Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Sunday , 19 May 2019
Breaking News
You are here: Home » Filantropi » Filantropis Cilik, Recehan Anak Kecil yang Sering Tak Dianggap

Filantropis Cilik, Recehan Anak Kecil yang Sering Tak Dianggap

oleh Khoirul Azmi Ridho (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

Pernahkah, kita mendengar istilah yang menyatakan bahwa “Tengok lagi pintumu, membuka dan menutupnya ditentukan oleh ANAK KUNCI yang kecil, jauh lebih kecil dari luas daun pintu, bahkan lebih kecil dari satu jemarimu”. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana hal yang kecil, yang terkadang menjadi bagian utama, justru terlupakan dan terabaikan. Hal yang justru menjadi sumber alasan bisa atau tidaknya mengalir keberkahan dalam rezeki kita, atau mungkin menjadi penyebab susahnya kondisi keadaan kita selama ini. Mungkin kita melupakan kunci itu.

Al-Quran dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 261 telah memberikan perumpamaan yang jelas tentang keberkahan sebuah rezeki. Bagaimana permisalan sebuah bulir padi (kebaikan) yang ditanam menumbuhkan 7 (tujuh) bulir, dan pada tiap bulir tersebut menumbuhkan 100 (seratus) biji (kebaikan). “Matematika Tuhan” yang mungkin diluar logika hitung-hitungan normal seorang manusia. Lebih lanjut, “Matematika Tuhan” tersebut tidak meminta kita melakukan 7 (tujuh) kebaikan dahulu untuk mendapatkan kebaikan 700 kali lipat. Tetapi perintahnya jelas, cukup 1 (satu) kebaikan saja, atau dianalogikan dengan sebulir padi tadi. Ya, hanya 1 (satu) kebaikan akan menjadi 700 kali lipat. Dan bagaimana jika ternyata, 1 (satu) kebaikan itu justru merupakan hal kecil yang barangkali kita sering abaikan?

Beberapa waktu lalu Kung Ridho, ketua Lazis Muhammadiyah (Lazismu) Kab. Probolinggo bersilaturahim mendatangi Zakat Center Lazismu Mojokerto. Ia bercerita bahwa SD Muhammadiyah 2 Pendil Kab. Probolinggo menjadi salah satu bukti inspiratif tentang kekuatan kebaikan hal kecil tersebut. kisahnya berawal dari kedatangan salah seorang guru kepadanya, yang mengeluhkan kebutuhan sekolah terhadap mobil operasional. Tawaran opsi distribusi kaleng Filantropis Cilik oleh Kung (sapaan akrab Kung Ridho) untuk seluruh siswa SD sebagai sumber solusi pembiayaan pengadaan mobil, diragukan oleh hampir seluruh pihak guru. Bayangan para guru sama. Tidak mungkin nominal rupiah dari uang receh yang dikumpulkan cukup untuk diwujudkan mobil operasional. Kung tidak memaksa. Hanya meminta agar silahkan dicoba dahulu cara tersebut. Kalau ragu seluruh kelas, coba dari 1 (satu) kelas dahulu.

Singkat cerita, 2 tahun berjalan hingga saat ini sekolah tersebut telah memiliki mobil operasional ‘impian’ berupa GrandMax baru. Hasil penghimpunan uang receh Filantropis Cilik bulanan yang awalnya dicoba di 1 (satu) kelas, menjadi masif di seluruh kelas dan bahkan guru karyawan simpatisan semua terlibat. Mereka menyadari tidak ingin sampai luput dari mudahnya menjadi bagian dari kebaikan yang ternyata jika bersama-sama dan konsisten mampu menjadi hal yang besar dan hampir mustahil.

Filantropis Cilik merupakan program unggulan yang digagas oleh Lazismu Pusat, dengan tujuan utama bukan untuk melihat nominal penghimpunan. Namun, lebih jauh dari itu secara filosofis adalah melahirkan seorang filantropis-filantropis cilik baru, para insan yang sadar sedari dini, sekecil apapun, kebaikan tetaplah sebuah kebaikan. Dan apabila dipupuk terus menumbuhkan kebiasan berbagi yang positif dan kebaikan tersebut tumbuh terus hingga tak terhingga. Persis dengan permisalan bulir padi di awal tadi. Filantropis mungkin bisa jadi, salah satu kunci yang menjadi sebab potensi rezeki dan keberkahan lembaga atau pendidikan yang kita lakukan belum membuahkan hasil.

Pada istilah lain ada pula yang menyatakan bahwa “orang terpeleset bukan karena batu besar. Namun karena kerikil kecil yang tidak seringnya terlihat oleh mata.” Permisalan sederhana yang juga menyoal tentang hal kecil tidak hanya bab kebaikan. Tetapi juga tentang masalah yang datang. Mungkin bukan dari hasil kesalahan yang disengaja. Namun bisa jadi datang dari kebaikan yang diabaikan sehingga membuat jalan ‘licin’ dan tergelincir dari jalur lurus kebaikan.

Pada akhirnya, filantropis cilik hanyalah sebuah program dan alat bantu yang dibuat Lazismu untuk memudahkan berbagai pihak dengan tujuan apapun. Tentu dalam bingkai kebaikan. Maka pilihan kembali kepada kita, menyadari kunci penting dari hal kecil dan segera bertindak. Atau tetap menunggu keajaiban dan harap harap cemas akan nasib yang tak kunjung berubah.

Khoirul Azmi Ridho (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Ketua Lazismu Kab. Mojokerto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*