Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Tuesday , 20 August 2019
Breaking News
You are here: Home » Inspirasi » drh. Zainul Muslimin : “Berjihad Dengan Harta adalah Tanda Syukur Nikmat dan Kepatuhan KepadaNya”

drh. Zainul Muslimin : “Berjihad Dengan Harta adalah Tanda Syukur Nikmat dan Kepatuhan KepadaNya”

Allah berfirman : “Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 10).

Orang-orang yang beriman pasti percaya bahwa keberadaan kita semua di muka bumi, telah dijamin Allah SWT akan sumber penghidupan kita. Setiap makhluk yang Allah SWT ciptakan, akan dijamin rizqinya siapapun dan betapapun rendah derajat makhluk tersebut. Tidak ada satupun yang lolos dari jaminan Allah SWT. Oleh karena itu atas apa saja yang ada pada kita, dan atas apa saja yang kita miliki berapapun jumlahnya maka sikap dan mindset kita adalah “hadzaa min fadhli robbii”. Bahwa semua ini adalah atas karunia Tuhanku.

Begitulah Allah SWT mengajarkan kepada kita melalui Nabi Sulaiman As atas pernyataaannya yang sangat fenomenal itu, yakni “hadzaa min fadhli robbii”. Orang beriman yang ulil albab dan akal sehatnya masih berjalan akan senantiasa berada pada kondisi senantiasa berpikir dan atau memikirkan ciptaanNya baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan atau berbaring. Akal orang yang ulil albab itu pikirannya dituntun oleh Allah SWT, sehingga ketika melihat semua fakta nyata yang ada di sekelilingnya, dia akan mengatakan “Rabbanaa maa kholaqta hadzaa bathila”.

Orang yang ulil albab ketika melihat fakta nyata semua yang ada di sekelilingnya baik itu yang bermanfaat atau tidak terhadap kepentingan kita maka akal pikirannya akan sampai pada kesimpulan bahwa “tidak ada satupun yang sia-sia atas semua ciptaan Allah tersebut”.

Orang yang berpredikat ulil albab akan mampu menangkap setiap gerak desah dan resah yang ada di sejelilingnya. Mereka tahu bahwa saudaranya masih banyak yang papa dan dalam kondisi miskin. Juga masih banyak pula yang dalam kondisi kurang dapat menikmati fasilitas kesehatan, pendidikan dan sebagainya, yang kesemuanya itu membutuhkan perhatian, rasa empati dan lebih dari itu tentu sikap laku untuk suka berbagi dari kita semua.

Bukankah salah satu syarat seseorang disebut beriman itu dia harus menegakkan sikap laku suka bersedekah dan menolong sesama. Begitu pula ketika seseorang disebut bertaqwa kepada Allah SWT maka salah satu syaratnya adalah berzakat dan suka berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Melaksanakan syarat dan atau syari’at tersebut maka Allah SWT telah jamin dan siapkan sumber-eumber penghidupan baki kuta manusia.

Dengan mindset: hadzaa min fadhli robbii maka semestinya kita semuanya menjadi orang yang entengan (ringan tangan), menjadi orang-orang yang peduli dan suka berbagi terhadap saudaranya terutama kepada yang lemah.

Maka marilah kita lihat dan perhatikan bagaimana makhluk Allah yang derajatnya lebih rendah dari manusia, yaitu air dan udara. Air akan senantiasa mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah. Air akan mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Begitu juga udara, akan otomatis bergerak dari tekanan udara yang tinggi ke tekanan udara yang rendah. Atas kepatuhan dan ketaatan udara terhadap sunnatullah atau ketentuan Allah maka dari udara akan terjadi angin. Angin yang bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan manusia serta makhluk hidup lain di muka bumi ini.

Dari kedua makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia, semestinya kita bisa mengambil ibrah bagaimana ketaatan dan kepatuhan yang sempurna terhadap ketentuan Allah, dimana udara dan air akan otomatis mengalir dari tekanan yang tinggi menuju ke tekanan yang rendah. Mengalir dari yang kuat kepada yang lemah.

Bahwa tidak satupun manusia di muka bumi yang Allah SWT karuniakan kemampuan finansial dan ekonomi itu sama persis. Begitu juga kemampuan dan kekuatan fisik serta kekuatan akal pikiran. Kondisi ini semestinya juga melahirkan otomatisasi mengalirnya kekuatan ekonomi dan finansial dari yang kuat kepada yang lemah, mengalirnya manfaat kecerdasan dan kemampuan fisik dari yang kuat kepada yang lemah. Itu semua akan bisa terjadi jika kita semua memiliki ketaatan dan kepatuhan yang sempurna kepadaNya.

Ketika otomatisasi kondisi tersebut berjalan, insyaa Allah tidak akan terjadi saudara kita yang terpaksa kelaparan atau lemah tak berdaya. Mestinya tidak terjadi kondisi sangat miskin, sangat bodoh dan sangat lemah menimpa saudara kita. Maka sudah sepantasnya yang kuat secara ekonomi dan finan-sial tidak hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Tidak hanya menjadikan diri dan kelompoknya kaya raya namun tidak peduli dengan sesama yang menderita. Mari kita berjihad dengan harta sebagai tanda syukur atas nikmat dan bentuk kepatuhan terhadap perintahNya. Wallahu a’lam.

drh. Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.