Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Wednesday , 22 May 2019
Breaking News
You are here: Home » Potret

Category Archives: Potret

Dengan Respon One Click One Care Semoga Adik Aisyah Segera Sembuh

Lazismu Lamongan pada hari Sabtu, 13 April 2019, menyerahkan bantuan kepada Muhammad Yusuf, Ayahanda adik Aisyah, bayi berusia 1 bulan yang harus dioperasi karena menderita penyakit athresia ani (sumbatan saluran pencernaan). Bantuan ini diberikan langsung oleh Sujudna, Ketua Lazismu Lamongan di RSAL Surabaya sekaligus menjenguk keadaan adik Aisyah dan menghibur keluarganya untuk bersabar.

Didampingi suami dan orang tuanya yang berasal dari Paciran Lamongan, Afrah ibunda dari adik Aisyah menceritakan bahwa pertama adik aisyah lahir dalam keadaan normal dan tidak kekurangan apapun. “Setelah 4 hari berjalan pasca kelahiran, ternyata ada masalah, adik Aisyah tidak dapat BAB,” ungkapnya

Sambil menahan air mata saat bercerita, ibu afrah bersama keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa Aisyah ke RSM Lamongan dan pihak RSM akhirnya merujuk ke RSAL Dr Ramelan Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis lanjuan,” sambungnya.

“Sebagai ibu saya tidak tega, anak saya dalam usia 4 hari, harus dilakukan operasi pertama di sebelah, ternyata ujian belum sampai disitu, seminggu kemudian ada masalah, perut semakin membuncit, dan akhirnya dilakukan lagi operasi kedua sebelah kiri, dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ceritanya

Ibu Afrah menceritakan untuk sekali operasi dibutuhkan biaya kurang lebih sekitar 20 juta. “Itu belum juga biaya yg lain, tapi demi anak kami, kami rela melakukan dan mengorbankan apapun,” sambungnya.

Dan menurut penjelasan dari dokter yang disampaikan oleh Ibu Afrah, rencananya adik Aisyah akan di operasi lagi setelah umur 6 bulan. “Anak saya ini sudah di RSAL kurang lebih sekitar 23 hari,” ungkapnya. 

Adik Aisyah adalah salah satu penerima manfaat program One Click One Care, setelah tantenya, Sania menyampaikannya kepada Lazismu Lamongan. Lazismu yang mengetahui peristiwa ini, kemudian langsung membuka open donasi baik secara langsung maupun melalui online. Selanjutnya donasi yang terhimpun akan diserahkan kepada keluarga secara langsung seusai amanah dari donatur.

Donasi secara simbolis diberikan oleh Ketua Lazismu Lamongan, Sujudna sekaligus menyampaikan perhatiannya kepada adik Aisyah dan melakukan support kepada keluarga.

“Ini adalah amanah dari donatur, yang Allah mengetuk pintu hati mereka melalui Lazismu, semoga dapat membantu meringankan beban yang ditanggung oleh keluarga, dan menjadi berkah untuk kesembuhan adik Aisyah,” ungkap Sujudna.

Sujudna, menghimbau, kiranya Saudara-Saudari semua di Manapun berada dapat menyisihkan rejekinya untuk membantu agar adik kita Aisyah bisa sehat, ceria dan tersenyum kembali.

Untuk Info Lebih Lanjut Buat teman teman Bisa Hubungi CP Lazismu Lamongan 085606821440. Jika Anda ingin memberikan bantuan dana bisa disalurkan melalui Lazismu, dengan rekening bank :

Jeniz ZIS Bank Norek Nama Rek
ZAKAT BSM 99398 1 19 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lamongan
BMI 76630 1 19 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Lamongan
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 19 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lamongan
BMI 76640 2 19 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Lamongan

Terus Mendukung Saudara Kita di Palestina Dengan Sepenuh Hati

Perjuangan rakyat Palestina yang sedang dalam masa penjajahan dan penindasan Israel senantiasa mendapat tempat dan perhatian penting dari rakyat Indonesia, termasuk dari Muhammadiyah. Komunikasi, silaturrahim dan pemberian bantuan intens dilakukan oleh Muhammadiyah, melalui Lazismu sebagai lembaga Amil Zakat di bawah Persyarikatan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.

Lazismu bersama berbagai lembaga atau organisasi kemanusiaan Islam Indonesia lainnya senantiasa menggalang dana untuk membantu rakyat Palestina dalam berbagai bidang. Dalam hal ini yang menjadi fokus Muhammadiyah melalui Lazismu adalah bantuan dalam bidang pendidikan, terutama peningkatan SDM generasi muda Palestina. Selain itu Lazismu juga membantu memberikan bantuan untuk santunan Rumah Panti, Qurban, operasional ceramah para ustadz dan tentunya besiswa untuk mahasiswa Gaza yang melakukan studi, baik di dalam negerinya maupun keluar negeri.

Pada akhir bulan Februari 2019 ini di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, kembali ditandatangani MOU dan kesepakatan antara Lazismu Pusat dengan salah satu Lembaga Kemanusiaan di Gaza, Palestina, untuk mendatangkan para Imam dari Palestina guna berdakwah selama bulan Ramadhan 1440 hijriyah di berbagai daerah di Indonesia.

Tentunya Lazismu akan bekerjasama dengan para pengurus atau takmir Masjid di daerah yang ditunjuk sebagai tempat kegiatan dakwah Peduli Palestina. Kegiatan tersebut akan diiringi dengan penghimpunan dan penggalangan dana guna membantu program-program kemanusiaan dan pendidikan Lazismu di Palestina. (Adit).

Gerak Cepat Ambulan Lazismu Bojonegoro Melayani Pak Sukirno Rawat Jalan Lintas Kabupaten

Melayani dengan sigap dan peduli adalah semboyan dan tugas Korps Ambulan Lazismu di Jawa Timur. Seluruh personel ambulan Lazismu harus sadar akan peran dan tugasnya, melayani siapapun yang membutuhkan tanpa melihat latar belakangnya.

Termasuk kepada pak Sukirno, warga Lamongan, Lazismu Bojonegoro dengan sigap memberikan layanan yang prima kepadanya. Pak Sukirno menderita patah tulang di bagian punggung setelah mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Setelah dioperasi di RSUD Bojonegoro pak Sukirno memerlukan kontrol yang intensif. Sedangkan kondisi ekonomi yang pas-pasan terasa berat jika harus menyewa mobil untuk sekedar kontrol.

Alhamdulillah Ambulan gratis Lazismu Bojonegoro bisa membantu meringankan beban pak Sukirno. Hari ini, Kamis, tanggal 21 Februari 2019 Lazismu Bojonegoro tiba di rumah pak Sukirno yang beralamat Dusun Ngelo, Desa Jatipayak Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan pukul 6 pagi untuk mengantarnya lintas kabupaten kontrol kesehatan ke RSUD Bojonegoro.

Mari berdonasi untuk membantu operasional Mobil Ambulan Gratis Lazismu. Zakat, Infaq dan Sedekah Anda akan sangat membantu Dhuafa yang membutuhkan.

Transfer melalui rekening Bank Syariah Mandiri Virtual Acount No.Rek: 993981 1300 000 000. Konfirmasi SMS/Wa 082287889799.

Call center Ambulance 0812 3511 5454.

#LazismuBojonegoro
#MemberiUntukNegeri

Penanganan Berkelanjutan Bagi Penyintas Bencana Longsor 2017 di Banaran, Ponorogo

Kita diberikan anugerah besar oleh Allah SWT untuk bisa hidup di negeri yang subur, keadaan alam yang sangat indah mulai dari gunung yang menjulang tinggi, dataran rendah yang menghampar, puluhan ribu pulau nan elok, hingga pantai yang mempesona, akan mudah membius siapapun manusia yang melihatnya. Negeri kita dengan letak geografis yang sangat strategis, berada pada posisi silang antara 2 benua dan 2 samudra memiliki dampak positif yakni dapat menjadi jembatan lalu lintas perdagagan internasional.

Dibalik semua hal indah yang disebutkan diatas, ada ancaman besar yang selalu mengintai kapanpun di Indonesia. Erupsi gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, banjir, Tsunami, dan lain-lain yang seringkali memakan korban jiwa yang tak sedikit. Tahun-tahun terakhir hal semacam itu menjadi suguhan berita yang hampir tiap hari kita ‘nikmati’ disela-sela kemarahan alam yang selalu mengancam.

Kabupaten Ponorogo adalah satu dari sekian banyak kabupaten di Indonesia yang tertimpa bencana alam tanah longsor 2017 lalu. Tepatnya di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Total korban jiwa sejumlah 28 orang, 16 laki-laki dan 12 perempuan. Sebagian besar belum diketemukan hingga saat ini. Hal ini menyisakan trauma mendalam bagi warga Banaran.

Lazismu Ponorogo merupakan lembaga amil zakat yang konsisten memberikan pendampingan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana Banaran. Hari Ahad 3 Februari 2019, Ketua Lazismu Wilayah Jawa Timur drh. Zainul Muslimin dan Anggota Badan Pengurus Lazismu Wilayah Jatim Imam Fauzi bersama Ketua Lazismu Ponorogo Zulkarnain Asyahifa memberikan bantuan kepada para penyintas bencana longsor yang terjadi beberapa tahun lalu. Bantuan itu berupa beasiswa Pendidikan kepada Yatim/Piatu korban bencana longsor untuk keberlangsungan pendidikan mereka. Hadir pula disana MDMC Ponorogo, PCM Kec.Pulung dan Camat pulung dan Sekretaris Desa setempat.

Untuk beasiswa Tingkat SD sejumlah 7 orang, SMP 3 orang, SMA 2 orang, dan Perguran Tinggi 2 orang. Dengan nominal bantuan yang berbeda, Rp. 5.000.000,- untuk tingkat SD, Rp. 7.000.000,- tingkat SMP, Rp.9.000.000,- tingkat SMA dan Rp. 11.000.000,- untuk tingkat Perguruan Tinggi.

Hadirnya Lazismu Ponorogo ditengah duka dan trauma semoga bisa menjadi lilin pada perjalanan kehidupan anak-anak yatim/piatu yang sedang menempuh pendidikan demi masa depan mereka. Dengan begitu, amanah dari para donatur telah tersampaikan. Demikian pesan Ketua Lazismu Jatim drh. Zainul Muslimin.

Bantuan berupa uang semacam ini, bukanlah akhir dari upaya Lazismu untuk membantu mereka. Bantuan lain yang tak terhitung nilainya, mulai dari waktu, tenaga dan juga fikiran, selalu disumbangkan semenjak kejadian longsor 2017 lalu.

Semoga upaya yang positif yang diupayakan Muhammadiyah dan sayap-sayap organisasinya termasuk Lazismu dan MDMC akan membawa kontribusi yang positif dimasa sekarang dan akan datang. Hingga kelak para mustahiq itu mampu menjadi muzakki. (Thoriq).

Semoga Dik Akmal Kelak Menjadi Anak Yang Cerdas dan Berbakti

Akmal Abdal Fathir merupakan anak yatim yang pada usia 1 minggu sudah ditinggal ayahnya. Mulai lahir dik Akmal sudah mengalami cobaan. Ia terlahir sebagai anak bibir sumbing.

Seiring dengan berjalannya waktu perhatian dan kepedulian dari semua kalangan tertuju kepada Akmal. Termasuk mengusahakan operasi bibir sumbing bagi dik Akmal.

Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pamekasan hadir memberikan layanan untuk membantu proses operasi bibir sumbing.

Selama bulan Januari 2019 lalu dik Akmal sudah dioperasi jilid 1 dan untuk jilid 2 di RS PHC, kawasan Tanjung Perak, Surabaya. Alhamdulillah Lazismu kabupaten Pamekasan membantu mengusahakan operasi dik Akmal dan turut serta mengantar pergi pulang dari rumah hingga ke Surabaya.

Pihak keluarga, terutama orang tua sangat bersyukur kepada Allah SWT bahwa anaknya mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Keluarga juga berterima kasih kepada Lazismu yang sudah memberikan layanan terbaik mulai dari awal hingga kni.

Kini dik Akmal sudah dioperasi jilid 2 dan sudah terlihat seperti anak normal yang lainnya. Proses operasi ini dilakukan atas kerjasama Lazismu Pamekasan bersama Cleft Care Foudation Indonesia Yayasan Peduli Bibir Sumbing.

Kedepan kedua lembaga ini siap bermitra lagi untuk program operasi bibir sumbing. Semoga kemitraan ini membawa kebaikan dan kebarokahan untuk kita semuanya. Semoga dik Akmal kelak menjadi anak yang cerdas dan berbakti kepada orang tua dan agama. (KhJn).

Mari berdonasi melalui Lazismu…

ZAKAT BSM 99398 1 28 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Pamekasan
BMI 76630 1 28 00 0 00000 Zakat LAZISMU Kab Pamekasan
INFAQ & SHODAQOH BSM 99398 2 28 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Pamekasan
BMI 76640 2 28 00 0 00000 Infaq LAZISMU Kab Pamekasan

Karena Bekerja dengan Cinta, Mbah Umar Tetap Mengayuh Becak di Usia 78 Tahun

Lazismu Kota Surabaya berkunjung ke rumah kontrakan Mbah Umar, lansia 78 tahun yang tinggal di Jalan Randu Barat 2 /1 Kelurahan Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran Surabaya, Jawa Timur (26/1/2019).

Kedatangan Amil Lazismu di rumah kontrakan Mbah Umar untuk menyalurkan bantuan berupa program Lazismu Aksi Peduli Duafa (LAPD) yang masih dalam tema One Day one Recipient, Satu Hari Satu Penerima Manfaat.

“Tiba pukul 07.00 WIB, namun amil tak berjumpa Mbah Umar, karena sudah berangkat bekerja mengayuh becak untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup baik untuk Mbah Umar maupun isterinya,” kata Ketua Lazismu Kota Surabaya, Sunarko.

Di rumah kontrakan tersebut Mbah Umar hidup bersama istri dan kedua cucunya. Isterinya bernama Mbah Srini (67) sudah 2 tahun sakit stroke dan hanya bisa berbaring di kamar,” kata Sunarko.

Menurutnya, akibat stroke tersebut Mbah Srini sudah tidak bisa bicara. Tapi bisa mendengar dan faham apa yang diucapkan oleh orang yang berada di sampingnya. Anak-anak dari Mbah Srini sudah berkeluarga, setelah tiap tahun berpindah-pindah kontrak akhirnya mulai Desember 2019 Mbah Umar dan Mbah Srini kini menumpang di rumah kontrakan cucunya yang bernama kholis (27) di Jalan Randu Barat tersebut.

Dalam sehari Mbah Umar mendapatkan penghasilan Rp 10 ribu – Rp 30 ribu dari mengayuh becaknya. Beruntung kedua cucu Mbah Umar, Kholis dan Amilia sangat perhatian kepada kakek dan neneknya.

Ketika didatangi di tempat mangkal becaknya, di depan Kantor Kelurahan Sidotopi Wetan, kemudian Amil Lazismu menyampaikan telah memberikan sembako dan diserahkan kepada istrinya. “Betapa senang dan bahagianya mendengar kabar tersebut,” tuturnya.

Mbah Umar menyampaikan terima kasih kepada Lazismu, semoga amal dan amanat dari para donatur diberkahi Allah, ujarnya. (snk/hb/na/www.lazismu.org)

Zakat Center, Visi Besar Dakwah Berkemajuan di Kota Onde-onde

Pusat adalah titik sentral. Dalam makna yang lain sebagai trendsetter yang menjadi perhatian atau tempat suatu objek yang menjadi fokus perhatian sekitarnya. Dalam alunan kehidupan sosial,lifestyle adalah bagian dari inovasi sosial apapun bentuknya. Termasuk dengan zakat sebagai gaya hidup sebagai bagian dari proses inovasi sosial.

Di Mojokerto, pada 20 Januari 2019, Lazismu meluncurkan pusat zakat (zakat center) dalam hal penghimpunan dan pendayagunaan zakat. Berbagai pihak, seperti instansi pemerintahan, perbankan dan kalangan warga persyarikatan mengapresiasi kemunculan zakat center di kota Onde-onde tersebut.

Hal signifikan berdirinya gedung pusat zakat ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan umat islam itu sendiri yang menginginkan pembaruan lintas zaman sebagai upaya membumikan gerakan sadar zakat. Dewasa ini, zakat telah menjadi gaya hidup, setiap orang mulai gemar berdonasi. Gaya hidup berbagi begitu banyak diminati berbagai kalangan masyarakat sebagai kebutuhan dan ketenangan jiwa.

Selama ini, masjid dan musala hanya terpaku pada soal ibadah dan ritual. Maka boleh saja jika dianalogikan pusat zakat menjadi solusi untuk mengokohkan kembali tiang penyangga sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Islam.

Hal itu terungkap dari Ketua BP Lazismu Sragen, Ikhwan saat menyampaikan materi zakat. “Zakat kedudukannya sama dengan salat, bila tidak dilaksanakan salah satunya, maka gugur ke-Islamannya,” terangnya.

Aktivitas penghimpunan dan pendayagunaan zakat adalah hubungan timbal-balik antara muzaki (pembayar zakat) dan mustahik (penerima manfaat zakat). Jika tidak ada salah satunya, maka tidak ada peristiwa memberi dan menerima.

Muzaki memerlukan mustahik dalam rangka membersihkan hartanya agar tetap tumbuh dan berkembang tanpa mengambil hak orang lain. Ikhwan menilai pun bagi mustahik memerlukan muzaki karena pada dasarnya harta yang dimiliki seseorang itu ada hak orang lain yang membutuhkannya.

Demikian dibeberkan Ketua BP Lazismu Kabupaten Mojokerto, Khoirul Azmi Ridho dalam suatu tulisannya di Merdeka Post (22 Januari 2019). Dia berkeyakinan pada saatnya nanti zakat center akan menjadi sebuah tren positif masyarakat yang memiliki fungsi tidak hanya edukatif, namun juga fungsi rekreatif untuk terus belajar tentang zakat.

Dahulu KH. Ahmad Dahlan telah mewariskan kisah konsep sekolah meja-bangku-nya, atau pun cita-cita Kiyai Sudja’ dengan rumah yatimnya yang dipandang sebelah mata. Konsep dan cita-cita itu hingga saat ini menjadi intisari dari sebuah usaha memajukan peradaban lewat dakwah yang berkemajuan.

Kini zakat center mestinya menjadi pusat aktivitas zakat yang tidak hanya memiliki giat fungsional, tapi juga membawa misi agar zakat menjadi populer dan menjadi gaya hidup zaman milenial. Sehingga pada masanya nanti zakat akan menjadi solusi jitu dari masalah ekonomi, yakni kesenjangan antara yang papa dan agniya dalam jumlah kepemilikan harta. (merdekapost).

Sinergi Lazismu dan RS Muhammadiyah Gresik Terjunkan 40 Pengkhitan Dalam Khitanan Masal di Cerme

 Subuh dini hari, Ahad (23/12/2018) beberapa anak sudah duduk rapi di barisan kursi tunggu antrian di Klinik Muhammadiyah Cerme, Ngembung Gresik. Sekitar jam 04.30 mereka sudah mempersiapkan diri untuk acara khitanan massal yang dilaksanakan oleh Lazismu Gresik dan Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik (RSMG).

Miftahul Imam (9 tahun), menjadi peserta pertama yang datang bersama ayahnya, Supri. Miftah tidak sendiri, beberapa temannya yang sama-sama dari Desa Kedungjati Cerme berangkat pagi-pagi agar dikhitan paling awal. “Kebijakan kami, siapa yang datang duluan, maka dia yang dikhitan. Anak-anak ini seminggu sebelumnya juga mengirimkan berkas melalui Kantor Layanan Lazismu di masing-masing kecamatan, agar datanya bisa masuk. Kuota 190 anak yang dikhitan,” ujar ketua panitia pelaksana, Minal Abidin SPd.

Menurut Abidin, data yang mengikuti khitan tidak hanya dari Gresik saja. “Tercatat, ada yang dari kota sekitar, yaitu Surabaya dan Lamongan.”

Pembukaan acara ini dimulai pukul 07.30 pagi, dibuka oleh Ketua PDM Gresik, Drs H Taufiqullah A. Ahmady MPdI, dan selesai pada pukul 13.00 WIB. Prosesi khitan berlangsung dengan cepat karena tim dari Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik menerjunkan tim kesehatan yang cukup banyak. “Sebanyak 40 orang kita terjunkan, satu durasinya 15 menit. Sekali durasi langsung, 16 anak dikhitan,” ujar Kepala Perawat RSMG, Taufiq Nur Aini Skep Ners.

Acara yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke 106 ini berjalan dengan lancar. Setelah dikhitan, peserta yang usianya dari 0 sampai 12 tahun ini mendapatkan hadiah senilai Rp. 500.000,- yang terdiri dari tas, sarung, school kit, baju koko serta uang saku.

“Alhamdulillah, bisa berjalan dengan sukses. Tanpa ada kendala. Saya ikut bahagia melihat anak-anak yang semula sedih dikitan, lalu menjadi bahagia setelah mendapatkan bingkisan. Melalui acara ini, semarak Milad Muhammadiyah ini terasa, sebagai bukti kepedulian kita terhadap kaum dhuafa,” ujar Abidin.

Pihak RSMG-pun turut berbahagia dengan acara ini,”Alhamdulillah kegiatan khitanan massal berjalan lancar,” ujar Kepala Pemasaran Rumah Sakit, dr Imam Suyuthi Sp An.

Menurutnya, ini merupakan kegiatan kesekian kalinya dalam sinergi RSMG dengan Lazismu. “Semoga selalu bisa bersinergi agar kemandirian dalam bersyarikat ini makin lama makin baik,” harapnya.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Gresik, Abdul Rozak SPd MpdI berharap acara khitan ini tidak berhenti di tahun 2018.” Semoga ditahun depan kita bisa menyelenggarakan khitanan Massal ini di lokasi yang berbeda, melibatkan seluruh Kantor Layanan Lazismu se Kabupaten Gresik,” ujarnya. (Liesna).

SAH, Relawan Lazismu MDMC ini Telah Menambatkan Hatinya di Palu, Menikahi Gadis Idamannya

Ungkapan “Ada Hikmah Dibalik Musibah” atau “Bencana Membawa Berkah”, sudah pernah kita dengar. Nah, kini ada ungkapan “Bencana Membawa Cinta” dan itu nyata.

Itulah perjalanan cinta Dafa Rudianto dan Nahdiyanti di medan bencana Palu dan Donggala. Dafa adalah relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu asal Lumajang Jawa Timur. Dia dikirim dan ditugaskan dalam rombongan MDMC Jatim ke Palu, Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2018 lalu, beberapa hari pasca bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu, Donggala dan kawasan sekitarnya.

Sedangkan Nahdiyanti juga seorang relawan Muhammadiyah lokal yang bertugas di Puskor MDMC di Unismuh Palu. Keduanya bertemu dalam tugas yang sama, membantu menangani korban bencana gempa dan tsunami yang mengungsi ke Puskor MDMC.

Benih-benih cinta tumbuh di hati mereka berdua, hingga Dafa berniat mengungkapkan perasaan hatinya ke Nahdiyanti. Syukur alhamdulillah, ungkapan hati Dafa untuk hidup bersama diterima oleh Nahdiyanti. Kedua insan muda belia itu berjanji untuk ‘sehidup semati’, menjalin hubungan keluarga.

Dafa pun melamar pujaan hatinya itu pada 11 Desember 2018. Ia datang ke kediaman Nahdiyanti yang berada di Jl. RA Kartini 21, Desa Lolu Utara, Palu Timur, Kota Palu, didampingi oleh Ketua MDMC Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Budi Setiawan ST dan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Amin Prakasi Ardan,

Lamaran Dava diterima oleh keluarga Nahdiyanti dan disepakati bahwa waktu akad nikah adalah tanggal 18 Desember 2018. “Inilah berkah menjadi Relawan” kata Dafa dengan mengucap syukur dan merasa bahagia.

Nah, pada pagi hari ini selasa tanggal 18 Desember 2018, dengan disaksikan oleh Ketua Lazismu Jatim, drh. Zainul Muslimin, Ketua MDMC Jatim M. Rofii dan dr. Amang, MPKU Jatim beserta jajaran Pimpinan Muhammadiyah Sulawesi Tengah dan para hadirin, Dafa pun berijab qabul, mengucap janji sucinya.

Sah, akhirnya dua hati berbeda asal ini pun bersatu menjadi pasangan yang berbahagia. Semoga Sakinah mawaddah warahmah dalam menempuh kehidupan keluarga  yang harmonis hingga ke akhir masa. Musibah memang meninggalkan kepedihan dan penderitaan, namun juga menjadi berkah bila bersikap positif dan selalu bersyukur kepadaNya. (Adit)

Menjadi Pahlawan Bagi Sesama, Berjihad di Jalur Kemanusiaan dan Kebencanaan

BENCANA selalu menghadirkan dukacita dan nestapa. Pun demikian dengan bencana gempa bumi dengan magnitudo 7,4 skala richter, yang disusul terjangan tsunami dan likuifaksi di Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat 28 September 2018 lalu. Musibah yang terjadi dikala magrib itu benar-benar meluluhlantahkan Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi, Sulteng.

Guncangan hebat dari dalam perut bumi, yang disusul gulungan ombak setinggi 3 meter dan likuifaksi dalam sekejap waktu mampu memporak-porandakan rumah, gedung, dan berbagai fasilitas umum. Bencana juga mengakibatkan jatuhnya ribuan korban jiwa, dan puluhan ribu warga mengungsi.

Selang beberapa saat pasca peristiwa yang memilukan hati itu terjadi, dan tersiar ke berbagai media online, media sosial maupun elektronik, tim SAR dan relawan dari beragam kalangan mulai bergerak menuju Sulteng.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center)-MPKU (Majelis Pembina Kesehatan Umum) yang disokong penuh oleh Lazismu pun segera menerjunkan relawan ke medan bencana.

Sebanyak sepuluh relawan yang beranggotakan tujuh tenaga medis asal RS Muhammadiyah Lamongan dan tiga relawan dengan keahlian manajemen posko dikirim untuk menjalankan misi kemanusiaan menolong warga Sulteng. Mereka adalah Zaenal Abidin, Karsim, M Agus Asyari, Rounaqul Fahmi, Ali Efendi, dr Dentino Wili, Syafii Abdul Karim, Rudianto, Dini Noviani dan dr Zuhdiyah Nihayati.

Kesepuluh relawan Muhammadiyah Jatim itu terbang dari Bandara Juanda Sidoarjo, Jatim menuju Mamuju, Sulawesi Barat pada Ahad (30/9/2018) malam. Setelah menempuh perjalanan udara selama satu hari, relawan Muhammadiyah Jatim itu tiba di Bandara Mamuju. Mereka kemudian menuju Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Mamuju. Tepat pukul 20.00 WITA, relawan Muhammadiyah Jatim sampai dan bergabung dengan relawan MDMC Mamuju serta relawan Muhammadiyah lainnya. Selepas itu, para relawan kemudian menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk aktivitas tanggap darurat di Kota Palu.

Satu jam berselang, tepatnya pukul 21.00, relawan gabungan MDMC Jatim, Mamaju dan lainnya berangkat menaiki lima armada menuju Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu – lokasi pos koordinasi (poskor) MDMC Indonesia.

Berbagai peristiwa mengiringi langkah para relawan dalam perjalanan menuju Kota Palu. Rudianto, salah satu rela-wan Muhammadiyah asal Jatim menceritakan, pada awal ke-berangkatan relawan gabungan Muhammadiyah Jatim, Mamu-ju dan lainnya tidak menemui kendala yang berarti. Akses jalan utama memasuki Sulteng kondisinya masih aman terkendali. Relawan hanya harus melewati jalan yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Aliran listrik juga masih menyala.

Suasana gawat darurat pasca bencana baru terasa ketika relawan Muhammadiyah memasuki perbatasan Mamu-ju-Donggala, Sulteng. Akses jalan mulai sulit dilalui. Jalan ber-gelombang, retak-retak, berluang dan lainnya. Ditambah lagi aliran listrik mulai padam. Keadaan kian mencekam dirasakan oleh para relawan ketika tiba di Polres Pasang Kayu pukul 22.00 WITA. Pasalnya, para relawan dihantui akan maraknya aksi perjarahan oleh warga. Setiap kali mobil yang mengangkut logistik melintas, warga pun menjarahnya. Itu lantaran warga butuh bantuan, sementara tidak ada pasokan bantuan.

Setiap relawan yang datang membawa logistik diharuskan melapor ke Polres guna mendapatkan pengawalan. Langkah antisipasi itu dilakukan oleh aparat kepolisian guna mencegah aksi penjarahan. Sayangnya, relawan Muhammadiyah tidak mendapatkan pengawalan dari polisi karena jadwal sudah berakhir pada pukul 16.00 WITA. Setiap harinya, aparat kepolisian hanya tiga kali melakukan aktivitas pengawalan, yakni di pagi hari pukul 08.00-09.00. Lalu siang pukul 13.00-14.00, dan terakhir sore pukul 16.00. Selepas itu relawan disarankan untuk menunggu di pos.

Melihat situasi itu, para relawan kemudian bermusyawarah guna menentukan langkah yang diambil. Apakah harus menunggu hingga pagi untuk mendapat pengawalan, atau terus melanjutkan perjalan.

Hasilnya, rombongan relawan Muhammadiyah asal Jatim, Mamuju, dan lainnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju Unismuh Palu tanpa pengawalan aparat kepolisian. Relawan Muhammadiyah kemudian bertolak dari Polres Pasang Kayu menuju Kota Palu pukul 23.00.

“Sebelumnya, kami disarankan sebaiknya berangkat tengah malam, dan sebelum Subuh harus sudah tiba di Kota Palu. Atas informasi itu, kita pun memberanikan diri menerobos masuk ke Kota Palu. Modalnya hanya bismillah saja. Niat kita kan baik. Jadinya kita berserah diri kepada Allah SWT,” ungkap Dava-sapaan karib Rudianto.

Selang beberapa menit selepas meninggalkan Polres, rombongan relawan dihadapkan dengan situasi Sulteng yang porak-poranda pasca bencana menerpa. Sepanjang jalan dari Donggala menuju Kota Palu terhampar pemandangan reruntuhan rumah, bangunan dan rusaknya berbagi fasiltas umum. Juga padamnya aliran listrik yang membuat kondisi sekitar gelap-gulita. Jaringan komunikasi pun terputus. Tak pelak perasaan was-was berkecamuk di hati para relawan.

Syukur, setelah menempuh perjalanan darat cukup melelahkan, relawan Muhammadiyah Jatim beserta lainnya akhirnya sampai di Unismuh Palu, Selasa (2/10/2018). Meraka tiba pukul 02.05 WIT, dan langsung disambut oleh komandan Poskor Pak Heru. Selepas itu, relawan kemudian beristirahat sejenak untuk memulihkan diri.

Pada pagi harinya, seluruh relawan Muhammadiyah mengikuti brefing untuk menyusun tugas kebencanaan. Ketika sedang rapat koordinasi itu, para relawan dikejutkan dengan terjadinya gempa susulan. Tak pelak, mereka pun bergegas menjauh dari bangunan dan mencari titik aman. Para relawan kemudian melanjutkan agendanya.

Buka Klinik Darurat

Selepas berkoordinasi, relawan Muhammadiyah Jatim khususnya, langsung bergerak menjalankan tugas. Relawan medis RSM Lamongan, misalnya, segera membuka klinik darurat di teras Gedung FAI Unismuh Palu. Pendirian klinik di bawah asistensi dr Zee – panggilan akrab dr Zuhdiyah Nihayati, dan dikomando oleh M. Buyung. “Klinik darurat tersbut dibuka untuk memberikan pelayanan kesehatan buat warga korban gempa dan tsunami,” kata dr Zee.

Setelah membuka klinik, dr Zee bersama tim medis RSM Lamongan lainya melanjutkan aktivitasnya melapor ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu, malakukan assesment dan berkordinasi dengan beberapa rumah sakit yang ada di Kota Palu. Tujuannya untuk mengantisipasi pasien rujukan dari Klinik Darurat MDMC Indonesia.

Tak mau ketinggalan, relawan SAR MDMC Indonesia juga turun ke lapangan membantu proses evakuasi korban. Sedangkan relawan bidang logistik membuka dapur umum. Tujuannya untuk menyiapkan berbagai kebutuhan logistik buat korban yang mengungsi.

Usai menjalankan aktivitas menolong sesamanya, pada sore harinya, seluruh relawan MDMC Indonesia pun kembali ke poskor untuk beristirahat sejenak dan memulihkan kondisi. Juga untuk koordinasi terkait penenganan kebencanaan pada hari selanjutnya.

Keesokan harinya, Rabu (3/10/2018), relawan MDMC Indonesia mulai mendistribusikan bantuan kepada warga sekitar poskor. Bantuan berupa paket sembako berisi mi instan, air mineral gelas, dan 5 kilogram beras itu dibagikan kepada 87 kepala keluarga (KK) yang terdata di Poskor MDMC Indonesia.

Rudianto, relawan asal MDMC Jatim menerangakan, paket sembako yang dibagikan kepada warga itu adalah bantuan yang dikirim Lazismu dari Gorontalo, Pare Pare. Juga bantuan yang berasal dari Pelni. “Semoga bantuan bisa mencukupi kebutuhan pangan warga selama sepekan. Sambil menunggu bantuan lainnya tiba”.

Pada hari yang sama, relawan medis RSM Lamongan terus memberikan layanan kesehatan buat warga Kota Palu. Baik dilakukan di klinik darurat maupun dilakukan dengan berkeliling ke pos-pos pengungsian.

Setelahnya, pada Kamis (4/10/2018), relawan medis Muhammadiyah Jatim asal RSM Lamongan kembali berkeliling memberikan layanan kesehatan bagi warga korban gempa dan tsunami. Kali ini, pelayanan dilakukan sambil berjalan kaki dari pos ke pos pengungsian yang ada di sekitar Unismuh Palu.

Hal itu terpaksa dilakukan lantaran mobil yang sedianya dipakai berkeliling memberikan layanan kesehatan mobile kehabisan bahan bakar. Maklum, stok bensin sedang langka pasca bencana.

“Alhamdulillah, sampai sore hari ini relawan medis MDMC Indonesia bisa memberikan layanan kesehatan mobile, dan bisa menangani 45 pasien,” terang dr Dentino Willi.

Saat bertugas itu, dr Willi beserta perawat RSM Lamongan seperti Karsim, M Agus Asyari, Rounaqul Fahmi, Ali Efendi, dan Syafii Abdul Karim.

Di tempat terpisah, Tim Urban SAR MDMC Indonesia bersama dengan tim SAR Basarnas dan lainnya berhasil menemukan dua jenazah yang tertimbun reruntahan Hotel Roa Roa Palu.

Dua jenazah yang berhasil dievakuasi diketahui merupakan atlet paralayang asal Kota Bandung, dan atlet paralayang asal Korea Selatan. Kedua jenazah yang telah dikenali itu kemudian dibawa ke rumah sakit setempat.

“Update 12.38 WITA. Melaporkan dari tim Usar CSSR MDMC berhasil melakukan evakuasi 2 jenazah di reruntuhan Hotel Roa Roa. Operasi gabungan dilakukan dengan TNI, BASARNAS dan segenap relawan lainnya,” kata Yocki Asmoro, relawan MDMC Indonesia menginformasikan.

“Ketika terjadinya bencana, kedua atlet paralayang itu sedang berada di hotel. Keduanya merupakan tamu yang menginap di hotel tersebut”.

Yocki berharap, selepas proses evakuasi dua jenazah ini, semua korban yang masih tertimbun reruntuhan Hotel Roa Roa segera bisa diketemukan. “Masih ada dua atlet paralayang yang diketahui menginap di hotel dan belum diketemukan”.

Setelah lelah seharian beraktivitas menjalankan misi kemanusiaan, sore harinya, seluruh relawan MDMC Indonesia pun kembali ke Poskor di Unismuh untuk beristirahat dan melakukan rapat koordinasi.

Kemudian pada pagi harinya, Jumat (5/10/2018), relawan MDMC Indonesia kembali bergerak mendistribusikan paket sembako kepada warga Desa/Kecamatan Lumbu Dolo, Kabupaten Donggala. Sebanyak 100 paket sembako dikirim ke lokasi yang belum tersentuh bantuan. Relawan pun harus menempuh perjalanan sejauh 80 kilo meter untuk bisa sampai di lokasi menggunakan dua unit mobil Strada.

Sehari kemudian, Sabtu (6/10/2018), relawan MDMC Indonesia kembali mendistribusikan logistik. Kali ini, logistik berisi paket sembako dikirim ke dua titik lokasi sekaligus menggunakan dua mobil Strada dan Avanza. Dini Noviani menerangkan, titik pertama paket sembako didistribusikan kepada warga Kelurahan Pengawu, Kota Palu, Sulteng. Sebanyak 300 paket sembako dibagikan di lokasi tersebut.

Kemudian titik kedua, paket sembako didistribusikan kepada warga Sigi, Sulteng. Sebanyak 100 paket sembako didistribusikan di lokasi yang berjarak 54,3 kilometer dari Poskor MDMC Indonesia. “Alhamdulillah, kondisi aman dan telah terkendali. Tanpa pengawalan dari aparat pun bantuan paket sembako tetap bisa didistribusikan dengan lancar oleh tim MDMC,” tutur Dini, guru SDM 4 Kota Batu.

Tak berhenti di situ saja, empat relawan medis MDMC Indonesia harus hilir mudik naik helikopter milik TNI Angkatan Darat (AD) untuk melakukan pelayanan kesehatan pada warga. Mereka adalah dr Zuhdiyah Nihayati dan dr Dentino Willi, keduanya dari RS Muhammadiyah Lamongan, serta dr Ershad A manggala dan dr Silvyani.

Rupanya mereka diminta oleh Letkol Ketut, dokter TNI AD, untuk bersama TNI melakukan dropping logistik sekaligus pelayanan kesehatan ke beberapa titik lokasi yang masih terisolasi dan hanya bisa dijangkau menggunakan helikopter. Misi bersama TNI itu dilakukan selama tiga hari.

Pada hari pertama, Sabtu (6/10/2018), dr Zee menerangkan bahwa operasi dilakukan di Desa Tondo, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Kemudian hari kedua berangkat ke Desa Lende, Kabupaten Donggala. “Nah, hari ketiga (hari ini) kita memberikan pelayanan kesehatan ke Desa Nemo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi,” terangnya, Ahad (9/10/2018).

Sementara dr Willi menceritakan pengalamannya ketika ikut dropping logistik dan memberikan pelayanan kesehatan ke Desa Tondo yang lokasinya berada dipesisir alias di pinggir laut tersebut.

Dia mengungkapkan, keadaan warga memang benar-benar butuh bantuan logistik, dan pelayanan kesehatan. Sebab hingga kini daerah tersebut belum tersetuh distribusi bantuan. Juga banyak warga yang mengeluh mengalami gangguan kesehatan. “Satu warga mengalami patah tulang dan segera kita transfer ke RS Wirabuana untuk mendapatkan penanganan medis,” terangnya.

Selain itu, lanjut dr Willi, relawan medis MDMC Indonesia juga menangani bayi yang lahir prematur diusia kandungan 7 bulan. “Bayi tersebut masih berusia 14 hari dan akhirnya ditransfer ke RS Undata,” tandasnya.

Sehari berselang, Senin (10/10/2018) pagi, enam relawan MDMC Indonesia bergerak melakukan dropping logistik sembari memberikan pelayanan kesehatan buat warga Desa Oti, Kecamatan Sindue Tabata, Kabupaten Donggala, Sulteng.

Dokter Dentino Willi, Ali Efendi, Rounaqul Fahmi, Rudianto, Safi’i Abdul Kharim, relawan medis asal RS Muhammadiyah Lamongan ditemani oleh Ardan Lele Mapuji dan Arik, relawan SAR berangkat ke desa menaiki dua mobil Strada. Desa tersebut lokasinya berjarak 80 kilo meter dari Unismuh Palu.

Relawan berangkat membawa serta logistik berupa air mineral 10 dus, beras 250 kilo gram dan mi instan 6 dus untuk dibagikan ke warga.

Dini Noviati, berdasar cerita Ardan Lele Mapuji menerangkan, berbagai kendala dihadapi oleh relawan MDMC untuk bisa sampai di desa. Selain relawan harus menempuh perjalanan darat selama satu setengah jam lebih, mobil yang dipakai oleh relawan MDMC Indonesia sempat mengalami ban bocor. “Itu terjadi karena kondisi jalan yang nggak mulus dan medan juga tidak bersahabat,” ungkap Dini. Untungnya, kata Dini, relawan MDMC Indonesia membawa ban serep alias ban cadangan di mobil yang mereka tumpangi.

Setibanya di desa, relawan MDMC Indonesia langsung bergerak mengunjungi 3 pos pengungsian yang berada di desa tersebut. “Untuk pos pertama, relawan tidak perlu susah payah untuk sampai di titik lokasi karena tempatnya masih bisa dilalui mobil,” terangnya.

Sementara untuk bisa sampai ke posko kedua dan ketiga, sebut Dini, relawan harus melakukan penelusuran dengan berjalan kaki sejauh 1 kilo meter masuk ke hutan. “Dua pos itu berada di atas bukit. Jadinya relawan harus berjalan kaki masuk hutan untuk bisa sampai,” paparnya.

Dini menyebutkan, kebanyakan warga desa memilih mengungsi ke perbukitan karena trauma dengan masih seringnya gempa. “Rumah warga tidak hancur. Tapi mereka khawatir tidur di rumah karena di Sulteng masih sering terjadi gempa,” pungkasnya.

Setelah berjibaku di medan bencana selama sepuluh hari, relawan pertama yang dikirim Muhammadiyah Jatim untuk manjalankan misi kemanusiaan membantu korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulteng akhirnya ditarik pulang, Selasa (9/10/2018).

Zaenal Abidin, Karsim, M Agus Asyari, Rounaqul Fahmi, dan Ali Efendi, dr Dentino Willi, Syafii Abdul karim, Rudianto, Dini Novianti dan dr Zuhdiyah Nihayati ditarik pulang karena masa tugasnya telah berakhir.

“Penarikan ini dilakukan tidak lain karena masa tugas kesepuluh relawan itu telah berakhir. Juga untuk menjaga ritme penanggulangan bencana yang mengharuskan ada pergantian relawan,” kata Ketua MDMC PWM Jatim M Rofii.

Sebagai gantinya, PWM Jatim melalui MPKU-MDMC yang disokong penuh oleh Lazismu memberangkatkan delapan medis yang berasal dari RS UMM (1 dokter dan 3 perawat) dan RS Ahmad Dahlan Kediri (1 dokter dan 3 perawat).

Kedelapan relawan itu adalah Zainul Arifin, Didik Bahrur Rokhim, Johan Iskandar Pradana, dan Imam Fitrianto Fat-khur Rohman. Ada pula Nur Aini, Ki Ageng Nico PN, Sandy De-wanto dan Satria Candra Kusuma. Mereka berangkat menggu-nakan penerbangan komersil Surabaya-Palu pukul 09.00 WIB.

Setibanya di Palu, relawan medis asal Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) terlibat operasi pelayanan kesehatan bersama prajurit TNI Angkatan Laut (AL) ke Desa Labean, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang kondisinya masih terisolasi, Rabu (10/10/18).

Ketiga relawan medis RS UMM yang beranggotakan dr Ki Ageng Nico dan dua perawat: Sandy Ewanto dan Imam Fitrianto, berangkat pukul 00.01 menaiki Kapal TNI AL “Birang” menuju desa. Operasi medis ke Desa Labean itu dipimpin oleh Letkol Laut K drg Ketut Triwanto.

“Kita ke sana naik kapal milik TNI AL karena satu-satunya jalur darat untuk sampai sana terputus ketika gempa dan tsunami. Jadinya jalur tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat,” terang dr Nico.

Setelah menempuh perjalan laut sekitar 6 jam, Kapal TNI AL Birang akhinya tiba di tepian laut Desa Labean. Lantaran tidak ada dermaga untuk bersandar, tim pun harus dijemput kapal motor milik nelayan untuk bisa sampai daratan. Para relawan kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa.

Begitu tiba di lokasi tujuan, dr Nico bersama dua perawat RS UMM langsung memberikan pelayanan kesehatan buat warga. “Tercatat ada 237 pasien dilayani oleh relawan medis RS UMM ini dengan rincian 43 pasien anak-anak dan balita, 115 pasien dewasa, serta 66 pasien lansia,” terangnya.

Dokter Nico menambahkan, selain memberikan pelayanan kesehatan buat warga, relawan medis RS UMM juga melakukan tindakan amputatum digiti (pemotongan jari) terhadap pasien bernama Zahar (23), yang diketahui tertimpa bangunan saat terjadi gempa. Akibatnya, Zahar mengalami nekrosis(kematian organ).

“Tindakan amputasi jari tangan Zahar dilakukan di Puskesmas Pembantu (Pustu). Sebelumnya, kita berkordinasi dengan pihak Pustu untuk tindakan dan untuk perawatan post-tindakan. Tindakan inu juga telah di-acc korlap medis lapangan Mayor dr Ali Thomas Sp Rad yang diteruskan ke Letkol Laut drg Ketut Sp OT,” tegasnya. Setelahnya, tim medis RS UMM lebih banyak memberikan pelayanan dan penyuluhan kesehatan buat warga di Sulteng.

Di sisi lain, empat relawan medis asal Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Ahmad Dahlan Kediri langsung bergerak mendirikan Pos Pelayanan (Posyan) Kesehatan sehari setelah tiba di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Posyan Kesahatan itu didirikan oleh dr Satria Candra, Didik Bahrur Rokhim, Zainul Arifin, dan Johan Iskandar Pradana di halaman Masjid Asy-Syuhada Dusun Satu, Desa Sidera, Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulteng.

Pendirian Posyan Kesehatan oleh relawan kesehatan Muhammadiyah Jatim gelombang dua itu dilakukan dengan bergotong-royong bersama warga desa. Zainul Arifin mengata-kan, untuk tugas hari pertama kami fokus membangun tenda untuk Posyan Kesehatan dengan bergotong-royong bersama warga. Kami kemudian melakukan pengobatan dan memberik-an penyuluhan kesehatan di desa tersebut. “Pada hari pertama kami mampu melayani 15 pasien dengan rincian dua balita, tiga anak-anak, tiga dewasa, dan tujuh lansia,” terangnya.

Selepas mendirikan posyan, tiga relawan medis RS-MAD Kediri terus memberikan pelayanan dan penyuluhan ke-sehatan buat warga desa Sidera, baik melakukan layanan kesehatan di posyan maupun berkeliling ke rumah-rumah warga.

Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa dari para relawan ini. Apresiasi setinggi-tingginya patut kita layangkan buat mereka. Pasalnya, tidak banyak orang seperti mereka, rela berkorban demi membantu sesama yang sedang ditimpa musibah bencana alam. Para relawan itu sejatinya adalah “Pahlawan” bagi sesamanya. Walau sebutan itu enggan mereka sandang, namun itulah setitik penghargaan dari kita yang bersimpati pada pengorbanan tulus mereka. (AH)