Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Monday , 20 May 2019
Breaking News
You are here: Home » Bencana & Kemanusiaan » Baksos dan Siraman Rohani Bagi Warga Terdampak Banjir di Tuban

Baksos dan Siraman Rohani Bagi Warga Terdampak Banjir di Tuban

Hampir tiap saat kita mendengar berita tentang bencana, baik itu terjadi di mancanegara maupun didalam negeri.

Setiap tahun pula kita pun mendengar berita tentang bencana banjir dari kawasan Tuban, terutama yang menimpa penduduk yang tinggal di bantaran sungai Bengawan solo, mulai Widang, Plumpang, Rengel, Soko sampai dengan Parengan. Hal itu menuntut kesadaran kita untuk selalu merespon terkait dengan bencana yang terjadi.

Pada 27 Maret 2019 LAZISMU, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan MI Muhammadiyah 3 Panyuran melakukan baksos di desa kenongosari kecamatan Soko. Baksos berupa pemberian 43 bingkisan sembako kepada 22 Dhuafa, 20 Simpuh (simbah sepuh) dan 1 anak yatim.

Kenongosari adalah desa yang sering terdampak banjir setiap tahun karena letak desa di bantaran sungai Bengawan Solo. Warganya selalu waspada ketika hujan deras. Jika daerah Bojonegoro dan Ngawi sudah banjir maka bisa dipastikan Tuban bagian selatan termasuk desa kenongosari pasti banjir pula.

Selain itu kegiatan baksos juga diisi dengan pengajian tentang kebencanaan oleh ust. M. Chusnul Yakin, Sp.d., Ketua MDMC kab Tuban, dalam tausiah nya Ust chusnul yakin mengatakan “Roland Barthes seorang filsuf menyampaikan dalam perkembangan pemikiran manusia setidak nya ada tiga hal yang sangat mempengaruhi peradapan pemikiran manusia. Pertama adalah mitologi, scientology dan Theology.

Terkait dengan bencana dalam kajiannya ust. M. Chusnul Yakin, Sp.d. menyampaikan bahwa prespektif mitos (pandangan mistis masyarakat) menganggap bahwa bencana terjadi karena kurang sesajen terhadap kekuatan alam. Di dalam ilmu pengetahuan bencana terjadi karena adanya ketidak seimbangan alam. Adanya gempa karena bertumbuknya lempengan bumi. Terjadinya banjir karena curah hujan tinggi dan lain-lain.

Dalam prespektif agama, musibah terjadi atas otoritas Allah.

إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Selanjutnya ust. M. Chusnul Yakin, Sp.d. menjelaskan, karena kita mahluk yang dibekali akal maka kita harus merefleksi dengan segala bencana yang terjadi disekitar kita. Maka ada hal yang selalu muncul dalam pemikiran kita. Bahwa bencana terjadi karena kita kurang bersahabat dengan alam, kita belum mengenal tanda alam dan kita kurang dekat dengan sang pemilik alam.

Sebagai makluk beragama maka kita musti berpikir bahwa bencana alam terjadi. Itu hanya cara Allah untuk mengingatkan kita. Karena kita adalah makluk Allah yang paling disayangi maka perlu Allah mengingatkan kita. Kalau Allah tidak sayang pada kita. Pasti Allah biarkan kita tetap bergemilang dosa, Allah biarkan kita tetap diluar orbit keimanan.

Maka mari kita pastikan tiap bencana yang terjadi disekitar kita. Jadikan ini sebagai jalan untuk mendapatkan hidayah Allah” pungkas ust. M. Chusnul Yakin, Sp.d. dalam tausiahnya. (Mal)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*