masyarakat yang belum maju cenderung konsumtif sehingga hanya ingin diberi.

Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menambahkan bahwa kehadiran LAZISMU untuk menyadarkan umat dan mengimbangi dengan pemikiran yang rasional. LAZISMU diharapkan dapat berperan dalam memberdayakan umat, dhuafa dan kaum muztad’afin.

ZISKA Lifestyle Festival ini terdiri dari beberapa rangkaian acara yaitu Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS), Indonesia Mobil Clinic, Amil Camp, dan LAZISMU Award yang dihelat dalam waktu bersamaan. Agenda pertama yang dilaksanakan setelah
pembukaan yaitu LAZISMU Award sebagai ajang penghargaan yang diberikan kepada LAZISMU yang berprestasi berdasarkan penilaian dalam beberapa nominasi.

Nominator Pertumbuhan Perhimpunan Terbaik adalah LAZISMU Sragen, Banyumas, Gresik, Pekanbaru, yang kemudian dimenangkan oleh LAZISMU Gresik. Nominasi kedua adalah LAZISMU dengan Kreatifitas Penghimpunan Terbaik dengan para nominator yaitu LAZISMU Sragen, Lamongan, dan Gunung Kidul yang kemudian Lamongan terpilih sebagai LAZISMU dengan Kreatifitas Penghimpun Terbaik.

Nominasi ketiga adalah LAZISMU dengan Pendistribusian Terbaik dengan nominator LAZISMU Pare-pare, Lamongan, Surabaya, Pekanbaru. Yang terpilih adalah LAZISMU Pekanbaru. Nominasi Pemberdayaan Ekonomi yaitu LAZISMU Banyumas, Surabaya, Wonosobo, dan Sragen. LAZISMU Banyumas lah yang terpilih sebagai pemenang dengan nominasi pemberdayaan terbaik.

Nominasi kelima adalah LAZISMU dengan laporan tahunan terbaik dengan nominator LAZISMU Sragen, PekanBaru, dan Banyumas yang dimenangkan oleh LAZISMU Banyumas. Sementara itu untuk tingkat wilayah dengan Laporan tahunan terbaik dimenangkan oleh LAZISMU KalimantanBarat. Nominasi terakhir yaitu LAZISMU Terbaik skala Nasional dengan nominator Lamongan, Banyumas, Sragen dan PekanBaru. LAZISMU Sragen terpilih sebagai LAZISMU Terbaik.

Para Nominator yang terpilih sebagai pemenang masing-masing akan mendapatkan dana stimulasi program sebesar Rp.50.000.000,-. Setelah pembukaan dan pemberian penghargaan kepada LAZISMU yang berprestasi dilanjutkan dengan pemberangkatan peserta menuju ke lokasi kegiatan. Peserta dibagi menjadi dua yaitu peserta RAKERNAS dan Amil Camp yang diantar menggunakan tiga bus besar, mobil operasional dan ambulance LAZISMU serta Mobil AUM se-DIY.

Pemberangkatan ke Arena Rakernas dan Amil Camp

Pemberangkatan peserta diiringi oleh Mobil Ambulance sekaligus merupakan salah satu rangkaian acara yaitu Indonesia MobilClinic. Selanjutnya peserta dibawa menuju ke Sambi Resort dan bumi perkemahan di kawasan desa wisata Desa Sambi, Kaliurang, Sleman, DIY.

Peserta amil camp ini membeludak, yang pada awalnya hanya 100 orang peserta membengkak menjadi 160 peserta lebih. Bahkan salah satu peserta datang dari LAZISMU PCIM Mesir. Tidak maumelewatkan moment dan kesempatan tersebut KL LAZISMU Ngagel kota Surabaya memberangkatkan salah satuAmil untuk mengikuti kegiatan Amil Camp. “Amil camp merupakan acara perdanayang diselenggarakan oleh LAZISMU Pusat divisi Sumber daya manusia,” kata Tatang selaku divisi SDM LAZISMU Pusat.

Amil camp diselenggarakan di bumi perkemahan desa Sambi dengan konsep diklat alam. Peserta tidur di tenda yang telah disiapkan oleh panitia yang pada kesempatan tersebut tenda yangditempatiolehpeserta adalah tenda LAZISMU yang baru saja dibeli oleh panitia.

Hari pertama kegiatan di lokasi yang terletak di lereng gunung Merapi ini diguyur hujan yang cukup deras sehingga beberapa tenda kemasukan air. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para peserta Amil Camp. Peserta yang terdiri dari seluruh wilayah di Indonesia ini saling berkenalan dan bertukar informasi maupun pengalaman antar sesama Amil LAZISMU terkait dengan perkembangan, kendala hingga program di daerah masing-masing. Bukan hanya sekedar berkenalan dengan seluruh peserta, peserta amil camp juga mendapatkan beberapa materi yang terkaitdengan Fiqih Zakat, Infaq, dan Shodaqoh hingga strategi fundraising di era millennial dan pelayanan prima.

Materi yang diberikan pada hari kedua. Pada materi pertama tentang pelayanan prima dan strategi fundraising peserta dibagi menjadi dua kelas tergantung peminatan peserta, tidak memaksa. Pada kelas Fundraising di era millenial, Panitia menghadirkan Nur Efendi dari RZ. Materi ini sangat menarik karena para amil dapat bertukar ilmu dengan RZ yang patut dicontoh ataupun dijadikan bahan rujukan untuk kemajuan LAZISMU di era saat ini dan di masa yang akan datang.

RZ sebagai lembaga penghimpun dana zakat menerapkan dan memanfaatkan teknologi serta menyambungkan antara filantropi millenial. Menurut Nur Efendi para millenials filantropi memiliki peran yang sangatbesar dalam kegiatan filantropi karena millenials filantropi merupakan investasi social yang memiliki dampak dan system serta investasi mengembangkan karakter dan kepemimpinan sehingga sebenarnya millenial bukanlah masalah atau pun ancaman akan tetapi justru menjadi tantangan serta potensi besar. Nur Efendi juga menambahi bahwa orang-orang millenial saat ini justru berpikir kontribusi apa yang mampu diberikan bukan hanya nominal serta mudah tersentuh dengan cerita-cerita yang menginspirasi.

Dua hal tersebut harus mampu terbaca oleh para amil sehingga dapat memberikan alasan kepada calon donator mengapa mereka harus berdonasi. Pertanyaan tersebut tentu saja mengarah pada strategi fundraising yang harus diterapkan oleh LAZISMU.

Bukan hanya materi yang mengenyangkan namun menarik, pemateri juga menawarkan solusi dan strategi untuk meroketkan fundraising LAZISMU. Pertama adalah transformation. Transformasi yang ditawarkan adalah dengan penguatan internal dan seberapa mampu merespon internal atau amil-amil di dalamnya. Bagaimana membuat amil merasa happy dan fleksibel tanpa harus berseragam yang seolah menunjukkan identitas.

Kedua adalah startup mode yaitu bagaimana amil lincah, fleksibel, dan inovatif dengan menerapkan digital transformative leadership.

Ketiga membentuk sebuah ekosistem yang dapat mengoptimalkan fisik atau dalam hal ini sumber daya yang ada, adanya people network, adanya channel yang saling terintegrasi, dan adanya teknologi (digitalnetwork). Keempat yaitu mengoptimalkan service / pelayanan.

Hal tersebut juga menjadi koreksi bagi LAZISMU baik di LAZISMU pusat maupun Kantor Layanan. Peserta berharap dengan adanya materi tersebut ke depan LAZISMUmampu mengakomodir dan membuat system yang terintegrasi dan dapat diakses
secara nasional.

Materi yang selanjutnya adalah materi mengenai bagaimana menyusun dan melaksanakan program pendayagunaan zakat yang disampaikan oleh Prof.Sigit. Pada materi ini peserta lebih disadarkan bagaimana menjadi amil yang mendayagunakan.Tugas seorang amil bukan hanya menghimpun dana zakat kemudian mendistribusikan kepada fakir miskin saja.

Lembaga penghimpun zakat semestinya tidak hanya memberi saja akan tetapi, harus mulai memikirkan dan melakukan pemberdayaan ekonomipada para mustahik agar mereka mampu mandiri secara ekonomi sehingga dapat mengentaskan kemiskinan secara perlahan. Karena Amil ZIS adalah bagaimana mensejahterakan masyarakat dan bagaimana meningkatkan keberdayaan umat terutama di ranah ekonomi. Pendapatan dan pendistribusian dibagi untuk mewujudkan dan mengentaskan warga miskin menjadi tidak miskin.Pemateri juga menegaskan tugas seorang Amil yaitu, mengidentifikasi fakir miskin di sekitarnya, membantu dengan berupa pemberian santunan, kemudian mengentaskannya.

Pada materi tersebut pemateri banyak membuka mindset dan cara berpikir para amil. Amil benar-benar ditekankan menjadi amil yang mampu memberdayakan umat. Pendistribusian zakat tidak sebatas memberi pada fakir miskin saja setelah itu tuntas tugasnya akan tetapi, bagaimana keberlanjutannya. Perubahan dapat berupa evolusi maupun revolusi. Perubahan untuk program pemberdayaan ini lebih bersifat evolusi yaitu perubahan yang sedikit, konstan, namun mengubah kepada hal yang lebih baik.

Sore harinya peserta diberikan hiburan outbond game kerja sama dan juga pelatihan memanah yang dibimbing oleh ARROMYU KOKAM DIY. Malam harinya peserta duduk melingkari api unggun yang telah disiapkan oleh panitia sembari berkenalan dengan panitia pusat dan pania lokal kegiatan tersebut sambil menikmati hidangan kambing guling dan beberapa makanan ringan. Beberapa peserta diminta untuk sharing bagaimana perkembangan LAZISMU di daerahnya masing-masing serta apa saja kendalanya.

Hari terakhir kegiatan panitia telah menyiapkan outbond yang disiapkan dan didampingi langsung oleh Semoet Training DIY langsung selama setengah hari mulai dari jalan-jalan kemudian membentuk formasi bertuliskan LAZISMU, senam bersama,
hingga mengikuti game-game yang semakin membuat peserta bersemangat dan kenal lebih dekat dan akrab. Serangkaian acara ZISKA Lifestyle Festival 2018 ditutup bersama di Sambi Resort oleh Bapak Hilman Latief selaku Dirut dan Ketua Badan Pengurus LAZISMU Pusat.

 

Oleh Debby Pratiwi, eksekutif Kantor Layanan Lazismu (KLL) Ngagel kota Surabaya.

drh. Zainul Muslimin : “Yang Muda Yang Rela Jiwa dan Raga”

Awal bulan Oktober 2018 lalu, saya dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Najib Hamid, M.Sc, dan beberapa Pengurus Lazismu Jatim berkesempatan memberangkatkan 12 orang Relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk bertugas ke Palu, Sulawesi Tengah.

Mereka adalah anak-anak muda yang masih berusia 20 – 25 tahun. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa, namun ada juga yang sudah menikah dan meninggalkan istrinya yang tengah hamil tua. Mereka masih segar bugar, perkasa, berdarah muda dengan satu tekad yang menggelora di dada, yaitu datang ke areal terdampak bencana untuk menolong sesama.

Berita dan informasi tentang dahsyatnya bencana gempa bumi dan tsunami di Palu membuat mereka merasa tertantang untuk segera pergi “berjihad” ke medan laga kemanusiaan. Sungguh suatu kemuliaan apabila ada saudaranya yang menderita nun jauh disana, hatinya merasa terpanggil untuk berangkat menolong, tanpa pikir panjang dan berbagai pertimbangan lainnya.

Sudah pasti mereka datang kesana tidak untuk bertamasya, berwisata atau enjoyning panorama di bumi Palu. Mereka justru akan be-kerja, bekerja dan terus bekerja guna membantu saudara-saudara kita warga Palu dan sekitarnya yang tertimpa musibah hebat. Bekerja tanpa digaji, sudah barang tentu.

Bekerja apa saja yang penting membantu para korban, seperti mengevakuasi korban, membersihkan puing-puing bangunan runtuh, mendistribusikan bantuan, memasak di dapur umum, assessment, memberikan dorongan semangat para korban terdampak untuk bangkit kembali dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang mesti dilakukan oleh para relawan.

Mereka meninggalkan barang sejenak indahnya kehidupan masa muda di kota besar untuk bergabung dengan ribuan relawan lainnya yang telah berkomitmen mendarma bahktikan hidupnya untuk sesama. Mereka, kaum muda itu, sudah pasti berbeda dengan para sebagian pemuda sebayanya yang tidak peduli dengan sesamanya. Semoga Allah SWT membalas amal kebaikan kaum muda relawan itu dengan balasan yang setimpal. Aamiin.

Kita tentu mengapresiasi dan turut bangga dengan semangat kaum muda yang punya sense of care, rasa kepedulian, peka sosial dan tanggap terhadap sesama yang menderita. Sementara sebagian kaum muda lainnya hidup dalam kesenangan, hura-hura, foya-foya dan melampiaskan darah mudanya dengan sesuatu yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Rasulullah saw sangat mendambakan tampilnya para pemuda yang kuat dan perkasa yang telah dikader dan ditempa menjadi mujahid perjuangan menegakkan agama Islam di muka bumi ini. Semangat para pemuda itulah yang akan mengguncangkan dunia.

Tentu yang tua-tua ini atau yang sudah merasa senior harus mengarahkan anak-anak muda itu dengan kehidupan yang berguna dan bermanfaat bagi diri, keluarga dan sesamanya. Mereka generasi muda itu butuh bimbingan dan dukungan dari kita yang sudah beranjak tua. Dorongan dan arahan pada kegiatan-kegiatan yang penuh dengan kemanfaatan dan bermakna.

Sangat berdosa dan tidak pada tempatnya bagi kita-kita yang senior ini jika malah ‘mengompori’ dan ‘mengipasi’ generasi muda kita untuk melakukan aktifitas yang tidak bermanfaat, sarat dengan kebencian, prasangka dan penuh kesia-siaan belaka.

Sebaliknya mari kita sambut mereka yang muda yang rela jiwa raga itu dengan dorongan, dukungan dan arahan yang tepat bagi kehidupan mereka. Insya Allah, mereka yang muda yang rela jiwa dan raga itu akan ikhlas berbuat dan bertindak sesuai dengan tuntunan agama, manakala kita yang senior-senior ini memberikan contoh kemajuan dan teladan utama yang meneduhkan serta mencerahkan. Bismillah. Semoga kita bisa. Memberi Untuk Negeri.

Rizaludin Kurniawan : “Memupuk Gairah Relawan Kebencanaan di Mutiara Khatulistiwa”

Tidak ada yang dapat menyangkal porak-porandanya wilayah Palu dan sekitarnya setelah gempa dan tsunami melahap keindahan kota “Mutiara Khatulistiwa”. Sebuah julukan yang disematkan untuk kota yang dikenal juga dengan sebutan (nomoni) atau suara yang harmonis.

Di bumi Tadulako (kota baru) itu harmoni keindahan mutiara khatulistiwa mendadak berubah bunyi menjadi nestapa. Semua tertuju ke kota baru itu untuk mengulurkan tangan membantu warga terdampak bencana gempa-tsunami.

Ribuan relawan datang ke sana membangkitkan semangat mereka untuk menatap masa depan yang baru. Relawan tidak hanya melakukan pendampingan psikososial, layanan kesehatan, dan kegiatan tanggap darurat lainnya. Semua berjibaku menolong situasi warga yang dilanda kesulitan. Beberapa dari mereka bahkan masih berada di sana untuk proses pemulihan dalam jangka waktu yang ditentukan.

Pemerintah dan semua elemen masyarakat terjun ke semua lokasi yang terdampak. Namun ada cerita yang singgah betapa kuatnya dorongan untuk berbagi yang keluar dari tangan dan pikiran setiap orang yang menolong mereka. Bayangkan apa yang terjadi jika pascagempa tidak ada relawan dan lembaga zakat serta kemanusiaan.

Sampai masa tanggap darurat di perpanjang oleh pemerintah, Lazismu dan MDMC masih meyalurkan bantuan. Berpusat di Pos Koordinasi utama yang berlokasi di Universitas Muhammadiyah Palu (Unismu), cerita dan kesaksian merayap masuk dari bilik-bilik suara yang luput dari hiruk-pikuk media pemberitaan.

Adalah Rajindra, jika boleh dikatakan termasuk dari sekian orang yang mengalami kebingungan, apa yang harus ia lakukan bersama orang-orang yang selamat dari terjangan gempa-tsunami beberapa waktu lalu itu.

Tak terbayang dalam benaknya, saat menangani para korban. Ia sendiri bagian dari korban dahsyatnya kekuatan alam. Ketika dirundung kepanikan, masyarakat datang ke kampus Universitas Muhammadiyah Palu meminta pertolongan.

Dikisahkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Palu ini, semua orang datang dengan cerita kesedihan. Itu sehari setelah kejadian, Rajindra yang ditemani oleh Ketua Lazismu Sulteng, Burhanudin yang juga selaku Dekan Fakultas Ekonomi mengungsi bersama warga yang lainnya kembali turun setelah situasi dinyatakan aman.

Kami mengungsikan keluarga dengan aman, lantas kami kembali ke kampus. Demikian cerita Rajindra dan Burhanudin. Keadaan gelap gulita, semua lampu padam, alat komunikasi mati, air tidak ada, tapi para pengungsi terus berdatangan ke kampus, dan isu penjarahan di mana-mana.

Dalam situasi tak menentu, pertolongan datang dari rombongan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Indonesia dan Lazismu Sulbar serta Sulsel membawa makanan, bahan bakar serta perlengkapan berisi obat-obatan.

Kedatangannya langsung menginisiasi mendirikan posko untuk koordinasi. Tenda darurat, dapur umum dan menghidupkan genset untuk menarik air sumur, itu yang dilakukan di posko koordinasi tersebut yang kebetulan berada di Universitas Muhammadiyah Palu.

Semua kerja cepat, cekatan. Tidak lama berselang datang rombongan dari Gorontalo, Aceh, Jawa timur, Jawa tengah dan dari provinsi lainnya. Kedatangannya atang atas nama MDMC dan Lazismu. Situasi beralih menjadi tenang, amunisi pertolongan tiba. Di Palu kala itu hanya ada rombongan ini, Kata Pak Rektor menguatkan tali-temali informasi.

Cerita ini adalah sepenggal kisah saat Pak Rektor berbincang-bincang dengan kami rombongan Lazismu Pusat dan Alfamart yang dipimpin  Ivan Hermawan selaku GM Corporate Communication Sumber Alfaria Trijaya Tbk.

Unismu Palu sampai detik ini jadi tempat pengungsian, puluhan tenda berdiri. Kampus ini pun dijadikan tempat pusat koordinasi relawan One Muhammadiyah One Respons (OMOR). Ada dua ratusan relawan yang bekerja siang malam tersebar di sembilan pos layanan di beberapa kecamatan.

Puluhan ton logistik yang memenuhi hampir enam ruang kelas belajar fakultas ekonomi, meluber sampai ke halaman. Beberapa tangka penampung air, dijadikan bak air untuk MCK bersama.

Ratusan ember dan peralatan lainnya menumpuk di selasar kelas. Adapun logistik makanan tersimpan di aula kampus yang berada di ruangan dengan penyejuk udara. Di sela kardus-kardus terlihat ada relawan tertidur pulas nampak kelelahan, Di situ pula saat malam tiba kami menyaksikan dan berbaur di atas selembar karpet.

Begitupun tiga lantai ruangan dekan fakuktas ekonomi, para wakil dekan dan tata usaha penuh jadi tempat menginap para relawan, tim medis, tim psikososial dan ruangan pusat komando. “Ada juga dokter dari Australia yang menginap dilantai tiga. Rencana kampus akan membuka perkuliahan minggu depan, tapi tidak tahu apa ada mahasiswa dan dosen yang akan datang kampus,” kata Pak Dekan.

Kolaborasi MDMC – Lazismu layak diapresiasi. Keberadannya adalah obat penawar dari kelelahan bekerja selama ini menjadi relwan. Nuansa ini terus dipupuk sebagai cikal pengabdian gerakan filantropi yang mencerahkan.

Ini modal sosial yang tak terhingga. Koordinasi di lapangan tentu merupakan kompas kemanusiaan dalam situasi darurat pascagempa. Tugas kemanusiaan adalah bagaimana meminimalisir risiko yang datang tak terduga di tengah situasi yang belum tahu kepastiannya.

Dalam kunjungan kemarin, amil Lazismu yang terdiri dari Edi Muktiono dan Rizaludin Kurniawan menyempatkan berbincang langsung dengan Mas Fathul Faruk. Ia komandan lapangan di Palu dari MDMC pusat.

Sudah dua bulan dia tidak pulang ke Kudus, sejak gempa lombok dia langsung di tugaskan di Palu. Secangkir kopi panas menemani setiap detik pembicaraan kami. Mas Faruk dengan bangga mengenalkan makna-makna simbol yang menempel di bajunya itu.

“Dilengan kanan ada logo MDMC dan Lazismu. Kedua logo itu senantiasa hadir. Di lengan kiri logo merah putih dan SAR Muhammadiyah. Sementara di dada kanan ini logo ke ahlian pribadi sebagai penyelam bersertifikat dan ahli penyelamatan di ketinggian yang dikeluarkan oleh asosiasi,” pungkasnya.

Logo-logo yang menempel dipakaiannya tentu tak sebanding dengan pengorbanannya meninggalkan keluarganya di Kudus. Kolaborasi yang terbangun selama ini adalah bagaimana memotret manajemen bencana dalam bingkai mitigasi bencana yang menjadi kebutuhan posko terutama komunikasi melalui saluran media.

Tugasnya adalah bagaimana mengelola informasi secara terpusat dan ditunjuk sebagai jubir resmi. Informasi dan akurasi penting dilakukan agar koordinasi berjalan sesuai dengan neraca kemanusiaan. Sebab jika terjadi kekeliruan informasi, komandan utama di lapangan yang akan diminta pertanggung jawabannya, sambung Mas Faruk.

Ada banyak hal yang tak habis diperbincangkan. Tak mudah mengurainya satu-persatu. Yang pasti upaya misi kemanusiaan tidak boleh berhenti dalam satu langkah. Sejurus kemudian, sebelum pamit, ponsel kami bordering. Pertanda pesan daring masuk lewat whatasapp.

Kabar gembira datang dari Manager Marketing Komunikasi Alfamart Mba Debby, Syukur alhamdulillah, kami tidak salah memilih mitra seperti lazismu, amanah dan jaringannya luas..”.

Sebelumnya, sebagai bentuk kepedulian, lembaga amil zakat nasional dalam hal ini Lazismu dan PT Sumber Alfaria Trijaya, Tbk (Alfamart) mewujudkan misi kemanusiaan dengan memberikan bantuan 1000 paket Family Kit kepada warga terdampak bencana di Pos Koordinasi Utama Universitas Muhammadiyah Palu (18/10/2018).

Penyerahan bantuan itu secara simbolis  diserahkan langsung oleh Direktur Fundraising Lazismu Rizaludin Kurniawan dan Corporate Communication GM Alfamart, Ivan Hermawan kepada perwakilan warga yang disaksikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, Dr. H. Rajindra, S.E.,M.M, Regional Corporate Alfamart Arif Nur Sandi, Lazismu Kalteng Burhanuddin, SE, MM, Manager Teritori Lazismu Edi Muktiono dan Faruk mewakili dari MDMC Indonesia.

Palu, Medio 19 Oktober 2018,

Rizaludin Kurniawan, Direktur Fundraising Lazismu Pusat

drh. Zainul Muslimin : “Doa, Donasi dan Aksi Nyata, Bukti Keimanan dan Ketaqwaan Kita”

Akhir bulan September 2018 lalu kita sungguh terkejut dan serasa hati ini sedih manakala menyaksikan pemberitaan di media elektronik dan juga tebaran informasi dan visual di media sosial bahwa bencana gempa bumi kembali mengguncang tanah air kita. Bukan di Lombok atau Sumbawa NTB yang sedang kita (Lazismu) tangani reconstruction and recovery-nya, melainkan di pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Tengah.

Warga Palu dan Donggala pada jumat sore, 28 September 2018 itu tentu tidak mengira akan mendapatkan musibah yang begitu dahsyat. Gempa bumi 7,7 Sekala Richter, disusul dengan tsunami dan diselingi dengan pergeseran tanah yang mengerikan dan melibas segala bangunan yang ada. Peringatan sudah diberikan oleh badan yang berwenang. Namun kita tidak bisa mengira dan menduga akan seberapa dahsyatnya bencana yang akan datang.

Dalam cobaan dan derita yang paling pedih sekalipun rasanya tak pernah kering air mata kita. Walau sebanyak apapun air mata itu menetes, mari kita coba teteskan sedikit saja air mata kita beriringkan lantunan doa, dzikir dan istighfar kepadaNya.

Kita berdoa semoga Allah SWT senantiasa merahmati dan menyertai hati para korban bencana itu sehingga mereka tidak akan berpaling apalagi kufur kepadaNya. Kita berdoa semoga mereka mampu bersabar, tabah dan tangguh atas musibah yang menimpa. Kita juga berdoa agar musibah ini dapat segera berlalu dan masyarakat dapat pulih kembali seperti sedia kala.

Kita juga beristighfar atas segala perbuatan dan tindakan yang telah kita lakukan, justru membuat kerusakan dan kemungkaran bertambah parah. Kita beristighfar kepadaNya atas segala dosa yang telah kita perbuat membuatNya marah dan murka. Namun doa saja tidaklah cukup. Harus ada langkah kongkrit.

Doa dan Donasi Kita Untuk Palu dan Donggala.

kehadiran sosial media sungguh memberikan efek yang besar bagi masyarakat. Kita bisa tahun kejadian dimanapun dalam sekejap mata. Namun kita juga akan menemui keburukan juga dalam kedipan mata. Terkait dengan kejadian gempa bumi dan bencana lainnya harus segera disudahi berbagai informasi dan cerita yang tidak benar.

STOP nyinyir dan bully, apalagi caci maki kepada pihak manapun yang terkait dan atau dikaitkan dengan adanya kejadian bencana. Ujaran buruk itu apabila terus-menerus dilontarkan justru akan tambah memperburuk suasana. Harus kita sudahi dan kita ganti dengan sebuah solusi.

Allah SWT, Tuhan yang Maha Besar, yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dengan mengucap Bismillah mari kita wujudkan doa kita yang baik dengan solusi yang baik pula, yaitu ber-DONASI, memberi untuk negeri.

Untuk urusan persoalan bangsa tentu tidak ada siapa yang paling penting karena semua itu adalah aksi bersama untuk sesama. Dengan berdonasi membantu mereka yang sedang tertimpa musibah itu merupakan salah satu solusi yang tepat. Semua aksi tebar manfaat untuk persoalan bangsa yang disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan puncak kita masing-masing adalah penting.

Untuk Saudara-saudara kita yang mengalami musibah gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, Dr. M. Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur telah menghimbau agar ummat Islam, khususnya anggota dan keluarga besar organisasi ini agar memberikan bantuan, donasi dan doa. Syukur jika ada yang mampu beraksi menjadi relawan. Donasi disalurkan melalui Lazismu, baik di kantor Pusat, Wilayah maupun Daerah hingga kantor layanan di seluruh negeri.

Semoga Allah SWT memberikan ketabahan dan kesabaran kepada saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah, dan memberi keluasan rizki kepada kita untuk dapat membantu mereka. Doa memang sangat penting, tapi donasi dan aksi kita juga sangat penting sebagai bukti nyata bahwa kita adalah bersaudara. Mari beraksi bersama untuk sesama.

Doa, dan sekaligus Aksi nyata untuk saudara kita yang tertimpa dan musibah adalah bukti kualitas keimanan dan ketaqwaan kita. Bismillah.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jawa Timur.

Joko Intarto : “Literasi Tsunami dari Tonggolobibi”

Ilustrasi

Joko Intarto

Suatu malam pada tahun 1996. Pukul 20:00. Saya masih mengoreksi naskah berita kiriman wartawan, saat peristiwa itu terjadi. ‘’Tonggolobibi hancur terkena tsunami,’’ kata Mas Nur, wartawan Kantor Berita Nasional ‘’Antara’’ biro Sulawesi Tengah, melalui sambungan telepon.

‘’Saya akan meliput ke sana besok pagi. Berangkat setelah subuh naik sepeda motor,’’ lanjutnya.

‘’Saya ikut,’’ jawab saya spontan.

Tonggolobibi bukan kota penting. Hanya sebuah kecamatan. Delapan jam perjalanan dari kota Palu. Namun Tonggolobibi dalam perdagangan antarpulau memegang peran yang penting.

Tonggolobibi memang menjadi pelabuhan rakyat yang Menghubungkan Sulawesi Tengah dengan Kalimantan Timur dan Tawao di Malaysia. Dari Tonggolobibi dikapalkan rotan dan kayu hitam ke Tawao. Dari Tawao dikapalkan barang elektronik ke Tonggolobibi.

Posisi penting Tonggolobibi itu menjawab keheranan saya: mengapa ada beberapa kapal barang berukuran besar yang terdampar di daratan hingga 300 meter dari bibir laut akibat gelombang tsunami setinggi 4 meter itu. Isinya peralatan rumah tangga elektronik seperti AC, kulkas dan mesin cuci.

Tiba di Tonggolobibi, matahari sudah bergeser ke barat. Pukul 14:00. Ratusan anggota TNI AD dan polisi sudah berhasil mengevakuasi para korban. Seingat saya, sebanyak 31 orang yang meninggal dunia. Ratusan orang lainnya luka-luka.

Untuk sebuah bencana tsunami sebesar itu, jumlah korban tergolong kecil. Para korban umumnya orang-orang tua, yang ‘’terlambat’’ tiba di lokasi pengungsian di atas bukit.

Ternyata, masyarakat Tonggolobibi sudah belajar dari pengalaman gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 1969. Pengalaman itu menjadi pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Menjadi literasi dengan kearifan lokal, dari generasi ke generasi.

Menurut cerita yang berkembang, pada peristiwa tahun 1969, lebih dari 600 warga Tonggolobibi yang meninggal dunia. Seluruhnya akibat tsunami. Bukan karena gempa.

Gempa 1969 itu terjadi pagi. Sekitar pukul 07:00. Begitu terjadi gempa, masyarakat mengungsi. Naik ke bukit yang dirasa aman. Dalam tempo dua jam, air laut surut. Ribuan ikan menggelepar di pantai.

Ikan-ikan itulah yang membuat anak-anak dan remaja ramai-ramai turun ke pantai. Mereka tidak sadar bahwa surutnya air laut merupakan pertanda akan datangnya gelombang tsunami.

Hingga tahun 1996, masyarakat Tonggolobibi masih terus mengingat peristiwa gempa dan tsunami tahun 1969 itu. Alam yang terus mengingatkan mereka: dengan pemandangan pepohonan besar yang mati meranggas terendam air laut di sepanjang pantai Tonggolobibi. Gempa itu membuat permukaan tanah di Tonggolobibi turun hingga 2 meter.

Sejak itu, masyarakat Tonggolobibi memiliki pelajaran baru dalam kebencanaan. Kalau terjadi gempa disusul surutnya air laut, semua penduduk harus segera mengungsi ke bukit. Secepat mungkin. Setinggi mungkin.

Palu memang beda dengan Tonggolobibi. Gempa bagi warga Palu sudah menjadi hal yang biasa. Setidaknya bagi saya yang pernah tinggal di sana selama 6 tahun: 1993 – 1999. Tapi tidak ada pengalaman terhadap tsunami. Setidaknya dalam 40 tahun terakhir ini.

Mungkin banyak generasi muda dan warga pendatang yang tidak pernah lagi mendengar cerita dari Tonggolobibi. Itulah pentingnya literasi.(JTO)

Joko Intarto, Wakil Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, mantan wartawan Jawa Pos.