Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Kamis , 3 Desember 2020
Breaking News
You are here: Home » Kesehatan » Semangat Dengan Kaki Palsu Bagi Ihyaul Ulumudien, Pelajar Yang Kehilangan Kaki Kanannya Karena Kecelakaan di Bojonegoro

Semangat Dengan Kaki Palsu Bagi Ihyaul Ulumudien, Pelajar Yang Kehilangan Kaki Kanannya Karena Kecelakaan di Bojonegoro

Malang benar nasib Ihyaul Ulumudien (15 tahun), seorang pelajar MTs an-Nafiah, Banjaran, Baureno di Bojonegoro. Ia kehilangan kaki kanannya, karena sebuah kecelakaan di jalan raya. Niat hati menghindari orang agar tak terlanggar kendaraannya, justru dirinya sendiri yang tertimpa celaka. Tentunya ini merupakan hikmah dan pelajaran bagi semua orang tua yang mempunyai anak usia pelajar agar lebih seksama dan berhati-hari dalam mengawasi putera-puterinya mengemudikan kendaraan bermotor.

Peristiwa itu terjadi enam bulan silam, tepatnya di bulan April 2020, ketika pandemi virus Corona melanda negeri ini. Saat semua pelajar sekolah diliburkan untuk berdiam dan belajar di rumah. Ihyaul, pelajar yang tinggal bersama orang tuanya di desa Banjar Anyar RT 09 / RW 03 kecamatan Baureno, karena suatu keperluan penting harus bertandang ke rumah temannya di desa seberang. Untuk mempercepat langkahnya ia mengendarai sepeda motor milik orang tua. Selain praktis, bisa cepat sampai, begitulah kiranya niat hatinya.

Ketika melaju di Jalan Raya Baureno yang menghubungkan antara Babat Lamongan dan Bojonegoro, naas pun seakan menyapanya. Ihya bermaksud menghindari orang yang berada di pinggir jalan raya, namun tak disangka dari arah yang beralawanan melaju sebuah mobil. Ihya tertabrak dan terlempar beberapa meter. Motornya ringsek dan yang lebih fatal adalah kaki kanannya dihantam bagian depan mobil hingga patah dan mengeluarkan banyak darah. Beruntung ia masih hidup, alhamdulillah, Allah SWT masih menyelamatkan nyawanya.

Dengan tak sadarkan diri Ihya dibawa oleh orang-orang yang menolongnya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Sementara itu darah terus keluar dengan deras di kaki kanannya. Orang tua Ihya pun datang ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi anaknya. Keluarga, kerabat dan teman juga berdatangan menjenguknya.

Dokter menyimpulkan kaki kananya mengalami kerusakan parah dan harus segera diamputasi. Pak Jaelani, bapak Ihya, sungguh merasa terpukul mengetahui nasib anaknya. Ia tak bisa membayangkan anak lelakinya harus hidup dengan satu kaki saja, sedangkan masa depannya masih panjang. Ihya adalah seorang remaja, putra bungsu pak Jaeleni yang mempunyai lima orang anak.

Dengan pasrah dan ikhlas, pak Jaelani menerima keadaan pahit, anaknya harus menjalani operasi amputasi kaki kanannya. Pak Jaelani hanyalah seorang petani, yang karena kondisi lingkungannya tidak membuat lahan pertaniannya berkembang. Ia malah sering gagal panen karena ulah hama sawah yang sering meranggas tanaman di lahannya. Beban ekonomi sungguh berat disandang oleh seorang petani yang kurang didukung oleh keadaan yang kondusif.

Bagi pak Jaelani, seorang warga desa, berdoa dan menerima kenyataan adalah jalan terbaik sembari mencari solusi atas musibah yang menimpa anaknya.

Sepulang dari sembilan hari opname di RS, termasuk menjalani operasi amputasi kaki kanannya, membuat Ihya sering terdiam, murung dan termenung. Ia tak lagi kelihatan bergairah dan bersemangat. Masa remaja yang seharusnya ia jalani dengan penuh sukacita mendadak sirna karena musibah yang menimpanya.

Kondisi yang masih dalam masa pandemi virus Corona mambuat Ihya dan juga teman sebayanya duduk berdiam di rumah. Namun penderitaan Ihya tak hanya kejenuhan karena PSBB, ia harus merasakan pedih karena tak lagi mempunyai kaki kanan. Untuk berjalan, Ihya dibelikan sanak keluarganya sebuah alat bantu jalan, atau egrang istilahnya. Dengan alat bantu itulah Ihya berjalan tertaih-tatih. Ia pun mencoba untuk kuat hati walau dari wajah tak dapat disembunyikan sebuah perasaan kesedihan yang begitu mendalam.

Suatu saat, cerita Ihya, anak pak Jaelani, terdengar ke telinga Amil LAZISMU di kabupaten Bojonegoro. Berkat informasi dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah di desa setempat, Rudi Suparno, Amil LAZISMU, mencoba berkomunikasi dengan keluarga Ihya, terutama pak Jaelani. LAZISMU menawarkan bantuan kaki palsu, dengan harapan dapat membantu Ihya berjalan dengan baik, lancar dan tidak tampak lagi mengalami kecacatan fisik yang kentara.

Pak Jaelani senang mendengar tawaran ini dan Ihya pun bisa sedikit tersenyum walau masih memendam kepedihan di hatinya. Apalagi pak Jaelani tidak mempunyai akses kemana harus mencari kaki palsu dan kondisi ekonomi juga tidak memungkinkan.

Maka, pada 4 Oktober 2020, LAZISMU mengajak pak Jaelani dan Ihya ke Bengkel Kaki Palsu di Pandaan, kabupaten Pasuruan. Pengukuran pun dilakukan untuk memperoleh kaki palsu yang pas dan tepat buat Ihya.

Tanggal 20 Oktober 2020 sebuah kaki palsu sisi kanan pun selesai dibuat bagi Ihya. Tim LAZISMU bersama Ihya dan bapaknya kembali bertandang ke Pandaan Pasuruan, untuk mengambil dan sekaligus memasang kaki palsu Ihya. Pemilik Bengkel Kaki Palsu juga mengajari dan memberi contoh kepada Ihya bagaimana berjalan dengan baik dan lancar dengan kaki palsu.

Alhamdulillah, akhirnya Ihya tidak lagi berjalan dengan alat bantu egrang. Dengan kaki palsu ia bisa berjalan layaknya orang normal lainnya. Beberapa jam Ihya diajari oleh pemilik Bengkel agar tidak merasa kaku dan canggung dengan kaki palsunya. Bahkan pemilik bengkel kaki palsu terus memberikan motivasi dan semangat serta menunjukkan salah seorang pengrajin kaki palsu di bengkelnya yang juga mengalami cacat di kakinya, bisa bergerak bebas, berlari-lari dengan kaki palsu. Tak tampak kalau ia cacat kaki. Ihya pun mengangguk tanda memahami dan di dalam dadanya terbersit sebuah semangat untuk belajar.

Ketika Tim LAZISMU Bojonegoro mampir ke kantor LAZISMU wilayah Jatim di Surabaya, Ihya masih terlihat diam, minim berkata-kata, walau sedikit tersenyum ketika diajak bercanda. LAZISMU terus menyemangati dan membuka pikiran Ihya agar lebih menatap masa depannya dengan berpikir yang positif, menerima kenyataan, lapang dada dan siap belajar serta berjuang dengan keras.

“Terima kasih atas perhatian dan bantuan dari LAZISMU kepada kami, semoga gusti Allah yang membalas kebaikan bapak-bapak semua. Yang namanya musibah ya bagaimana lagi harus dijalani dengan sabar” kata pak Jaelani singkat sambil menahan haru.

Semoga Ihya mampu bangkit dan kuat kembali. Kini saatnya bgai Ihya untuk bersiap belajar, belajar dan terus belajar guna meraih cita-cita dan masa depannya. Doa dan dukungan dari para Muzakki dan donatur LAZISMU senantiasa menyertainya. Selamat dan sukses semoga menyertai Ihyaul Ulumudien dari bumi Bojonegoro. Aamiin. (Adit).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*