Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Wednesday , 20 February 2019
Breaking News
You are here: Home » Inspirasi » Drh. Zainul Muslimin : “Empati, Peduli dan Berbagi”

Drh. Zainul Muslimin : “Empati, Peduli dan Berbagi”

drh. Zainul Muslimin

Data menunjukkan bahwa terjadinya bencana menghadirkan rasa empati, peduli dan suka berbagi bagi orang yang merasa di hatinya. Mulai dari bencana banjir bandang Pacitan kemudian bencana kemanusiaan Rohingya, Alasmalang, Singojuruh Banyuwangi serta yang beberapa waktu terjadi adalah bencana gempa bumi di Lombok.

Data di LAZISMU menunjukkan perolehan donasi di setiap peristiwa bencana itu sangatlah besar. Rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama saudara seiman seperti satu tubuh itu melahirkan sifat kepedulian dan sikap suka berbagi yang luar biasa hebat ketika saudaranya sedang dalam kesulitan dan atau dalam ujian dan cobaan yang dahsyat.

Bencana menjadi ujian bagi kita semua, bagi yang terkena musibah sekaligus bagi kita semua yang tidak terkena musibah. Bagi yang terkena musibah haruslah diterima kondisi itu dengan ikhlas dan sabar. Sedang bagi kita yang melihatnya sudah semestinya menumbuhkan rasa peduli dan suka berbagi dan menumbuhlan rasa empati.

Kalau dengan bencana alam dan ataupun bencana kemanusiaan itu tidak pula memantik dan menumbuhkan rasa peduli, empati dan suka berbagi terhadap saudara kita yang tertimpa musibah lalu dengan cara apa lagi Allah SWT menegur kita semua.

Masih kurang dahsyatkah bencana alam dan bencana kemanusiaan itu untuk menghadirkan rasa peduli dan suka berbagi kita ? Atau boleh jadi kesadaran itu baru akan muncul ketika bencana itu justru menimpa diri kita semua. Kesadaran bahwa kita semua butuh saudara yang punya rasa peduli dan suka berbagi. Bukankah kebahagiaan sejati adalah pada saat kita bisa menjadi solusi. Solusi dan jalan keluar bagi saudaranya yang mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Ketika peristiwa dahsyat itu tak mampu menumbuhkan kesadaran kita, tak mampu menumbuhkan rasa peduli dan suka berbagi kita, tak mampu menumbuhkan rasa empati kita terhadap saudara kita yang tertimpa musibah maka cobalah tengok kepada diri kita semua, apakah hati kita itu telah mati ? Na’udzubillah min dzalik.

Masihkah kita punya hati yang hidup, punya rasa yang hidup ? Karena sungguh badan-badan mereka laksana kuburan bagi hati-hati mereka. Sedangkan hati mereka telah mati dan terkubur dalam jasad-jasad hidup mereka.

Salah satu syarat seseorang disebut beriman haruslah dengan menghadirkan bukti di dalam kehidupan kesehariannya, dengan suka berinfak dan berbagi. Wa min(m)ma razqknahum yunfikuun. Seseorang yang mendapat predikat mulia di sisi-Nya yaitu orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT maka salah satu syaratnya adalah suka berbagi dan berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit.

Marilah, selama hayat masih dikandung badan, selama hasrat masih berderap kuat dan selagi hati ini masih mempunyai “mata”, wujudkanlah rasa empati dan peduli bagi saudara-saudara kita yang sedang sedih, menderita dan hidup berkekurangan.

Allah SWT masih memberikan kesempatan yang luas kepada kita untuk menebar kebaikan dan beramal mulia kepada sesama. Janganlah kita termasuk orang-orang yang merugi dan menyesal, yaitu ketika dihisab di akhirat kita ingin kembali ke dunia lagi hanya sekedar berbuat setitik kebaikan. Bismillah, dengan niat yang tulus dan hati yang ikhlas marilah kita wujudkan kepedulian dan empati kita kepada saudara kita.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*