Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Rabu , 30 September 2020
Breaking News
You are here: Home » Inspirasi » dr Zainul Muslimin : “Hentikan Narasi-narasi Negatif, Mari Menebar Kebajikan dan Kebaikan”

dr Zainul Muslimin : “Hentikan Narasi-narasi Negatif, Mari Menebar Kebajikan dan Kebaikan”

 Saya mengamati berbagai update sta-tus media sosial (medsos) milik te-man dan rekan yang bertebaran sepanjang waktu. Tentunya teman di dunia maya dan beberapa teman di dunia nyata.

Berbagai update status mulai dari berbagi informasi tentang tren gaya hidup, kuliner, tour-wisata, info kesehatan, kabar lalu lintas, politik, budaya dan sebagainya atau sekedar berbagi link apapun temanya. Namun ada dan bahkan banyak yang sibuk update status dan mengomentari aib orang lain, menebar narasi-narasi negatif, ucapan kebencian, bahkan caci maki kepada pihak-pihak tertentu.

Tentu itu adalah hak mereka karena mereka punya tanggung jawab terhadap status dan komen di dunia maya. Namun tidak bisakah berhenti menebar kata-kata dan narasi negatif, ucapan penuh kebencian dan menyoroti aib pribadi orang lain. Terus manfaatnya apa ?

Tidak bisakah menebar kata-kata nan sejuk, indah, bijaksana dan penuh dengan kesabaran. Kalimat yang mendamaikan dan menginspirasi kebaikan serta kebajikan ? Atau memberikan solusi tentang kehidupan ? Apakah kualitas diri mereka yang berkomen negatif itu memang hanya segitu saja. Tak mampu menjadi solusi karena memang tak punya kompetensi.

Tentu apa yang kita katakan ada-lah cerminan kehidupan kita sehari-hari. Ki-ta bisa tegas atau bahkan keras kepada pihak lain untuk melakukan pemerataan ke-makmuran dan keadilan. Tetapi pada saat yang sama kita tak kuasa menasehati diri sendiri untuk melakukan hal yang sama de-ngan yang kita tuntutkan kepada pihak lain.

Tak menyesalkah bila hidup ini tidak diisi dengan suatu kebaikan dan kebijaksanaan walau hanya narasi dan kata ? Banyak narasi tentang nilai kebaikan dan kemanfaatan yang seharusnya bisa kita tebar dan tabur dalam hidup ini.
Seolah kita sibuk banget melihat dan menghitung kelemahan orang lain sampai lupa untuk melihat dan memper-baiki diri kita sendiri.

Bukankah kita diperintahkankan untuk melihat diri, lebih dari itu menghi-tung diri kemudian pacu-lesatkan potensi diri yang lebih baik ke depan. Fokus dan istiqamah dalam menebar manfaat yang mungkin tak seberapa, karena sejatinya akan terus menggelinding dan membesar, diiringi oleh yang lain dalam upaya meraih mimpi-mimpi yang sama.

Ada hal yang semestinya patut mendapat perhatian kita semua, yaitu pe-nyesalan ketika ajal menjemput. Perhatikan firman Allah SWT dalam surat al-Munaafi-quun ayat 10 dan surat al-Mu’minuun ayat 99-100. Ayat-ayat itu menggambarkan ke-inginan kita untuk bersedekah dan menja-di orang yang sholih justru setelah ajal tiba.

Ayat ke-10 Qur’an Surat al-Muu-nafiquun : “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Ayat yang ke-99 dan 100 Qur’an Surat al-Mu’minuun : (99) “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),” (100). “Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”.

Rest Area Untuk Menebar Kebaikan

Rest area itu bernama dunia, dimana kita tidak bisa berlama-lama disana karena ada ketentuan yang tidak bisa membuat kita berlama-lama di dunia. Seolah ada yang berseru “Jangan kelamaan di rest area, segera kembali pulang”. Pulang kemana ? tentu pulang kepada yang menciptakan kita, Allah SWT.

Karena di rest area hanya sementara maka manfaatkan waktu itu dengan dengan sebaik-baiknya. Karena di dunia ini kita hanya sementara maka pergunakanlah waktu kita yang sementara itu untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Tidak melakukan hal-hal yang sia-sia.

Ada hal yang penting namun seringkali kitan lupakan atau bahkan lalaikan, yaitu sedekah. Dalam Islam kita diwajibkan untuk bersedekah, berzakat dan berinfaq di jalan Allah.

Bagi yang suka durian, uang ratusan ribu rupiah dikeluarkan. Atau bagi yang suka merokok, jutaan rupiah pun dibelanjakan untuk memuaskan hati. Adakah yang suka bersedekah, berzakat dan berinfaq ? Tentu akan sangat dahsyat jika yang kita kaluarkan melebihi belanja untuk kesenangan dan kesukaan yang bersifat duniawi.

Kadangkala apa yang kita lakukan tak sepadan terhadap besarnya persoalan dan permasalahan hidup yang menghadang. Namun tetaplah beristiqamah dengan keteladanan dan memaksimalkan ikhtiar kita.

Yang terbaik, adalah yang paling banyak menebar manfaat bagi sesama. Kita percaya dengan zakat, infaq dan sedekah, masyarakat menjadi tumbuh dan berkembang, subur dan indah.

Lebih dari itu marilah kita menjadi bagian penting dari jalan keluar (solusi) bagi saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan. Tetaplah berada di jalur kebaikan. Dalam segala hal dan urusan cobalah memaksimalkan ikhtiar untuk membuat diri pantas menerima amanah dan karunia yang hebat dan dahsyat.

Alhamdulillah, begitu banyak karunia terindah, mulai dari pantai sampai puncak gunung. Mulai dari udara yang panas sampai yang dingin. Begitu banyak pilihan karunia nikmat yang bisa kita rasakan, maka nikmat karunia Tuhanmu yang mana lagi yang kalian dustakan.

Nikmati, syukuri dan selalu me-nebar kebaikan dan kebajikan selama hayat di kandung badan. Insya Allah kita akan diberi petunjukNya. Bismillah, kita bisa !

drh Zainul Muslimin, Ketua Lazismu wilayah Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*