Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Wednesday , 20 February 2019
Breaking News
You are here: Home » News » Zakat Center, Visi Besar Dakwah Berkemajuan di Kota Onde-onde

Zakat Center, Visi Besar Dakwah Berkemajuan di Kota Onde-onde

Pusat adalah titik sentral. Dalam makna yang lain sebagai trendsetter yang menjadi perhatian atau tempat suatu objek yang menjadi fokus perhatian sekitarnya. Dalam alunan kehidupan sosial,lifestyle adalah bagian dari inovasi sosial apapun bentuknya. Termasuk dengan zakat sebagai gaya hidup sebagai bagian dari proses inovasi sosial.

Di Mojokerto, pada 20 Januari 2019, Lazismu meluncurkan pusat zakat (zakat center) dalam hal penghimpunan dan pendayagunaan zakat. Berbagai pihak, seperti instansi pemerintahan, perbankan dan kalangan warga persyarikatan mengapresiasi kemunculan zakat center di kota Onde-onde tersebut.

Hal signifikan berdirinya gedung pusat zakat ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan umat islam itu sendiri yang menginginkan pembaruan lintas zaman sebagai upaya membumikan gerakan sadar zakat. Dewasa ini, zakat telah menjadi gaya hidup, setiap orang mulai gemar berdonasi. Gaya hidup berbagi begitu banyak diminati berbagai kalangan masyarakat sebagai kebutuhan dan ketenangan jiwa.

Selama ini, masjid dan musala hanya terpaku pada soal ibadah dan ritual. Maka boleh saja jika dianalogikan pusat zakat menjadi solusi untuk mengokohkan kembali tiang penyangga sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Islam.

Hal itu terungkap dari Ketua BP Lazismu Sragen, Ikhwan saat menyampaikan materi zakat. “Zakat kedudukannya sama dengan salat, bila tidak dilaksanakan salah satunya, maka gugur ke-Islamannya,” terangnya.

Aktivitas penghimpunan dan pendayagunaan zakat adalah hubungan timbal-balik antara muzaki (pembayar zakat) dan mustahik (penerima manfaat zakat). Jika tidak ada salah satunya, maka tidak ada peristiwa memberi dan menerima.

Muzaki memerlukan mustahik dalam rangka membersihkan hartanya agar tetap tumbuh dan berkembang tanpa mengambil hak orang lain. Ikhwan menilai pun bagi mustahik memerlukan muzaki karena pada dasarnya harta yang dimiliki seseorang itu ada hak orang lain yang membutuhkannya.

Demikian dibeberkan Ketua BP Lazismu Kabupaten Mojokerto, Khoirul Azmi Ridho dalam suatu tulisannya di Merdeka Post (22 Januari 2019). Dia berkeyakinan pada saatnya nanti zakat center akan menjadi sebuah tren positif masyarakat yang memiliki fungsi tidak hanya edukatif, namun juga fungsi rekreatif untuk terus belajar tentang zakat.

Dahulu KH. Ahmad Dahlan telah mewariskan kisah konsep sekolah meja-bangku-nya, atau pun cita-cita Kiyai Sudja’ dengan rumah yatimnya yang dipandang sebelah mata. Konsep dan cita-cita itu hingga saat ini menjadi intisari dari sebuah usaha memajukan peradaban lewat dakwah yang berkemajuan.

Kini zakat center mestinya menjadi pusat aktivitas zakat yang tidak hanya memiliki giat fungsional, tapi juga membawa misi agar zakat menjadi populer dan menjadi gaya hidup zaman milenial. Sehingga pada masanya nanti zakat akan menjadi solusi jitu dari masalah ekonomi, yakni kesenjangan antara yang papa dan agniya dalam jumlah kepemilikan harta. (merdekapost).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*